Hasrat Tuan Muda

Hasrat Tuan Muda
Bab 20 Oohh Acchh


__ADS_3

"Das! Daisy...!" panggil wanita cupu berlari tergopoh-gopoh ke lapangan, di mana temannya sedang menunggangi seekor kuda hitam. Yang diteriaki pun menoleh, tampak kesal karena waktunya bersenang-senang di ganggu lagi.


"Ngapain lo teriak-teriak? Lo habis dikejar anjing?"


"Bukan!"


"Babi?"


"Bukan, Daisy!"


"Terus apa?" Gadis berambut pirang dan bermata biru laut itupun turun, ia mendengus di hadapan temannya itu yang bicara tidak jelas.


"Rayden!"


"Ha, Rayden? Lo ngapain nyebut tuh calon suami gue?" tanyanya lagi.


"Dia sudah kembali!" jawab temannya mulai bernafas normal, hampir saja asmanya kambuh. Daisy pun sontak menyentuh bahu temannya. Ia tentu terkejut pria idamannya itu telah kembali ke Negara Elmord Verland.


"Lo tau dari mana suami gue udah pulang?" 


"Tadi gue habis ke Istana bawa pesanan pelayan, terus gue gak sengaja tuh dengar pembicaraan Nyonya Barsha dan Asisten Istana,"


"Terus?" Senyum Daisy makin lebar.


"Sekarang mungkin Tuan Rayden ada di pelabuhan, dan ini kesempatan lo harus ke sana Daisy!" ucap temannya memberi saran.


"Woahhh! Gue balik dulu ke rumah, lo urus kuda gue nih," ujar Daisy memberikan tali kuda itu ke temannya.


"Kok lo ke rumah? Lo gak langsung ke pelabuhan, Si?" tanya temannya mengerutkan kening.


"Gue kan habis latihan berkuda, masa' gue ke sana dengan pakaian kotor gini? Gue harus pulang mandi, dandan, terus siapin hadiah kepulangan dia! Gue pulang dulu ya, good bay!" lambai Daisy berlari ke arah mobilnya. Ia melaju sendiri menuju ke arah rumahnya.


"Gue yakin, lo pasti pulang karena rindu sama gue, Rayden!"


.


.


.


Pukul 18.00 malam, kapal Pesiar baru tiba di pelabuhan. Semua orang pun berlomba-lomba turun dari kapal, mereka bergembira telah tiba di Negara itu. Seketika anak-anak yang berada di sana menyambut kedatangan pendatang dari Negara lain. Kecuali Arum yang dibawa pergi oleh Rayden. Padahal gadis itu ingin juga diberi bunga oleh anak-anak menggemaskan itu.


"Woaaahhh, ini sangat menakjubkan!" 


Arum membulat sempurna menatap bangunan tinggi-tinggi menjulang ke atas langit. Ia seperti semut kecil di antara bangunan tinggi itu. Selain itu, ia juga takjub jalanan di negara itu tertata rapi. Sama sekali tidak ada kemacetan. Awalnya dia pikir Negara Inggris seperti Kerajaan di dalam buku dongen, rupa-rupanya kemajuan Negara Inggris sangat maju.


"Woaah! Ini gedung apa?" tanya Arum yang sedang duduk di sebalah Rayden. Ia selalu menempel ke jendela mobil membuat Rayden geleng-geleng kepala melihat tingkah kampungannya itu. Supir taksi yang mengemudi hanya bisa menahan tawa dengan tingkah Arum yang teriak menyapa orang-orang yang dilewatinya. "Woaahh! Hai! Hai Mbak! Mbak cantik loh kayak berbi!" ujar Arum pada mereka. Gadis-gadis bule bergidik aneh dengan tingkah Arum. 


"Ehh itu apa, Tuan!" Arum menunjuk ke luar lagi. Rayden menepuk jidatnya. Ia langsung menaikkan kaca mobil agar suara cempreng Arum tidak lagi menyebar keluar. Benar-benar gadis hamil itu berisik sekali hari ini.


'Acchhh…' Arum mendesah kaget dirangkul oleh Rayden.


"Jangan berisik, Beby," ucap Rayden meletakkan jari telunjuknya di mulut Arum.

__ADS_1


"So-sorry, aku tidak akan berisik lagi," lirih Arum menunduk mulai sadar sudah kelewatan teriak-teriak tadi. Ia amat malu ditegur oleh Rayden. 'Ah bodohnya, kenapa aku bisa bertingkah begini! Kau seperti anak kampung yang baru injak jalan aspal, Arum!' gerutu Arum pada dirinya sendiri.


"Oh ya Tuan," ucap Arum mendongak.


"Hm, why?" 


"Itu kita mau kemana ya?" tanya Arum senyum-senyum bodoh.


"Puft, bukan kah tadi aku sudah katakan, kalau kita akan ke Istana," jawab Rayden menahan tawanya.


"Tuan bekerja di Istana ya?" tanya Arum lagi. Ini kesempatan ia banyak tanya sebelum sampai ke Istana.


Rayden cuma mengangguk saja dan lagi-lagi Arum bertanya, "Tuan bekerja sebagai apa di Istana?" 


"Coba tebak, saya kerja apa di sana?" Rayden malah balik tanya.


