Hasrat Tuan Muda

Hasrat Tuan Muda
Bab 29 Keluarga Mafia


__ADS_3

"Mama, kami saling cinta, karena itulah kami mau menikah dan melahirkan anak kita, sekarang Mama tidak usah meragukan kami lagi," ucap Rayden sambil menunjuk kertas di atas meja.


"Sekarang Mama harus janji untuk menjaga kesepakatan kita," tambahnya lagi.


"Baiklah, Mama akan kerjasama mewujudkan keinginanmu," ucap Nyonya Barsha membuat Arum tambah kebingungan. Gadis itu ingin bertanya, tetapi Rayden berdiri duluan.


"Bagus, kalau begitu Mama jaga baik-baik dia." Rayden menarik Arum berdiri.


"Tu-tuan mau pergi?" tanya Arum.


"Yess Baby, aku harus menghadiri pertemuan dengan seseorang. Kau tidak perlu takut lagi di sini, kau akan dijaga olehnya. Tapi, jika ada seseorang yang melukaimu, kau tinggal hubungi aku," jawab Rayden mengelus-elus pipi Arum.


"Ba-baiklah, Tuan."


Chup! Sekali lagi Rayden mengecup lembut keningnya lalu pergi meninggalkan Arum hanya berdua dengan Nyonya Barsha. Arum meneguk ludah, duduk berhadapan dengan Nyonya Barsha. Wanita itu seketika berdiri, berpidah duduk di sebelahnya.


"Katakan siapa nama aslimu, Nak?"


"A-arum Marchelya, Nyonya." Arum menjawab sambil gemetar.


"Kenapa anda diam, Nyonya?" tanya Arum keheranan.


"Oh Arum, nama kau bagus sekali. Cocok dengan orangnya yang manis." Arum menunduk disanjung olehnya.


"Nyo-nyonya juga cantik dan tegas! Aku mengagumi, Nyonya!"


Tuk! Awss! Ringis Arum dijentik keningnya.


"Kau pintar sekali memuji ya kelinci kecil," ucap Nyonya Barsha kemudian tertawa lucu. Arum hanya cengengesan dan garuk-garuk pelipisnya. Keduanya mengobrol dengan baik, bahkan Nyonya Barsha memberikan kertas kesepakatan Rayden yang ditulisnya tadi.


"Apa ini, Nyonya?"


"Panggil Tante, tidak usah Nyonya."


"Ta-tapi--"


"Arum, kau akan menikah dengan Rayden, itu artinya tidak akan lama lagi kau akan jadi menantuku,"


"Nyonya eh Tante merestui keinginan Tuan Rayden?" tanya Arum terkejut.


"Ya, Tante merestui kalian,"

__ADS_1


"Ta-tapi, aku ini cuma gadis biasa,"


"Tidak, kau tidak akan lama lagi memiliki keluarga baru,"


"Apa, keluarga baru?"


"Ya, Rayden barusan pergi untuk mengunjungi keluarga Charleus El'Falrio Rolandies."


Arum menutup mulut, jantungnya berdetak kencang mendengar tujuan Rayden itu. Entah kenapa, dia ingin menangis pagi ini. Arum tidak sangka Rayden begitu baik padanya mau mencarikan keluarga baru.


"Sekarang bacalah isi kertas itu," ucap Nyonya Barsha menunjuk. Arum dengan teliti mulai membaca. Satu demi satu kalimat membuatnya membola sempurna. Tertera di sana sebuah kesepakatan besar, di mana Rayden setuju akan membantu Nyonya Barsha menyingkirkan Mariam.


Hingga akhirnya Nyonya Barsha setuju merestui mereka dan bekerjasama menyembunyikan identitas Arum. Nyonya Barsha nampak sangat membenci madunya itu, karena wanita licik itu telah beberapa kali menghasut, sehingga sebagian gangster kecil tidak dipedulikan.


Sudah beberapa kali Nyonya Barsha ingin mengajukan laporan, tetapi suaminya terus menolak untuk mendengarnya. Barsha bahkan diperintahkan hanya untuk mengawasi Rayden dan Joan saja. Nyonya Barsha tidak suka sikap suaminya yang sekarang tidak adil. Hingga dia ingin Rayden bulan ini menggantikan kekuasaan Tuan Edward.


Akan tetapi, itu terlalu berbahaya untuk diwujudkan sekarang, bisa-bisa akan ada pemberontakan dari pihak keluarga Mafia lain. Jalan satu-satunya ialah anak yang dikandung Arum. Rayden harus memastikan anak itu lahir dengan selamat, agar dia bisa menjadi pewaris dan mengatur ulang organisasi.


Sibuk membahas rencana, tiba-tiba saja pintu didobrak dari luar. Wanita itu pun menoleh dan melihat Asisten Braga datang sambil ngos-ngosan.


