Hasrat Tuan Muda

Hasrat Tuan Muda
Bab 85 | S2 : Enak Sayang


__ADS_3

"Assalamu alaikum," ucap Kamelia masuk ke dalam rumah bersama Barsha, lalu menutup pintu. 


"Wa'alaikumsalam," jawab Arum baru saja ingin memanggil Rayden, tapi ternyata adik dan ibunya sudah pulang dari pasar sore. Meski hidup mewah, Barsha ingin sekali merasakan bagaimana menjelajahi pasar di sore hari. Apalagi ini pertama kali bagi wanita bule itu menyambut bulan berkah ini. 


"Mama, kok cepat banget pulangnya?" tanya Rayden segera berdiri dari aksi konyolnya barusan. 


"Alhamdulillah, apa yang mau mama beli semua ada, jadi gak usah lama cari-carinya, dan bisa pulang cepat. Mama gak sabar banget buka puasa bareng kalian," jawab Barsha meletakkan belanjaannya di atas meja. 


"Dan… taddddaaa! Amel beli kolak, Om!" sahut Kamelia mengangkat tangan kirinya yang memegang dua kresek berisi kolak jadi. 


"Wow, keknya enak nih, bagi om juga dong," pinta Rayden. 


"Eitss, ini kolak Amel, Om gak boleh makan," tolak Amel menjauh. Arum dan Barsha mengernyit mendengar tolakan gadis kecil itu. 


"Amel, kamu jangan gini, gak boleh kikir, kamu ingat kan hari ini bulan apa?" ucap Rayden berkacak pinggang di depan gadis kecil itu. 


"Tau, ini bulan ramadhan. Memangnya kenapa?" tanya Amel.


"Nah kalau tau harus bagi ke Om juga," jawab Rayden penasaran ingin mencoba. 


"Tapi kan Om punya banyak uang, Om tinggal pesan saja di luar. Gitu aja kok repot," dengus Amel. Barsha dan Arum menahan tawa melihat keduanya berdebat. 


"Yaelah, bagi dua aja kok sewot," balas Rayden tidak mau kalah. Barsha dan Arum geleng-geleng kepala dan pergi ke dapur membawa belanjaan ibunya dahulu.


"Ya Amel sewot karena ini punya Amel, Om." 


Rayden membuang nafas berat. "Amel, dengar baik-baik kata Om ini,"


"Dengar apa? Om mau bicara apa?"


"Om mau ceramahin kamu," jawab Rayden menunjuk. 


"Ih, ceramah? Emang Om ustadz?" ucap Amel geli. 


"Walau bukan ustadz, Om wajib tegur kamu. Ingat Amel, ini bulan yang sangat berkah, saling berbagi itu indah dan mendapat pahala. Jadi kalau Amel bagi dua kolaknya, Amel akan jadi makin cantik dan dapat pahala," tutur Rayden sebagian mengutip kalimat di dalam buku panduan. Tidak sia-sia dia baca buku panduan itu sampai tamat. 


"Oooh, jadi harus bagi dua nih, Om?" tanya Amel ragu. 


"Ya dong, kalau Amel berbagi, nanti pahalanya dua kali lipat," jawab Rayden ingin sekali kolak itu. 


"Ya sudah deh, Amel bagi dua. Nih Om, Amel kasih cuma-cuma," ucap gadis itu tersenyum dan memberikan satu kresek. 


"Yakin nih?" Rayden belum mengambilnya. 


"Yakin dong, Om." Amel mengangguk. 

__ADS_1


"Ikhlas gak kolaknya dibagi dua?" tanya Rayden.


"Insya Allah, Ikhlas 100 persen."


"Baiklah, terima kasih ya adik ipar Om." Rayden pun berhasil juga mendapatkannya. Rayden lega, Amel tidak terlalu susah mengajarinya berbuat baik. 


"Sama-sama, Om. Yuk kita ke dapur, udah mau waktu buka nih," ucap Amel jalan duluan dengan ria. Rayden mengelus dada melihat kolak di dalam kresek. "Memang bulan yang berkah, Alhamdulillah."


Kini mereka akhirnya berbuka bersama. Terlihat Rayden menghabiskan semua jenis dengan lahap. Citranya yang sebagai CEO serasa melebihi kelakuannya sekarang. 


"Mas, lapar banget ya sampai makan banyak gitu," ucap Arum ingin tertawa. 


"Ya karena masakanmu enak, sayang."


Arum menunduk tersipu. Satu pujian saja begitu berarti menghargai usahanya hari ini. 


"Om, jangan sampai kenyang, nanti gak bisa makan kolak loh," sahut Amel yang makan kolaknya duluan.


Rayden pun berhenti mengunyah buah kurma lalu melihat kolaknya. "Ah iya, gak boleh sampai kenyang," desis Rayden melihat piringnya masih dipenuhi makanan. 


"Puftt, Mas habisin saja itu, nanti kalau dah lapar lagi kita makan berdua kolaknya," ucap Arum dengan manis. Rayden tersenyum dan membelai rambut Arum. "Baik sayang, kita makan semangkok berdua. Pasti itu lebih nikmat," balas Rayden dengan senyuman paling manis di dunia. 


Barsha merasa lega, Arum dan Rayden saling mencintai dan menjaga perasaannya. 


"Mama, duluan ke kamar ya Nak. Mama mau lihat cucu mama dulu, siapa tau ada yang rewel," ucap Barsha sudah selesai makan dan bangkit dari kursi. 


