Hasrat Tuan Muda

Hasrat Tuan Muda
Bab 66 | S2 : Bukan Pelakor


__ADS_3

Sudah seminggu Baby Key dirawat, rupanya yang membuat anak itu rewel karena terkena pneumonia. Untung Dokter Wanita bernana Maya memberi saran agar orang tua baru itu segera membawa Baby Key ke RS. Jika tidak, suatu hal fatal bisa terjadi.


"Ini gara-gara Mas, pasang AC di kamar Baby twin jadi Baby kita kedinginan sampai masuk angin deh!" Arum mendengus di depan suaminya. Walau Rayden tidaklah merokok, rupanya suhu AC bisa berpengaruh pada paru-paru tubuh bayi kembarnya.


Rayden menoleh. "Ya maaf, aku gak tau bisa buat Baby Key sakit," ucap Rayden cengengesan.


Memang Baby Ai sering dibawa keluar kamar sehingga hanya Baby Key yang ditinggal saat AC dinyalakan.


Dokter Maya pun menghampiri Arum yang sedang berdiri menggendong Baby Ai. Terlihat Mama muda itu masih khawatir di dekat Rayden.


"Bu Arum, tidak perlu cemas lagi. Baby Key sudah menerima pengobatan maksimal di rumah sakit ini," jelas Dokter Maya. Arum tersenyum singkat. "Ya Dok, terima kasih sudah membantu kami." Arum pindah di sisi lain, dia tidak mau dekat-dekat padanya. Arum curiga ada sesuatu yang direncanakan Dokter itu yang sudah menggantikan posisi Dokter pribadi Rayden.


"Apakah kami sudah bisa membawanya pulang, Dok?" tanya Rayden yang memakai kacamata untuk samaran. Arum memajukan mulutnya melihat Rayden bicara dengan Dokter Maya.


"Tentu, Tuan."


Rayden mengelus dada, lalu mengambil Baby Key.


"Yakin, Mas?" Arum pindah lagi di sisi Rayden.


"Lihat sayang, Baby Key sabar banget nih, tidak lagi rewel." Rayden mengecup ubun-ubun putri kecilnya. Arum melirik Dokter Maya yang sedang tersenyum melihat Rayden sayang pada anaknya itu.


"Ya sudah deh, Mama juga di rumah pasti sudah rindu Baby Ai dan Key." Rayden pun menoleh kemudian tersenyum pada istrinya.


"Apakah Mama pernah menelpon?" tanya Rayden.


Arum menggelengkan kepala. "Tidak pernah, Mas. Kontak Mama tidak aktif, mungkin nomornya sudah diganti."


Rayden menarik dua kali nafas, kemudian pindah melihat Dokter Maya. Entah kenapa, bila Dokter Maya selalu berada di antaranya, ia sering kali merasa risih. Apalagi Rayden membuatnya kaget kali ini.


"Dokter Maya, nanti kau ikut kami pulang juga,"


"Buat apa Dokter ikut ke rumah?" tanya Arum cepat.


"Sayang, kita tidak bisa leluasa ke rumah sakit. Jadi aku mau Dokter Maya tinggal di rumah sementara untuk lebih memastikan Baby Ai dan Key," jawab Rayden mengambil koper sambil menggendong Baby Key, sudah siap untuk pulang.


"Tapi, Mas. Di rumah cuma ada empat kamar. Kamar kita, Kamar Kamelia, Mama, dan Baby kita. Dokter Maya tidurnya nanti di mana?"


Dokter Maya ingin menolak, tapi Rayden serius ingin dia tinggal di rumah.


"Sayang, kan bisa tidur di kamar Kamelia. Ini juga bagus ada yang bantu bimbing kamu untuk lebih tahu merawat bayi. Sekarang kemarilah, kita pulang sekarang," ucap Rayden jalan ke pintu.


Arum pun menurut saja. 'Tanpa bantuan Dokter, kan ada Mama yang bisa membimbingku jadi Ibu. Tapi-' batin Arum menengok ke Dokter Maya yang sedang membereskan ruangan itu.

__ADS_1


"Memang Ibu juga tidak lama merawatku, tapi aku cemas kehadiran Dokter ini ada maksud lain," gumam Arum masih suka berprasangka.


Dokter Maya pun berbalik melihat pasangan itu sudah pergi, dia juga ingin menolak jadi Dokter Pribadi Rayden, tapi Kakaknya sedang bertugas di luar negara.


"Sepertinya, Istri Tuan Rayden tidak terlalu menyukaiku, kalau begini aku jadi grogi untuk mengajaknya ngobrol. Tapi kalau aku nolak ajakan ini, takutnya Tuan Rayden akan marah." Dokter Maya pun mendesah kesal. "Ahh, apa tampangku ini memang muka pelakor sampai Nona Arum melirik tidak suka padaku?" Dokter Maya tahu alasan Arum menjaga jarak.


"Profesiku ini sebagai Dokter, bukan pelakor." Dokter Maya punya trauma karena dulu dia pernah dituduh pelakor dikira dekat dengan satu pasien laki-laki yang punya istri. Dia pun bergegas pulang untuk segera menyusul Rayden pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, Arum membawa dua babynya menuju ke pintu rumah, sedangkan Rayden memarkirkan mobil spotnya. Melihat satu keluarga hangat itu, Kinan di balik jendela tertunduk lesu.


"Mereka bahagia sekali bisa jalan-jalan bersama, sedangkan aku tidak sama sekali diajak oleh Mas Wira," lirih Kinan memandangi Wira sedang duduk mengecek sebuah dokumen. Seminggu ini pria itu asik sendiri di dalam rumah dan tidak pernah Mengajaknya mengobrol. Meski Joan sering diam-diam mengajak untuk keluar bertemu, Kinan selalu menolak, dia masih takut untuk kenal dengan Joan.


