
"Tuan."
Dokter mengetuk pintu kamar Joan pagi ini.
Joan menyahutnya dari dalam. "Masuklah, Dok!"
Dokter membuka pintu, menghampiri Joan yang tengah duduk membelakanginya.
"Tuan Joan, apa yang anda lakukan pagi-pagi begini?" tanya Dokter berdiri di sebelah Joan.
"Aku sedang melukis, Dok." Joan menyudahi lukisannya. Dokter terkesima, dua matanya berpusat pada sosok gadis bermata teduh yang tengah duduk memegang sebuah mawar putih dan sedikit menatap ke atas.
"Siapa yang anda lukis, Tuan?" tanya Dokter ingin tahu.
"Gadis yang aku sukai, Dok. Bagaimana, apa dia cantik?"
Dokter tersenyum dan menjawab, "Cantik dan anggun, tapi sepertinya dia bukan dari--"
"Dia gadis dari benua Asia, Dok." Joan menunjuk layar ponselnya dan memperlihatkan pulau-pulau di mana letak Negara Arum.
"Tuan Joan, anda terlalu berlebihan mencintainya. Anda tahu, dia tidak akan bisa menikah dan masuk ke dalam keluarga Veldemort," tutur Dokter Pribadinya.
"Kalau tidak dicoba, pasti tidak akan tahu hasilnya. Sekarang bisakah Dokter membantuku membungkusnya?" Joan menunjuk kresek besar di atas meja.
"Tuan ingin kirim ke mana lukisan ini?" tanya Dokter mengambil kresek hitam itu.
"Aku ingin mengirimkan kepadanya, aku yakin gadisku pasti senang mendapat kejutan ini, Dok."
Joan tidak bisa lepas memandangi lukisan Arum. Dokter menghela nafas kasar melihat tatapan sayu pasiennya itu yang memiliki bakat melukis. Jika seandainya dapat dijual, mungkin akan menghasilkan milyaran dollar.
Setelah dibungkus, lukisan itu pun diletakkan di atas meja. Joan pun dibawa Dokter keluar dari kamar. Pria lumpuh itu duduk sendirian di depan TV sambil melihat Dokternya sedang menghubungi seseorang untuk membawa lukisan itu.
Seketika layar televisi menyiarkan sebuah pernikahan megah yang sedang berlangsung di Istana King Ed. Joan dapat melihat awak media menyoroti seorang pria tengah diiring-iring ke atas altar pernikahan. Nampak Rayden sangat jelas dapat ia kenali. Sosok pria gagah, dan rupawan itu telah mengalahkannya.
"Tuan Joan, tidak lama lagi seseorang akan membawa lukisan itu. Apa anda sekarang ingin memulai kemoterapi?" sahut Dokter pun menghampirinya.
"Nanti saja, Dok. Biarkan aku melihat pernikahan adikku dulu, ini moment bahagia dapat melihatnya akan menikah." Joan menunda waktunya, tak terasa air matanya ingin jatuh. Ia bahagia, sangat bahagia. Namun ia tidak tahu, hari ini akan ada hati yang terluka.
"Aku jadi penasaran siapa permaisuri yang akan berdiri di sisi Tuan Rayden," gumam Dokter pun ikut menonton.
"Sama, Dok. Aku juga tidak sabar," sahut Joan. Sontak, keduanya terlonjat kaget ketika suara benda jatuh memecahkan rasa penasaran mereka.
"Lukisanku?"
Dokter bergegas mendorong kursi roda Joan kembali ke kamar. Keduanya melewatkan sosok adik ipar yang tengah berjalan di atas karpet merah menuju ke altar pernikahan. Terlihat Arum di sana menggunakan penyamaran dan berdiri di depan Rayden. Semua orang pun tahu istri Tuan Rayden Zardkizel seorang putri Mafia dari Arleya.
Putri Arumi Charleya.
Nama yang juga disamarkan demi keselamatan Arum dan Kamelia. Keduanya pun resmi menjadi sepasang suami istri yang diikat oleh cinta dan tali pernikahan resmi. Rakyat yang hadir bersorak atas kebahagian kedua pengantin.
Kriiieet!
DEG!
Joan terdiam, lukisannya sudah tergeletak di atas lantai. Dokter ingin memungutnya namun tiba-tiba lukisan itu bergerak.
"Ah, apa itu?" kaget Dokter menjerit.
__ADS_1
Ciiit...ciiit...ciiit...
Joan shock melihat pelakunya adalah dua tikus besar yang ingin mencuri lukisan miliknya.
