
"Huaaa... aku tahu kok, Mas pasti bete karena aku terus-terus nolak bercinta, jadi Mas selingkuh. Aku yang salah sudah abaikan Mas, tapi gak gini juga. Sakit tau hatiku Mas selingkuh di belakangku. Memangnya aku tidak lagi berguna sampai Mas selingkuh? Aku ini sudah cinta dan sayang, setia sama Mas, sudah hamil anak Mas, sudah lahirkan anak kembar untuk Mas, apakah ini balasan yang Mas berikan padaku? Kejam sekali kau, Mas! Hiks... hikss...."
Ocehan Arum itu serasa menusuk ke jantung Rayden. Sakitnya dituduh selingkuh. Ia pun berpikir, inilah juga yang dirasakan Arum saat dia menuduh istrinya selingkuh dengan Joan.
Rayden pun memeluknya, menenangkan istrinya yang salah paham. "Sayang, istriku, bidadari ku, mutiaraku, hidupku, jangan nangis dong." Rayden segera menghiburnya.
"Kamu salah paham sayang, aku tidak pernah coba-coba selingkuh," tambah Rayden menghapus air mata istrinya.
"Terus ini apa? Mas mau menduakan aku, ya? Mentang-mentang aku tidak montok lagi, Mas pengen cari yang baru, sungguh teganya dirimu, Mas. Ku menangissss...."
Rayden tertawa mendengar suara hati istrinya.
"Ih, kok malah tertawa! Aku kan lagi nangis, harusnya dihibur dong!" protes Arum menarik masuk air matanya lagi. Perut Rayden sakit setelah tertawa. Dia pun mengecup lembut kening istrinya yang bisa-bisa ngelawak pagi ini. Apa ini hiburan untuknya karena sudah gagal bercinta?
"Sayang, lihat. Ini grup Mama Barsha dan Tante Arleya, bukan grup perselingkuhan. Kamu jangan asal simpulkan sayang, dengarkan dulu kata suami dan lihat yang sebenarnya," tutur Rayden memperlihatkan isi pesan grup cenat-cenut.
Arum berhenti nangis total, matanya terpaku ke satu arah.
"Eh, kok aku tidak ditambahkan? Jangan-jangan Mas selingkuh ya sama dua Mamaku ini?"
Lagi-lagi Rayden terkejut mendengar tuduhan itu. 'Ya Allah, bisakah aku memakan istriku yang lucu ini?' batin Rayden gemas.
"Saaayaaaang!" celetuk Rayden yang kesal.
"Hehehe, canda suamiku," cengir Arum kemudian merasa lega. Rayden pun duduk di tepi ranjang diikuti Arum duduk disebelahnya.
__ADS_1
"Mama Arleya kirim pesan apa, Mas?" tanya Arum ikut membaca.
Tertera jika Joan diam-diam akan mengunjunginya di London sehingga tanggung jawab Veldemort dialihkan ke Arleya sementara ini. Joan ingin melihat dua keponakannya itu. Padahal Arleya juga ingin ikut, tapi cemas tidak akan ada yang mengurus negaranya.
Seketika Rayden memegang erat tangan Arum membuatnya heran. "Kenapa, Mas?" tanya Arum menatapnya. Rayden balas menatap lalu berdecak.
"Cih, jangan sekali-kali kau lirik dan bicara sama dia!" jawab Rayden tegas. Arum tersenyum lalu memeluknya.
"Seumur hidup, mataku hanya selalu melirik padamu, Mas." Rayden tersenyum lalu mencium bibir istrinya. Bibir yang sudah menjadi candunya. Serasa tidak ada duanya di dunia ini.
"I love you, beby."
Keduanya pun ingin melanjutkan bercocok tanam. Tapi lagi-lagi diganggu oleh ketukan pintu. Rayden merana tidak bisa leluasa tuntaskan keinginan besarnya. Arum yang melihat suaminya menderita itu, diam-diam tertawa dalam hati. Keduanya pun keluar menyambut Dokter. Begitu terkejutnya Arum, yang datang Dokter perempuan, bukan Dokter pribadi Rayden yang kemarin malam. Tatapan Arum pun beralih ke Rayden. Tatapan heran dan aneh. 'Kenapa yang datang Dokter wanita?'
Terkejutnya itu sama seperti Kinan yang sudah sadar di rumah sakit. Dia tidak menyangka masih hidup, padahal seingatnya, dia harusnya mati ketika mobil melaju ke arahnya.
"Nona, syukurlah anda sudah siuman," ucap Dokter menghampirinya.
"Dokter, siapa dan bagaimana aku bisa ada di sini?" tanya Kinan menyentuh kepalanya yang agak pusing.
"Suami anda, Nona."
DEG!
Kinan terdiam, ia menunduk. 'Suamiku? Apakah itu Mas Wira?' batin Kinan tersenyum senang, sangat gembira hingga dia turun dari brankar.
__ADS_1
"Dokter, di...dimana suamiku sekarang?" tanya Kinan dengan mata yang sudah dipenuhi genangan air mata.
"Dia ada di luar, apa perasaan Nona sudah membaik?" tanya Dokter ingin tahu.
"Sangat baik, sangat baik sekali, Dok!" jawab Kinan lalu sedikit berlari keluar dan melihat pria berdiri membelakanginya.
Kinan berjalan perlahan, dan ingin menggapai tangan pria itu. Air matanya berderai, dia senang karena berpikir Wira peduli dan mencemaskannya.
Pluuuk!
Pria itu terkejut mendapat pelukan dari belakang dan mendengar Isak tangis Kinan.
"Hiks, Mas ... akhirnya kau memikirkan aku dan bayi kita."
Pria itu tambah terkejut mendengar Isak pilu Kinan. Suara lemah yang bergetar itu membuat hatinya tergerak ingin menoleh.
"Mas, kenapa diam saja?" tanya Kinan melepaskan pelukannya. Sontak, pria itu perlahan berbalik dan melihat Kinan.
"Nona, saya bukan suamimu," ucap Joan yang sudah menyelamatkannya. Kinan mundur, sangat terkejut salah memeluk orang.
"Ka-kamu siapa?" tanya Kinan terbata-bata pada pria yang berkumis tebal itu. Tampak Joan melakukan samaran dengan mamakai kumis tebal.
"Aku yang menyelamatkanmu, Nona." Joan tersenyum, sangat tulus membuat Kinan diam terpaku. Dia pun menunduk, sakit. Hatinya sakit karena bukan Wira, melainkan pria asing yang begitu baik padanya. Sakit, Kinan tidak pernah mendapat senyum tulus dari suaminya sendiri. Air mata Kinan pun luruh mengalir di depan Joan.
"Kejam!" rutuk Kinan membuat Joan terkejut diberi satu kata itu. Dia dikenal pria lembut berhati baik, dan baru pertama kalinya mendapat kata kasar itu dari perempuan.
__ADS_1
'Menarik.' Joan tanpa izin meraih tubuh Kinan hingga bumil cantik itu jatuh ke dalam pelukannya. Kinan berhenti menangis dapat pelukan hangat. Dia pun mendongak, menatap mata biru pria tinggi itu.
'Ke-kenapa Tuan ini memelukku?'