Hasrat Tuan Muda

Hasrat Tuan Muda
Bab 60 | S2 : Menahan Sabar


__ADS_3

"Mas, ini sudah malam. Ayo kita makan sama-sama." Kinan berdiri di depan pintu kemudian mengetuknya pelan. Tetap saja tidak ada sahutan selain suara game yang sedang dimainkan. Tega sekali!


Kinan hampir putus asa, dia pun melihat jam dinding sudah pukul 20 malam. Rasa kantuk dan lelah pun berdatangan sama-sama, ia pun memanggil Wira, berharap akan dibukakan pintu. Namun sampai kapan pun, pintu di depannya tidak terbuka membuat Kinan tersiksa di luar kamar. Cuaca di London memang sedang musim dingin, dan membuat Kinan kebingungan apa lagi yang harus dia lakukan agar Wira mau membuka pintu.


Tidak terasa, air matanya menetes perlahan turun melihat masakan di atas meja yang dia buat susah payah tidak pernah disentuh Wira.


"Hikss.... hiks... kenapa kau begitu susah membuka hati untukku, Mas. Sampai kapan lagi aku harus bersabar dengan sikapmu ini." Kinan menangis sendirian di ruang sunyi. Berharap Wira akan membuka pintu, tapi pria itu sedang tidur di dalam kamar. Tangisnya itu pun sampai di rumah Rayden membuat pria itu yang tengah menelpon suruhannya di Indonesia jadi terganggu.


Oeeekkkk....


Tangis Baby Key begitu panjang menyahut bersama tangis Kinan. Arum yang baru saja menidurkan Baby Ai jadi kesusahan menenangkan Baby Key sehingga Rayden masuk ke dalam kamar dan membantu Arum.


Arghh...


"Apa mereka sengaja membuat kita tidak nyaman di sini? Sudah jelas ada bayi tapi mereka seakan tidak menghargai kita sebagai tetangga!" kesal Rayden bangkit ingin sekali ke sana menegur Wira dan Kinan. Tapi dengan cepat Arum menahannya.


"Mau ke mana, Mas?" tanya Arum masih berusaha menyusui Baby Key yang menangis kencang.


Oeekkk...oeekkkk


"Arum, apa yang terjadi sampai cucu Mama nangis gitu, Nak?" sahut Barsha di dekat pintu karena pertama kalinya Baby Key rewel dan susah ditenangkan.


"Mah, Baby Key mau tidur tapi tetangga di sebelah sana sengaja ingin membuat kegaduhan. Aku jadi ingin melabrak mereka, Mah!" ucap Rayden yang menjawabnya.

__ADS_1


"Sudah-sudah, jangan mudah terpancing emosi, kalian harus menahan sabar menghadapi mereka, sekarang kalian keluarlah makan dulu, Kamelia juga sudah ada di dapur nunggu kalian," ucap Barsha kemudian mengulurkan dua tangannya.


"Sini biar Mama yang tenangkan," tambah Barsha tidak tega cucunya nangis. Arum pun memperbaiki bajunya, menutupi dua buah dadanya kembali ke dalam baju.


Seketika Barsha tersentak merasakan rasa panas di sekujur tubuh Baby Key.


"Kenapa diam, Mah?" tanya Rayden dan Arum heran.


"Astagfirullah, cepatlah telpon Dokter, Baby Key lagi sakit, Nak!"


"A-apa? Sakit?" Rayden dan Arum saling pandang dan sangat terkejut.


"Mas, cepatan telpon Dokter ke sini malam ini!" pinta Arum.


"Cobalah, siapa tau masih ada yang sempat ke sini!" desak Barsha. Rayden pun mengangguk paham. Arum pun duduk di sebelah Baby Key untuk menyusuinya lagi, tapi tangisnya masih kuat memecahkan isi kamarnya. Bahkan tangis Baby Key juga sampai ke rumah Wira membuat Kinan yang duduk di sofa pun tergerak ingin melihat ke jendela. Gadis itu yang sedang memeluk diri karena kedinginan, ia pun jalan mendekati Jendela.


Kinan sesugukan melihat kehangatan di keluarga itu. Iri melihat Rayden perhatian ke Arum dan Baby-nya. Suatu impiannya yang juga ingin diperhatikan oleh Wira, tapi sekarang dia hanya bisa menahan kesabaran menuggu Wira sadar tentang perasaannya yang tulus mencintainya.


"Hiks...hiks... kapan aku bisa merasakan hangatnya keluarga seperti mereka?"


Kinan terisak dan jalan kembali ke sofa, kemudian dengan hati-hati tidur lalu memeluk tubuhnya yang kedinginan. Sehingga tidak terasa Kinan pun tertidur juga di ruang tamu. Ia sebenarnya ingin tidur di kamar lain namun kunci kamar ada di dalam kamarnya. Kinan terlihat menggigil kedinginan diserang udara malam yang dingin. Sedangkan Wira membuka mata dan melihat surat kontrak itu di atas meja. Pria itu menatap kosong pantulan dirinya yang tidur sendirian di kamar itu. Dia memejamkan mata dan mendesis kesal menyelimuti dirinya. Sama sekali tidak ada perasaan bersalah, danĀ  membuatnya ingin gila karena setiap hari harus didesak untuk mencintai istrinya.


"Arghhh...." kesal Wira pun mengabaikan keresahan hatinya. Dia capek, capek mencintai seseorang lagi.

__ADS_1


.


.


.


Keesokan harinya, Kinan terbangun dengan suara bising dari luar rumah. Dia pun beranjak duduk kemudian ke arah pintu. Kinan terkejut melihat Wira pergi tanpa pamit ke padanya lagi.


"Mas Wira, kau tega sekali. Bukannya minta maaf, kau malah pergi ninggalin aku di sini. Apakah tidak ada rasa pedulimu padaku, Mas?" Kinan berlari masuk ke dalam kamarnya yang terbuka dan melihat surat kontrak di atas meja yang sengaja ditinggalkan Wira.


"Sampai kapan pun aku tidak akan setuju!" Kinan berdecak tetap ingin mempertahankan pernikahannya, ia pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh muka kemudian mengambil sweaternya lalu keluar kamar mengabaikan surat itu.


Kinan ingin ke supermarket terdekat untuk membeli cemilan dan susu kehamilan sendirian saja. Dia berjalan kaki dengan tatapan kosong membuat arah jalannya membelot ke tengah jalan sehingga orang di sekitar jalan itu heboh dan meneriaki Kinan yang sedang nekat itu. Ditambah sebuah bus kota melaju cepat ke arahnya.


Biiipp!! Supir mengklakson kencang tapi Kinan masih tidak sadar dirinya dalam bahaya. Tatapan gadis itu sedang terpaku melihat sosok Ibunya diseberang jalan sana, serasa dia sudah lelah berharap dan ingin ke Ibunya.


Awaaaas Nona!


Bruaakk!


Rayden dan Arum yang sedang menunggu Dokter, keduanya terkejut bersamaan tiba-tiba mendapat notif ponsel di pagi ini. Kedua mata pasutri itupun terbuka lebar-lebar.


"Ini...."

__ADS_1


__ADS_2