Hasrat Tuan Muda

Hasrat Tuan Muda
Bab 48 Janji Jangan Nangis


__ADS_3

Dengan hadirnya Joan yang mendadak itu, asisten Braga dan Nyonya Mariam saling bertatap muka.


'Siapa yang menghubunginya?' Itulah terbesit di benak dua benalu itu.


"Kenapa diam saja, Braga? Kau tidak ingin katakan padaku yang sebenarnya?" Joan menggerakan kursi rodanya ke arah mereka, diikuti Dokter Pribadinya itu.


Braga menghirup udara sejenak, kemudian menjawab jujur.


"Tuan Joan, semua masalah terjadi akibat perbuatan Tuan Rayden. Dia telah membelot dan ingin meruntuhkan Mafia Veldemort. Tuan Rayden sudah membuat kesepakatan bersama selir Barsha. Keduanya bahkan berani membohongi identitas adik ipar." Braga menjelaskan panjang lebar dan percaya diri akan dipuji oleh Joan. Namun apa itu sungguh dia terima?


"Adikmu itu sudah keterlaluan! Dia dan Istrinya harus dihukum beserta wanita pembohong itu!" sahut Nyonya Mariam ikut-ikutan bicara.


Dokter pribadi Joan terdiam, ia tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi. Karena seorang wanita bernama Melissa menghubunginya kemarin. Rupa-rupanya Melissa berhenti bekerja setelah ada kabar putranya mengalami kecelakaan. Ini kesempatan Melissa lari dari masalah dan mengadu pada Joan bahwa asisten Braga bersekongkol dengan Nyonya Mariam. Tapi sayangnya, Melissa tidak beritahu soal Arum, sehingga Joan belum tahu adik iparnya itu.


"Lantas kemana Rayden dan istrinya?" tanya Joan masih tetap tenang dan melirik Ayahnya yang ditangani oleh Dokter lain.


"Dia berhasil kabur, bahkan jejaknya lagi-lagi hilang. Saya yakin dan pasti Tuan Rayden keluar dari negara ini, Putra tertua." Braga mendekat.


"Ini waktunya Tuan Joan mengambil alih tahta dan mengejar adik anda yang sudah berkhianat," sambung Braga ingin menghasut. Apa itu mempang? Cih, tidak semudah itu ia dapat menghasut pria baik dan logis seperti Joan.


"Tidak perlu buru-buru, biarkan aku yang membantumu pulih, Tuan Joan." Ratu Mariam menghampirinya.


Joan melirik keduanya bergantian. Tiba-tiba saja seseorang memanggilnya.


"Jo-joan, ke-ke-kemarilah, Nak...."


Mereka menoleh ke Tuan Edward yang kembali sadar. Mariam panik dalam hatinya tidak ingin suaminya sadar lebih dulu. Tapi, berkat Dokter yang masih punya hati baik, ia menyadarkan pria tua berkuasa di Veldemort itu. Mariam mendecak kesal pada Dokter.


"Papa.... " Joan menyuruh Dokter pribadinya mendorong ke arah ayahnya. Asisten Braga diam di samping Mariam yang sedang gigit-gigit jari.


"Kau dari mana saja, Nak?" tanya Edward lirih dan lemah. Joan hanya tersenyum pada laki-laki yang jarang melihatnya di mansion Barsha, dan sekarang pria tua itu mencari dan menanyai kabarnya. Joan meraih tangan ayahnya, berkata dengan lembut.


"Aku baru saja berobat, maaf Joan baru jenguk Papa."


Edward menggelengkan kepala.


"Harusnya Papa yang minta maaf tidak pernah melirikmu, Papa dibutakan oleh Ibu tirimu sampai Papa menelantarkan kalian berdua. Papa sudah bersalah pada kalian berdua, Nak." Kata-kata maaf itu terasa tulus. Bahkan tidak dapat dibedakan apa itu asli atau hanya kepalsuan?


"Aku tidak pernah marah sama Papa, aku malah berdosa tidak berobat dari dulu, sampai membuat Papa dan Rayden susah payah mengatur Veldemort." Suasana dramatis itu cukup mengharukan bagi dua Dokter di sana. Kecuali, Mariam yang kesal, sarasa kata-kata itu tertuju padanya. Sementara Braga masih diam.


"Hari ini, dan dengan dua saksi di sini, Papa menyerahkan tahta padamu, Nak. Setelah kau menggantikan Papa, carilah istri dan lahirkan anak penerus Mafia. Dan--"


Nafas Edward mulai sesak, ia pun berusaha menuntaskan ucapannya.


"Dan apa, Papa?"


"Cari adikmu, temukan dia sebelum musuh-musuh Papa membunuhnya."


"Papaaa!" pekik Joan terkejut melihat ayahnya pingsan. Dua Dokter kembali memeriksa kondisi Edward yang semakin menurun dan menyuruh Joan keluar bersama Mariam beserta asisten Braga.


"Kenapa anda tidak bersedih?" tanya Joan melirik Mariam yang asik diam.


