
"Istri? Hahaha... aku bukan istrinya! Istrinya sudah lama--" putus Barsha saat Marsel maju dan memegang tangannya. Amel di sana terkejut melihat Ibu tirinya dipeluk oleh Marsel. Sekar pun yang menangis akhirnya diam seketika.
"Bella, dengarkan aku."
Barsha menggelengkan kepala, mendorong dada bidang Marsel.
"Cukup! Aku bukan wanita yang mengemis cintamu!" ucap Barsha tegas. Tapi seperti biasa, pelukan hangat Marsel mampu memutuskan rantai kebencian di hati Barsha.
"Dengarkan aku, Bella."
Marsel melepaskan pelukannya setelah Barsha tenang. Pria itu meraih tangan Barsha, lalu menjelaskan semuanya bahwa dia sejujurnya mencintainya, karena itulah dia memaksa Barsha menikah dengannya, hanya cara dia yang salah mencintainya. Serta, Marsel mengatakan bahwa yang ingin membunuhnya adalah mertuanya karena kecewa tak dapat mendapat cucu laki-laki dan sama seperti saat Sekar melahirkan Kamelia. Tetap saja nasib itu berpindah ke Kamelia dan Arum saat itu hingga dia membawa dua putrinya pergi, bukan bermaksud membuang Arum dan Kamelia saat itu.
Sekar maju, memohon Barsha memaafkannya.
"Bella, aku tahu deritamu lebih parah dariku, kamu dipisahkan selama 19 tahun, sedangkan aku hanya 10 tahun, tapi sekarang kita bertemu kembali. Pikirkan, masa depan putri kita."
Barsha melihat Kamelia dan dua cucunya lalu melihat Marsel. Semuanya harus dicerna dulu karena Barsha takut ini hanyalah sandiwara. Tapi akibat pertanyaan Amel, membuat Barsha jadi ragu dugaannya itu.
"Mama, mereka sungguh orang tua Amel?" tanya Amel menunjuk. Barsha pun mengepal tangan. Jika dia jahat, pasti akan membalas dendam sekarang. Pasti dia tidak akan setuju Sekar membawa Amel bersamanya, tapi keraguan masih menyelimutinya.
"Kalau kalian orang tua Amel, kenapa kalian jahat buang Amel dan Kak Arum?" tanya gadis cantik itu lagi. Sekar menarik tangan Amel, tapi Barsha menarik satu tangannya, tak mau Amel direbut.
"Sayang, Ibu dan Ayah tidak pernah buang Amel. Kita lindungi Amel dan Kak Arum, Nak." Sekar menjelaskan dengan jujur dan tulus dari hatinya.
"Tapi kenapa tidak pernah cari kami?" tanya Amel terisak.
"Karena Ayah kalian mengalami amnesia setelah kecelakaan, dan itu juga Ibu lumpuh sampai sekarang," jawab Sekar melihat Marsel yang hanya diam saja. Barsha pun menatap Marsel, cukup terkejut suami keduanya itu mengalami Amnesia.
"Kamu lupa ingatan?" tanya Barsha ke Marsel.
"Yah, aku 18 tahun amnesia. Tahun lalu semua ingatan aku baru muncul, maaf aku payah selama ini," jawab Marsel menatapnya. Semuanya semakin jelas, Barsha pun terdiam di antara mereka.
"Mama, ini tinggal lima menit lagi buka puasa, mereka boleh tidak tinggal di sini sebentar?" tanya Amel menunjuk jam dinding.
Tetap saja Barsha diam, membuat Sekar pun tahu jika artinya itu Basha tetap menolak kehadirannya.
"Mars, kita pulang sekarang. Biarkan dia memikirkannya, kita--" putus Sekar akibat sahutan dari belakang Barsha.
"Mama...." panggil Arum dengan suara serak akibat menahan Isak tangisnya dari tadi melihat mereka berdebat.
