Hasrat Tuan Muda

Hasrat Tuan Muda
Bab 49 Menangis


__ADS_3

Rayden dengan hati-hati membaringkan Arum ke ranjang, lalu berlari keluar memanggil Barsha dan Arleya. "Mamaaaaaaaa!" Begitu lantang hingga dua wanita tua itu menoleh secepatnya.


"Kenapa kau teriak-teriak?"


"Tolong jaga Istriku." Rayden mengambil kunci mobilnya dan jaketnya.


"Arum kenapa?" tanya Arleya.


"Dia makin lemah, Tante." Rayden berjalan cepat ke pintu.


"Apa? Kamu udah ngapain aja sampai Arum tambah lemah?"


"Kamu nggak 'gituan' kan sama dia?"


Rayden mendesis. Mana mungkin ia tega gempur tubuh istrinya. Apalagi hari ini ayahnya dikabari meninggal. Udah ia buang jauh-jauh pikiran itu.


"Nggak lah, Tante!" bantah Rayden membuka pintu lalu keluar menjemput Dokter pribadinya sekarang juga, ia pakai mobil andalannya, Cargosh!


Barsha dan Arleya bergegas masuk ke dalam kamar Arum. Keduanya terkejut melihat Arum sadar dan meletakkan jari telunjuknya di bibir.


"Shhht, jangan keras-karas bicaranya." Arum tersenyum manis. Barsha dan Arleya duduk di sebelah Arum.


"Kamu lagi demam, Nak?" tanya Barsha membelai rambut Arum. Gadis itu terkejut dengan sikap Barsha yang sangat peduli. Padahal dulu-dulu sering anggap ia lagi berpura-pura.


"Aku tidak demam kok, Tante. Ma-ma Leya tidak usah cemas juga ya," ucap Arum menatap Arleya dari pada Barsha membuat wanita itu sedih putrinya lebih lama menatap Arleya. Rasanya ia ingin jujur, tapi belum waktunya karena Arum sedang sakit.


Arleya menatap bergantian Arum dan Barsha. Anak dan Ibu itu membuatnya merasa gemas. Mulutnya gatal ingin katakan jujur, tapi ia juga tahu harus menjaga mental Arum dulu.


"Panggil Mama dong, bukan Tante." Barsha membelai rambut Arum.


"Baiklah, Mama." Arum tersenyum ria kemudian menunduk gelisah.


"Kamu kenapa sedih?" tanya dua wanita itu serempak. Arum menahan tawa melihat kekompakkan mereka. "Sejak umurku 10 tahun, aku tidak punya Ibu. Sekarang aku punya dua Ibu yang baik-baik. Terima kasih, Mama." Arum terisak di depan mereka. Barsha sudah tidak tahan, ia memeluk Arum sangat erat. Arleya menghembuskan nafas terharu mendengar ungkapan hati Arum.


"Seandainya, Kamelia masih hidup. Dia pasti senang punya Mama angkat seperti Mama Arleya dan Mama Barsha." Arum menunduk lagi, memikirkan adik tirinya yang dinyatakan sudah meninggal. Barsha meraih tangan Arum, bertanya mengapa Arum dan Kamelia ditelantarkan. Arum pun jujur apa yang dia ingat. Mengatakan sejak umur 10 tahun, orang tuanya pergi meninggalkan ia dan Kamelia yang masih bayi di rumah kumuh. Untung ada Bu RT yang dari dulu memperhatikan hidupnya. Barsha menangis, ia memeluk Arum. Wanita itu semakin marah pada Marsel yang kejam meninggalkan dua anak gadisnya. Arleya juga mengutuk Marsel yang jahat. Marsel seperti penjahat yang perlu Arleya basmi. Arum bingung mengapa Barsha selalu memeluknya dan menangis pilu.


"Mama sedih ya karena ayah meninggal?" sahut Arum menebak. Barsha menggelengkan kepala, ia sedih karena hidup putrinya menderita sejak kecil. Tiba-tiba ketiganya terkejut mendengar Rayden sudah datang bersama Dokter pribadinya. Nampak Rayden memarahi keterlambatannya. Arum buru-buru berbaring dan menutup mata. Pura-pura tidur.


"Drama apa lagi yang direncanakan gadis ini?" pikir Barsha dan Arleya.


"Mamaaa! Bagaimana keadaan Arum? Apa dia tadi sadar?" tanya Rayden mendekati istrinya. Barsha dan Arleya sama-sama menggelengkan kepala. Keduanya keluar dan mengintip di luar kamar.


"Sekarang periksa dia, buat dia sehat! Jangan sampai dia sakit, Dok!" pinta Rayden.