"Nyonya!" ujar Asisten Braga mendekat.


"Seseorang telah menyusup ke dalam mansion," jawab Asisten Braga mencoba mengontrol nafasnya. Dia baru saja selesai dari ruang CCTV, dan semalam selalu ada di sana mengecek keganjalan di mansion ini.


"Penyusup?"


"Ya, Nyonya! Aku baru saja memeriksa CCTV, dan rupanya Tuan Rayden membawa penyusup ke dalam--" ucap Braga terputus setelah melihat Arum menoleh padanya.


"Eeeehhh, kau?" kaget Braga menunjuk.


"Braga, kau bicara yang jelas, jangan sembarangan menunjuk!" ujar Nyonya Barsha menepis tangan Braga.


"Nyonya, dia-dia penyusup!" Lagi-lagi Braga menunjuknya.


"Aku penyusup?" Tunjuk Arum heran. Nyonya Barsha menatap bergantian Arum dan Asisten Braga. Dia pun tertawa terbahak-bahak dan memukul keras kepala Braga dengan kesal.


"Aduh, kenapa aku yang dipukul, Nyonya?" ringis Braga berdiri tegak.


"Huft, kau ini! Dia bukan penyusup,"


"Terus dia siapa, Nyonya?"

__ADS_1


Nyonya Barsha menarik Arum mendekat, menjelaskan bahwa Arum adalah anggota keluarga Charleus El'Falrio Rolandies, cucu termuda dari keluarga King DAM, Darkness Arlomond Mafia."


Kedua mata Asisten Braga membulat sempurna, sangat-sangat terkejut Arum dinyatakan salah satu anggota keluarga organisasi DAM yang masih terikat dengan Tuan Edward. Serta salah satu keluarga yang sudah meragukan kekuasaan Tuan Edward di Veldemort. Ini sangat bagus untuk menjatuhkan Nyonya Mariam.


'What? Aku akan jadi cucu seorang Mafia juga?' batin Arum shock hampir saja mulutnya terbuka lebar-lebar.


"Sekarang kau cukup diam, dan urus semua masalah di sini saja." Wanita itu menarik Arum keluar, ingin membawa Arum untuk mendandani gadis itu agar dapat seperti cucu Mafia. Arum hanya bisa menelan ludah dituntun keluar Istana. Asisten Braga duduk di sofa, tidak tahu rencana apa lagi yang ingin dijalankan majikannya itu.


"Nyonya telah berbohong, gadis itu jelas-jelas bukanlah dari keluarga Charleus, dia gadis dari luar dan gadis pujaan hati Tuan Joan. Apa mungkin Nyonya melakukan ini karena Tuan Joan?" gumam Braga mengira Nyonya Barsha ingin menikah kan Arum dengan Joan. Tetapi dia juga ragu dengan pikirannya. 'Atau mungkin gadis ini ada hubungannya dengan Tuan Rayden?'


Braga berpikir keras, namun tidak menemukan hasil memuaskan. Sepertinya Braga begitu banyak ketinggalan info mengenai Arum. Dia tidak tahu, Arum sudah hamil anak Rayden, dan tidak tahu Arum ialah gadis yang akan menjadi istri Rayden.


"Sepertinya aku memang harus diam."


Karena tidak mau pusing, dia pun bangkit ingin keluar. Namun berpapasan dengan Joan yang datang ingin menemui Nyonya Barsha.


"Tuan, mengapa anda kemari?" tanya Braga dengan sopan.


"Aku datang ingin bicara soal keberangkatan ke LN nanti siang, apa Nyonya Barsha ada di dalam, Braga?" tanya Joan menengok ke dalam.


"Maaf, Tuan. Nyonya baru saja keluar dari sini."


"Kemana dia pergi?"


"Aku juga tidak tahu, Tuan."


Joan menghembus nafas panjang lalu tersenyum.


"Ya sudah, kalau begitu nanti saja aku bicara padanya." Joan pun menyuruh bodyguardnya mendorong kembali ke kamar. Asisten Braga terdiam di tempatnya. 'Apa aku kasih tahu ke Tuan Joan soal ini?' Pria paruh baya itu menggelengkan kepala. 'Tidak-tidak, Nyonya telah menyuruhku untuk diam. Lebih baik aku tutupi ini dari Tuan Joan. Kalau sampai Tuan tahu, aku takut rencana pengobatannya akan dia tunda.' Braga pun menutup pintu ruang baca Barsha, ia pergi mengerjakan tugasnya. Sedangkan Joan celingak-celinguk mencari Arum.


"Kemana gadis cantik itu?" guman pria lumpuh itu gelisah. Takut gadis pujaannya kemarin telah pergi.


.......


.......


.......


...TINGGALKAN LIKE DAN KOMENNYA...


...TERIMA KASIH...

__ADS_1


__ADS_2