
Hingga membuat Raihan menggenggam ke dua tangannya menahan rasa marah.
"Kalau Lo nggak ada urusan lagi mendingan Lo pergi". Tanya raihan, Radit yang melihat Raihan seperti itu merasa tak enak hati .
"Rai sorry,bukan maksud gue". Raihan melihat ke arah Radit dengan mata merah dan wajah marah.
Lalu Raihan menarik nafas dalam-dalam lalu membuang nafasnya begitu cepat. Dengan memejamkan matanya. Emosi nya pun sudah berkurang.
"Elo kesini mau jenguk Kania kan ya sudah Lo masuk sana". Radit pun mengangguk dan Radit pun masuk ke ruangannya Kania sedang kan Raihan masih menunggu di luar untuk menghilangkan rasa kesalnya.
"Berarti cowok itu pacar nya Kania yang gue liat di taman. Kenapa Kania tega sama gue. Sekarang di mana cowok itu kemana tuh cowok, di saat Kania sakit dia nggak ada. Lalu Raihan pergi dari depan kamar Kania ke toilet untuk mencuci mukanya agar tidak terlihat dirinya sedang marah.
Saat Radit sedang di ruangannya Kania. "Dit bukannya tadi kata ayah Raihan sama kamu di luar lalu Raihan nya kemana?" Tanya Kania.
"Mungkin di luar kali Nia. Atau ke toilet, Oow.... Iya aku nggak lama tadinya aku mau nemenin ayah kamu di sini. Tapi sudah ada Raihan, lebih baik aku pulang ya." Jawab Radit, lalu Radit pamitan ke ayah nya Kania." Yah Radit pamit ya, Kania aku pulang ya kami cepet sehat". Kata Radit lalu keluar dari kamarnya Kania.
Setelah lama Radit pulang, Raihan pun baru masuk ke ruangannya Kania. Dan saat Raihan masuk hanya ada Kania sendirian di ruangan itu.
" Ayah kamu kemana Nia ko nggak ada ?" Tanya Raihan dengan duduk di kursi yang sedikit menjauh dari Kania.
Kania merasa heran dengan sikap nya Raihan yang sedikit aneh. Biasanya Raihan duduk di dekat kania sekali pun ada ayahnya Kania, ia akan tetap duduk di dekat Kania.
" Raihan ko duduk nya di sana, nggak mau duduk di sini". Tanya Kania yang memancing Raihan untuk pindah.
Raihan tersenyum, "kalau aku di situ kamu nggak bisa istirahat Nia, aku di sini saja ya kan sama aja nemenin kamu". Jawab Raihan. Lalu Raihan duduk dengan memainkan gawai nya.
__ADS_1
'Raihan kenapa berubah begitu ya, tadi nggak seperti ini. Apa Radit mengatakan sesuatu ke Raihan yang membuat Raihan berubah sama gue kaya gini'. Ucap Kania dalam hatinya.
Lalu Kania pun berbaring dengan miring, membelakangi Raihan. Raihan sebenarnya merasa tak tega dengan Kania.
'Kania maaf bukan maksud aku tidak mau dekat dengan kamu, sebenarnya aku masih sedikit kesal oleh ucapannya Radit, kalau kamu sudah ada yang punya. Tetapi kamu kasih harapan buat aku, aku memang salah, terlalu berlebihan jika dekat dengan kamu membuat aku sulit untuk jauh dari kamu". Ucap Raihan dalam hati.
Tiba saatnya di mana Kania sudah di perbolehkan pulang. Ayah nya sudah membawa kursi roda untuk Kania duduki. Kania sebenarnya bisa berjalan, cuma harus hati-hati karena masih di rasakan sedikit sakit. Karena luka di kaki sudah bisa di obati di rumah, tidak terlalu parah seperti kemarin.
Ayah Kania membawa tas dan barang lain seperti baju ganti Kania. Sedangkan Raihan membantu Kania untuk duduk di kursinya. Saat Raihan ingin membantu Kania, ia menolak untuk di bantu." Aku bisa sendiri Raihan". Ucap Kania, membuat Raihan pun mengurungkan niatnya untuk membantu, tetapi Raihan masih berada di dekat Kania.