"Baiklah, silahkan keluar dulu, Tuan." Dokter meletakkan alat medisnya di atas meja.


"Kok aku keluar?" kaget Rayden. Seperti biasa, ia tidak suka ada pria lain sentuh istrinya, meski itupun Dokter, akan dia ledakkan.


"Tuan Rayden, anda tidak perlu khawatir, saya tidak akan macam-macam pada istri anda. Kalau tidak percaya, silahkan panggil dua wanita yang ngintip itu," ucap Dokter pria itu nunjuk ke pintu. Rayden mendengus, ia pun keluar dan menyuruh Barsha, Arleya masuk.


"Cih, awas! Kalau sampai kau sentuh istriku sedikitpun, jari-jarimu akan dipotong!" tekan Rayden serius berucap lalu ke sofa. Duduk manis menunggu kabar istrinya. Kini kerjaannya cuma bengong di depan Tv. Melirik ke arah kamar sesekali.


Krieet! Pintu terbuka. Rayden menghampiri Arleya yang keluar sendirian. "Bagaimana kondisi Istriku? Dia tidak parah kan, Tante?" tanya Rayden ingin masuk tapi dihalangi oleh Arleya.


"Hufft..." Arleya menghembus nafas berat.


"Kenapa kau lesu, Tante?"


"Rayden, bayi yang dikandung Arum-"


"Bayiku kenapa, Tante?"


"Itu, kata Dokter bayimu perempuan,"


"A-apa? Perempuan? Sungguh?" Rayden tidak percaya.


"Benar Nak, cucu Mama perempuan." Barsha keluar dan ikut membenarkan.


"Tidak mungkin!" Rayden masuk lalu menghampiri Arum yang sadar. Setelah melihat istrinya, ia meremas kerah leher Dokternya. Arum terkejut melihat Rayden kecewa.


"Dokter, apa kau yakin bayiku perempuan? Katakan sejujurnya padaku!" desak Rayden serius.


"Apa kau tidak percaya padaku, Tuan Rayden?" tanya Dokter melepaskan cengkeraman Rayden.


"Yaiyalah, di sini tidak ada alat medis lain. Bagaimana kau bisa tahu?" Tunjuk Rayden ke perut Arum.


"Saya punya mata-"


"Mata batin? Hahaha.....sejak kapan profesimu jadi pelawak?" tawa Rayden tidak percaya. Dokter tersenyum sesal ditertawakan.


"Mas," lirih Arum meraih tangan Rayden.


"Ada apa, beby?" Rayden duduk di sebelahnya.


"Mas tidak suka anak perempuan?"


Rayden terdiam.

__ADS_1


"Hiks, ya sudah Mas buang aku saja." Rayden dan Dokter terlonjak.


"Tidak beby, aku tidak seperti Ayahku yang main buang gitu saja. Aku tidak akan membuang mu." Rayden mengelus pipi basah Arum akibat air mata itu menetes.


"Ta-tapi anak pertama kita cewek, Mas tidak marah?" lirih Arum sedih.


"Selagi Allah beri kita kesempatan, kita bisa buat dilain waktu. Sekarang yang terpenting kesehatan mu, beby." Cuuhupp. Rayden mengecup Arum di depan Dokter. Lagi-lagi kemesraannya diperlihatkan.


"Ehem, masih ada jomblo di sini. Jangan buat saya iri pada kalian." Dokter tersenyum kecut.


"Ya sudah, kau nikah! Jangan nunggu umur tua baru nikah, ntar nyesel loh!" balas Rayden ketus.


Dokter pun keluar meninggalkan keduanya yang memadu kasih. Terlihat Rayden dan Arum begitu bahagia. Sampai-sampai Arum minta nama untuk bayinya. Dua wanita itu mengelus dada melihat Rayden tidak marah.


"Dok, yakin nih perempuan?" tanya Arleya belum yakin tebakan Dokter.


"Saya bukan Tuhan dan bisa saja akan terganti. Doain saja bisa keluar laki-laki. Sekarang saya harus ke rumah sakit, ada satu pasien yang harus saya rawat," ucap Dokter siap pergi lagi.


"Siapa, Dok?" tanya keduanya bersamaan.


"Adik tiri Nona Arum, Kamelia."


DEG.


"Loh, bukannya sudah ninggal ya kata Arum tadi kan?" kaget Arleya.


"Belum, Nyonya. Anak itu masih tahap pemulihan. Sebulan lalu ia habis melakukan tranpalansi sumsung tulang belakang. Sekarang tinggal beberapa hari ia bisa mengunjungi Nona Arum. Saya permisi." Dokter keluar, berjalan sendirian mencari taksi.


"Cih, Rayden breng sek sekali sudah menakut-nakuti Arum!" Arleya tambah marah.


