
Dua hari pun berlalu, di tempat kerja Wira. Terlihat pria berambut ikal itu sedang duduk sendirian tengah merenungkan sesuatu.
"Bro, ngapain bengong di sini?" Seseorang menghampirinya dan duduk di sebelah Wira.
"Biasa lagi mikirin Arum," jawab Wira lesu.
"Lupakan, gak usah mikirin tuh cewek lagi, dia udah tenang di alam sana. Mending kau cari yang lain saja deh!"
"Gak bisa, aku ngerasa bersalah banget sama Arum, Bro!"
"Yaelah, kau kan gak salah, Wir!"
"Tetap saja aku ngerasa salah, Bro,"
"Kau terlalu cinta sih ke Arum jadi gak bisa move on nih, mending kau cari Janda deh, terus ajak nikah langsung,"
Wira membola sempurna dan hampir saja tersedak air minumnya. Teman Wira terpingkal-pingkal lalu menyenggol bahu Wira lalu menunjuk ke seseorang.
"Noh, si Bos tuh Janda kembang loh di Desa kita. Sudah kaya, sukses, good looking, mandiri, idaman banget kaum adam, kau pasti doyang ngejar dia!" cerocos temannya itu sambil memainkan dua tangannya mengikuti body langsing Bosnya yang tidak sengaja lewat dan tidak jauh dari mereka berdua.
"Dih, gak usah ngatur deh! Sana, kau pergi kerja!" usir Wira risih.
"Cih, dikasih saran malah ngusir. Kamvret lo!"
Temannya pun dengan kesal mengoceh lalu pergi meninggalkan Wira sendirian. Pria itu pun bangkit ingin ke rumah sakit di jam istirahatnya ini. Selama ini ia belum pernah dengar kabar adiknya Arum.
Tidak lama kemudian, ia telah sampai di rumah sakit. Wira turun dari motor dan kemudian masuk mencari ruangan Kamelia. Hanya beberapa menit, ia telah sampai juga. Namun rupanya ruangan itu telah ditempati oleh pasien baru.
"Permisi, suster,"
"Ya ada apa, Mas?"
"Pasien yang bernama Kamelia itu kemana ya? Harusnya dia dirawat di sini," ucap Wira bertanya.
"Oh itu, anak itu sudah tidak dirawat di sini lagi, Mas,"
"Kalau begitu, kemana anak itu, Suster?"
"Dia seminggu lalu telah dibawa oleh orang lain, katanya dia keluarga Mbak Arum,"
"Dibawa kemana ya, Suster?" tanya Wira penasaran. Ia tahu Arum sudah tidak punya keluarga kecuali Kamelia. Suster itu pun memberitahu Wira, tetapi tidak sedetail yang Suster tahu. Wira berterima kasih, pria berkulit sawo matang itu keluar dari rumah sakit, mengendarai motornya dan menghubungi seseorang.
📱 "Yakin kau mau berhenti?" Seseorang terkejut dalam panggilan itu.
📱 "Benar, aku butuh refreshing, Bro. Mungkin aku harus berangkat ke LN,"
📱 "Yang benar?"
📱 "Yoi,"
📱 "Kenapa gak ke Bali saja? Sekalian kau bisa dapat cewek di sana!" ujar temannya kembali memberi saran.
📱 "Maunya gitu, tapi aku punya urusan ke sana dulu. Kau wakilin aku ya ngomong ke Bos,"
📱 "Aishh, okay deh!"
Tuutt! Wira menghela nafas. Ia pun telah membulatkan niatnya untuk terbang ke LN. Sekalian mencari keberadaan Kamelia. Wira curiga, ada sesuatu dibalik pernyataan polisi yang telah mengatakan gadis itu sudah dibunuh.
Di Paris, salah satu hotel megah dan terbesar berdiri di sana, terlihat Joan sedang berada di hotel itu ditemani oleh seorang Dokter yang akan merawatnya melakukan kemoterapi.
Joan sedang merenung di dekat jendela. Pria lumpuh itu kembali murung setelah Asisten Braga memberitahunya bahwa Rayden akan menikah besok. Kabar baik itu terlalu cepat baginya.
