
Siang hari ini, Barsha kembali duduk mengobrol bersama Arleya. Keduanya sedang membicarakan Arum dan Rayden yang tidak pernah memberi kabar. Dua wanita yang sama-sama tengah memikirkan Arum.
"Kau yakin mereka tidak ada di sini?" tanya Arleya.
"Benar, sudah lama mereka tidak pernah berkunjung kemari," jawab Barsha terlihat resah.
"Apa kau tidak pernah menghubungi Rayden?" tanya Arleya lagi.
Barsha menggelengkan kepala. "Sama sekali tidak pernah"
"Apakah jangan-jangan mereka sedang pergi honymoon?" gumam Arleya menyentuh dagunya.
"Jika mereka pergi honymoon, pastilah mereka izin padaku," timpal Barsha semakin gelisah. Arleya mengerutkan dahinya. Baru kali ini ia melihat raut wajah Barsha begitu mencemaskan seseorang.
"Apa mungkin sesuatu sudah terjadi pada mereka di mansion Edward?" Arleya kembali menebaknya.
"Lady Arleya, ucapanmu membuatku tambah gelisah memikirkan gadis itu. Jika sampai Edward tahu gadis itu bukan anakmu, ia pasti akan dibunuh!"
DEG. Asisten Braga yang tidak sengaja lewat cukup terkejut mendengarnya, ia berhenti dan mulai diam-diam menguping di dekat pintu.
"Jangan sampai itu terjadi, gadis itu sama sekali tidak bersalah." Arleya berpindah duduk dan menenangkan selir Barsha yang menutup wajahnya dengan kedua tangannya itu.
"Ya ampun, baru kali ini perasaanku tidak enak. Bukan cuma gadis itu yang akan dibunuh, tetapi Rayden juga akan dibunuh. Bahkan aku bisa terkena hukuman!"
"Harusnya aku tahan mereka untuk tinggal di sini."
Ternyata Barsha belum tahu soal masalah yang terjadi akibat dari asistennya.
'Apa begitu besar resikonya?' batin asisten Braga tersenyum tipis, ia pun berjalan pergi meninggalkan ruangan itu. Tiba-tiba saja, ponsel Barsha bergetar.
Deeert
Derrtt
Deertt
"Siapa itu?" tanya Arleya melihat ponsel itu di atas meja. Barsha pun secepatnya mengambil. Kedua bola matanya pun terpaku pada satu nama yang tertera di layar ponselnya.
"Rayden,"
"Rayden?" kaget Arleya. Selir Barsha mengangkat segera panggilan suara itu.
π± "Halo, Ray. Bagaimana kabar kalian?"
Namun belum ada jawaban.
π± "Nak, jawablah Mama!"
Sekali lagi tidak ada jawaban. Arleya gemas, ia pun merebut ponsel itu lalu membentak dengan tegas.
π± "Rayden, di mana sopan santunmu? Kenapa kau hanya diam saja, ha? Jawab kami!"
Akhirnya ada jawaban, namun suara Rayden agak bergetar.
π± "Ma-ma,"
Barsha terkejut, ia merebut ponselnya lagi.
π± "Ada apa denganmu? Kenapa dengan suaramu? Kalian baik-baik saja, kan?"
Pertanyaan dilontarkan bertubi-tubi.
π± "A-rum,"
π± "Ada apa dengan istrimu?"
__ADS_1
π± "A-arum, Mah--"
Arleya kembali gemas. Ia pun bicara di panggilan itu.
π± "Rayden! Apa kau tidak bisa bicara dengan normal?!" Serasa ia ingin memukul pria itu.
π± "Rayden tenanglah, katakan pelan-pelan pada Mama apa yang terjadi padamu?" tanya Barsha.
π± "Mama cepatlah kemari," lirih Rayden masih dengan suara yang sama.
Arleya pun menatap Barsha.
"Rayden tidak biasanya seperti ini, pasti sudah terjadi sesuatu pada mereka, Barsha."
π± "Di mana kau sekarang?"
Lagi-lagi Rayden diam.
π± "Rayden! Apa begitu susah kau bicara?" ketus Arleya dingin.
π± "Nak-"
π± "Ke rumah sakit, datanglah kemari segera, Mah!" jawab Rayden begitu susah payah.
π± "Rumah sakit? Kenapa kau bisa ada di sana?" tanya kedua wanita itu serempak.
π± "Mama akan tahu sendiri."
Tuuut!
Panggilan diputus begitu saja. Namun satu pesan masuk. Barsha dan Arleya bergegas ke alamat rumah sakit yang dikirim Rayden.
Sesampainya di sana, dua wanita itu mencari-cari keberadaan Rayden. Terlihat dua wanita itu sangat cemas setelah melihat Rayden duduk di kursi sendirian sambil menatap lurus pintu ruangan di depannya.
"Rayden,"
"Rayden, tatap Mama. Apa yang terjadi padamu?"
"Kenapa kau menyuruh kami ke sini?"
"Siapa yang ditangani Dokter di dalam sana, Nak?"
Rayden meremas ujung kursi, ia pun berdiri dan mendesis.
"A-arum, Mah."
Arleya terkejut bisa-bisanya gadis hamil itu dilarikan ke rumah sakit.
"Arum? Apa yang terjadi padanya, Nak?" Barsha meraih lengan Rayden.
