Hasrat Tuan Muda

Hasrat Tuan Muda
Bab 23 Rayden Frustasi


__ADS_3

Arum bergegas menuju ke balik tembok. Seketika ia terdiam, seseorang sedang duduk di kursi roda sedang mengelus kepalanya.


"Anda baik-baik saja, Tuan?" Arum mendekatinya sambil tersenyum, ia cukup bersalah.


Pria itu menoleh, langsung saja terkesima pada Arum. Mata hitam, rambut hitam yang panjang bergelombang, wajah cantik dan berseri, serta senyuman manis seperti gula membuatnya bersemu merona dihampiri oleh gadis itu. Pas banget, angin menghembus ke arah Arum hingga rambutnya diterpa oleh angin sore, membuatnya semakin terpesona.


"Aku baik-baik saja kok," ucap pria itu balas tersenyum.


"Syukurlah, aku pikir anda terluka dan marah sudah terkena lemparan batu tadi," balas Arum tersenyum lega pria itu baik sekali.


"In-ini tidak sakit jadi tidak perlu memarahimu kok, ta-tapi kau siapa? Bagaimana kau bisa ada di sekitar kediamanku?"


Arum menoleh ke mansion yang lumayan cukup jauh.


"Hei, kau jangan diam saja, jawablah Nona."


Arum pun menggaruk kepalanya dan cengengesan.


"Na-nama ku Arum, barusan dari situ, maaf tadi sudah mengganggu kedamaian hati anda, Tuan!"


"Puftt, kau pembantu baru di mansion?" tanya pria itu menunjuk.


Arum terdiam, bingung mau jawab apa. 'Maunya sih jawab Istri Tuan Rayden, tapi kan saya belum nikah. Maunya juga jawab pelayan, tapi saya belum pernah daftar,' batin Arum tidak tahu mau bicara apa.


"Oh astaga, aku bodoh sekali, harusnya aku mengenalkan diri dulu," ucap Pria itu menepuk jidatnya lalu mengulurkan tangan ke Arum. Pria itu bernama Joan Edrian Lordcan.


"Oh senang bertemu dengan anda, Tuan Joan!" Arum tidak membalas salaman Joan. Ia cuma tersenyum manis.


"Ah, ya-ya, senang bertemu denganmu juga, Arum." Joan tertawa kecil tidak sangka gadis itu sangat menjaga dirinya. Hanya salaman saja, Arum tidak mau membalasnya.


"Kalau begitu, aku permisi du--"


"Tunggu, apa yang kau lakukan di sekitar sini?"

__ADS_1


"Aku mau mengambil mangga itu," jawab Arum menunjuk.


"Untuk apa kau ingin mengambilnya?" tanya Joan ingin tahu.


"Aku ingin makan rujak, Tuan!" jawab Arum bersemangat.


"Ha, rujak? Makanan apa itu?" Joan terkejut baru mendengarnya.


"Itu adalah salah satu makanan terenak! Rujak adalah makanan yang diolah dari berbagai macam buah-buahan segar," jelas Arum mulai tergiur membayangkannya.


Joan tertawa kecil melihat kecerian gadis bermata hitam itu.


"Kalau begitu, apa aku bisa mencobanya?"


"Tentu saja bisa! Dijamin anda akan ketagihan,"


"Wow, apalagi yang membuatnya adalah gadis cantik sepertimu, Arum."


Deg! Arum terdiam disanjung barusan. 'Apa ini? Apa pria dewasa ini lagi menggoda ku?' batin Arum mulai was-was. Sontak saja, ia makin terkejut ketika Joan memanggil dua Bodyguard untuk memanjat pohon demi Arum. 'Sepertinya pria ini bukan orang biasa.'


"Tuan Joan,"


"Ya ada apa, Arum?"


"Anda ini tinggal di sana juga?" tanya Arum menunjuk mansion Nyonya Barsha.


"Ya, saya tinggal di sana, dan salah satu anggota Mafia," jawab Pria itu tersenyum ramah.


"Sungguh? Anda anggota Mafia juga?"


"Benar, tepatnya aku Putra Mahkota. Apa kau baik-baik saja, Arum?"


"Hahaha... aku sangat terkejut bisa langsung bertemu anda," tawa Arum merasa bodoh dan ketakutan.

__ADS_1


"Pufft, kau sangat lucu," ucap Joan tertawa merasa Arum berbeda dari gadis lainnya, ia merasa nyaman berada di sebalah Arum.


"Dan aku jadi ingin menikahimu."


Hah! Mulut Arum terbuka lebar setelah mendengarnya.


'Dia mau menikahi ku, tapi aku sedang hamil anak adiknya. Apa dunia sedang terbalik?'


Arum serasa ingin pingsan. Soalnya Joan langsung mengajak nikah di pandangan pertama, tidak seperti Rayden yang malah ngajak tembak di malam pertama...


'Oh Tuan Ray, kamu di mana?' batin gadis hamil itu menginginkan Rayden bisa selalu di sampingnya. Arum pun diam-diam melirik Joan yang tampak sibuk memandangi Bodyguardnya. Arum ingin sekali kabur, tapi takut dan gelisah juga pada dua Bodyguard besar itu.


.


.


Braak!


"Aku yakin hasil ini tidaklah benar, putri kami Daisy tidaklah mandul!"


Deg! Detak jantung seseorang berdegup keras.


"Apa, aku mandul?" sahut Daisy di sebelah Rayden yang sudah datang. Semua mata langsung menoleh padanya.


"Da-daisy? Kenapa kau bisa ada di sini, Nak?" Pria yang menggebrak meja barusan shock melihat Putri semata wayangnya itu hadir di dalam pertemuan.


"Tidak, tidak mungkin! Aku ini tidak mandul! Aku bisa melahirkan anak calon pewaris tahta Mafia!" pekik Daisy keluar, air matanya berlinang turun membasahi kedua pipinya.


Rayden sedikit tidak tega, tapi ini cukup melegakan. Ia tidak perlu lagi cari alasan. Ayah Daisy dan Ibunya langsung mengejar Daisy. Kini Rayden pun mendekati Nyonya Barsha dan Tuan Edward Averold, tak tertinggal Nyonya baru bernama Mariam Zeanida. Bukannya sudah lepas dari belenggu pemaksaan, Tuan Edward kembali menjodohkannya dengan Putri Mafia sebelah.


"Apa? Aku harus menikahinya?"


Rayden mulai frustasi, dia menyesal kembali ke wilayah kelahirannya.

__ADS_1


'Apa saya perlu kabur membawa---' batin Rayden lelah ditekan terus menerus.


__ADS_2