
Perlahan, Kinan mmendekat ke dapur, menengok wanita itu asik membuat jus untuk Wira. Setelah itu, Kinan hanya dilewati begitu saja. Wanita itu duduk di dekat Wira yang menonton tv dan bercanda ria bersama suaminya itu.
Mata Kinan penuh dengan genangan air mata. Apa dia harus kembali menangis?
"Hahaha… lihatlah, dia lucu sekali ya sayang," tawa wanita itu di dada Wira. Tertawa bersama suaminya.
“Mas... ” lirih Kinan tidak kuat lagi.
Wira menoleh melihat istrinya menyedihkan. Dia mengulurkan tangan meminta sesuatu pada istrinya.
“Mana surat itu? Kau sudah tanda tangani?” minta Wira mengalihkan pandangan ke tv dan satu tangan membelai kepala selingkuhannya.
Kinan tersenyum, dia tidak tahu rasa sakit apa lagi yang harus dia rasakan.
“Mas mau cerai kan? Baiklah, aku akan mengambilnya di dalam kamar.” Kinan berbalik, air matanya tumpah. Dia terisak dalam diam, lalu berlari keluar rumah. Dia ingin pergi sejauh mungkin membawa bayinya. Tapi di luar sana hujan turun deras sehingga tangisnya semakin tidak jelas. Kinan menerobos hujan, sekuat tenaga berlari menerjang rintikan tangisnya sendiri. Tapi perutnya yang besar membuatnya berhenti jalan.
“Huaa… apa lebih baik aku mati saja?” tangis Kinan basah kuyup dan mengusap kedua matanya. Mencoba hentikan air matanya, namun percuma air mata itu jatuh tak dapat dibendung. Seketika gemuruh kilat mengagetkannya, Kinan histeris hingga jongkok di tepi jalan.
“Hikss, Papa bawa aku pulang.” Kinan menangis.
Namun tanpa sadar, seseorang berdiri di depannya. Kinan menengadah, melihat sosok tinggi itu memayunginya dari hujan. Kinan menggigil dan berdiri di hadapan pria itu yang lagi-lagi memberi tempat untuk berteduh.
“Hikss… ” isak Kinan menunduk lalu melihat di tangan Joan ada sebuah surat. Tapi Kinan meraih tangan itu lalu memohon.
“Bawa aku pergi bersamamu, Tuan.”
Mendengar permohonan Kinan, Joan memeluknya di bawah payung hitam. Sekali lagi dia rela jadi sandaran untuk wanita hamil itu.
“Selingkuhlah denganku sayang," bisik Joan lembut ke telinga bumil cantik itu. Kinan mendongak.
"Aku akan membahagiakanmu,” tambah Joan lagi.
“Hiks.” Kinan terisak setuju. Dia sudah capek berharap pada Wira.
Namun saat Joan berbalik ingin membawa Kinan ke rumah Rayden. Seketika seseorang berteriak di belakangnya.
“Hei! Beraninya kau membawa istriku!” teriak Wira ikut hujan-hujanan. Pria itu marah karena tidak melihat Kinan di rumah.
Joan mendecak lalu berbalik, menerjang bebas ke arah Wira.
__ADS_1
Duaaak!
Payung hitam itu terjatuh bersamaan Joan berhasil meluncurkan satu pukulan ke wajah Wira hingga pria itu jatuh ke tanah.
“Bede bah! Kau bilang dia istrimu?” murka Joan sudah dari kemarin ingin memberi pelajaran pada Wira.
Kinan menunduk, dia hanya diam membiarkan Wira dihajar Joan. Walau sebenarnya tidak tega, tapi dia sudah cukup sakit hati.
“Sialan! Dia memang istriku!” balas Wira murka dan menonjok wajah Joan. Wanita lain di rumah Wira ketakutan melihat perkelahian Wira dan Joan.
“Cuih,” bibir Joan lagi-lagi berdarah. Dia pun balas menonjok muka Wira.
Duaaak!
“Breng sek! Jika dia istrimu, kau tidak akan melukainya seperti ini sekarang!” ujar Joan berhasil memukul telat dihidung Wira.
Rayden dan Arum keluar dari rumah mendengar Joan mengamuk di bawah hujan. Dokter Maya ikut keluar dan terkejut melihat Wira sudah mimisan.
“Joaan, hentikan!” pekik Rayden menerjang hujan dan melewati Kinan yang cuma berdiri. Bumil itu ingin membantu suaminya, tapi dia menahan diri agar cintanya tidak mengusai egonya lagi. Kinan berusaha melepaskan Wira.
“Joan, cukup! Kau bisa membunuhnya,” tahan Rayden menarik Joan mundur dari perkelahian.
Wira menatap benci ke Kinan, lalu ke Rayden dan Joan.
“Dasar Istri tidak berguna! Ambillah cincin itu, dan buang cintamu itu!” lanjut Wira masih sempatnya menghina Kinan. Cincin itu jatuh tepat di kaki kanan istrinya.
Joan mengepal tinju lagi, ingin menghajar Wira, namun rupanya Rayden yang kali ini menghantamkan tinjunya ke perut Wira.
