
"Nak, ka-kamu jangan salah paham dulu. Mama bisa jelaskan--"
Rayden meletakkan jari telunjuknya ke bibir wanita tua itu. Arleya pun juga ingin menjelaskan tapi Rayden lebih dulu bicara.
"Tidak usah jelaskan, aku sudah dengar semuanya, Mah." Rayden mengusap dan menghapus sisa air mata Barsha.
"Maafkan Mama yang sudah pergi meninggalkan kalian berdua saat itu, Nak." Barsha menyadarkan kepalanya di dada bidang putra suaminya.
"Tidak perlu minta maaf, harusnya aku yang minta maaf. Gara-gara ayah kami, Mama menderita." Rayden memegang kepala Barsha dan menenangkan ibu tirinya, kemudian menatap sedih ke Arum.
Arleya menghembus nafas lega melihat Rayden tidak emosi.
"Sepertinya kau sudah bisa mengontrol emosimu, Rayden." Arleya menghampiri keduanya.
"Ya, Lady Arleya. Aku sudah jera, tidak ingin memperdalam luka Ibu tiriku." Rayden dengan lembut mengecup kepala Barsha. Dokter yang melihatnya jadi terharu, meski sebenarnya ia juga tidak paham apa yang terjadi di antara anggota kerajaan di negara ini.
"Ray, kenapa kau kembali dan berantakan begini?" tanya Arleya penasaran. Rayden langsung mengepal tinju, ia tentu habis memukul Braga, tetapi ia tidak sepenuhnya membuatnya babak belur karena tiba-tiba saja Ayahnya dan Mariam datang. Tanpa dijelaskan panjang lebar, Arleya tahu pasti Edward dan Mariam sudah mengetahui rencana mereka.
"Cih, Marimar itu memang perlu diberi pelajaran!" Arleya marah pada Ratu Mariam.
"A-apa Edward marah padamu, Rayden?" tanya Barsha mulai tenang.
"Bukan cuma marah, ayah seakan-akan ingin membunuhku, Mah!"
"A-apa?!" Barsha tersentak.
"Sekarang belum waktunya aku jelaskan, kita harus pergi dari sini dulu, Mah." Rayden mendekati Arum, lalu mengambil kantong infus istrinya.
"Apa yang kau lakukan, Ray?" Arleya menahannya.
"Tuan Rayden, pasien masih perlu dirawat di sini, anda jangan sesekali berniat menghentikan perawatan istri anda," tambah Dokter mencegat Rayden.
"Hidup istriku lebih penting! Jika dia tetap di sini, ayahku bisa membunuhnya!" Rayden mengangkat Arum. "Mah, tolong bawa kantong infus Arum!" pinta Rayden pada Barsha.
Arleya pun membantu keduanya, sedangkan Dokter sekali lagi menahan tapi adanya Arleya, wanita itu mencoba jelaskan agar tidak perlu khawatir.
Akan tetapi, setelah keluar dari ruangan Arum. Mereka dikagetkan dengan kumpulan preman yang tadi mengejar Rayden. Mereka nampak sudah dekat. Barsha di sana panik luar biasa.
"Cih, mereka berhasil menemukanku," decak Rayden menatap Arleya.
"Lady Arleya, tolong ambil bom di sakuku!" tambah Rayden mengagetkan Dokter dan Barsha di sana.
"Ha, bom?"
"Cepat! Ambil dan lempar ke arah mereka!" pinta Rayden dengan suara meninggi. Arleya merogoh isi saku celana belakang Rayden. Seketika wanita itu terkejut, memang benar ada bom.
Tanpa ba-bi-bu lagi, ia lemparkan sekuat tenaga dua benda bulat itu ke arah mereka. "Tidaaak!" Dokter berteriak mengira bom itu akan meledakkan sisi rumah sakit, tapi rupanya benda itu hanya mengeluarkan asap membuat mata preman perih dan terbatuk-batuk.
