Hasrat Tuan Muda

Hasrat Tuan Muda
Bab 58 | S2 : Maaf Sayang


__ADS_3

Kamelia yang merasa suasana tegang ini, ia pun melewati Wira. Anak itu berdiri di dekat Barsha dan melihat Rayden menatap sinis ke Wira.


"Mama, orang ini kenapa tahu Kak Arum?" Kamelia melemparkan satu pertanyaan untuk memecahkan suasana.


Kinan di sana ingin menjawab, namun Wira dengan cepat mendahuluinya.


"Ternyata kita bertemu lagi, dan rupanya kau adalah putra kedua Mafia yang telah menculik wanitaku. Sungguh tidak terduga, Tuan Rayden seorang penculik," ucap Wira dengan tatapan dingin. Dari ucapannya -Wanitaku- membuat perasaan Kinan meledak. Seolah ia yang dinikahi dan sedang hamil tidak dianggap wanitanya.


Rayden tersenyum kecut lalu memandang remeh. Dalam benaknya, Wira adalah pria yang sudah berubah, dia tahu tatapan dingin itu menyiratkan kebencian. "Penculik wanitamu? Cih, kau jangan asal bicara. Aku dan Arum sudah lama saling kenal lebih dulu daripada kau. Arum wanitaku bukanlah wanitamu, Wira!"


Tatapan dingin Wira pun berpindah ke Arum. Sungguh ia ingin tanyakan semua yang ada di dalam benaknya membuat Arum yang ditatap segera berdiri di belakang Rayden, seakan masih tidak berani bertatap muka.


Kinan yang sedang hamil menunduk, diam-diam tersenyum senang karena Rayden sangat menjaga Arum. Artinya, suaminya tidak dapat merebut Arum, kan?


"Arum, aku tidak akan percaya ucapan pria gila ini, aku lebih percaya bila kau sendiri yang mengatakannya!" ujar Wira dengan nada dingin dan acuh menunjuk Rayden.


Rayden menggertak tidak suka ucapan cemoohan itu.


"Gila? Kau bilang aku gila? Hai, bercerminlah dulu sebelum kau hina orang lain,"


Rayden menurunkan kedua tangannya lalu menarik pinggang Arum ke dalam rangkulannya membuat Wira sangat emosi.


"Lihat dengan jelas, dia telah resmi menjadi istriku, dan sudah melahirkan dua anak untukku. Ingat dengan baik ini, kami saling cinta, jadi jangan kau ganggu Istriku, apalagi mengusik kami!" tambah Rayden dengan cepat mencium pipi Arum di depan mata Wira dan Kinan membuat mata Wira terasa perih. Jika saja tidak ada Kamelia, Rayden sudah pasti akan mencium Arum di bibir, tapi sayang ada satu bocil yang tidak boleh melihat itu.


Gadis yang dulu sangat Wira ingin sentuh, sekarang dengan terang-terangan memperlihatkan kemesraannya dengan pria lain. Tentu hati Wira sakit, sangat kecewa. Tetapi tidak sesakit Kinan yang iri, gadis hamil itu ingin dibelai juga, berharap suaminya bisa selembut Rayden dan bisa memberi perhatian lembut padanya dan Baby di dalam perutnya.

__ADS_1


Arum berjalan selangkah, ini waktu yang tepat membenarkan masalahnya, mumpung ada Rayden yang bisa melindunginya jika Wira marah besar.


"Wira,"


Satu kata dengan suara lirih itu membuat Wira semakin tidak karuan. Pasalnya, ia dulu dipanggil begitu akrab, dan sekarang Arum memanggilnya seperti orang asing. Ia berpikir, apa kenangannya sudah dilupakan?


"Aku minta maaf sudah merahasiakanmu saat itu," lirih Arum tegang.


"Sebenarnya, aku sedang hamil saat pertama kali kita kenal. Aku menyembunyikan hubunganku dengan Rayden agar tidak ada yang-" putus Arum karena Wira memotong ucapannya.


"Karena kau sedang hamil, kan?" tebak Wira mengepal jemarinya. Arum pun mengangguk sedikit. "Dan juga sama sekali tidak pernah mencintaimu," tambah Arum kemudian terkejut mendengar kekecewaan Wira.