"Di-dia--"
Rayden terhenti ketika pintu ruang IGD itu terbuka. Beberapa berpakaian hijau keluar menghampiri mereka. Rayden yang tidak sabaran dan cemas dari tadi ingin menerobos masuk, namun salah satu Dokter mencegatnya.
"Maaf, Tuan. Pasien tidak bisa diganggu sementara,"
"Tapi saya suaminya, Dok!"
Semua Dokter yang menangani Arum tersentak kaget bersamaan.
"Suami?" Para Dokter itu heran karena rupa Arum tidaklah sama dengan rupa menantu Tuan Edward.
Arleya pun maju menjelaskan bahwa gadis di dalam sana adalah putrinya.
"Pleass, biarkan saya masuk, Dok!" mohon Rayden bersikeras.
__ADS_1
"Baiklah." Rayden pun masuk ke dalam. Pria itu berdiri tepat di samping gadis yang setengah pucat itu. Ia raih tangan Arum, terasa lemah dan tak bertulang.
"Maafkan aku, sayang." Air matanya menetes mengenai punggung tangan sang Istri. Rayden duduk di samping brankar, menunggu Arum sadar. Sedangkan Dokter di luar mulai menjelaskan kondisi kesehatan Arum yang menurun drastis yang hampir berdampak pada jantung gadis itu.
"Beruntung sekali dia membawanya kemari. Seandainya saja terlambat sedikitpun, maka nyawa Ibu dan anak di dalam perutnya sudah tidak tertolong lagi. Ia begitu kekurangan banyak nutrisi dan darah." Dokter pun lagi-lagi menjelaskan kondisi bayi.
Barsha syok mendengarnya.
"Ke-kenapa bisa sampai begitu?" gumam selir Barsha mengepal tangan melihat Rayden menunduk di dalam sana. Hatinya berkecamuk antara kecewa dan marah pada Rayden.
"Semoga Tuhan memulihkan kesehatan putri saya, Dok." Arleya turut prihatin melihat Arum yang terbaring dan memakai alat bantu oksigen.
"Apa Dokter tahu mengapa bisa seperti ini?"
"Maaf, kami hanya membantu pasien, Nyonya. Selebihnya hanya Tuan Rayden yang tahu," kata Dokter melirik Rayden.
"Terus kapan dia akan sadar, Dok?"
"Kami belum memastikannya, namun pasien sekarang butuh tranfusi darah," jawab Dokter lainnya.
"Tranfusi darah?"
"Ya, Nyonya. Pasien sangat membutuhkan donor darah untuk memulihkan kondisinya,"
"Kalau begitu aku bersedia tranfusi darah, Dok!" Arleya menawarkan darahnya.
"Maaf, Nyonya. Apa golongan darah anda?"
"AB-, Dok!"
"Maaf Nyonya, anda tidak bisa,"
"Kenapa begitu, Dok?"
"Pasien bergolongan darah B+,"
DEG. Barsha terhenyak. Jantungnya berdegub kencang dan melirik Arum.
"Kalau begitu biarkan saya saja, Dok! Darah saya sama dengan manantu saya itu," sahut Barsha.
"Baiklah, silahkan ikut kami melakukan pemeriksaan dulu, Nyonya."
Tidak lama kemudian, Barsha keluar juga dari ruangan. Ia mendekati Arleya dan izin untuk ke ruangan Arum. Wanita itu berlari segera ingin melihat menantunya itu. Tatapan Arleya pun fokus pada kantong darah yang dibawa suster. Sontak, wanita itu menahan Dokter yang keluar.
"Dokter,"
"Ya, kenapa menahan saya, Nyonya?"
"Bila saya lakukan tes DNA, kapan hasilnya akan keluar?"
"Oh itu, sekitar 48 jam atau bisa keluar tiga hari, Nyonya."
"Kalau begitu, bisakah Dokter melakukan tes DNA mulai sekarang?"
"Tentu bisa, Nyonya,"
"Bagus, lakukan sekarang!" Arleya masuk bersama Dokter itu ke dalam ruangan. Sedangkan Barsha berdiri di depan jendela. Menatap wajah Arum, ia kasihan melihatnya tidak berdaya. 'Rayden, kau harus jelaskan ini pada Mama!' Wanita itu masuk ingin bertanya, namun terhenti ketika Rayden meracau.
"Mami, maafkan aku. Aku sudah melukai gadis yang aku cintai, dan membahayakan cucu pertamamu. Aku sama saja seperti Papa yang kejam saat ini." Rayden diam-diam terisak, mengingat Ibunda Elizabeth. Ibu kandungnya.
Barsha pun mengurungkan niatnya, membiarkan Rayden menenangkan diri. Wanita itu duduk di kursi tidak jauh dari pasutri muda itu. Ia jadi ingat kelakuan Edward sembilan belas tahun lalu, di mana ia pergi wisata bersama Lady Arleya saat Edward selingkuh dengan Nyonya Mariam. Luka hatinya masih terasa sampai sekarang. Barsha memijit kepalanya yang tiba-tiba sakit. 'Kau masih beda dari ayahmu, Rayden. Kau masih setia tidak seperti ayah bodohmu!' Barsha mendecak kesal.
.........
...Tinggalkan like coment and voteπ...
__ADS_1