"A-aku lagi sedih, huhuhuhu... semoga cintaku di dalam sana baik-baik saja. Aku tidak mau jadi janda secepat ini, huhuhu...."


Joan memutar bola mata merasa kesal, kata-kata kepalsuan wanita itu yang lebih tua sepuluh tahun darinya, dapat ia kenal jelas.


'Cih, dasar ulat gatel.' Joan mencemoh dalam hati.

__ADS_1


"Tuan Joan, lebih baik anda secepatnya kembali ke Istana dan menyuruh pembunuh bayaran untuk mencari Tuan Rayden. Saya takut, akan ada perang saudara di wilayah ini." Braga lagi-lagi berusaha menghasutnya.


"Tidak Braga, ayahku lebih penting sekarang. Saya takut akan ada yang membunuh ayahku di sini," lirih Joan ke Mariam. Nampak Joan masih asik dalam drama ini.


"Percayakan Tuan Edward pada saya. Anda hari ini sudah bisa mengontrol Negara dan dapat memeritahkan untuk menangkap Tuan Rayden." Braga masih kukuh menghasut Joan.


"Tidak Braga, saya tetap harus di sini." Joan tidak peduli ucapan Braga.


"Tapi, situasi Veldemort sedang bahaya! Anda harus kembali ke mansion!" desak Braga.


Taaang! Tuuung! Taaang!


Braga melongo hebat melihat Joan berdiri dan melempar kursi rodanya. Mata Mariam membulat melihat pria lumpuh itu dapat berdiri.


"Joan, kau tidak lumpuh lagi?" Mariam shock melihat dari bawah ke atas tubuh Joan yang gagah. Tidak kalah gagah dan tingginya dengan Rayden.


Bukan jawaban yang terdengar, melainkan tamparan di pipi Braga.


Plaaak!


"Tuan, mengapa anda menampar saya?"


"Cih, kau pikir aku akan percaya padamu, Braga!" ujar Joan sekali lagi menampar pipi sebelah cukup keras.


Plaak!


"Joan, apa-apaain ini! Kenapa kau tiba-tiba kasar? Braga sama sekali tidak bersalah!" bela Mariam.


"Be-benar, salah saya ada di mana?"


Rahang Joan mengeras, ia geram melihat sorot mata Braga yang menjijikan. Joan pun mendorong Braga tanpa ampun hingga pria itu jatuh beringsut ke belakang.


"Dan kau, hari ini aku akan kirim mau ke RSJ!" lanjut Joan ngamuk. Mariam tersentak, pertama kalinya ia melihat Joan begitu marah.


"Pengawal! Bawa wanita gila ini pergi dari sini dan kirim secepatnya ke RSJ!"


"Tidaaak! Aku tidak gila, kau jangan asal membawaku, Joan!" ronta Mariam ingin lepas dari dua bodyguard Joan.


"Kau renungkan sampai mana batas kewarasanmu! Seret dia ke sana cepat!"


"Baik, Tuan!" Mariam diseret paksa keluar dari rumah sakit. Ia meraung-raung dan mengutuk Joan yang asal-asalan menggunakan kekuasaan Edward.


"Dan untukmu, Braga!" ujar Joan nunjuk ke asisten sampah itu. Braga menunduk ketakutan tidak tahan melihat mata biru laut itu menyala-nyala seakan ingin menyapu dirinya dari wilayah ini.


"Kau sudah diberi kehidupan mewah dan dapat bekerja di tangan selir Barsha. Tapi rupa-rupanya kau berkhianat pada Ibu tiriku itu, di mana lagi kesetiaanmu, Braga!" bentak Joan tegas. Wataknya seketika berubah.


"Ampun Tuan Joan, saya tidak berkhianat, justru selir Barsha yang sudah berkhianat pada Veldemort. Ampuni saya, Tuan Joan." Braga bersimpuh meminta mengampunan.


Duaaak!


"Saya sangat kecewa padamu, Braga!" murka Joan menendangnya.


"Kau harus tahu, sebenarnya dari awal aku yang berkhianat di sini."


Deg! Braga terkejut mendengar pengakuan Joan.


"Pengawal!" panggil Joan ke bodyguardnya yang lain lagi.

__ADS_1


"Ya, Tuan!" sahut dua bodyguard muncul begitu saja.


"Seret pria tidak tahu diri ini ke penjara, dan jatuhi hukuman seumur hidup!"


"Tidaak, Tuan! Dengarkan aku," mohon Braga memeluk sebelah kaki jenjang Joan.


"Ketahuilah, gadis yang anda sukai adalah adik ipar anda sekarang. Tuan Rayden sudah merebut cinta anda Tuan Joan, bahkan gadis itu tengah hamil anak Tuan Rayden!"


'A-apa? Arum adalah adik iparku dan dia sedang hamil sekarang?' batin Joan terkejut. Ia pun menatap Braga.


"Cepat bawa pria ini ke penjara!" titah Joan amarahnya membara.


