Hasrat Tuan Muda

Hasrat Tuan Muda
Bab 69 | S2 : Babysitter


__ADS_3

Joan mencoba tenang ditunjuk, tapi tangis Baby Ai sangat kencang hingga Baby Key jadi gelisah. Buru-buru Arum mengambilnya dari Joan.


"Cup… cup, jangan nangis ya, sayang." Rayden berusaha mendiamkan tangis pangeran kecilnya.


"Baby Key, Mommy dan Daddy minta maaf sayang sudah buat keributan, jangan ikut nangis ya, sayang." Arum ikutan di sebelah Rayden seraya mentimang Baby Key.


Joan menatap datar keduanya karena tidak dipedulikan. Tapi melihat Rayden dan Arum bersama-sama mengurus bayi, membuatnya takjub.


Joan pun duduk di kursi. "Belum juga ada sehari kalian pulang, kalian sudah sibuk mengurus anak sampai tidak ada sambutan untukku."


Arum dan Rayden yang fokus menggendong bayi menoleh padanya.


"Maaf," ucap Arum dan Rayden agak bersalah.


"Untuk apa minta maaf?" tanya Joan bingung.


Rayden berhasil menenangkan Baby Ai, kemudian duduk di sebelah Joan. "Maaf, selama ini aku tidak memberi kabar dan sudah kurang ajar," ucap Rayden tulus.


"A-aku juga minta maaf tidak jujur padamu saat itu, sampai -" putus Arum tidak jadi ingin katakan Rayden pernah mengurungnya sebulan, tapi Joan sudah tahu dari Arleya sehingga pria berkuasa itu menjewer keras satu telinga Rayden.


"Aduuh---"


"Kenapa kupingku ditarik?" kesal Rayden daun telinganya merah.


"Bodoh, teganya kau mengurung istrimu yang sedang hamil saat itu! Kemana hati nuranimu? Sudah membeku?" Joan kecewa sekali Rayden terlalu emosian.


"Aku punya hati kok, cuma Braga yang berhasil mengomporiku," ucap Rayden cemberut. Arum mengelus dada melihat keduanya duduk berdua, ia lalu pindah ke ayunan, meletakkan Baby Key yang berhasil tidur.


"Kau bodoh sekali tidak berpikir dulu! Langsung percaya ucapan orang lain," tutur Joan menunjuk.


"Ya.. ya… ya, aku ngaku bodoh tidak percaya kata istri, tapi aku sakit hati kau kirim lukisan pada istriku," sedih Rayden merasa Joan lebih romantis tidak sepertinya yang tidak tahu cara menyenangkan hati Arum.


"Kau pintar romantiskan pasangan daripada aku yang langsung nyosor."


Arum menengok saat mendengar keluhan Rayden. Ia pun tersenyum lalu meminta Baby Ai.


"Sini Mas, biar Baby Ai ikut tidur sama adeknya."


Rayden memberikannya, dan menunduk melihat Arum. Istri yang selalu menemaninya dari dulu hingga sekarang masih kuat dan sabar menghadapi emosinya.


Joan mengelus lengan Rayden. "Kau lebih hebat dariku, Ray."


"Hebat? Kau ini sedang memujiku atau menghinaku?" tanya Rayden tidak mengerti.


"Ray, di mataku kau adik yang hebat, bahkan aku sering iri melihat ayah dan semua orang memujimu. Dari kecil, aku selalu duduk di kursi roda, dan sangat cemburu kau dapat tumbuh kuat dan sudah berumah tangga. Tidak sepertiku yang sekarang dipenuhi tanggung jawab, sehingga masa indah untuk pacaran tidak ada," Joan pun balas mengeluh.


"Itu juga karena kau bodoh," ucap Rayden akhirnya bisa balas ucapan Joan.


"Ya aku bodoh, ketuluran bodohmu." Joan kesal sekali Rayden sempat-sempatnya balas mengejek.


"Tepatnya, kalian berdua itu bodoh," sahut Barsha di dekat pintu.