"Bedebbah! Beraninya kalian berdua! Mau aku bakar kalian, ha!" ujar Joan membentak. Mendengar kelakar Joan, dua tikus itu lari kocar-kacir masuk ke dalam lubang kecil di bawah dekat meja. Dokter mengambil secepatnya lukisan Joan. Terlihat di ujung kresek sudah digigit hingga robek.
"Huftt... hampir saja lukisannya rusak," hela Dokter lega.
"Berikan padaku, Dok!" Joan mengambil lukisannya dan memeluknya ke dada, meremas kuat-kuat kepalan tangannya dan menyuruh Dokter untuk menelfon pelayanan hotel.
"Ternyata dua tikus ini menyukai gadisku, apa tidak ada yang lain yang bisa menjadi rival cintaku?" gumam Joan kesal.
Bila saja Joan tahu, rival yang sesungguhnya adalah adiknya sendiri. Entah apa yang akan dia rasakan? Joan pun keluar membawa lukisan itu, ia serahkan pada seseorang untuk membawa lukisan itu ke Arum, tepatnya ke Istana Barsha.
Joan pun kembali ke depan TV, ia langsung murung karena kedua pengantin sudah tidak disoroti awak media.
"Haiss, menyebalkan sekali!" desis Joan tambah kesal tidak melihat wajah adik iparnya. Ia pun mulai melakukan kemoterapi bersama Dokter. Entah berapa lama ia harus berada di Paris.
'Aku harap Arum membaca surat dan melihat lukisanku itu.'
.
.
.
Pesta pernikahan telah usai digelar, dan Arum sedang berada di dalam kamar pengantin. Terlihat di atas ranjang dipenuhi taburan mawar merah. Arum duduk masih menggunakan gaun pengantinnya. Dia menunggu Rayden masuk ke dalam kamar.
"Syukurlah semuanya berjalan lancar. Ayah dan Ibu mertua jahat itu tidak menaruh curiga padaku." Arum mengelus dada. Ia pun juga ingat wajah King Edward yang sudah keriput dan Queen Mariam yang masih awet muda. 'Em.... kira-kira bukan awet muda sih, bisa dibilang dia masih muda sesuai umurnya. Tapi aneh, kenapa ya dia mau menikahi King Ed yang jauh lebih tua darinya? Pasti dia menikah karena tahta! Tante Barsha memang benar, Queen Mariam licik sekali.' Arum mangut-mangut memikirkannya lalu menjatuhkan diri ke belakang. Arum terlentang menatap ke atas.
Sibuk merenungkan sesuatu, Arum tidak sadar buliran air mata jatuh ke pipinya. Gadis itu pun mengganti gaun putihnya, lalu ia masuk ke dalam kamar mandi. Ia membersihkan make up dan membasuh muka. Tak tertinggal, ia berwudhu dengan khusyuk. Setelah itu, tidak terasa Arum seketika menangis, butiran air matanya luluh lagi membasahi kedua pipinya. Arum merasa jijik pada dirinya sendiri. Merasa gadis terhina yang mendapatkan kebahagian melalui jalan yang salah. Seolah-olah ia seorang budak yang menyedihkan. Ia pun bergegas mengambil satu set mukenah di dalam lemari. Bersyukur, ia dapat sholat di malam pertama pernikahannya.
Arum memejamkan mata, memanjatkan doa pengampunan untuknya dan Rayden.
"Ya Allah, aku tidak meminta sesuatu yang lebih padamu, aku hanya inginkan suami yang aku cintai dan anak kami bisa hidup bersama hingga maut memisahkan, biarkan kami bertiga kumpul bahagia di bawah naungan pengampunanmu, aamiin."
Arum menumpahkan semua tangisnya. Ia tidak tahu apakah doanya sampai, tapi ia yakin dalam hatinya, Allah maha mengasihi hambanya yang bersungguh-sungguh bertaubat. Ia terlihat berusaha khusyuk dalam berdoa, membuat Rayden yang masuk ke dalam kamar begitu terkejut melihat istrinya seorang muslim.
Pria bermata biru langit itu pun terdiam membisu. Tangan kanannya mulai mengepal kuat-kuat.
DEG!
Arum tersentak usai bangkit dari sajadah, pria yang telah resmi menjadi suaminya itu tengah memandanginya dengan tatapan tajam.
"Mas Ray," lirih Arum bergegas melipat sajadahnya dan kemudian ingin melepaskan mukenah putih itu. Ia khawatir Rayden akan marah, tetapi baru saja ingin melepaskannya, Rayden maju memberinya pelukan. Begitu erat sampai-sampai Arum sulit bergerak.
Lima detik pun suara tangis pecah. Arum terkesiap, tangis itu berasal dari Rayden.