__ADS_1
"Ini saatnya kabur!" Rayden membawa cepat Arum bersama Barsha dan Arleya. Dokter hanya bisa menelan ludah melihat mereka pergi. Namun lagi-lagi beberapa preman berhasil melewati bom asap itu. Mereka mengejar Rayden yang turun melalui lift. Preman-preman itu berlari melewati tangga darurat.
"Rayden, pakai mobilku saja!" Arleya menunjuk mobilnya yang tidak jauh dari parkiran.
"Tidak, mereka bisa menangkap kita." Rayden berjalan ke arah lain.
"Lalu, kita pergi pakai apa?" tanya Barsha sudah ketakutan, situasi ini benar-benar menegangkan. Rayden berhenti di parkiran kosong membuat Arleya geram.
"Bodoh, apa kau ingin kita semua mati di sini?"
"Lady Arleya, apa kau tidak tahu kalau aku punya mobil lebih luar biasa dari mobilmu,"
"Apa maksudmu?" tanya Arleya celingukan tidak melihat mobil Rayden.
"Mobil spot yang kurakit sendiri," jawab Rayden langsung menekan tombol kunci mobilnya. Kedua mata Arleya dan Barsha melebar sempurna melihat di depan mereka perlahan ditampilkan mobil sport merah. Inilah mobil andalan Rayden dari awal. Cargosh!
"Cepat masuk!" perintah Rayden ketika preman muncul lagi mengejar mereka. Barsha bergegas masuk ke dalam dan duduk di samping Arum.
"Sial, mereka semakin dekat, Rayden!" kesal Arleya mulai panik gerombolan preman itu berteriak lantang.
"Tangkap mereka!" seru gerombolan preman itu marah.
"Ambil ini, Lady!" Rayden memberikan kunci mobilnya.
"Tunggu, apa-apaan ini? A-aku tidak tahu memakainya!"
"Masuk dan menyetirlah seperti mengemudi mobilmu!" ujar Rayden ingin melawan mereka sendirian karena sudah tidak sempat lagi kabur bila ia masuk juga.
"Nak, masuklah!"
"Maaf, Mama. Aku perlu mengulur waktu agar mereka tidak menangkap kalian! Sekarang pergilah!" jawab Rayden berlari ke arah preman dan langsung saja baku hantam.
Mobil sport merah itupun melesat keluar dari parkiran dan melewati preman yang berjaga-jaga di ambang pintu parkir. "Achhhh!" Mereka terhempas saat angin kencang melewati mereka. Arleya berhasil keluar dari rumah sakit membawa Arum dan Barsha ke jalan raya. Perlahan Arum membuka mata melihat samar-samar dari kejauhan sosok Rayden bertarung sengit dengan preman bayaran.
"Ma-mas Rayden."
"Aaachhh, menyingkirlah baji ngan!" seru Rayden melompat dan mehantamkan satu tinjunya ke wajah preman bertato ular.
BRUUK! Preman itu berhasil ia rubuhkan. Namun belum sampai di situ, masih ada 30 preman yang harus Rayden hadapi sendirian.
"Tuan Rayden, menyerahlah! Serahkan istrimu pada kami! Tuan dan Nyonya menginginkan nyawa gadis itu!" kelakar preman itu ke Rayden.
Rayden menguatkan kedua tinjunya dan mengeratkan otot-ototnya.
"Cuihh, aku sampai matipun tidak akan biarkan kalian menyentuh wanitaku! Haram bagi kalian membunuh istri dan anakku!" teriak Rayden menerjang dan membabi buta melawan 30 preman itu. Puncak kemarahannya meruntuhkan formasi mereka.
Duaaak!
__ADS_1
Duaaak!
Duaaak!
"Aku buktikan cintaku bukanlah hanya kata-kata! Aku akan menjaga istriku dari tangan kalian, dasar bren sek!"
Duaaak! Buughh!
