Hasrat Tuan Muda

Hasrat Tuan Muda
Bab 88 | S2 : Ingin Membunuh Wira


__ADS_3

"STOP! Kalian bisa gak sih gak usah bertengkar terus? Setiap bertemu langsung mulai debat," ucap Arum berdiri di antara dua pria gagah itu. Joan dan Rayden saling membuang muka. 


"Oh ya, itu-" ucap Dokter Maya. Ketiganya pun menoleh. 


"Ah, tadi sepertinya Nona Arum salah paham, aku sampai sekarang belum menikah," ucap Dokter Maya. Arum dan Rayden pun menatap bergantian wanita itu dan Joan. 


"Jika kamu belum menikah dengan Joan, kenapa kamu biarkan pria ini datang bersamamu?" tanya Rayden curiga. 


"Hei bocah, aku ke sini datang karena ingin mengawasi pengasuhku, tidak ada maksud lain," jawab Joan terus terang. 


"Hah, pengasuh?" kaget Arum. 


"Hahaha, kamu sudah besar gini kok ada pengasuh? Apa tidak terlalu lucu?" tawa Rayden. 


"Emang kenapa? Suka-suka aku dong," ucap Joan mengoceh. Dokter Maya menepuk jidat. "Hadeh, aku pikir jika terbang ke sini aku bisa hidup tenang, tapi ternyata ini lebih parah, apalagi ada dua baby yang harus aku urus," batin Dokter Maya melihat Barsha menggendong dua cucunya dan keluar menyambutnya. 


Tapi, setelah masuk. Tujuan Dokter Maya bukanlah sebagai babysitter untuk Ai dan Key, melainkan jadi Dokter untuk kesembuhan Wira. 


"Hah? Jadi pria itu mengidap penyakit kanker? Dan sekarang lagi sekarat?" tanya Dokter Maya di sebelah Joan. 


"Bagus juga, memang sudah pantas dia mendapatkannya," ucap Joan tersenyum miring. 


"Ya Dok, kami berharap anda bisa menyembuhkannya," ucap Arum mengagetkan Joan. 


"Loh, kok disembuhkan?" tanya Joan. 


"Hem, kamu diam saja, tidak usah tahu," ucap Rayden. Joan mendesis diabaikan. 


Arum pun menjelaskan semuanya dari awal. Dokter Maya dan Joan pun sepenuhnya sadar maksud Wira selama ini menyakiti istrinya. 


"Aku tahu kalian pikir dia bodoh, tapi jujur, hanya dia yang tahu maksud dari semua ini, karena itulah, maukah Dokter Maya menyembuhkan pria itu?" mohon Arum. 


Dokter Maya mengangguk, dia akan mencoba. Jalan satu-satunya, pria itu harus diajak ke rumah sakit. 


"Jadi kalian yakin hari ini akan ke sana?" tanya Barsha pada mereka berempat yang ingin pergi ke panti asuhan siang ini. 


"Ya, Mah. Sebelum kami terlambat, kita harus segera ke sana," jawab Arum.


"Baiklah, Mama cuma bisa berdoa, semoga niat kalian tercapai bulan ini." Barsha memeluk Arum. 

__ADS_1


Namun, tiba-tiba mereka terkejut, seseorang datang ke rumahnya. 


"Kinan?" ucap mereka melihat bumil itu jalan susah payah dan menangis. Kinan terkejut dapat melihat Joan lagi. 


"Kinan, apa yang terjadi padamu?" tanya Joan menghampirinya. Kinan meraih tangan Joan, dan memohon.


"Tolong, tolong bantu aku cari Mas Wira. Hari ini Papaku sedang mengerahkan anak buahnya untuk membunuhnya, aku sudah mencoba mencari suamiku, tapi aku tidak menemukannya. Tolong bantu aku, Hiks… " Kinan menangis tersedu, masih terbayang papanya datang mencari Wira ke rumah keluarga pria itu, tapi tetap sia-sia. 


"Aku tahu di mana suamimu," ucap Joan. Kinan mendongak, mulutnya sedikit terbuka. 


"Sungguh?" tanya Kinan melihat semua orang. 


"Ya, kami tahu posisi Wira sekarang," jawab Arum dan Rayden. 


"Kalau begitu, tolong aku bawa, aku ke sana." Kinan pindah ke Arum. 


"Baiklah, ikut saja dengan kami."


Kinan mengangguk, dia pun ikut masuk ke dalam mobil Rayden. Mobil mewah itu pun melaju pergi, disusul mobil Joan ke panti asuhan. 


Sesampainya di sana, Kinan tidak bisa lagi berkata-kata saat melihat pria yang duduk di kursi roda itu sedang merenung sendirian. 