Duaaak!
Aahhh! Mas Rayden! Arum teriak histeris melihat Wira terlempar cukup jauh ke jalanan. Pria berambut ikal itu terkapar tidak berdaya di bawah derasnya hujan.
“Pria brensek! Aku ingin sekali menghabisimu!” ujar Rayden emosi. Arum bergegas menerjang hujan, meraih lengan suaminya. “Stop, Mas! Kau bisa membunuhnya juga!” Arum tidak tahan melihat keadaan Wira yang lemah.
“Pria seperti ini perlu dibasmi! Dia punya istri tapi masih saja membawa wanita lain!” ucap Rayden menunjuk geram ke wanita bule di pintu rumah Wira.
“Sudah, jangan lukai dia lagi.”
Rayden, Arum dan Joan menoleh ke Kinan yang memohon. Bumil cantik itu memungut cincin Wira dan tersenyum manis, disertai air matanya.
__ADS_1
“Aku sudah melepaskannya, sekarang aku tidak punya hubungan apa-apa lagi dengannya. Maaf sudah merusak kenyamanan kalian,” isak Kinan ingin pergi tapi Joan meraih tangannya. “Sini kau ikutlah denganku,” ucap Joan menarik Kinan masuk ke rumah Rayden.
“Joaaan!” pekik Rayden tidak mau Joan mencintai Kinan.
“Mas, sudah! Kita biarkan dulu mereka.” Rayden mendengus dinasehati Arum. Dia pun meninggalkan Wira sendirian di jalanan dan masuk ke rumah bersama Arum. Dokter Maya yang berdiri di dekat pintu, ingin menolong Wira tapi wanita yang ada di rumah Kinan itu pergi menolong Wira duluan. Dokter Maya pun masuk membiarkan Wira dipapah oleh selingkuhannya itu.
Sebelum masuk ke dalam rumah, Wira menoleh ke rumah Rayden. Dia tersenyum, serasa keinginannya telah tercapai. Pria itu masuk dan duduk di sofa. Wanita bule duduk di sebelahnya dan memberi kain bersih untuk mengelap mimisannya.
Wira tidak mengambilnya, dia berdiri lalu masuk ke dalam kamar. Pandangannya pun menangkap bingkai foto pernikahannya pecah, Wira memungutnya.
“Bagus, aku ingin kau membenciku,” lirih Wira meneteskan air mata kemudian dia mengambil satu amplop di dalam lemari.
Wanita itu terkejut melihat Wira sempoyongan keluar dari kamar dan mendekatinya sangat kacau berantakan.
“Ambillah dan terima kasih sudah berpura-pura selama ini,” lirih Wira memberi amplop berisi uang puluhan juta. Wanita bule itu mengambilnya.
“Ambillah kunci mobil ini juga dan pergilah!” lanjutnya memberi kunci mobilnya. Wanita itu enggan mengambilnya, dia menolak lalu pergi membawa amplop saja. Meninggalkan Wira jatuh bersimpuh di dalam rumah sendirian. Wanita itu pergi menerjang hujan.
“Hahahaha… sekarang semuanya sudah hancur, aku sudah lama melepaskanmu.” Wira menatap foto pernikahannya. Pria itu kembali masuk ke dalam kamar, mengambil serpihan kaca dan plaster. Wira memperbaikinya, tapi retakan di foto itu masih jelas dilihat. Foto yang pecah seperti pernikahannya sekarang.
“Jangan cintai aku, bencilah padaku. Aku tak ingin jadi beban untukmu, Kinan.” Wira terisak, air matanya berjatuhan. Dia perlahan terkejut tiba-tiba cairan merah menetes ke fotonya.
Wira menyentuh hidung, dan tertawa menyedihkan melihat darah mimisannya keluar lagi.
“Hahaha… bodoh! Harusnya kau aborsi anak itu, tapi kau malah ingin melahirkan anak dari pria yang mau mati ini! Kau bodoh, Kinan!” Wira ingin melempar foto pernikahannya namun dia tidak dapat menahan untuk memeluknya.
“Bencilah, bencilah padaku.” Wira tergeletak di sebelah foto pernikahannya dan melihat tangannya penuh darah. Dia perlahan menutup mata saat mobil Rayden dan Joan meninggalkan rumah itu. Wira tersenyum, membayangkan hidupnya menyedihkan.
Dia punya harta, namun Wira tahu dia hanyalah menantu sampah di rumah Kinan. Suami yang hanya anak angkat dikeluarganya. Wira tak ingin memberi beban untuk Kinan lagi dan malu mendapat cinta Kinan. Maupun malu membalas cinta istrinya. Cukuplah dia menyimpan rahasia luka dan penyakitnya dibalik sifatnya yang dingin selama ini.
“Baby boy … maafkan ayah.“
Salahkah sikapku selama ini?
Dapatkah aku menggenggam sedetik tanganmu, Kinan?
Wira pingsan, mengabaikan satu pesan masuk dari papa Kinan.
“Nak, kapan kalian pulang ke Indonesia?"
__ADS_1
…
🥺🥺🥺🥺🙏