Kini semuanya pun usai juga menyantap menu buka puasa. Tinggal Rayden yang asik menghabiskan kolaknya. "Enak juga nih, besok harus beli lagi." Rayden baru merasakan puasnya setelah kolak itu habis. Kini ia pergi ke arah Arum yang sedang cucu piring sendirian karena Amel tadi nyusul Barsha ke kamar baby Ai dan Key. 


"Sayang," ucap Rayden berbisik dan memeluk istrinya dari belakang. 


"Mas, jangan mulai deh. Kita lagi di luar kamar, tidak baik kalau Amel lihat kamu manja gini," desis Arum geli dipeluk. 


"Ya tahu kok, sayang." Rayden turun mengecup leher putih dan mulus istrinya. 


"Ya sudah, Mas berhenti dong. Geli nih, aku gak fokus nyucinya." Arum bergidik menerima kecupan itu. 


"Sayang, kamu gak lupa kan?" bisik Rayden lagi dan menghembuskan nafasnya ke lubang telinga Arum. 


"Gak kok, Mas ke kamar saja, nanti aku nyusul." Arum menggigit bibirnya, jantungnya berdebar-debar melihat Rayden sedang mendesaknya. 


"Baiklah, aku tunggu kamu di dalam kamar, muaachh." 


Setelah mencium pipi istrinya, Rayden pergi ke kamarnya menunggu Arum menyusul. 


"Huft, semoga dia tidak marah." Arum yang selesai cuci piring pun membuka pintu kamar. Perlahan melangkah masuk dan menunduk. 

__ADS_1


Arum berhenti ketika suara siulan mulai menggodanya. Yang dia pikirkan memang benar, terlihat Rayden dengan telan jang dada dan memakai boxer sudah menunggunya di tempat tidur. 


Arum senyum-senyum bodoh melihat suaminya sudah stand by ingin senam malam. 


"Ma-mas, kok gak pakai baju? Gak dingin gitu?" tanya Arum terbata-bata dan mulai naik ke tempat tidur. Rayden langsung menariknya jatuh kepelukan hangat itu. 


"Aku tidak butuh baju untuk mencintaimu, sayang. Eh maksudnya bercinta denganmu, beby." Rayden menyikap rambut Arum ke belakang.


"Mas, ingin tahu hadiah apa yang ingin kamu berikan padaku," ucapnya menyentuh nakal bibir merah istrinya. 


"Oh itu, kalau Mas pengen, Mas tutup mata dulu," lirih Arum berdebar-debar. "Baiklah." Rayden pun memejamkan mata. Dengan cepat, Arum mengangkat bantal dan mengambil sesuatu. 


"Nah, coba dibuka matanya," ucap Arum tersenyum. Rayden perlahan membuka mata, mengerjap-erjap dan menatap dikedua tangan istrinya hanya ada dua batang gula-gula lolipop. Ekspresi Rayden yang tadi bergairah, berubah total jadi tidak karuan. 


"Sayang, ini maksudnya apa ya? Kok cuma permen?" tanya Rayden. 


"Hehehe, ini hadiah buat Mas. Diterima ya, please." Arum memohon dengan imut. 


"Arrrghh!! Kamu ini kebiasaan suka bohong. Sini aku kasih hukuman!"


"Ahahahha... " tawa Arum didorong ke ranjang dan diberi jurus gelitik, sehingga Arum memekik geli. Pria itu gemas melihat tingkah nyeselin istrinya. 


"Hahahha… stop, aku canda, Mas!" pekik Arum tertawa habis-habisan. Rayden menyeringai, ia ingin melucutti semua pakaian istrinya, tapi lagi, semuanya hancur gara-gara ketukan pintu. 


"Kakak, Om! Ayo keluar, kita pergi tarawih," teriak Amel memanggil di luar kamar. 


"Bagus, Amel penyelamatku!" batin Arum. 


"Ya bentar, ini Kakak sudah siap, Dek!"


Deg! Rayden tersentak. "Loh, kamu mau ikut sayang?" tanya Rayden agak kecewa.


"Ya Mas, yuk ikut taraweh, siapa tahu besok berkah ramadan mengalir terus," jawab Arum bisa bernafas bebas. Rayden mendengus, tapi akhirnya nurut. Keduanya pun bersiap-siap, kecuali Barsha lebih ingin di rumah menjaga cucu-cucunya. 


Di dalam mobil menuju ke masjid, Arum bertanya, "Mas, kalau ada waktu bisa gak temani aku ke panti asuhan?" 


"Mau apa ke sana, Kak?" sahut Amel yang duduk di belakang.


"Itu, Kakak sudah lama gak jenguk anak-anak panti, dulu saat kamu terkena leukemia, kakak sering ke sana luangkan waktu." Arum agak cemas untuk jujur sepenuhnya. 


"Boleh, nanti aku lihat hari apa yang pas untuk menemanimu," ucap Rayden setuju. 


"Hmm, terima kasih ya, Mas." Arum tersenyum lega. Dalam hatinya, dia ingin katakan jika panti asuhan itu pernah dia datangi bersama Wira, dan tempat di mana Wira berasal. Tapi Arum takut, Rayden akan menolak keinginannya. Mobil Rayden pun melaju pergi.


….

__ADS_1


Beberapa episode cerita ini akan tamat, maaf ya kalau mak pernah hiatus🙏😊soal Joan dan Dokter Maya akan hadir di akhir cerita, jadi tetap setia menanti episodenya berikutnya ya. Terima kasih. 


__ADS_2