Barsha hanya bisa diam, rupa-rupanya ia masih punya anak tiri yang hidup dari suami keduanya.


.


.


.


Tiga hari kemudian, lagi-lagi Rayden dikejutkan dengan kabar dilantiknya Bos Mafia di Veldemort. Tuan Joan, telah naik tahta menjadi King Joan Edrian.


"Ternyata tetap saja Joan yang akan jadi King, tidak sia-sia dia berobat. Apa rencana dia masih berlaku?" gumam Rayden menatap televisi di sebuah Bank yang ia datangi untuk melihat card goldnya, dan benar saja card goldnya sudah berfungsi lagi. Akhirnya harta triliunnya balik lagi. Kemarin jadi kismin dadakan, sekarang jadi orkay mendadak.


"Apa ini kerjaan Joan? Dia telah membantu ku?" gumam Rayden menggesek cardnya.


Tiba-tiba dan lagi-lagi ia berjumpa dengan Wira.


"Hai, Bro! Kita ketemu lagi nih."


____


Rayden : 'Thor, ini sengaja bikin emosi gue ya?'


Aurhor : 'Yaelah, gak papalah ketemu tokoh ketiga wkwkw


Rayden : 'Awas ya kalau sampai jadi orang ketiga, bakal aku kucek-kucek matamu, Thor'


Author : 'Ciee ada yang marah, kabur aahhh, xixixi'


_____


"Hem, apa ini kebetulan lagi?" ucap Rayden datar.


"Rasanya sudah bukan," cengir Wira sedikit lalu menekan tombol-tombol di mesin itu.


"Tadi sebelum ke sini, aku melihatmu, dan pas banget aku ikut masuk buat ngecek rekening deh. Siapa tahu ada kiriman uang." Wira kembali bicara lalu membuang nafas karena tidak ada isi rekeningnya.


"Ooh, gitu. Aku pikir kau sengaja mengikutiku dari awal," ucap Rayden masih mengamati tampilan Wira.


"Hahaha... apa untungnya aku mengikutimu? Tidak ada yang penting juga, kan?" tawa Wira ingin pergi.


"Tunggu, ini ambillah! " Rayden memberi uang tunai setara dengan jumlah yang dulu Wira berikan padanya.


"Eh tidak perlu, aku masih punya uang kok, Bro." Wira menolak.


"Ambilah, aku tidak ingin terbebani olehmu!" desak Rayden menaruh uang tunai itu ke telapak tangan Wira, lalu pergi gitu saja.


"Diiih, gayanya sombong sekali. Tapi uangku juga sudah menipis nih gara-gara kemarin kirim uang lima juta ke rekening Kakakku. Ya sudahlah, aku pakai saja uang ini." Wira pun pergi dari Bank itu juga.


Selama ini, pertumbuhan kehamilan Arum mulai membaik lagi. Nafsu makan Arum pun juga sudah kembali. Bodynya sedikit gendutan dirawat dan dijaga oleh Rayden beserta selir Barsha. Sedangkan Arleya pulang ke negaranya untuk melihat Kastilnya. Takut Organisasi Mafianya dimasuki penjahat.


Kini usia kandungan Arum sudah masuk ke tujuh bulan. Arum merayakan syukuran bersama suami tercinta yang seyakinan dengannya dan selir Barsha yang juga telah menganut agama yang sama. Berkah luar biasa yang dirasakan Arum saat ini. Namun sayangnya, Rayden belum bisa kembali ke Veldemort karena ia tidak mau Arum dalam bahaya. Ia akan kembali ke sana setelah Arum lahiran.


Saat ini, ada kejutan yang sudah disiapkan Rayden. Arum ditutup matanya pakai kain, dan dituntun ke halaman belakang rumah.


"Mas, kita mau kemana? Kok di sini dingin banget?"


"Mas ada kejutan untukmu, beby." Rayden berbisik.

__ADS_1


"Kejutan apa?" tanya Arum sangat penasaran.


"Kalau dikasih tau bukan kejutan namanya, beby!" celetuk Rayden gemas.


"Hehehe... iya juga." Arum terkekeh. Rayden pun berhenti dan berdiri di depan istrinya itu.


"Duh, sudah sampai ya Mas?" cemas Arum agak takut membuka mata.


"Ya sayang, sekarang lihatlah!" seru Rayden melepaskan penutup mata Arum.


Arum perlahan membuka, samar-samar ada dua kursi dan satu meja yang diatasnya terdapat kue tart.


"Wow, ini kejutan buat aku?" Arum tersenyum lebar, terharu melihat suasana romantis malam ini di bawah gugusan bintang.