__ADS_1


"Mama!" Joan dan Rayden mendengus. Arum menahan tawa melihat kelucuan kakak beradik itu. Kemudian keduanya pun tertawa lepas. Suasana yang tadi tegang berubah menjadi meriah.


"Mas, jangan berisik! Anak kita lagi tidur," ujar Arum pada Rayden yang tertawa sambil menepuk-nepuk bahu Joan yang juga balas menampol kepala Rayden.


"Sudah tertawanya, sekarang kita makan malam bersama." Barsha menyuruh dua anak tirinya itu keluar.


"Baik, Mah." Joan keluar duluan diikuti Barsha ke dapur.


"Yuk, sayang kita keluar makan," ajak Rayden menggenggam tangan istrinya.


"Tapi, siapa yang jagain anak-anak? Aku takut nanti ada yang nangis," tolak Arum tidak tega.


"Arum, istriku. Tidak usah takut, anak-anak kita sabar seperti ibunya. Kita makan dulu, terus nanti kita ke sini lagi ya, kamu juga perlu istirahat. Aku tidak mau kamu yang sakit," kecup Rayden pada bibir istrinya. Arum menunduk tersipu, diperhatikan.


'Walau Rayden tidak tahu cara romantis, tapi perhatiaannya sudah cukup hatiku meledak.'


"Baiklah, Mas." Arum balas mencium hangat bibir sexy suaminya lalu keluar meninggalkan Baby Ai dan Key di dalam kamar.


Pukul 18.20 malam, semuanya sudah berkumpul di meja makan, namun tidak lama kemudian, pintu rumah diketuk. Tepat sekali, Joan selesai duluan.


"Biar aku yang membukanya,"


"Tidak usah, biar Mama saja." Barsha ingin, tapi Joan menolak.


"Mama lanjut makan, biar aku saja,"


"Ya, Mama. Biar Joan saja, Mama selesaikan dulu makannya." Rayden setuju Joan saja, sedangkan Arum tidak enak melihat Joan yang pria hebat itu membuka pintu, namun rupanya Kamelia juga selesai malam, gadis kecil itu menyusul Joan.


"Pak Joan? Maaf sudah lancang mengganggu anda!" Dokter Maya membungkuk setengah badan, bergetar hebat melihat Joan tiba-tiba ada di depannya. Pria yang sangat dia kenali.


"Kamu siapa?" tanya Joan tidak kenal.


"Om!" Kamelia nongol juga di samping Joan.


"Om, dia Dokter Maya. Pasti mau lihat adek bayi kan, Tante?" tanya Kamelia ke Dokter Maya.


"I--iya, Tante disuruh Tuan Rayden ke sini untuk merawat bayi, dan juga menginap di rumah ini," jawab Dokter Maya jelas.


'Tinggal? Di rumah ini juga? Kenapa Rayden menerima Dokter ini jaga anaknya? Kemana Dokter Pribadinya dulu? 'batin Joan curiga karena wanita di depannya lumayan cantik.


"Sini, Tante! Masuk dan makan malam sama Mamaku!" Dokter Maya ditarik segera masuk ke dalam rumah meninggalkan Joan di pintu.


'Tidak pernah ada Dokter wanita yang direkrut Rayden, dan ini pertama kalinya terjadi. Apa ada rencana dibalik kehadiran Dokter ini?' pikir Joan mulai cari alasan tepat.


'Apakah Dokter ini yang duluan mengajukan diri? Kalau begitu, Dokter ini perlu diwaspadai.'


Joan pun menutup pintu lalu masuk ke dapur.


"Mama, Tante Maya datang lagi ke rumah!"


Ekpresi Arum kembali masam melihat Adiknya menggandeng tangan Dokter Maya.

__ADS_1


"Selamat malam semua, maaf aku baru datang, barusan ada pasien yang perlu segera aku tangani, jadi terlambat. Sekali lagi maaf!" Dokter Maya membungkuk lagi.


"Bagus, kau akhirnya datang juga malam ini," ucap Rayden ingin Dokter Maya jadi babysitter untuk anak kembarnya.


