Hasrat Tuan Muda

Hasrat Tuan Muda
Bab 74 | S2 : Push up 100 Kali


__ADS_3

Begitu terkejutnya dua perempuan itu melihat Rayden berada di atas tubuh Joan dan mencekal tangan Joan ke atas. Posisi dua pria itu membuat Arum dan Dokter Maya melongo hebat.


“Dasar pria payah! Aku benar-benar muak mendengarnya! Lupakan dia! Jangan kau rebut dia dari suaminya! Aku tidak setuju keinginanmu ini, Joan!” murka Rayden mengguncang tubuh Joan.


“Mas! Kalian ngapain di atas ranjang begituan?”


DEG. Rayden dan Joan menoleh ke pintu lalu melihat posisi mereka yang tindih menindih. Seolah pisang sedang perang bersama pisang.


"Arum, kamu jangan salah paham dulu!” ujar Rayden ingin berdiri tapi Joan dengan cepat memukul wajah Rayden.


Duaaak!


Arum dan Dokter Maya tersentak kakak beradik itu bertengkar lagi.


“Sialan, kau curang!”


Duaaak!


Rayden balas memukul wajah Joan hingga keduanya babak belur hari ini.


“Mas! Hentikan!” Arum berteriak melihat kedua pria itu berkelahi. Dia ingin melerai tapi takut juga kena pukul, begitupula Dokter Maya jadi kalang kabut karena Kinan perlu ditolong di sana.


“Hiyaaa, kau pikir aku lemah? ” kesal Rayden mengeluarkan jurus bela phytonnya.


“Cuih,” ludah Joan mengusap bibirnya yang berdarah. “Rayden! Kau tidak berhak melarangku, aku punya hak memilih siapa yang aku cintai!” lanjut Joan mengeluarkan pistolnya.


“Cih, selagi aku masih hidup, aku tidak ridho kau mencintai istri orang! Apalagi berniat jadi pebinor! Langkahi dulu mayatku,” kelakar Rayden menerjang. Sontak kamar itu kembali gaduh dengan perkelahian sengit mereka membuat Arum sudah naik darah tidak tahan. Kalau saja ada Barsha, sudah ditendang mereka.

__ADS_1


Arum tidak paham mengapa suami dan iparnya tiba-tiba korslet hari ini, dia segera berteriak lantang.


“Mas, Kak Joan! Tetangga di sebelah meninggal!”


Duaaak! Tinju Rayden meleset ke lemari dan pistol Joan terjatuh. Dua pria itu menoleh bersama ke arah Arum dan Dokter Maya.


“Meninggal? Siapa yang meninggal, Arum? ” Joan memegang bahu Arum tapi ditangkis oleh Rayden. “Jangan sentuh istriku, woi!” cetus Rayden memeluk Arum.


Dokter Maya ingin pingsan melihat kelakuan kakak beradik itu, apalagi Arum bicara sembarangan, tapi dia masih wasar harus menyadarkan mereka.


“Tuan Rayden, wanita hamil itu yang-” Dokter Maya terhenti setelah Joan melewatinya sangat cepat.


“Joan! Kamu mau kemana woii!” teriak Rayden kesal ditinggalkan. Spontan baby twin menangis mendengar suara ayahnya. Dokter Maya ingin ke kamar anak kembar itu tapi disuruh Arum menyusul Joan.


“Biar aku yang urus, Dok. Kau ke sana lihat Kinan!”


“Ini gara-gara Mas, anak-anak jadi nangis! Push up 100 kali di sini!” perintah Arum ke Rayden.


“Tapi sayang, aku mau ke sana juga!” tolak Rayden mau ke rumah Kinan.


“Ih, jangan harap dapat jatah malam ini!” cetus Arum berkacak pinggang.


“Ya jangan gitu dong, beby,” rengek Rayden.


“Ya sudah, nurut dong sama istri.” Arum cemberut.


“Gak mau obati bibirku yang sakit ini? Nih berdarah loh tadi sempat dipukul Joan,” mohon Rayden nunjuk bibirnya pengen dicium dulu.

__ADS_1


"Bodo amat, siapa suruh berkelahi!” Arum masuk ke kamar baby twin untuk menenangkan baby Ai dan Key. Rayden merungut, dia pun ikut masuk ke dalam kamar.


“Kenapa ikut masuk juga?” tanya Arum menyusui Baby Ai duluan dan menepuk-nepuk lembut popok baby Key agar tenang.


“Sayang, kamu tahu dari mana tetangga kita meninggal?” tanya Rayden ikut duduk, belum mau push up.


“Tadi aku ke rumahnya, pengen jenguk Kinan. Tapi aku lihat Kinan di lantai tidak sadarkan diri, jadi aku ke sini lagi mau minta tolong kamu bukain pintu kamarnya, tapi kamu malah berkelahi sama Joan, aku harap dia tidak meninggal di sana.” Arum terpaksa jujur.


“Yah berarti belum jelas dong, beby. ” Rayden kesal mendengarnya karena merasa dibohongi.


“Habisnya kamu gak mau berhenti, maaf ya.” Arum tersenyum manis lalu mengambil baby Key bergantian mene tek.


Rayden rebahan di samping baby Ai dan menatap istrinya murung.


“Kenapa mukanya sedih gitu?” tanya Arum mengerutkan dahi.


“Tidak lama lagi kita akan terbang ke Indonesia,”


“Terus? ”


“Aku harap hidup kita bisa tenang di sana, dan Joan bisa menikah dengan wanita lain biar melupakan istri Wira itu. Aku heran, dia bisa-bisanya suka sama wanita hamil itu, aku pikir dia tidak akan move on darimu, beby.” Rayden beranjak duduk.


Arum membuang nafas kemudian menyentuh pipi suaminya.


“Tidak usah khawatir, semua akan baik-baik saja." Rayden mengangguk paham kemudian memeluk istrinya yang akan setia mendukung perusahaannya kelak. “Hehehe… tidak jadi push up 100 kali.” Dalam hati Rayden, ia senang Arum melupakan perintah itu.


....

__ADS_1


Maaf baru upload, besok lagi ya. Maaf sebanyak-banyaknya🙏🥺


__ADS_2