
Setelah kunjungan amal itu, bayangan tentang Wira belum dapat sirna malam ini. Bukan cuma Arum saja, tapi Rayden pun tak bisa melupakan Wira saat dia hanya diam ketika berdekatan dengan pria buta itu.
"Mas, aku rasa Kinan harus tahu ini," ucap Arum masuk ke dalam rumah bersama Rayden. Sedangkan Barsha masuk duluan membawa Baby Ai dan Key ke dalam kamar bersama Amel.
"Cih, dia pria bodoh yang pernah aku kenal di dunia ini. Dia sudah sekarat itu, tapi tidak bisa jujur pada istrinya!" decak Rayden duduk di sofa, membuka sedikit ikatan dasinya.
"Mas, mungkin ini bodoh, tapi aku yakin dia melakukan ini agar Kinan bisa melupakannya. Tapi Kinan sangat mencintainya, kenapa dia malah menyakitinya dengan cara begini?" ucap Arum menunduk di dekat Rayden.
Rayden membuang nafas berat, dia kesal pada Wira, tapi dia cukup kasihan juga.
"Mas, tadi kau sudah melihat Wira. Apa dia masih ada kesempatan untuk sembuh?" tanya Arum berkaca-kaca, tidak bisa melupakan Wira yang terlihat kurus tadi.
"Entahlah, aku bukan dokter, sayang," jawab Rayden memeluknya.
"Mas, panggil Dokter Maya, suruh dia mencoba menyelamatkan Wira! Aku tidak tega melihat Kinan dan anaknya kehilangan Wira. Mas tolong dia," ucap Arum memohon.
"Eh, bukannya dulu kamu tidak suka Dokter Maya?" ucap Rayden heran.
"Hiks, Mas! Ini itu soal hidup dan mati, aku tidak peduli lagi soal masa lalu. Sekarang, Mas telepon Dokter Maya," desak Arum mengguncang lengan suaminya itu.
Akibat didesak terus-menerus, Rayden pun menurut. Pria itu merogoh isi sakunya, mengeluarkan ponselnya. Malam ini, ia langsung menelpon wanita itu yang sedang berada di sisi Tuan Joan.
Sebelum panggilan itu sampai ke padanya, terlihat Joan sedang terlentang di atas kasur, dan melihat Dokter Maya sedang memijat betisnya.
"Hei, lebih kuat pijatnya, jangan cuma digitu-gituin! Pijatanmu ini kurang!" ucap Joan ketus.
"Bos Joan, gak usah galak-galak. Aku juga paham apa yang aku lakukan ini," ucap Dokter Maya kesal selama ini dijadikan pembantu. Jelas-jelas profesinya adalah Dokter, sekarang berubah jadi suster.
"Kalau pahan jangan dilemasin gitu! Tambah energinya, kamu terlalu lemah," cerocos Joan.
Dokter Maya menggerutu dalam hati selalu disalahkan. "Lemah? Padahal ini sudah maksimal aku pijat kakinya, dasar bunglon tua!" gerutu Dokter Maya melihat dua kaki pria itu punya bulu-bulu panjang dan itu membuat tangan Dokter Maya yang halus jadi terasa menggelikan.
"Ahhhh! Beraninya kamu cabut bulu kakiku!" kesal Joan beranjak duduk, merasa bulu betisnya dicabut tanpa ampun.
"Oh sorry, aku tidak sengaja Tuan Joan," ucap Dokter Maya pura-pura tersenyum.
"Cih, kerjaan kamu sangat payah."
Dokter Maya dalam hati sudah merah padam diomel terus menerus. Keinginannya ingin sekali memecat Joan jadi majikannya, tapi apalah daya, Dokter Maya tidak bisa membuang pria berkuasa itu.
__ADS_1
Tiba-tiba, saat ingin balas ucapan Joan. Panggilan dari Rayden pun masuk. Begitu senang hatinya dapat kesempatan untuk lepas dari jeratan Joan.
"Tentu, saya bisa terbang malam ini ke sana, Tuan Ray," ucap Dokter Maya disuruh jadi babysitter lagi. Joan mengerutkan kening.
"Hei, aku tidak mengizinkanmu menelpon, berikan ponselmu itu," pinta Joan.
"Maaf, Tuan Joan. Saya diperintah untuk terbang ke Indonesia." Dokter Maya turun dari tempat tidur.
"Enak saja, kamu tidak boleh kemana-mana sebelum dapat izin dariku," tahan Joan.
Dokter Maya pun tersenyum dengan ejekan.
"Wleeekkk! Kamu bukan lagi majikanku, Tuan Ray lebih bagus darimu, Tuan Joan! Dah!" ucap Dokter Maya lari keluar kamar.
