
Setelah Wira pergi, Kinan bersandar di kursi gantung di samping rumah lalu memperhatikan rumah Rayden seraya minum jus serta buah-buahan.
"Baby, di rumah itu ada dua teman kecil. Kamu mau gak ke sana main sama mereka?" Kinan hanya bisa mengajak anaknya bicara. Tidak terasa air matanya mengalir turun mengenai buah apel di tangannya. Lumayan bagus menghilangkan sedikit depresinya.
"Mas, kok rumah kosong? Mama dan Amel kemana?" tanya Arum masuk ke dalam kamar.
Rayden yang sedang meletakkan barang-barang pun mendekati istrinya itu yang kebingungan.
"Sudah cari di belakang rumah gak?"
"Sudah Mas, tetap saja kosong."
Rayden menyentuh dagunya. "Mungkin kah lagi keluar belanja?" gumam Rayden.
"Mas, gantian kamu yang cari Mama dan Kamelia, biar aku yang jaga anak-anak." Arum duduk di sebelah bayi kembarnya. Baru juga mau jawab, ketukan pintu terdengar.
"Mas tadi kunci pintu, ya? " tanya Arum menaikkan sisi bajunya untuk menyusui Baby Key dulu.
"Ya, terkunci,"
"Itu pasti Mama, bukain cepat sana, Mas!"
"Kalau begitu, aku ke sana,"
Chupp!
Setelah mengecup kepala istrinya, Rayden pun ke pintu rumah, membuka pintu perlahan.
"Wah, Om Rayden! Sejak kapan pulang ke sini?" riang Kamelia maju ke hadapannya.
"Nak, kalian sudah bisa pulang dari rumah sakit?" tanya Barsha di dekat Kamelia.
"Ya Mah," jawab Rayden.
__ADS_1
"Baguslah, Mama masuk dulu ya ke dapur bawa belanjaan mingguan Mama ini," ucap Barsha masuk duluan ke dapur.
"Om!"
"Kenapa, bocah?" tanya Rayden ingin menutup pintu tapi Kamelia menahannya.
"Om tau gak?"
"Tau apa?"
"Ada Om Mafia di rumah ini!"
DEG! Rayden terkejut, sangat terkejut.
"Jangan ngomong sembarangan, sekarang masuklah bantu Mama di dapur!" Rayden tidak percaya.
"Amel, tidak bicara asal! Itu Om Mafianya!" Tunjuk Kamelia ke Joan yang jalan ke arahnya.
"Hai, lama tidak berjumpa, adikku."
Rayden mengepal tangan, lalu tersenyum.
"Lama tidak berjumpa juga denganmu, Kak."
Pertemuan itu terasa biasa-biasa saja, tentu karena Rayden masih kesal pada Kakaknya yang pernah menyukai istrinya, begitu pun Joan masih kecewa adiknya duluan mengenal Arum.
Sontak, ketiganya menoleh ketika Arum datang bersama Baby Key.
"Mas, Mama sudah pulang ya?"
Rayden membola melihat sebelah boba istrinya sedang menyusui Baby Key di depan Joan.
Plaaak! Arum dan Kamelia tercengang melihat Rayden menampar Joan agar pandangan itu tidak lagi melihat ke istrinya.
__ADS_1
"Kakak! Jaga mata dan pikiranmu! Dia istriku, bukan pujaan hatimu!" ujar Rayden memeluk Arum dari depan. Ingin rasanya dia menghentikan Baby Key menyusu tapi kata Dokter Maya, Baby Key perlu banyak minum ASI.
"Rayden! Kau kasar sekali! Apa ini sikap aslimu di depan adik iparmu dan kakakmu sendiri?" ujar Joan marah tidak terima sambutannya malah tamparan.
"Oh no, apa akan terjadi perang dunia di rumah ini?" gumam Kamelia malah senyum-senyum melihat kakak ipar tampannya melotot ke Pak Presiden itu.
"Apa yang terjadi di sini?" Barsha datang melerai.
"Mama, sejak kapan dia nyasar ke rumah kita? Aku kan tidak mengundangnya!" protes Rayden tidak mau Joan masuk.
"Duh, Mas Rayden lagi ngamuk nih, aku lebih baik ke kamar saja deh," gumam Arum ingin kabur ke dalam kamar menemani dua baby. Tapi Joan dengan lantang berteriak.
"Jangan ada yang bergerak!" Arum sontak saja berhenti.
"Joan! Beraninya kau teriak! Di sini ada dua anakku, kamu jangan cari masalah padaku," balas Rayden lantang.
"STOP!" Barsha ikut panas melihat keduanya.
"Rayden, tahan emosimu," tambah Barsha ke Rayden.
"Tapi, Mah. Dia sudah berani-"
"Rayden!"
"Baik, Mah." Rayden pun nurut tidak membentak ke Joan.
"Huft, kalian berdua sudah lama tidak bertemu. Sekali ketemu langsung bertengkar, apa kebiasaan ini tidak bisa dihilangkan? Kalian semua sudah dewasa, dan Joan, kamu sudah jadi orang besar, harusnya tenang menghadapi Rayden. Untukmu juga Rayden, kau sudah jadi ayah, harusnya bisa mengontrol emosi!" nasehat Barsha kepada dua putra tirinya itu.
Joan pun mengulurkan tangan, mengalah duluan.
....
Yang tua yang mengalah, sabar ya Pak hadapi adikmuš¤
__ADS_1