Rayden menarik pelan-pelan istri hamilnya, ia mendudukkan Arum di salah satu kursi dan ia duduk di kursi lain.


"Mas, ini romantis banget, aku suka!" riang Arum ingin menangis.


"Happy Birthday yang ke 19 tahun, my beby."


Chuup! Rayden mencodongkan tubuhnya dan mencium kepala Arum dengan kelembutan. Arum berdiri, ia memeluk Rayden.


"Terima kasih, sudah rayain ultahku." Arum terisak, pertama kalinya dalam hidupnya merayakan ultah ini. Arum bahagia mendapat suami yang baik dan bisa membahagiakannya. Meski ini terlihat sederhana, tapi rasanya sangat luar biasa.


"Duh, jangan nangis dong. Aku kan bikin ini bukan buat kamu nangis, yoklah senyum, beby." Rayden cubit-cubit gemas pipi tembem istrinya.


"Ihhh, aku ini nangis bahagia, Mas." Arum mendengus.


"Cup... cup... ya sudah tipu lilinnya terus minta doa terbaikmu, sayang." Rayden kembali duduk bersama Arum. Arum pun keras-keras melontarkan keinginannya.


"Semoga kebahagiaan selalu datang di keluargaku dan semoga Kamelia--" Arum berhenti. Ia masih saja memikirkan adik tirinya.


"Kenapa berhenti?" tanya Rayden berdiri.


"A-aku kepikiran Kamelia, hiks." Arum terisak, ia ingat jelas berkat anak itu ia dapat bertemu Rayden.


Rayden memeluknya lalu berbisik ke telinga Arum. "Maaf, aku sudah bohong padamu, beby." Arum tersentak, ia pun mendongak.


"Maksudnya?" tanya Arum tidak paham. Seketika, ia terkesiap setelah suara yang dia rindukan menyahut dari belakangnya.


"Ka-kakak," lirihnya memanggil. Arum secepat menoleh. Air matanya tumpah deras melihat anak perempuan blasteran itu berdiri tepat di depannya.


"Ka-kamelia, kau di sini, Dek?" Arum menghampirinya. Dipeluknya gadis kecil cantik itu. Kamelia yang kini sembuh total memeluk Arum. Ia menangis kencang dipertemukan sekarang.


"Kakak, Amel rindu Kakak, hiksss. Kakak jangan tinggalkan Amel lagi." Kamelia sesugukan mengingat ingatan terakhirnya saat Arum pergi mencari-cari pinjaman. Saat itu ia takut akan ditinggal.


"Tidak Dek, Amel tetap sama Kakak." Arum ingin jongkok, tapi perutnya cukup besar jadi hanya bisa membelai rambut Kamelia. Arum pun menoleh ke Rayden yang tersenyum.


"Ter-terima kasih, Mas sudah tepati janji." Mulutnya bergetar, ia memeluk Rayden dan Kamelia. Setelah itu, ketiganya bersama-sama menyelesaikan ultah indah itu.


Arum lega melihat Kamelia makan kue dengan lahap. Kini ia menatap Rayden.


"Mas, tahu tanggal lahirku dari mana? Kok bisa tahu aku ultah hari ini?" tanya Arum baru sadar ada yang janggal.


Rayden mengelus perut besar istrinya lalu menjawab jujur.


"Dari Nenek anak kita," jawab Rayden penuh kelembutan.


"Maksudnya?"


"Dari Ibu kandungmu, Arum." Rayden menunjuk ke balik semak-semak.


"A-apa? Ibu kandungku?" Arum terkejut sekali.


"Ya, dia ada di sini, beby."


"Tidak Mas, kata ayahku, Ibu kandungku sudah meninggal," lirih Arum air matanya lagi-lagi menumpuk.


"No beby, Ibumu ada di sana, cobalah kau temui dia."


Arum mengusap kedua matanya, ia bersusah payah berjalan ke semak-semak itu, diikuti Rayden dari belakang.


"Mama, mama kau di mana?" Arum memanggil lantang mencari sana sini. Sontak, ia berhenti setelah seorang wanita berdiri di belakangnya.


"Mama.... " Arum mendekatinya perlahan. Wanita itu mengepal tangan, lalu berbalik.


DEG! Arum terdiam melihatnya.


"Mama Barsha? Ke-kenapa ada di sini?" tanya Arum terbata-bata.


Barsha sudah lama memedamnya, ia memeluk Arum dan terisak pilu.


"Ini Mama, Nak. Mama yang melahirkan mu, sayang."


_____


Jujur, nangis bayanginnya huhuhu....

__ADS_1


Selamat ya buat Arum ♡ Rayden.


Tinggalkan like dan komen..


__ADS_2