"Emh, bentar! Beri aku waktu lima menit untuk berpikir, Tuan." Arum menunduk lalu menyentuh dagunya. Melihat gadis itu fokus berpikir dan mulutnya sesekali dimonyongkan membuat Rayden tambah gemas, Arum bagaikan gadis polos kemarin sore.


"Ah aku tahu!" ucap Arum menatapnya.


"Apa?" 


"Tuan pasti di Istana jadi gigolo ya?"


Deg! Rayden hampir shock mendengarnya, sekalian juga supir taksi itu terkaget-kaget mendengar pembicaraan mereka soal Istana. Arum menelan ludahnya melihat raut wajah Rayden tampak marah.


'Duh, sepertinya aku sudah salah bicara nih, ngapain juga jadi gigolo? Pasti Tuan Rayden ini ageng rahasia dari Istana. Baiklah, aku harus pura-pura sakit biar dia tidak marah!' batin Arum tahu kesalahannya. Ia pun meringis menyentuh pahanya.


"Awss...sakit, sakit," 


"Sakit? Kaki kau kram?"


"Ya Tuan, sepertinya sudah capek duduk lama begini," jawab Arum pura-pura kesakitan.


"Bersandarlah ke pintu!" titah Rayden menunjuk ke belakang Arum.


"Buat apa, Tuan?"


"Turuti saja!"


"Ba-baiklah." Arum pun bersandar di pintu mobil. Seketika ia pun menjerit kaget melihat Rayden mengangkat kedua kakinya dan meletakkan di pangkuannya, hingga paha mulus dan putihnya terlihat.


"Tuan mau apa dengan kakiku?" tanya Arum berdebar-debar.


"Dipotong!"


"Ha?" Arum melongo mendengarnya.


"Hahaha… kau percaya?" tawa Rayden terpingkal-pingkal.


"Tuan jangan bercanda! Aku jadi takut," ucap Arum jadi terbata-bata.


"Puft, sini saya pijat," ucap Rayden memijat dengan lembut. Arum menunduk malu-malu dengan sikap Rayden. Pijatnya itu terasa enak, tapi lama-lama tekanannya semakin kuat dan naik perlahan ke bagian intinya.

__ADS_1


"Ohhh...achhh," desah Arum menikmatinya. Kecuali Pak Supir yang membisu mendengar ******* indah Arum. Rayden pun menarik tirai hingga Pak Supir tidak melihat mereka dari kaca spion. Arum menggeliat tangan-tangan Rayden makin jahil di pahanya. Ini bukan lagi memijat tapi mengelus-elus bukitnya. Rayden yang melihat Arum menggigit bibir bawahnya agar tidak mendesah, ia pun melummat dan malah melakukan itu di dalam mobil.


Pak Supir sekali lagi terkaget-kaget di balik tirai itu ada pertempuran sengit antar bibir keduanya. Ia jadi merasa bodoh sudah mau mengantar dua orang mesum itu.


.


.


Sesampainya di Istana, Arum hanya bisa diam saja. Ia tidak mau lagi teriak-teriak melihat kemegahan Istana itu. Ia lebih fokus mengikuti Rayden. Namun ada yang aneh saat ia berjalan di sebelah Rayden, semua pelayan dan lainnya membungkuk setengah badan pada pria itu. Seolah Rayden itu disambut bagaikan Pangeran.


"Kau!" panggil Rayden pada salah satu pelayan Istana.


"Ya Tuan muda kedua," 


'Ha? Tuan muda kedua?' batin Arum di samping Rayden.


"Saya ingin kau bawa dia ke kamarnya, dan layani dia sebaik mungkin," ucap Rayden membuat Arum terkejut.


"Bentar Tuan!"


"Ada apa, beby?"


"Em itu, kenapa saya harus dilayani?" tanya Arum nunjuk pelayan.


"Karena kau akan jadi Istriku, sekarang pergilah bersamanya,"


"Eh tapi, anda ingin kemana?" Arum agak takut ditinggal. Semuanya masih asing baginya.


"Menghadap Selir Mafia,"


Chupp


Para pelayan menganga melihat Tuan mereka terang-terangan mencium Arum, mereka pun saling bisik-bisik. Setelah itu, Rayden pun pergi mencari Nyonya Barsha. Arum hanya mengikuti pelayan di depannya. Matanya lurus ke depan, ia tidak berani menatap kiri kanannya. Tetapi, tiba-tiba saja seseorang menghentikannya. 


"Hei, kau!"


Arum menoleh dan melihat seorang wanita cantik berjalan tampak sombong ke arahnya.


"Selamat sore, Nona Daisy." Pelayan membungkuk setengah badan kecuali Arum. Daisy heran melihat ada pribumi asing di sebelah pelayan itu.


"Hei, kau siapa?" tanya Daisy melirik sinis dan tidak suka.


"A-aku--" Arum gugup hingga terbata-bata.


"Hahaha… kasihan, kau anak pelayan baru di sini ya?" Daisy tertawa mulai mencemohnya. Arum mengepal tangan, tidak suka mendengar tawanya. Rasanya ingin menyumbat mulut wanita itu. 'Cih, dia sombong sekali'.


.......


.......


.......


...TINGGALKAN LIKE, KOMEN WAHAI PEMBACA BUDIMAN...

__ADS_1


.......


.......


__ADS_2