
Mengetahui Joan yang ikut berangkat bersama Dokter Maya, Rayden cuma bisa menggerutu dalam hati, bahkan marah meski ia berada di kantornya sekarang.
"Arrgh, aku pikir dia akan melepaskan Kinan, tapi rupa-rupanya masih saja berharap padanya," ucap Rayden di depan laptopnya.
"Mas Ray, jangan asal nuduh gitu, siapa tau Joan ke sana bukan karena Kinan," sahut Arum. Istrinya yang sedang melakukan panggilan video di dalam laptopnya.
"Kalau begitu, menurutmu apa lagi tujuannya ikut mereka?" tanya Rayden sembari menopang dagu melihat istrinya.
"Hem, siapa tahu Joan lagi PDKT ke Dokter Maya, bisa jadi, kan?"
Rayden tampak berpikir. "Hem, Dokter Maya? Sejak kapan Joan PDKT--" gumam Rayden terhenti.
"Hem, sepertinya mungkin saja, sayang." Rayden setuju pemikiran Arum. Arum tersenyum mendengarnya.
"Oh ya, nanti habis pulang kerja, kamu bisa kan temani aku belanja?" tanya Arum berbinar-binar.
"Loh, bukannya dua hari kamu sudah belanja sama Mama? Kenapa masih harus belanja lagi?" ucap Rayden bertanya.
"Yaaah, itu kemarin sama Mama. Aku kan pengennya sama kamu. Semenjak sibuk ngurus perusahaan, aku tidak pernah diajak jalan berdua. Aku bosen juga di rumah terus, pengen keluar jalan-jalan," cetus Arum.
"Tapi kan, sa---"
"Ya sudah deh, kalau kamu masih sibuk, aku akan jalan sama teman."
Rayden tersentak saat Arum mengatakan satu kata 'Teman'.
"Teman? Kamu punya teman selain Wira?" tanya Rayden curiga.
"Yaiyalah, bahkan dua hari nanti aku ada reuni bukber bareng teman-teman kerja aku dulu. Mereka syok banget loh dengar aku masih hidup. Kalau kamu tidak mau jalan bareng sama aku, mendingan aku hadir--"
"Sudah sudah, aku akan temani kamu jalan-jalan," ucap Rayden tegas. Senyuman Arum melengkung indah, senang bisa memancing suaminya itu nurut.
"Kalau begitu, kamu temani aku saja ke sana, Mas. Boleh, kan?" mohon Arum mengedipkan mata berulang kali.
"Loh, malah ngelunjak nih istriku, hadeeh," keluh Rayden dalam hati.
__ADS_1
"Mas, kenapa diam saja sih?" tanya Arum mendesis.
"Ya deh, boleh kok sayang," jawab Rayden.
"Yes, gitu dong. I love you," ucap Arum melemparkan ciumannya.
"I love you to," balas Rayden hanya bisa menahan tawa melihat kelakuan Arum yang menggelikan itu. Panggilan video itupun berakhir juga. Sontak, tatapan tajam Rayden pindah ke para managernya yang hadir di dalam ruangannya.
"Ngapain lihat-lihat? Mau aku pecat kalian?" ucap Rayden sinis.
"Keluar sana!" tambah Rayden menunjuk pintu.
"Ma-maaf, kami permisi, Tuan."
Para manager pun merasa lega akhirnya perintah keluar dari lisan CEO yang galak itu.
"Kamu!" ucap Rayden kepada satu pria yang masih setia berdiri.
"Ya, Tuan. Ada apa memanggil saya?" tanya pria itu.
"Apa sekarang saya harus mencarinya, Tuan?" tanya Sekretarisnya.
Rayden menggertakkan rahangnya. "Ya iyalah, Tejo. Masa tahun depan sih? Ya sekarang dong!" desis Rayden.
"Ba-baiklah. Saya permisi, Tuan!" Ucap Tejo mengerti dan berdiri tegak lalu bergegas pergi.
"Huuh, capek deh." Rayden menghembus nafas kasar. Terasa lumayan sesak mengatur manager perusahaannya.
"Kira-kira Pak tua itu lagi ngapain sekarang?" gumam Rayden berbalik melihat ke luar jendela. Melihat jauh dan memikirkan Tuan Marsel.
Yang dipikirkan itu sedang berada di dalam mansionnya. Dia terlihat menunduk di depan anak buahnya. Tampak suasana di ruangan Tuan Marsel mencekam. Hingga anak buahnya tidak tahan berdiri di depan majikannya itu yang mendapat tekanan luar biasa.
"Ekhm, apa Tuan baik-baik saja?" tanya anak buahnya.
Gebruaak!
__ADS_1
Anak buahnya melompat kaget tiba-tiba Tuan Marsel menggebrak meja dengan sangat keras dan menatapnya penuh ketajaman bagai anak panah siap menusuknya.
"Hanya ini yang kamu dapatkan selama seminggu memata-matainya?" tanya Tuan Marsel tampak tidak puas mendapat potret-potret dua bayi Arum.
Anak buahnya menggigil ketakutan menjawab. "Benar, hanya ini yang saya dapatkan. Ka-karena dua hari yang lalu saya telah dicurigai oleh Tuan Rayden."
Tuan Marsel tampak geram. Pasalnya, potret-potret itu membuatnya iri. Terlihat hanya ada anak kecil yang menjaga dua bayi di dalam kereta baby.
"Kamu tahu, siapa anak ini?" tanya Tuan Marsel kembali mengamati satu demi satu foto Kamelia, baby Ai dan Key. Tampaknya Tuan Marsel tidak mengenali putri keduanya, Kamelia.
"Saya belum memastikan, tapi saya pernah mendengar anak perempuan ini memanggil Om kepada Tuan Rayden, tapi anehnya dia memanggil Kakak kepada istri Tuan Rayden."
"Lantas, kenapa kamu tidak memotret istrinya juga, hah?" bentak Tuan Marsel ini yang mengecewakannya. Ingin tahu wajah wanita yang dapat melahirkan sepasang baby twin untuk Rayden sehingga ia iri besar.
"Maaf, Tuan. Dia selalu bersama suaminya, saya susah memotretnya."
Sreaaak!
Tuan Marsel menghempaskan dokumen ke wajah anak buahnya.
"Dasar bodoh, kerjaanmu tidak becus! Keluarlah!" murka Tuan Marsel serasa ingin mencincang tubuh anak buahnya itu.
Setelah anak buahnya itu keluar. Tuan Marsel langsung berdiri dan menepis semua benda-benda di atas meja. Wajahnya merah padam mengingat dirinya belum punya pewaris.
"Dia yang masih muda begini sudah mendapatkan pewaris, lalu kenapa aku yang pernah menikahi dua wanita sekaligus tidak dapat mendapatkan pewaris satu pun? Hah?"
"Arrrghhh, dasar Pak tuah sialan! Gara-gara kau, aku akan mati tanpa pewaris!" Kelakar Tuan Marsel mengamuk di dalam sana. Tiba-tiba seseorang datang mengusiknya.
"Dia sudah lama meninggal, untuk apa lagi kau mengutuk ayahmu sendiri?" ucap seorang wanita duduk di kursi roda.
....
Nah jadi gimana tuh awal masalah
yang selama ini terjadi, Mak?😥
__ADS_1