"Ma-mas Rayden, aku-aku--" ucap Arum tambah cemas.
"Maafkan aku," lirih Rayden kini melepaskan Arum. Kedua mata pria itu sudah berkaca-kaca.
"Maksud Mas Ray, apa?"
"Bodoh, kenapa kamu tidak pernah bilang padaku kalau kamu ini seorang muslim!" ujar Rayden kembali memeluknya.
"Aku pikir kamu ini--" tambah Rayden berhenti.
__ADS_1
"Aku apa, Mas?" Arum menghapus air mata Rayden.
"Aku pikir kamu Atheis,"
DEG!
Arum terdiam sejenak, membuat Rayden kembali memeluknya.
"Maafkan aku telah bersangka buruk padamu, maafkan aku telah melibatkanmu dalam hidupku, maafkan aku telah merusak hidupmu, Arum,"
Arum menunduk, ia meremas ujung mukenahnya.
"Kenapa Mas Ray berpikir aku, Atheis?" tanya Arum dengan mata berkaca-kaca.
"Aku melihat keputusasaan di matamu, aku pikir kamu sama denganku, Baby," jawab Rayden pun menarik Arum duduk di tepi ranjang. Rayden pun bercerita jika ia seorang yang tidak percaya dengan Tuhan, tidak seperti anggota Mafia yang masih menganut agama. Itulah mengapa ia begitu santai membantai musuh-musuhnya dan tidak takut kematian maupun dosa yang dia perbuat.
Walau pun dia tidak beragama, ia masih punya hati untuk menghormati penganut agama lain, terutama Muslim. Rayden sangat bersalah, sangat-sangat bersalah. Ia ingat pesan Ibunya untuk jangan menyakiti gadis seperti Arum.
"I am sorry, aku minta maaf, sangat minta maaf."
Rayden kembali memeluk Arum. Gadis itu pun tersenyum lalu menggenggam tangan Rayden, memberi satu anggukan kecil.
Rayden terisak-isak bagaikan anak kecil saja. Ia bercerita soal Ibunya pernah memukul keras bokongnya karena saat Rayden masih kecil, ia pernah melemparkan batu pada teman muslimnya.
"Kau tidak akan memukulku kan, Baby?" lirih Rayden terlihat menggemaskan. Arum tertawa kecil dan mengangguk, ia pun berbisik sesuatu ke telinga suaminya itu.
Rayden terlonjat kaget dan langsung menganggukkan kepala.
"Yakin mau?" tanya Arum memastikan.
"Ma-mau," jawab Rayden terbata-bata.
"Tidak mau unboxing malam ini?" tanya Arum lagi.
"Ngapain unboxing? Kan sudah dari 2 bulan lalu, Baby." Rayden kembali ceria dan mencubit gemas hidung Arum.
"Yakin nih?" lirih Arum memastikan.
"Yakinlah, Baby!" cetus Rayden.
"Puft... tapi aku masih awam," tawa Arum merasa geli melihat raut wajah kesal suaminya.
"Belajar dari Istri itu tidak masalah kok, nanti kita akan belajar pada ahlinya. Sekarang ajariku arti agama itu apa," ucap Rayden tersenyum. Senyum yang begitu manis membuat Arum terpaku.
"Baiklah, aku lepasin dulu mukenah--"
"Jangan, sini aku peluk istri cantik ku dulu," tahan Rayden merangkul Arum dari belakang. Gadis itu memutar bola matanya melihat tingkah manja Rayden. Keduanya pun bersama-sama belajar di malam ini dan melewatinya dengan kehangatan cinta dan kasih sayang. Rayden mencium kening Arum yang telah tertidur pulas lalu turun mengecup perut Arum. Pria bermata biru itu duduk mengelus-elus perut istrinya.
"Maafkan Papa ya sudah buat Mama sakit, Papa janji akan menjaga kalian." Rayden pun berbaring di sebelah Arum. Memeluk Istri tercinta.
.......
.......
.......
Okay guyss... Mak jelaskan apa agama mereka. Karena di f4cebook beberapa ada yang tanya agama Rayden dan Arum itu apa? walau ini cuma fiksi cerita semoga kita bisa mengambil hikmah dan membuang negatifnya🤧aku minta maaf kalau ada banyak kesalahan dalam penulisan maupun di dalam cerita ini.
__ADS_1
Maaf juga aku tidak mendetailkan pernikahan keduanya. Kalau kalian mau tahu, kalian cek di gooogle bagaimana pesta pernikahan Mafia itu. Tetap favoritkan, like, dan komen ya. Karena cerita ini masih berlanjut😘okay sampai jumpa di part berikutnya.
...Mohon beri kritik dan saran✌...