Hasrat Tuan Muda

Hasrat Tuan Muda
Bab 37 Mau Susumu


__ADS_3

"Ini sungguh Tuan Rayden, pangeran kedua?" tanya Pak Ustadz masih shock.


"Ya Pak, dia Mas Rayden, suamiku." Arum garuk-garuk kepala merasa gugup ditatap oleh mereka.


"Berarti ini Nona Arumi ya?" tebak Istri Ustadz nunjuk Arum.


"Iya, aku Arumi. Ta-tapi sebenarnya nama asliku itu Arum Marchelya, bukan Arumi Charleya."


"Loh ini maksudnya apa ya?" Ustadz masih belum paham. Kini giliran Rayden yang menjawabnya.


"Pak, istriku ini asli dari benua Asia. Dia bukan putri dari Lady Arleya. Istriku juga seorang muslim, dan sekarang aku ingin belajar agama dari Pak Ustadz."


Pak Ustadz memegang dadanya, ia semakin shock.


"Astagfirullah, jadi kalian ini sudah berbohong selama ini dong?" ucap Istri Ustadz yang juga ikutan shock.


"Ya mau gimana lagi, kami saling cinta, Bu." Rayden memegang tangan Arum dengan serius. Pak Ustadz memijit kepalanya yang berdenyut-denyut. Ia tidak habis pikir, Tuan kedua yang dikenal arrogan dan bar-bar takluk juga di tangan gadis seperti Arum.


"Oh ya, ini kenapa Tuan Rayden pakai kumis dan jenggot ya? Kalian sedang melakukan penyamaran untuk ke sini?" tanya Istri Ustadz penasaran.


"Bukan," jawab keduanya serempak. Pak Ustadz mengerutkan dahi merasa ada yang aneh.


"Terus apa?" tanya Pak Ustadz.


"Itu istriku lagi ngidam, Pak."


"What's?" Keduanya terbelalak melihat Arum lalu turun ke perut Arum yang memang buncit.


"Hamil?" tebak Istri Ustadz. Arum dan Rayden menganggukkan kepala. "Astagfirullah, ini kalian melakukan gituan sebelum nikah?" tanya Pak Ustadz sambil ngelus-ngelus dada. Keduanya pun kembali shock mendengar cerita awal mereka bertemu. Pak Ustadz pun menjelaskan hukum-hukum agama pada Rayden, dari perbuatan Zina, sampai pernikahan yang mereka gelar.


"Jadi, harus nikah lagi gitu ya, Pak?"


"Ya harus! Tapi ini Tuan Rayden sudah yakin keputusannya?"


"Ya Pak, aku sudah yakin,"


"Masya Allah."


Pak Ustadz pun kembali menerangkan pada Rayden. Arum di sebelah Istri Ustadz terharu melihat suaminya sudah maju selangkah. Rayden terlihat dipeluk oleh Pak Ustadz.


"Mari kita makan bersama," ajak Istri Ustadz pada pengantin baru itu.


"Terima kasih, Bu." Arum tersenyum manis.


Terlihat di atas meja sudah sedia menu lauk nasi padang dan soto betawi. Arum terdiam, ia memikirkan kampung halamannya. Ia pun iseng-iseng melirik Rayden tengah sibuk bicara pada Pak Ustadz. 'Aku tidak ingin jadi Ratu, yang kuinginkan dapat hidup apa adanya bersama Mas Rayden. Jika seandainya bisa, aku lebih baik tinggal di Indonesia.' Arum menunduk dan menyantap masakan kuliner lezat itu.


Tidak lama kemudian, Arum dan Rayden sah juga menikah hari ini. Ia diwakili oleh Asisten Braga yang memang pria ini masih punya hubungan dekat dengan Tuan Edward. Asisten Braga hanya bisa bungkam dengan kelakuan Rayden. Pria paruh baya itu tidak habis pikir Arum dapat mengubah Rayden. Dari raut wajahnya, Asisten Braga tidak suka Arum.


Setelah dari rumah Pak Ustadz, mobil Rayden melaju mengikuti mobil Asisten Braga. Tiba-tiba Arum kembali mual-mual.


Hueekkk...


"Kamu mual lagi?" Dengan perhatian, Rayden membelai kepala Arum.


"Ya, sudah mual-mual lagi nih," ucap Arum agak cemas.


"Obat vitamin mu sudah habis?" tanya Rayden fokus menyetir.


"Sudah, kemarin malam." Arum mengelus-elus dadanya yang tidak karuan dengan mual-mualnya itu.

__ADS_1


"Kalau begitu kita singgah dulu ke supermarket beli vitamin dan susu kandungan untukmu," ucap Rayden segera berbelok membuat Asisten Braga terkejut melihat mobil Rayden tidak mengikutinya. 'Loh, kemana Tuan Rayden?' pikir Asisten Braga bergegas mencarinya.


Ciiit! Mobil Rayden berhenti di sebuah supermarket. Arum dan Rayden turun bersama. Sontak saja, kehadiran mereka membuat semua mata pembeli beralih pada Rayden yang berkumis dan berjenggot. Nampak mereka berbisik-bisik karena baru melihat keduanya. Memang Arum membuka samarannya, ia kembali seperti dirinya sendiri.


Rayden menatap sinis dan dingin mereka, pria itu menarik cepat Arum untuk mengambil keranjang. Tatapan mereka membuat Rayden kesal. Seolah-olah ia seorang gangster di samping Arum. Lah memang Mafia wkwk...


"Sudah selesai pilihnya?" sahut Rayden menghampiri Arum.


"Sudah nih, Mas." Arum memperlihatkan isi keranjang.


"Tidak ada lagi yang mau kau beli selain itu?" tanya Rayden menatap dua kotak susu Ibu hamil dan satu set vitamin.


