
Selama perjalan pulang, Rayden tampak membawa kresek di tangannya yang berisi makanan dan obat-obatan. Terlihat Rayden juga masih dalam penyamaran. Namun tiba-tiba saja, di dalam sakunya sesuatu bergetar membuatnya pun ikut bergetar-getar. Untung dia tidak bergoyang pargooy.
Derrrtt
Derrtt
Derttr
Getaran itu begitu banyak muncul. Rayden yang sedang duduk di dalam kereta, ia buru-buru mengambil ponselnya sebelum penumpang lain menatapnya risih.
Ting.
'Tiga pesan masuk? Siapa yang mengirim ku pesan?'
Ia pun membuka password ponselnya kemudian mengecek isi what-sappnya.
'Geng zenat-zenut?'
'Grup apa lagi nih?'
Rayden pun membukanya.
Arleya :
"Ray, kau di mana sekarang?"
Arleya :
"Jangan-jangan kau kabur ninggalin kita bertiga di sini?"
Arleya :
"Awas, kau! Kalau tidak pulang malam ini juga!"
Arleya :
"Kita sudah menunggumu di sini!"
Melihat pesan itu dari Arleya, Rayden menyentuh dagunya. Berpikir sejenak.
'Sejak kapan aku ditambahkan di grup ini?'
'Dan dari mana wanita menyebalkan ini dapat nomorku?'
Rayden pun ingin melihat siapa saja anggota grup WA itu. Namun sekali lagi ada pesan masuk membuatnya tidak jadi.
Arleya :
"Bren sek kau, Ray! Malah diread doang? Balas sekarang!"
Karena kesal, Rayden pun membalasnya.
Rayden :
"Hem, anda siapa ya?"
Arleya :
__ADS_1
"Buset dah, kau lagi kena anemia ya sampai ngebalas gitu?"
Tiba-tiba anggota lain muncul.
Barsha :
"Amnesia bukan anemia, Leya."
Rayden terkesiap Ibu tirinya masuk ke dalam obrolan grup. Rayden merasa ia lagi ngechat sama geng-geng ibu-ibu.
Arleya :
"Itu maksudku, sekarang pulanglah, Ray!"
Barsha :
"Jangan memarahinya, Leya. Siapa tahu Rayden sedang di jalan pulang ke sini."
Rayden :
"Ya, Mama benar. Aku lagi di jalan pulang sekarang."
Arleya :
"Kelamaan banget, pasti lagi godain cewek lain, kan? Mentang-mentang istri lagi sakit, kau malah keluyuran! Pulang sekarang!"
Barsha :
"Leya, jangan ngebentak dia. Kau kurangilah emosimu."
Rayden tersenyum tipis membacanya. 'Mama memang selalu baik padaku.'
Arleya :
Rayden :
"Anda cerewet sekali, pantas saja tidak ada Pria yang mau nikah sama Janda galak sepertimu."
Arleya :
"Diih, kau malah ngehina ya?!"
Barsha :
"Sudah-sudah jangan bertengkar di sosmed, dan cepatlah pulang, Nak."
Arleya :
"Benar kata Arum, kau pantasnya dijuluki Papa Goblin. Ngilang gitu ajah."
Rayden :
"Terserah! Aku tidak peduli pada celotehmu itu."
Rayden membisukan pesan grup itu, fokus memikirkan Arum. Masih ada waktu beberapa menit ia sampai ke tempat mereka. Kini yang ia lakukan hanya bisa menatap foto Arum di layar persegi itu dan mengabaikan notif-notif yang bermunculan di atas layar ponselnya. Tiba-tiba, saat ia asik memandangi foto Arum, Rayden terkejut ada notif lain.
'Joan?'
__ADS_1
Rayden melihat satu panggilan suara tidak terjawab.
'Dia barusan menghubungiku? Ada apa dengannya? Apa jangan-jangan ia juga dikejar oleh Ayah?'
'Ta-tapi Ayah tidak tahu Joan punya pikiran yang sama denganku. Pasti dia dalam masalah lain!'
Rayden menekan kontak Joan, menghubunginya diam-diam. Namun yang didengar bukan suara Joan, melainkan suara mbak miskol.
"Maaf, nomor yang anda tuju sedang sibuk."
Rayden mendesis tidak karuan, tambah khawatir sekarang. Ia ingin ke tempat Joan, tapi Arum juga membutuhkannya, ini situasi yang membuatnya bimbang.
"Excuse me, kita sudah sampai di stasiun. Anda tidak ingin turun?" Seseorang menyadarkan Rayden.
Ia pun mendongak dan terbelalak bersama-sama.
"Kau?" ucap keduanya serempak.
Rayden bangkit, menatap dari bawah hingga atas melihat pria yang tadi ia jumpai.
"Kenapa kau bisa ada di sini juga?" tanya pria itu yang tidak lain, Wira.
"Ha-harusnya aku yang tanya begitu. Ka-kau mengikutiku sampai ke sini, kan?" tatap Rayden dingin dan curiga.
"Huaaahaha, jangan tuduh sembarangan. Aku tidak sama sekali mengikutimu, Bro." Wira tertawa dan sedikit kesal. Bisa-bisanya ia bertemu dengan Rayden, apa ini jangan-jangan dinamakan-Jodoh?-
____
Rayden : 'Njir, jeruk ketemu jeruk nggak ada yang namanya jodoh, Thor!'
Author : 'Bisa saja kau ganti gender, awokawok.'
Rayden : 'Mau aku ngebom rumahmu, Thor?!"
Author : 'Haha, kabur! Papa Goblin marah.'
_____
Rayden milirik semakin curiga dan tidak percaya. 'Apa pria ini mengenaliku?' batin Rayden pun mulai jalan keluar dari kereta cepat.
"Terus, kenapa kita bisa bertemu lagi?" tanya Rayden jalan berbarengan dengan Wira yang menentang sebuah tas ransel.
"Hanya kebetulan." Wira menjawab sambil mengangkat sebuah panggilan.
'Hem, tidak ada yang namanya kebetulan. InI sudah dua kali aku berpapasan dengannya.' Rayden dalam hati tidak percaya. Ia pun diam-diam mendengar obrolan Wira di dalam panggilan itu.
"Aku paham kok, tidak akan aku habiskan uangmu. Kira-kira cuma lima puluh juta saja dan akan aku sisakan dua puluh juta, Kak."
Rayden hampir tersandung akibat terlalu fokus menguping. 'Lah sialan, ternyata uang ini bukan punya dia, tapi punya kakaknya.' Rayden meremas tali kreseknya. Serasa ingin memukul Wira yang dia kira orang kaya yang menyamar.
"Apaan sih, aku bakal pulang kok, tapi bukan hari ini. Aku masih perlu berusaha mencarinya."
DEG. Rayden berhenti berjalan. Ia menatap punggung Wira yang sudah keluar dari pintu keluar stasiun. Pernyataannya itu tidak disangka-sangka. 'Siapa yang dia cari?'
Rayden bergegas ingin tanyakan itu, tapi Wira keburu menghentikan taksi. Ia masuk ke dalam dan melihat Rayden. Wira pergi tanpa ekspresi. Raut wajahnya datar, begitu datar.
"Cih, apa aku perlu mengikutinya? Tapi nanti Lady Arleya dan Mama mengomelku pulang terlambat. Argh, rasanya pengen aku makan jalan aspal di sini."
__ADS_1
Rayden melepaskan Wira, ia pun berjalan cepat ke tempat Arum sebelum matahari terbenam.