"Tidaaaak! Ampuni saya, Tuan Joan!" ronta Braga dibawa paksa ke tempat penjara mansion. Joan bersandar ke tembok, ia meremas rambutnya.


"Gadisku sekarang sudah jadi Istri Rayden? Apa aku sudah terlambat? Apa sesuatu sudah aku lewatkan?" Joan jatuh ke lantai. Jantungnya terasa sakit,  sakit seakan-akan teriris pisau tajam.


"Arghhhhhhh!" racau Joan merasa tidak berguna. Sekali lagi ia kalah dari adiknya itu. Dokter pribadinya keluar dari ruangan mendengar teriakan Joan. Ia pun berjongkok di depan Joan.


"Tuan Joan, tenanglah. Anda baru saja sembuh. Tenanglah, Tuan Joan."


Joan menghirup nafas dalam-dalam, lalu tersenyum ke Dokter. Ia serasa kembali lemah. Ini mengingatkannya pada kematian Ibunda Elizabeth. Ibu yang meninggal tepat di depan matanya dan sekarang pujaan hati ikut pergi dari impiannya.


"Dada saya sakit sekali, serasa tidak berguna, Dok." Joan berdiri berusaha tenang.


"Anda jangan putus asa, tunjukanlah pada semua orang anda bukan lagi pria lumpuh seperti dulu, anda adalah putra mahkota, seorang pemimpin yang akan memakmurkan negara ini." Dokter menepuk bahu Joan, memberi semangat penuh.


Joan diam, ia tertunduk sedih. Ia pun masuk ke dalam, dan melihat Dokter lain di dekat Raja menunduk. Tatapan Joan pun teralih pada Edward yang sudah tertidur selamanya. Joan menggenggam tangan sang Ayah lalu mengelus kepala ayahnya.


"Maaf, Papa. Mungkin sistem negara kita cukup berakhir di sini. Saya tidak mau ada luka kembali terbuka."


Joan menangis pilu di dekat Edward. Dokter memberi ucapan bela sungkawa dengan kepergiannya. Kematian Tuan Edward akibat dari jantungnya yang lemah. Pria itu berakhir dengan tenang di sisi makam istri pertamanya, Elizabeth. Pemakaman yang diberitakan secara publik menggempar di seluruh media sosial. Sehingga Arleya yang tengah asik menonton tv bersama Barsha begitu terkejut.


"Edward..." Barsha diam-diam menitikkan air mata, ia sangat terkupul mendengarnya. Suami yang tidak pernah menyentuhnya sedikit pun itu pergi tanpa kehadirannya.


"Barsha, kau yang sabar." Arleya memeluk Barsha. Barsha tersenyum, ia sudah mengikhlaskan Edward. Cinta yang dulu ada sudah hilang dikalahkan oleh lukanya.


"Apa Rayden sudah tahu ini?" Arleya melirik ke pintu kamar Rayden dan Arum. Tanpa dia lihat pria itu, Arleya tahu Rayden sedang menangis di dalam sana. Walau Rayden terkenal keras, ia tetap sedih mendengar kepergian Raja. Air matanya tiada henti-hentinya menetes.


"Mas, kamu yang tabah dan sabar ya." Arum memeluk Rayden. Tidak, pelukan itu belum cukup menenangkannya.


"Aku sedih, tidak melihat Ibu dan ayahku meninggal. Kenapa mereka tidak bilang-bilang dulu padaku." Rayden menangis bagaikan anak kecil. Arum memeluk erat Rayden, tidak tahan mendengarnya terisak. Hatinya terlalu lemah dan rapuh sekarang.


"Mas, jangan sedih, yok bangkit yok demi aku dan anak-anak kita." Arum tersenyum manis menyemangati suami tampannya. Rayden pun mengangguk dan mencoba untuk tenang. Ia pun mengusap perut buncit istrinya yang masih lemah itu.


"Maafkan Daddy sudah nangis di depan kalian. Lain kali Daddy tidak nangis lagi," ucap Rayden mencium perut Arum.


"Janji ya, kalau aku juga pergi kamu jangan nangis lagi." Arum tiba-tiba berkata lirih.


"Kamu kok ngomong gitu, beby?" Rayden terkejut Arum bicara seperti itu. Arum tersenyum kemudian menyandarkan kepalanya ke dada bidang suaminya lalu mengelus perutnya dan melihat di tangannya masih ada jarum infus.


"Aku...sangat bahagia bisa kenal dan nikah sama, Mas Ray. Kalau anak kita lahir perempuan, Mas jangan sakiti dia ya, Mas janji kasih nama Arum sepertiku ya. Cintai dia seperti Mas cintai aku ya," lirih Arum sedikit terisak. Serasa ada sesuatu yang dia tahan selama ini.


"Beby, beby! Kamu kenapa?" Raden panik melihat Arum memejamkan mata.


.


.

__ADS_1


.


Beberapa episode lagi akan tamat. Yok tinggalkan like dan komen ya.


__ADS_2