Saat Kania sudah turun dari ranjangnya, tangannya Kania terlepas dari pegangan nya membuat Kania hampir terjatuh. Dan Raihan pun dengan sigap memegang pinggang Kania. Sehingga Kania terselamatkan dan tidak terjatuh. Raihan masih memegang pinggang Kania. Begitupun pun Kania .ia memegang pundak Raihan. Mereka pun saling menatap, dan Kania pun tersadar di lepas lah tangannya dan kembali duduk di kursi roda yang sudah Raihan siapkan.
" Trimakasih Raihan". Ucap Kania yang sudah duduk di kursi roda .
" Iya sama sama Kania, yuk kita pulang." Kata Raihan dengan memegang pegangan yang berada di belakang kursi.
"Yah sudah siap semua kan. Apa mau tasnya Rai juga yang bawa takut ayah keberatan". Pinta Raihan karena merasa tak tega melihat pak Ahmad bawa tas yang sudah terlihat lelah .
"Apa si kamu Rai, memang kamu pikir ayah udah tua banget. Sampai bawa tas begini aja kamu mau bantuin. Ayo kita jalan orang rumah sudah tidak sabar melihat Kania pulang". Jawab ayahnya Kania.
Lalu Kania melihat Raihan yang begitu perhatian oleh dirinya dan ayahnya merasa sedikit tersentuh.
" Raihan kamu pria baik, apa kamu masih percaya sama aku nanti nya jika kamu tau aku ngejalanin hubungan oleh Zain. Bahkan saat aku kasih harapan ke kamu Raihan". Ucap Kania dalam hati..
Raihan pun terus mendorong kursi roda yang Kania duduki sampai ke parkiran dimana sudah ada mobil Raihan.
__ADS_1
Saat sudah sampai di dekat mobil Raihan. Pak Ahmad meletakkan tasnya di kursi belakang dan pak Ahmad pun juga duduk di belakang.
" Ayah duduk di belakang ya nak, kasian kalau Kania yang di belakang nanti kena tas. Kania duduk di depan aja ya." Ucap pak Ahmad,yang sudah duduk di kursi belakang kemudi.
Raihan mengangguk dan tersenyum. Lalu Raihan membantu Kania untuk berdiri, lagi lagi mereka saling menatap. Lalu Raihan pun tersenyum," ayo berdirinya hati hati ya". Tanya Raihan dan di angguki oleh Kania.
Setelah Kania duduk di kursi di kursi depan. Raihan pun menutup pintunya, lalu Raihan berjalan menuju pintu kemudi dan duduk. Mesin mobil pun sudah menyala mobil pun melaju meninggalkan rumah sakit.
Sedangkan yang jauh di sana ada laki laki yang menyendiri. Ingin sekali ia bertemu dengan seorang gadis namun begitu sulit. Jika ia sampai menemukan gadis itu. Maka nyawa gadis itu yang akan jadi taruhannya.
Dan sekarang ia ingin sekali menemukan gadis tersebut untuk terakhir kalinya. Karena ia tak ingin gadis itu terluka. Laki laki itu adalah ZAIN.
Zain begitu gelisah saat mengetahui Kania terluka dan pernah di serang oleh sosok hitam itu.
" Kania maafkan aku sudah membawamu dalam masalah. Dan bahkan aku pun tidak bisa menolong kamu. Dan sekarang kamu sakit Nia, maafkan aku Nia aku masih sayang kamu." Ucap Zain yang teringat Kania .
Lalu tiba tiba datang lah Laki laki bertubuh kekar. menghampiri Zain yang sedang duduk menyendiri di suatu ruangan.
"Apa kau memikirkan gadis itu Zain, apa kau ingin terus menerus ia celaka Zain. Apa kau tidak kasian oleh gadis itu jika terus menerus dia dalam masalah dan nyawanya terancam oleh kau dan kalung itu. Kemarin mungkin aku masih bisa menyelamatkan dirinya. Aku yang melihat nya pun merasa tak tega Zain. Gadis itu terlalu manis untuk di miliki oleh sosok hitam itu, untuk di jadikan permaisuri nya." Ucap Juan dengan tersenyum.
Dan Zain dapat melihat di wajah Juan ada rasa kagum saat Juan menceritakan tentang Kania.
"Apa maksudmu bilang Kania itu manis. Apa kau tertarik juga dengan Kania." Ucap Zain dengan sedikit rasa kesal.
Sedangkan yang di tanya hanya tersenyum dan menggeleng kan kepalanya.
__ADS_1
"Gadisku lebih manis dari gadis mu itu." Ledek Juan.