"Hei, tunggu!" teriak Joan kesal ditinggalkan. "Beddebah, kenapa aku merasa dia yang memecatku? Aku ini lebih tua dari Ray, tapi dia dengan berani mengatakan itu padaku, dasar Mak Lampir, aku tidak semudah itu membiarkanmu lepas!"
Entah dendam apa yang tersimpan di hati pria itu, sehingga Dokter Maya terlihat benci di mata Joan.
"Hufft, selamat. Akhirnya bisa kembali bernafas malam ini," hela Dokter Maya berhasil mendapat tempat duduk di dalam pesawat. Wanita itu pun memejamkan mata ingin istirahat, tapi seketika seseorang menendang kakinya cukup keras.
Dokter Maya pun membuka mata, sontak dua matanya seakan ingin terlepas memandangi pria berpakaian serba hitam itu duduk di sebelahnya.
"Ka… kamu? Tu… tuan Joan? Kenapa anda bisa nyasar di sini?" tanya Dokter Maya dag-dig-dug.
"Hah? Terus kenapa anda ikut ke pesawat ini dan nyamar seperti bapak-bapak?" tanya Dokter Maya.
"Oh, ya kamu ini kan sudah terlihat bapak-bapak, hahaha…." lanjut Dokter Maya mengejek.
"Hahaha… Ibu-ibu kalau sudah tertawa ngeri juga ya, gak ada manis-manisnya," balas Joan sinis.
Tawa Dokter Maya langsung berhenti. "Cih, dasar bunglon tua!" kesal Dokter Maya.
"Hah? Apa kamu bilang?" bentak Joan.
"Aduh, jangan galak-galak Tuan, nanti makin tua loh, hahahaha…." tawa Dokter Maya lagi.
"Hahaha… mulutmu gak bisa direm ya kalau sudah tertawa," ucap Joan tambah kesal, merasa wanita di sampingnya sangat menyebalkan. Ia pun langsung menyumbat mulut Dokter Maya dengan dua lembar roti.
"Hahaha... " Joan terbahak-bahak roti itu berhasil menghentikan tawa Dokter Maya.
__ADS_1
"Arrggg, anda kenapa sih menyebalkan!?" balas Dokter Maya menyumbatkan roti itu ke dalam mulut Joan.
DeG! Joan terkejut dan begitupula Dokter Maya. Keduanya sadar roti yang masuk ke dalam mulut Joan adalah bekas sumbatan di mulut wanita itu.
"Ahhhhh… hoeek… .hoeeek…." Dua-duanya mual di dalam pesawat. Merasa sudah berbagi cinta yang tidak langsung. Anak yang duduk di sebrang kursi lain, terlihat menertawai Joan dan Dokter Maya yang berdebat.
"Momi, lihat! Om dan Tante itu lucu sekali," ucap bocah itu. Sang Ibu anak itu menggelengkan kepala. "Ya, hahaha….." Ibu anak itu tertawa, mengira mereka suami istri yang lucu.
"Mama, lihatlah. Tante itu mual-mual, dia kenapa?" tanya anak itu lagi. Ibu itu menjawab jika mungkin Dokter Maya sedang hamil. Anak itu mangut mangut tidak paham, tapi melihat Dokter Maya, anak itu geli mendengarnya.
Tidak lama, keduanya sampai juga ke rumah Rayden pagi ini. Mendengar pintu diketuk, Rayden dan Arum di dalam rumah, segera membukanya.
"Selamat pagi, Tuan dan Nona," ucap Dokter Maya dengan ramah.
"Syukurlah, kamu datang, tapi siapa yang mengantarmu ke sini?" tanya Arum heran.
"Bukan kah aku yang harusnya menjemputmu? Kenapa bisa secepat ini datang?" tanya Rayden juga.
Dokter Maya pun berbalik badan, menunjuk ke arah mobil baru yang dibeli oleh Joan.
"Dia yang mengantar saya, Tuan."
"Haaah? Siapa dia? Kenapa datang ke sini bersamamu?" tanya Rayden tidak mengenal pria berpakaian serba hitam itu.
"Wah, dia suami mu, Dok?" tebak Arum.
"Eh, bukan! Dia itu--"
"Aku Joan, emang kenapa kalau aku ke sini?" sahut Joan melepaskan penyamarannya.
Rayden dan Arum tersentak.
"Joan? Sejak kapan kalian menikah?" tanya Arum membuat Dokter Maya dan Joan sama-sama terkejut. Kecuali Rayden yang agak kesal.
"Sebentar, kenapa kamu ke sini? Aku kan tidak mengundangmu," ucap Rayden maju berhadapan ke Joan.
"Sial, aku ini kakakmu, apa salahku terbang ke sini?" tanya Joan ketus.
"Ya salah lah, kamu ini kayak jalangkung. Datang tak diundang pulang pasti tak bilang-bilang, cek," decak Rayden sinis.
__ADS_1
...
😂😂😂