"Tidak sangka, dia akan berumah tangga duluan daripada aku yang lumpuh ini. Bahkan sampai sekarang dia tidak pernah menghubungiku, memang benar apa kata orang dulu, aku hanya akan tertinggal jauh olehnya."
Joan mengukir senyum kecil, ia ingin pulang kembali ke Negaranya, tetapi ia juga merasa minder untuk menghadiri pesta pernikahan adiknya. Ia yang sebagai anak tertua hanya bisa mendoakan Rayden dari jauh.
__ADS_1
"Tuan Joan, apa anda butuh sesuatu?" tanya Dokter menghampirinya.
"Tidak ada, Dok,"
"Kalau begitu, mengapa anda bersedih?"
"Aku merasa tidak berguna, Dok. Semenjak aku lumpuh, semua keinginan untuk hidup hampir sirna. Namun rupanya, ini berdampak besar bagi adikku," tutur Joan mengungkit Rayden.
"Dia selama 20 tahun ini telah tertekan dengan keinginan ayah. Aku ingat jelas saat dia masuk ke dalam organisasi, dia selalu menangis tengah malam. Aku merasa bersalah padanya tidak bisa berguna untuknya. Jika saja dari dulu aku berobat, pasti dia bisa merasakan kebebasan," sambung Joan menunduk.
"Aku jadi penasaran siapa calon Istrinya." Joan melihat Dokter dan tersenyum. Tiba-tiba saja, ponselnya berdering lagi. Dokter pun mengambil ponsel Joan, ia memberikannya ke Joan setelah nama si pemanggil tertera di layar benda persegi itu.
"Siapa, Dok?"
"Adik anda, Tuan,"
"Ray-rayden?" Joan terkejut ditelfon oleh Rayden malam ini. Ia buru-buru mengangkatnya.
📱 "Ha-halo, Rayden. Ada apa kamu menghubungi ku?"
📱 "Joan, kenapa kamu tidak beritahu padaku tentang niatmu ini?"
Rupanya Rayden baru tahu tentang pengobatan Joan.
📱 "A-aku tidak ingin memberimu beban pikiran lagi,"
📱 "Astaga, apa kamu tidak lagi percaya padaku sampai menyembunyikan ini?"
📱 "Maaf Rayden, aku ingin mencoba berjuang sendiri. Sudah cukup banyak kamu lakukan untukku selama ini, dan sekarang a-aku ingin belajar menangani masalahku," ucap Joan terbata-bata.
📱 "Aiss, kamu ini membuat ku khawatir di sini," desis Rayden takut keselamatan kakaknya terancam di luar sana.
📱 "Tidak perlu cemas, selagi tidak ada yang tahu, aku pasti akan baik-baik saja dan selamat kamu tidak akan lama lagi menikah,"
📱 "Dari Braga, dia barusan menelfonku juga,"
📱 "Oh dia memang selalu gercep ya, hahaha...." tawa Rayden seakan menikmati obrolan di panggilan itu. Joan ikut tertawa lalu seketika diam.
📱 "Kamu baik-baik saja, Joan?"
📱 "Maafkan aku, gara-gara aku yang lumpuh ini kamu jadi terbebani tugas dari Ayah."
Rayden menunduk di balkonnya, terdiam setelah mendengar suara lirihan lemah Kakaknya itu yang hanya beda dua tahun.
📱 "Ahh, itu hal kecil bagiku, aku sama sekali tidak terbebani kok. Kamu tidak perlu murung gitulah, hahaha...." tawa Rayden memecahkan heningnya malam.
📱 "Rayden," ucap Joan kembali.
📱 "Hem, apa? Apa kamu ingin pulang malam ini juga?"
📱 "Bukan, a-aku ingin tahu siapa gadis yang ingin kamu nikahi, dari mana dia berasal?"
Glug!! Rayden meneguk saliva.
📱 "Haha... itu dia dari keluarga Charleus,"
📱 "Oh anak dari siapa?"
📱 "Da-dari Lady Arleya," jawab Rayden berbohong.
📱 "Ohh dia," gumam Joan mangut-mangut lalu menyentuh dagunya. Ia sedang berpikir, 'Sejak kapan Lady Arleya punya anak?'
📱 "Joan, apa kamu tidak punya gadis yang kamu cintai?" tanya Rayden iseng-iseng.