Sekar dan Marsel terperangah melihat Arum menghampiri Barsha. Keduanya tentu terkejut putri pertamanya sudah tumbuh menjadi wanita cantik.
Dengan setengah menangis, Arum bicara pada Ibunya. "Mama, Arum sudah dengar semuanya. Mama ingat kan, Arum pernah bilang kalau Ayah itu baik," ucap Arum mengagetkan hati Marsel.
"Ayah dan Ibu pasti punya alasan saat itu meninggalkan kami, mereka berdua tidak jahat, Mama. Biarkan saja semua ini berlalu dan menjadi pelajaran buat kita. Mama, maafkan Ayah dan Ibu." Arum memohon, dan melihat wajah Sekar dan Marsel. Wajah kedua orang tua yang dulu dilupakan sekarang sudah sangat dapat dia ingat jelas.
Barsha menghapus air mata Arum, dan hanya mengangguk kecil lalu memeluknya. "Mama, hanya mengikutimu, Nak. Jika kamu sudah maafkan mereka, Mama akan memaafkan mereka pula."
"Terima kasih, Mah." Arum balas memeluk Ibunya. Kemudian dia mendekati Sekar, dia memeluk wanita lumpuh itu. "Ibu, Arum selama ini sudah tepati janji jaga Kamelia, sekarang Ibu harus janji jaga Kamelia bersama kami," ucap Arum mengusap air mata Sekar yang terus berlinang.
"Terima kasih, NAK. Ibu minta maaf selama ini," balas Sekar senang sekali, dia tahu Arum yang baik hati selalu tulus untuknya. Kini Sekar pun dapat memeluk Kamelia kembali.
Arum merasa lega, ia pun pindah ke Marsel.
__ADS_1
"Ayah, Arum pernah lupain wajahmu, tapi sekarang Arum ingat wajah ayahku yang bodoh," ucap Arum ketus.
Marsel tertawa kecil mendengarnya, ia pun balas menjawab.
"Ya, ayah bodoh saat itu, bodoh tidak dapat melawan kakekmu. Maafkan ayah, Nak!" Dengan sungguh-sungguh Marsel kembali bicara. "Ayah bangga padamu sudah menuruti janji, sekarang ayah akan janji untuk memberi kebahagiaan kepada kalian," ucap Marsel ingin memeluk putri pertamanya namun tiba-tiba, ada saja yang menghancurkan suasana itu.
"Eitss... tidak semudah itu, Fergusoo!" ucap Rayden menghalangi dengan tangannya sendiri.
"Wah, Om Rayden!" seru Kamelia melihat Rayden menarik Arum ke pelukannya. Marsel pun ingat jika musuhnya ternyata menantunya saat ini.
"Hahahaha... mentang-mentang istriku anakmu, kamu seenak jidat pengen memeluknya, izin dulu dong sama suaminya dulu, Tuan Marsel!!!" kata Rayden dengan sinis.
Barsha tersenyum miring melihat tingkah anak tirinya itu. Dia setuju Rayden menjaga Arum daripada nanti Marsel nanti mata jelalatan.
"Dasar menantu lak Nat!" umpat Tuan Marsel.
"Cih, orang dikatain lak Nat, kamu sendiri yang lak Nat!" balas Rayden tak mau kalah. Dua pria yang dikenal paranoid itu pun saling melotot sampai akhirnya adzan Maghrib berkumandang.
"Yeyy, ayo buka bersama!" riang Kamelia naik ke kursinya, di sebelah Ibu kandungnya, diikuti juga Arum dan Barsha. Hanya tinggal Rayden dan Tuan Marsel tidak punya kursi.
"Sayang, aku duduknya di mana?" tanya Rayden dengan piring berisi nasi dan lauk di tangannya.
Arum pun berdiri, mengambil segelas air lalu memberikan ke Rayden.
"Mas makannya di luar saja, sama Ayah," jawab Arum memberikan sepiring dan satu gelas air ke Tuan Marsel.