"Aku pikir kau gadis baik-baik, rupanya kau sama saja rendahnya dengan wanita murahan di luar sana! Aku sangat kecewa padamu! Aku menyesal pernah kenal dengan gadis nakal dan pembohong sepertimu!" cela Wira menatap benci, sangat benci hingga Arum terlihat menjijikan. Pria itu berbalik dan menarik tangan Kinan membuat gadis hamil itu takut melihat wajah Wira terlihat masam.


Kinan menengok sebentar dan melihat Arum masuk ke dalam kamar. Senyum tipis terlihat, Kinan merasa gembira karena Wira marah pada Arum, dan sedih karena tidak tega melihat Arum dicaci maki.


Braakkkk!


Rayden yang mendengar suara pintu keras itu dari rumah Wira membuatnya naik darah ingin ke sana untuk menghajar Wira yang sudah kurang ajar dan menghina Arum. Apalagi baby Ai dan Key dibuat nangis di dalam sana hingga pria itu buru- buru menyusul Arum yang tadi ke kamar anaknya duluan. Barsha dan Kamelia pun masuk ke dalam rumah.


Suara tangis baby Ai dan Key berpadu jadi satu dengan tangis kecil yang dikeluarkan Arum. Terlihat Mama muda itu menangis membuat Rayden yang masuk jadi merasa bersalah sudah membuat istrinya menangis lagi.


"Apa kau sudah puas? Apa kau akan mengurungku seperti dulu saat Joan yang juga pernah menyukaiku? Apa kau akan marah karena ada laki-laki lain yang mencintaiku?" tanya Arum ke Rayden dengan air matanya yang mengalir dan sedikit takut melihat Rayden hanya diam saja.


"Mas, sekarang semua sudah jelas, aku tidak punya perasaan ke Wira dan sekarang pria itu sudah membenciku jadi Mas jangan lagi meragukan perasaanku." Arum pun menunduk sambil menenangkan satu demi satu baby twinnya. Seketika Rayden ikut duduk di sebelahnya, mengambil Baby Ai dan menenangkannya juga.

__ADS_1


"Maaf...." lirih Rayden lagi-lagi membuat tangis Arum tambah kencang.


"Bodoh, bukan kata maaf yang ingin aku dengar! Kenapa sih Mas selalu saja minta maaf! Apakah tidak ada kata lain yang bisa kau ucap?!" isak Arum mengusap matanya.


Rayden menahan tawa melihat istrinya cerewet, ia pun menarik kepala Arum dan memeluknya.


"Hiks...hiks, Mas tidak marah lagi kan?" tangis Arum takut Rayden semakin mendiaminya.


Satu kecupan mendarat di keningnya, Arum mengangkat kepalanya dan menatap suaminya sedang tersenyum.


"Mas kok senyum saja? Bicara dong!" cetus Arum dan masih menggendong beby Key.


Rayden membelai rambut kepala Arum, senang istrinya sudah berani bicara pada Wira. Langsung saja ia beri hadiah ciuman ke bibir istrinya itu membuat baby Ai dan Key berhenti nangis melihat Daddy sedang mencium. Kedua Baby itu tersenyum.


"Maaf sayang, kau jadi terbebani. Aku tidak marah kok, aku malah senang lihat kamu sudah berani." Rayden meletakkan dua baby-nya ke kasur.


"Jadi tidak main diam-diam lagi, kan?" tanya Arum berbinar-binar dan tersenyum. Rayden mengangguk membuat Arum segera memeluknya.


"Terima kasih, Mas." Arum senang Rayden tidak emosi. Melihat keduanya di dalam sana bersama Baby Ai dan Key, membuat Barsha dan Kemelia lega keduanya sudah baikan lagi. Tapi tidak di rumah sebelah, terlihat Wira memberi secarik surat ke Kinan yang sedang duduk makan siang bersamanya. Terlihat wajah dingin suaminya itu cukup membuatnya takut.


"Ini apa, Mas?" tanya Kinan deg-degan membuka isi surat itu.


'Apakah surat cerai?'


Kinan meremas sendoknya dan menatap Wira yang terdiam.

__ADS_1


__ADS_2