"Tetaplah di sini, ini bukan waktu yang pas untuk dia tahu anda ada di sini, Nona Kinan," ucap Dokter Maya. Arum pun ikut setuju. 


"Ta-tapi, kenapa dia bisa ada di sini?" tanya Kinan mengusap air matanya. 


Arum pun kembali menjelaskan kronologi penyakit Wira. Kinan langsung terguncang. 


"A-apa? Dia selama ini mengidap kanker otak?" ucap Kinan melihat Wira yang memakai topi, untuk menutupi kepalanya yang sudah tidak berambut ikal. 


"Gak, selama ini dia tidak pernah mengeluh," ucap Kinan tidak percaya. 


"Itu karena dia menyembunyikan ini darimu, Kinan. Setiap dia keluar dari rumah, dia sebenarnya datang ke rumah sakit untuk memeriksa buka untuk keluar melihat selingkuhannya. Aku pernah melihat dia saat di London," jelas Dokter Maya jujur. 


Kinan sesugukan, seluruh tubuhnya mati rasa. Serasa ingin pingsan tapi dengan cepat Joan menahan punggung Kinan. Pria itu ingin memeluknya, tapi Joan tidak ingin hati yang sudah tertutup untuk mencintai Kinan terbuka. Dokter Maya pun yang memeluk bumil cantik itu. 


"Hiks, kenapa dia tega lakukan ini? Kenapa dia menyembunyikan ini? Aku sangat mencintainya, tapi kenapa dia membohongiku selama ini?" tangis Kinan tidak bisa menahan air matanya yang berjatuhan. 


"Saya juga tidak tahu, Nona Kinan." Dokter Maya memeluknya, agar Kinan tidak jatuh pingsan. 

__ADS_1


Setelah tenang, dan mengusulkan kepada Ibu panti agar Dokter Maya untuk merawat Wira. Mereka pun keluar melihat Wira di bawah pohon seperti kemarin. Merenung sendirian, dan menatap kosong. 


"Saya ke sana dulu, permi-" ucap Dokter Maya terhenti setelah Kinan menahan tangannya. 


"Izinkan aku juga ikut melihatnya," mohon Kinan ingin menatap dekat suaminya. Dokter Maya melihat bergantian Rayden, Arum dan Joan. Ketiganya pun mengangguk, memberi izin. 


"Baiklah, mari kita ke sana." Dokter Maya membawa bumil itu ke tempat Wira.


Dari jauh, ketiganya melihat Kinan yang diam melihat Wira. Diam menahan tangis di samping Dokter Maya. 


"Permisi," ucap Dokter Maya mulai bicara. Wira menoleh ke sumber suara, terlihat pria itu terkejut ada orang lain yang mengajaknya bicara. 


"Anda siapa?" tanya Wira, merasa baru kali ini ada orang lain menyapanya selain sekretarisnya dulu. 


"Saya suster Maya, Ibu panti menyuruh saya untuk merawat anda," jawab Dokter Maya gugup. 


"Pergilah, aku tidak butuh orang sepertimu," usir Wira. Kinan mengepal tangan, ingin ikut bicara tapi Ibu panti berpesan jangan membocorkan identitasnya. Dokter Maya yang diacuhkan oleh pria itu cukup kesal. "Astaga, kenapa semua pria di dunia ini menyebalkan?" batin Dokter Maya. 


"Pak Wira, meski anda mengusir saya, tetap saja saya akan merawat anda. Saya dipekerjakan di sini karena anda, jadi tidak ada bantahan lagi. Sekarang ini sudah sore, lebih baik anda segera masuk!" ucap Dokter Maya tegas dan mulai mendorong kursi roda. 


"Hentikan, aku tidak membutuhkan dirimu di sini! Hentikan!" racau Wira mencari-cari tangan di sekitarnya, dan langsung saja menepisnya dengan kasar. 


"Ahhhh!" jerit Kinan tangannya yang ditepuk. 


Wira sontak berhenti meracau. Suara itu agak familiar. Dokter Maya panik, ia segera bertanya ke Kinan.


"Anda baik-baik saja?" tanya Dokter Maya berbisik. 


"Tidak Dok, ini cuma tergores sedikit," jawab Kinan tersenyum. Dokter Maya mengelus dada lalu menatap Wira sinis. 


"Nona Kinan, bisakah saya membentak suami anda sekali ini saja?" tanya Dokter Maya naik darah dan masih berbisik. 


"Boleh, tapi jangan keras-keras, Dok," jawab Kinan takut Wira mati ditempat kalau sampai dibentak habis-habisan. 


"Hadeh, wanita ini terlalu cinta pada suaminya. Benar-benar bikin aku greget pengen kuceramahi 24 jam, jadi istri jangan terlalu rapuh," batin Dokter Maya tak habis pikir.


.....


😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2