Barsha pun mempersilahkan Dokter Maya untuk makan bersama, dan tujuan mengapa wanita itu datang. Tanpa dikasih tahu, Rayden panjang lebar menjelaskan sampai tuntas. Arum berdiri dari kursi, tidak terima Dokter itu jadi babysitter. Arum takut, kejadian seperti di luar terjadi, takut baby sitter akan merebut suaminya.


"Mas, kenapa dia tiba-tiba jadi babysitter? Aku kan bisa rawat sendiri anak kita, Mas tidak percaya ya sama aku?" Barsha segera menenangkan Arum yang cemas berlebihan. Takut anaknya, Mama muda itu terkena baby blues setelah melahirkan. Apalagi akhir-akhir ini Arum menampakkan tanda-tandanya. Barsha juga tidak terima, tapi ia tahu alasan Rayden.


Dokter Maya jadi sedih, Arum semakin memandangnya buruk. 'Apa susah mendapat kepercayaan itu? '


"Sayang… " Rayden berdiri, mengelus rambut Arum.


"Tidak usah pegang-pegang," tepis Arum kecewa.


"Sayang, aku cuma tidak mau kamu terlalu capek, setiap hari selalu ngurus anak, tidak banyak istirahat. Aku cemas nanti kamu sakit, dan itu buatku sedih. Kamu jangan suka sangka-sangka buruk dong ke orang lain," ucap Rayden memeluknya di depan semua orang.


"Bukannya aku tidak percaya padamu, aku sampai kapan pun selalu percaya, dan aku cuma ingin kamu selalu sehat sayang, agar kita sama-sama bisa jagain anak. Ngerti kan?" lanjut Rayden mengusap pipi Arum yang basah.


"Ya deh, maaf." Arum mengangguk lalu balas memeluk. Begitu erat sehingga Rayden sedikit sesak.


Barsha dan Dokter Maya pun lega melihat Arum dapat mengerti. Tidak seperti Joan yang berdiri di dekat pintu masih curiga pada Dokter Maya dan tingkah Rayden yang tiba-tiba bijak.


Setelah makan, Arum dan Rayden duluan ingin ke kamar anaknya, meninggalkan Dokter Maya dan Barsha, Kamelia di dapur. Melewati Joan yang duduk sendirian menonton berita di TV. Tapi seketika ketiganya menoleh saat pintu rumah diketuk.


"Siapa itu?"


Rayden dan Arum bergegas membuka pintu tidak tahan ketukan itu makin keras bercampur suara hujan lebat di luar sana.


Saat pintu dibuka lebar, yang datang rupanya istri tetangga yang basah kuyup dan terlihat habis menangis. Jelas sekali, Kinan sesugukan di depan mereka.


"Heh, apalagi ini? Kenapa kau datang kemari? Mau ngemis?" tanya Rayden sinis. Masih tidak suka tingkah Wira sehingga agak benci ke Kinan.


"Mas, dia lagi hamil, tega sekali kau bicara begitu!" marah Arum tidak tega dan kecewa pada Rayden.


"Habisnya datang-datang basah gini terus nangis, nanti kata tetangga lain kita yang sudah melukainya, sayang," ucap Rayden.


"Tapi gak menghina dia juga, Mas. Aku dulu pernah di posisi dia loh, tolong hargai dia juga,"


Rayden tersenyum paksa. 'Istriku ini kesambet apa sih? Dokter sendiri dicurigai? Istri tetangga malah di sayang? Astaga, susah sekali mengerti pikirannya,' batin Rayden mendesis.


"Maaf, sudah mengganggu." Kinan tertunduk sedih mendengar semuanya.


"Tidak ganggu kok, kita malam ini santai saja, tapi kenapa ya kamu datang ke sini?" tanya Arum maju selangkah.


"A-aku takut sendirian di rumah," jawab Kinan jujur.


"Kemana suami kampreet mu itu?" tanya Rayden ketus.


....


Biasa Direktur Es lagi korslet di luar sana bang 🤭

__ADS_1


__ADS_2