Hasrat Tuan Muda

Hasrat Tuan Muda
Bab 22 Pengen Mangga


__ADS_3

"Tidak usah berlebihan!" Rayden menahan mulut Daisy.


"Ray, aku kan datang untuk mu dan rela jauh-jauh ke sini demi memberikan hadiah padamu, tapi sekarang kau kenapa begini?" Daisy berceloteh gagal mencium Rayden.


Rayden duduk di kursi kerjanya, membaca berkas laporan dari markasnya. "Saya tidak kekurangan apa-pun di mansion ini, jadi bawa kembali hadiah itu!"


"Ray!" Daisy membentak tidak terima, menghentakkan kakinya dengan kesal. "Kapan sih kau berubah! Aku selama lima bulan ini sangat merindukanmu dan mencemaskanmu! Ini balasan kau padaku? Setidaknya kau peduli sedikit padaku, Ray!"


Tetapi Rayden hanya diam.


"Ray! Kau egois, kau cuma memikirkan diri sendiri! Mulai sekarang aku tidak mau pernikahan ini berlanjut!"


Daisy menggebrak meja. Berpikir Rayden akan menatapnya dan tidak terima ucapannya barusan, tapi rupa-rupanya Rayden berhasil membuatnya melongo.


"Bagus, memang itu bagus! Sekarang pulanglah, dan jangan kembali ke sini lagi!" usir Rayden berdiri lalu menunjuk pintunya.


Daisy mendesis lalu memeluk Rayden, ia pura-pura menangis.


"Hiks, aku bercanda Ray, kau jangan anggap serius. Aku minta maaf sudah marah-marah, kau jangan tinggalkan aku, hikss..."


Rayden memutar bola mata malas, melepaskan Daisy.


"Sebenarnya apa alasanmu ingin menikah dengan saya?"


Daisy tersentak, menunduk malu-malu.


"Tentu saja cinta, dan---"


"Kau ingin jadi ratu, kan?" tebak Rayden menatapnya datar.


Daisy menggoyang-goyangkan pinggulnya lalu memeluk Rayden.


"Ya, aku ingin jadi Ratu di Mafia dan ratu di dalam hati pria hebat sepertimu, Ray."


Rayden berdecak dalam hati, 'Cih, dia pandai sekali menjilat!'

__ADS_1


"Ehem, jika kau ingin jadi Ratu, kau bisa langsung menikah dengan Putra Mahkota. Tidak usah mendesak ku," tepis Rayden duduk di kursinya.


"Tidak, aku tidak mau!" tolak Daisy lantang.


"Kenapa menolak? Putra Mahkota juga tampan, bahkan jika kau menikah dan melahirkan anak darinya, kau bisa langsung menjadi Ratu," ucap Rayden. Ia tahu Daisy sangat licik dan juga tahu cinta wanita itu hanyalah kepalsuan.


"Aku tidak mencintainya, Ray!" Daisy menghentakkan kakinya.


"Jangan terburu-buru menolak, bisa saja kan setelah kau nikah dengannya, kalian bisa saling cinta," ucap Rayden kembali membaca. Rayden sebenarnya ogah juga Daisy menikahi abangnya.


Daisy tambah emosi, pria itu amat menjengkelkan. 'Cih, seandainya saja dia tidak cacat, aku juga tidak mau ngemis-ngemis nikah padamu!' batin Daisy mengigit bibir bawahnya. Ia pun naik ke pangkuan Rayden, menempelkan dua dadanya ke badan Rayden. Jari-jarinya mulai perlahan membuka ikat pinggang Rayden.


"Ray, aku hanya mencintaimu, bahkan aku ingin hidup semati hanya denganmu. Aku rela kok tubuh dan hati ini kuserahkan padamu," goda Daisy lalu memasukkan tangannya ke celana ingin mengelus-elus phyton Rayden. Tapi Rayden tidak tergoda, ia malah emosi, tindakannya itu terasa jijik.


Plaak!


'Achhh...' Daisy didorong hingga jatuh kebelakang. Kedua bokongnya jadi sakit setelah menghantam lantai di bawah.


"Keluar!" usir Rayden memperbaiki celananya, dan membentak dengan lantang membuat Daisy terkaget-kaget.