Rayden sudah ngos-ngosan melawan mereka. Perkelahian ini mengingatkannya pada preman rentenir yang ia lawan sendirian. Rupanya di wilayah sendiri ia bisa dijadikan buronon seperti sekarang.
"Tuan Rayden! Anda sudah melampaui batas!" ujar mereka bersamaan ingin menangkap Rayden. Tapi apa begitu gampangnya? Oh tentu tidak! Rayden dengan gesit menghindar membuat mereka saling berbenturan.
"Kesempatan!" decak Rayden berlari cepat ke arah motor ninja nerwarna hitam. Entah siapa pemiliknya, yang jelas ini waktunya kabur!
"Sialan, cepat kejar dan tangkap dia!" murka mereka bergegas naik ke dalam mobil dan mengejar Rayden yang meluncur keluar dari parkiran.
"Huoooo..." Rayden mengebut ugal-ugalan di jalanan sambil menyelip diantara para pengendara mobil dan motor. Tak tertinggal preman lagi-lagi menyusulnya. Ditambah polisi lalu lintas ikut mengejar karena Rayden dengan songongnya membalap tidak menghargai rambu-rambu lalu lintas.
"Hahaha… kalian tidak akan bisa menangkapku!" riang Rayden berteriak puas di tengah jalanan sambil menikmati aksi kejar-kejarannya. Ia pun meletakkan suatu benda kecil di telinga dan berbicara.
Biip! Biip!
Suara benda kecil berbunyi di samping Arleya yang sedang sibuk mengemudi. Ia sedang bingung kemana membawa Arum dan Barsha. Kalau dia bawa ke rumah sakit lain, bisa-bisa ia dilacak oleh asisten Braga yang kini menjadi tangan kanan Mariam dan mengontrol Mafia Veldemort. Akibat secarik kertas kesepakatan Rayden dan Barsha yang berhasil ia temukan di kamar wanita itu. Memang sialan, asisten itu yang sudah berkhianat dan bersekongkol dengan Mariam. Lalu bagaimana Edward? Pria tua itu terkena serangan jantung dan kini dilarikan ke rumah sakit akibat tidak menyangka putranya membelot.
"Leya, apa itu?" tanya Barsha sedang memeluk Arum yang nampak pingsan lagi. Gadis itu serasa tidak kuat menahan sakit di dalam tubuhnya.
"Aku juga tidak tahu,"
"Cobalah ambil, Leya!"
"Baiklah." Arleya mengambil airphone itu dan meletakkan di telinganya.
"Halo, ini aku-Rayden!" ujar Rayden yang masih mencoba lolos dari kejar-kejarannya.
"Rayden, sekarang kau di mana?" Barsha terkejut mendengar Arleya bicara menyebut nama Rayden.
"Ini aku masih di jalan blok E dan sedang dikejar beberapa polisi dan preman. Sialan, kalian semua!" ujar Rayden ngamuk di dalam panggilan itu karena preman meluncurkan tembakan bertubi-tubi.
"Rayden, kau baik-baik saja?" tanya Arleya mendengar suara tembakan begitu banyak.
"Aku baik-baik saja, sekarang pergilah ke jembatan gantung! Aku akan menyusul kalian ke sana!" Rayden mematikan panggilan itu. Pria itu mengebut dan menghindari tembakan yang ingin memecahkan ban-ban motornya. Bahkan hampir menembak dirinya!
"Leya, apa yang dikatakan Rayden?" tanya Barsha khawatir.
"Dia menyuruh kita ke jembatan, mungkin jalan satu-satunya menghindari kejaran adalah keluar dari wilayah ini!"
"Kalau begitu cepatlah, sebelum jembatan itu diputuskan!" Barsha yakin itu. Arleya paham, ia menaikkan laju mobil dan melesat ke arah jembatan yang masih cukup jauh. Akibat lajunya itu, beberapa benda di pinggir jalan terhempas dan bertebaran kemana-mana. Membuat orang-orang heran dari mana angin kencang itu berasal.
__ADS_1
....
...Tinggalkan like coment and vote💕...