📱 "A-ada," jawab Joan malu-malu.
__ADS_1
📱 "Wow, siapa gadis itu?"
📱 "Di-dia masih misterius, ta-tapi aku menyukainya pada pandangan pertama,"
📱 "Oh jangan-jangan karena gadis ini kamu berobat, ia kan?"
📱 "Ti-tidak juga kok, aku-aku berobat ini karenamu,"
📱 "What, aku?" Rayden terkejut.
📱 "Ya, a-aku ingin sembuh agar bisa menjadi King dan supaya kamu bebas dari tekanan Ayah,"
Deg! Rayden semakin terkejut.
'Tidak, Joan tidak boleh menjadi pewaris sebelum aku runtuhkan kekuasaan ayah!' batin Rayden meremas ponselnya.
📱 "Wah bagus sekali, tapi apa kamu sudah siap dengan resikonya?" tanya Rayden.
📱 "Rayden, sebenarnya aku punya rencana lain," jawab Joan menatap keluar jendela.
📱 "Apa itu?"
📱 "Meruntuhkan kekuasaan ayah,"
'Apa? Joan juga berpikir sepertiku?' batin Rayden menutup mulutnya.
📱 "Jika seandainya kamu berhasil menduduki tahta, bisakah kamu menyerahkan tahta itu padaku?"
📱 "Ah maaf Joan, Mama Barsha sedang memanggilku. Lain kali kita bicarakan ini."
Tuuut! Panggilan terputus. Rayden berbohong demi rencananya berjalan mulus. Ia tidak mau Joan ikut-ikutan berpikir demikian, tidak mau saudara satu-satunya celaka.
"Huft... dia pasti marah sudah mendengar ocehanku barusan. Memang aku salah, dia yang capek-capek mengambil alih tapi aku malah seenak jidat memintanya. Astaga... aku ini manusia atau iblis sih!" desis Joan menunduk sedih.
Begitupula Arum yang berada di Kastil Arleya. Gadis itu sedang berdiri di balkon, seraya mengusap-usap perutnya. Ia sudah dua hari tinggal di Kastil itu, membuatnya rindu dengan Rayden.
"Baru saja sehari kami bertemu, kita kembali berpisah. Tapi tidak apalah, besok juga kami akan bertemu," gumam Arum tersenyum menatap langit malam. Menghirup udara segar dan menikmati suara nyanyian jangkrik yang memecahkan kesunyian malam.
"Baby, kamu yang sabar ya di dalam sana. Besok pasti kita akan berjumpa lagi sama Papa Goblin," canda Arum bicara pada Baby Rayden.
"Tapi aku jadi sedih sama saudara Papa Goblin, dia pasti kesepian di luar sana." Arum memikirkan Joan.
"Aduh! Aku tidak boleh memikirkan pria lain kecuali Tuan Rayden." Arum menggelengkan kepala lalu menghembus nafas.
"Good night, Tuan Rayden." Arum masuk dan menutup tirai, beranjak tidur di ranjangnya sendirian. Sedangkan Rayden
juga sedang rebahan di ranjangnya.
"Aisss, apa dia sudah tidur?" desis Rayden ingin menelfon Arum tapi ia takut akan mengganggu gadisnya.
"Achhh... menyebalkan sekali!" racau Rayden tersiksa dengan kerinduannya. Ia pun memejamkan mata, memaksakan diri untuk tidur malam ini. Sementara Selir Barsha masih di dalam ruang bacanya. Ia sedang mengurus jumlah pengeluaran dan pernikahan Rayden. Mengatur dengan baik semuanya dan akhirnya ia dapat istirahat. Barsha bersandar di kursinya, sedang memikirkan Arum.
"Siapa sebenarnya anak ini? Sejak ia menyebut nama ayahnya, aku jadi merasa tidak asing mendengarnya."
"Aisshh... apa yang terjadi padaku sih!" Barsha mendesis tidak karuan. Ia pun memejamkan mata, menenangkan pikirannya. Namun ia susah untuk tidur. Ia merindukan untuk mengerjai Arum. 'Semoga saja besok anak ini tidak buat masalah.'
Barsha pindah ke kamarnya sendiri untuk tidur sekarang juga.
.......
.......
.......
...Tinggalkan Like dan Komen...
__ADS_1