"Hah? Kok aku dan dia keluar? Gak ada gitu kursi lain, sayang?" tanya Rayden risih berduaan dengan Tuan Marsel.
"Ayah, tidak masalah kan makan di luar? Besok Arum suruh orang beli kursi baru," ucap Arum pada Tuan Marsel dan mengabaikan Rayden.
"Sayang, aku tidak mau keluar!" cetus Rayden.
"Ih Mas, jangan manja gitu deh, malu dilihat sama Ibu mertuanmu!" balas Arum.
"Yah tapi, kan--" putus Rayden akibat Tuan Marsel mengejeknya.
"Sayang, Mas tidak mau, iliiih.... manja banget!" hina Tuan Marsel tertawa lalu keluar.
"Eh, apa yang kamu katakan pak tuah, ha!" bentak Rayden mendengus.
"Ih Mas, jangan marah gitu! Dia mertua kamu, loh!" ucap Arum mencubit pinggang Rayden.
"Habisnya dia sendiri yang duluan!" ketus Rayden.
"Sudah-sudah, sana makan di luar sama Ayah!" perintah Arum.
"Hem, baiklah!" ucap Rayden menurut dan duduk di ruang tamu, sedikit duduk menjauh dari Tuan Marsel. Terlihat kedua pria itu diam-diam berdebat akibat baby twin di antara mereka, sehingga Arum geleng-geleng kepala mendengarnya.
"Hadeh, pusing Berby," keluh Arum duduk bersama Barsha, Kamelia dan Sekar. Terlihat keluarga itu bersenda gurau mendengar cerita dari masing-masing yang mereka lalui. Tak lupa Barsha mulai melapangkan dada menerima maaf dari Sekar dan Marsel. Walau begitu bagi Rayden, ia masih jengkel pada ayah mertuanya itu dan ceritanya pun SELESAI.
.....
Rayden : Hah selesai?Yakin dah selesai, Mak?😑
__ADS_1
Author : Yah selesai lah, maunya gimana lagi?🤣Semua sudah berkumpul bahagia dan saling memaafkan
Arum : Gak ada gitu part tambahan buat aku yang mau kuliah ini? dan baby twin gitu🥺
Rayden : Nih betul, istriku baru mau kuliah, masa dah tamat?
Joan : Bentar ...bentar, masih ada aku juga nih mau dapat part tambahan buat cintaku huhuhu....
Kinan : Gak mau ceritain akhir cinta aku dan Wira juga, Mak?🥺
Wira : Maaaaaaaakkkkk! Aku kritis nih di luar negeri🥵masa akhir cerita aku dibuat sekarat😓
Kamelia : Hahaha... Mak Author di serang😂hayo serbu anak-anak...
Baby twin : Oeeekkk... oeeek...🥴
AUTHOR : Ya ampun kacau duniaku di serang kalian.
Readers : Tanggung jawab Mak😂
AUTHOR : Baiklah, karena kalian demo Mak kasih dua ekstrak part besokðŸ¤
Rayden : Sedikit amat😒yang banyak dong, Mak. Aku kan masih pengen bermain ranjang dengan istriku🥵🥴
Arum : Diih, ranjang terus otakmu, mas!😑
AUTHOR : Okay, kalau begitu besok tunggu saja ekstrak part-nya🥰
Rayden : Hem, gitu dong😒
Semua tokoh dan readers kecuali Rayden : Waaahh, sayang Maak!
Author : Sayang kalian juga😘 tapi Bang Rayden kok diam? Gak sayang, Mak?
Rayden : Idih, mending aku sayang istri😑🥴
Author : 😑😑😑🙄
Rayden : 🤣🤣😂Sabar Mak, orang sabar pantatnya lebar.
Author : Gedubraaak!!!
Tetap favoritkan ya, karena akan ada ekstrak part dan novel kedua yang akan terbit🥰terima kasih, lope-lope lima kebon.
.
.
.
__ADS_1
.