"Hikss... kau jahat sekali, Ray! Aku ini calon istrimu, aku hanya ingin kau memiliki seutuhnya diriku."


"Percuma kau menolak! Ayahmu tetap akan menikahkah kita berdua!" balas Daisy tidak mau kalah, menunjuk Rayden dengan geram.


"Terserah apa katamu, saya tidak peduli!" Rayden berjalan ingin keluar dari ruangannya tapi Daisy mencegatnya. Wanita itu berdiri dan merentangkan kedua tangannya.


"Keputusan ayahmu tidak akan---"


Tok Tok Tok


Daisy berhenti bicara ketika pintu ruangan diketuk. Asisten Braga masuk untuk melaporkan sesuatu. Daisy menggerutu kesal waktunya diganggu lagi.


"Ada apa kau kemari, Braga?"


"Tuan Rayden, ayahmu memanggil anda."

__ADS_1


Mendengarnya, Daisy tertawa bahagia. Ia merasa senang ada panggilan untuk Rayden.


"Hahaha... saya yakin hari ini ayahmu pasti akan menikahkah kita! Hahaha.... tidak sia-sia saya datang kemari."


Rayden dan Asisten Braga saling bertatapan, keduanya merasa wanita itu sedang gila hari ini. Padahal ucapan Braga tidak ada yang lucu.


"Braga! Pasti Tuan besar juga memanggilku, kan?" Dengan percaya diri, Daisy bertanya begitu.


"Maaf Nona, Tuan besar hanya memanggil Tuan Rayden."


Kali ini Rayden yang terbahak-bahak.


"Hahaha... kasihan sekali dirimu, bodoh!"


Rayden mencemoohnya lalu keluar untuk segera menghadap. 'Lebih baik saya terus terang saja menolak wanita to lol ini!' batin Rayden tidak mau menikah dengan siluman rubah itu, ia lebih suka dengan kelinci kecilnya --Arum yang bahenol-- dari pada Daisy.


Daisy tidak tinggal diam, ia berlari menyusul Rayden ingin ikut ke mansion. Tentunya ia ingin tahu apa yang ingin Raja bahas kali ini. Braga pun menghubungi Nyonya Barsha untuk melapor jika Rayden sudah dalam perjalanan. Sepertinya Braga belum pernah bertatap muka dengan Arum sehingga tidak melaporkan soal gadis itu.


Kini di kamar Arum, gadis itu duduk di atas ranjang sambil menekuk kedua lututnya. Ia tidak sedang menangis, tetapi ia menggigil ketakutan. Ia ingin sekali menjerit, tidak sangka setelah mendengar cerita pelayan, ternyata Rayden adalah anggota Mafia dan calon pewaris berikutnya yang telah dijodohkan dengan Daisy.


"Acchhh... kenapa aku bisa terdampar sampai sejauh ini, Ya Tuhan!" racau Arum mengacak-acak rambutnya. Arah mata Arum pun beralih keluar jendela. Matanya lurus menatap sebuah pohon mangga yang menjulang tinggi. Arum menyentuh perutnya, ia pun tersenyum lebar.


"Ah benar saja, dari pada saya aku, lebih baik aku pergi ke sana dan makan rujak sepuasnya!"


Arum pun mengikat rambutnya lalu keluar dari kamar. Ia diam-diam mengendap-ngendap lalu menyusuri jalan yang panjang itu.


Setelah dua jam berjalan, akhirnya ia berhasil juga menemukan pohon mangga itu yang berdekatan dengan tembok pagar mansion. Arum pun celingak-celinguk dan mulai mengambil batu, ia pun melemparkan ke arah salah satu buah mangga yang sudah ranum.


Akan tetapi, ia mulai kelelahan karena pohon mangga itu terlalu tinggi.


"Achh, kalau saja Tuan Rayden ada, pasti mangganya sudah jatuh!" Arum mendesah kesal mulai ingin menyerah.


"Tidak-tidak, anak Tuan Rayden mau makan mangga, saya tidak boleh putus asa!" Arum sekali lagi mengambil batu, ia melemparnya lagi. Namun sayangnya, batu itu meleset hingga melewati tembok.


Aaaah!

__ADS_1


Deg! Arum melompat kaget mendengar seseorang memekik kesakitan.


"Oh my god! Siapa yang ada di sana?"


__ADS_2