"Emm... itu--"


"Itu apa?"


"Aku bisa jajan gak?" tanya Arum malu-malu.


Rayden menatan tawa mendengarnya. "Puftt, apa perlu izin dulu ke suami?"


"Ya Mas, nanti kalau aku asal beli kamu bakal marah, terus uang kamu bisa habis," jawab Arum tergagap.


"Hei, apa kamu lupa siapa aku? Aku ini putra kedua Mafia, aku punya banyak uang di dompetku, bahkan di berbagai benua aku punya rekening banyak. Apa kamu masih meragukan uang ku?"


Arum memutar bola mata malas mendengar Rayden yang pamer kekayaan. 'Iss sombong banget, awas ntar jatuh miskin baru tau rasa!' Arum menggigit bibir bawahnya.


"Kenapa mukanya ditekuk gitu?"


"Tidak ada apa-apa,"


"Kamu tidak percaya?"


"Sudah, tidak usah berisik! Nanti semua orang curiga sama kita," cetus Arum agak kesal.


"Baby Boy? Kenapa kamu bisa yakin anak kita laki-laki?" tanya Arum belum juga minggat dari tempatnya berdiri.


"Karena Putra Mahkota harus laki-laki, bukan perempuan."


DEG.


Arum tersentak kaget, seakan-akan ada sengatan listrik menusuk jantungnya. Kalau sengatan cinta, sudah pasti meledak.


"Kalau yang lahir perempuan?" ucap Arum agak cemas. Benar saja, Rayden tidak menjawab.


"Sudah tidak usah tanya-tanya, sana pergi beli yang kamu suka!"


Arum menunduk lesu, ia pun pergi membeli sepuas hatinya. Ia sedih bercampur kecewa pertanyaannya tidak dijawab. Terlihat Rayden sudah berdiri menunggunya di depan kasir. Sedangkan Arum membuka ponselnya, ia melihat makanan yang bisa mewujudkan keinginan Rayden itu. Arum bertekad harus melahirkan anak laki-laki.


Sesampainya di depan kasir.


"Dek, belanjaannya banyak sekali. Buat Mamanya ya?" seorang Ibu menyenggol bahu Arum karena melihat belanjaan Arum seperti kesukaan ibu-ibu hamil. Ia mengira Ibunya Arum yang hamil.


"Bukan, Mama saya sudah tidak ada, Bu,"


"Oh i'm sorry, Dek,"


"Tidak apa-apa, Bu." Arum tersenyum manis.


"Terus belanjaan sebanyak ini buat siapa, Dek?" Ibu itu tanya lagi sambil melirik Rayden yang sudah masam di samping Arum.

__ADS_1


"Buat saya sendiri, Bu," jawab Arum mengelus perutnya.


"Eh, kamu sedang hamil?" kaget Ibu itu karena Arum yang belia sudah mengandung anak.


"Hehe iya Bu, sudah mau tiga bulan," cengir Arum.


"Suaminya kemana ya, Dek? Kenapa yang temenin belanja Omnya?"


DEG.


Rayden hampir meledak dianggap om-om oleh Ibu itu. Mungkin karena ia pakai kumis dan jenggot, ia terlihat pria tua tampan.


Arum menengok Rayden yang sudah merah padam, dalam hatinya ia tertawa puas melihat pria itu memendam amarah.


"Suami saya ada kok, Bu,"


"Terus suaminya mana?" tanya Ibu itu penasaran. Rayden menggertakkan giginya, jelas-jelas ia adalah suaminya Arum.


"Ini suami saya, Bu." Arum merangkul lengan Rayden. "What's?" Ibu itu langsung saja shock, diikuti kusir juga.


"Mas, senyum dong." Arum menggeliatkan tangannya. Rayden pun dengan kesal tersenyum kecut. Dalam hatinya ia ingin sekali mengirim nuklir ke supermarket itu.


Arum bergegas membawa Rayden keluar setelah belanjaannya sudah beres. Tidak seperti Ibu tadi yang masih diam mematung.


"Itu sungguh suaminnya? Kok gitu?" gumam Ibu garuk-garuk kepala.


"Aduh Ibu, gak usah heran, kalau sudah cinta, tidak mandang umur lagi. Hahaha...."


Kusir menertawai Ibu bule itu yang keheranan. Sedangkan Rayden masih saja cemberut menyetir di samping Arum yang tengah meminum susu kotak.


"Mau susu, Mas?" Arum menawarkan susu kotaknya.


"Gak, aku tidak suka susu itu," tolak Rayden datar.


"Terus mau susu yang mana? Di sini ada loh rasa coklat, vanila, dan stroberi," ucap Arum menawarkan lagi.


"Gak mau,"


"Oh gitu, terus mau minum apa?" tanya Arum menyedot pipet susu kotaknya. Rayden menengok lalu berkata dengan serius.


"Mau susumu,"


Huukk... hukkk.... huukk


Arum tersedak mendengarnya, apalagi Rayden menunjuk susu bulatnya.


"Susuku belum ada isinya, Mas!" celetuk Arum kesal.


"Tunggu ada isinya," ucap Rayden menahan tawa.


"Ishh, gak boleh minum! Ini buat Baby kita, bukan buat Daddynya!" rungut Arum mendengus. Mendengar penolakan Arum, Rayden langsung tersenyum seringai. 'Hehehe...' Sepertinya Rayden punya rencana untuk Arum malam ini. Gadis itu bergidik ngeri melihat tatapan nakal Rayden. 'Jangan-jangan Masku kesurapan nih?'


.......


.......


.......


...Wkwkwk...

__ADS_1


...Tinggalkan Like dan Komennya...


...~Terima kasih~...


__ADS_2