"Daripada kau terus memandangiku di situ, lebih baik buatkan aku teh," ucap Wira sedikit risih ditatap.


"Baiklah." Wira mengangkat alisnya cuma dijawab singkat. Dulu-dulu istrinya itu mengomel dulu, sekarang istrinya banyak diam.


"Nih tehnya, Mas." Satu gelas berisi teh manis disuguhkan di atas meja. Wira cuma mendehem kecil.


"Mas hari ini sibuk sekali ya?" tanya Kinan duduk di sofa lain, tidak lagi di sebelah Wira.


Direktur itu agak kesal istrinya sekarang asik main hp dibanding berceloteh seperti kemarin.


"Tidak," jawab Wira datar.


Wira hampir tersedak saat meminun Tehnya. Begitu entengnya Kinan tanya soal selingkuhan. Tidak ada ekspresi kecewa dan sedih di wajah istrinya. 'Dia tenang sekali, seharusnya dia marah kalau aku selingkuh, kan?' batin Wira masih duduk santai.


"Tidak penting bagimu untuk tahu itu," balas Wira melihat penuh Kinan yang asik sendiri dengan ponselnya.


"Oh, sayang sekali. Pasti wanita itu sedang kesal tidak pernah dibelai seminggu ini," ucap Kinan datar lalu memegang perut besarnya.


"Ayahmu tidak becus, Nak. Bunda sudah ditelantarkan, sekarang selingkuhannya di sana tidak disayang lagi. Kelak, setelah kau lahir dan tumbuh dewasa, jangan mengikuti jejak kuda laut ya, Nak. Jangan sekali menyemprot racun hitam yang menyakitkan seperti ayahmu sekarang."


Braak! Wira menggebrak meja kesal mendengar Kinan mencacinya.


"Mas, anakku lagi tidur di dalam sini, tolong jangan marah tidak jelas," ucap Kinan mengelus kasih sayang perutnya.


"Ada apa dengamu, ha?!" tanya Wira duduk lagi.


"Aku? Kenapa dengan ku?" balas Kinan mengulangi.


"Ck! Kenapa tiba-tiba kau acuh begini?" decak Wira.


Kinan menghirup udara lalu menjawab tenang.

__ADS_1


"Akhir-akhir ini aku sudah tidak mau ganggu mas, jadi terserah mas mau ngapain saja diluar sana, aku sudah tidak mau peduli,"


"Dan Mas, aku protes kamu marah, aku diam kamu marah. Sekarang apa yang harus aku lakukan supaya mas tidak marah?"


Kinan panjang lebar menjelaskan pada suami sahnya itu.


'Aku ingin kau gila supaya dapat bercerai denganmu! Tapi entah kenapa aku sendiri yang mau gila melihat tingkah diam mu ini!' batin Wira lalu berdiri masuk ke dalam kamar.


"Baby, lihat ayah tidak jelasmu itu. Sudah dijawab malah pergi gitu saja, dia tidak punya hati sampai mengabaikan Bunda."


Namun dua menit berlalu, Wira datang memberinya surat perjanjian lagi. "Ini yang aku inginkan, tanda tangan darimu," ucap Wira duduk di hadapannya, menunggu surat itu ditanda tangani.


"Baby, lihatlah ayahmu yang lucu ini, Bunda itu bukan artis, tapi ayahmu ingin sekali tanda tangan Bunda. Mungkin Bunda begitu cantik sampai Ayahmu klepek-klepek ingin menyimpan tanda tangan Bunda. Kamu jangan tertawa di dalam sana ya, Nak."


Mendengar ucapan Kinan, kedua telinga Wira terasa panas melihat istrinya itu malah ngobrol dengan perut besar yang tidak pernah dielusnya.


"Kinan! Berhenti buat candaan!" kesal Wira.


"Bukannya mas yang lagi bikin candaan? Aku kan dari dulu tidak mau cerai, jangan paksa aku!" balas Kinan tegas.


Wira tersenyum miring, sudah cukup bersabar.


"Aku tak peduli, yang jelas setelah aku pulang, aku ingin surat ini sudah ditanda tangani!" jelas Wira berdiri mengambil jas kemudian ke pintu rumah untuk pergi.


Namun saat pintu dibuka, CEO es itu menoleh.


"Kenapa? Ada yang Mas lupakan?" tanya Kinan masih duduk di sana.


"Kamu tidak ingin tanya aku mau kemana?" Mungkin karena Kinan tidak tanya lagi, sehingga ia berhenti keluar.


" Aku kan sudah tahu tujuan Mas ingin ke tempat perselingkuhan mu, jadi apa perlu aku tanya lagi?" ucap Kinan.


"Ck, menyebalkan!"


Wira membanting keras pintu rumah. Rayden dan Arum yang baru mau masuk ke dalam rumah mereka jadi menoleh ke arah pria itu yang sedang jalan masuk ke dalam mobil.


"Ck, apa-apaan sih tuh orang! Mau bikin aku naik darah nih!" celetuk Rayden ingin memukul Wira yang tidak sadar ada dua bayi yang baru dari rumah sakit.


"Sudah, Mas. Kita sabar saja." Arum menenangkan Rayden. Rayden pun membawa keluarga kecilnya masuk rumah.


Kinan yang melihatnya dari balik jendela sedikit tersenyum pada Arum yang tidak mempermasalahkan sikap Wira. Sedangkan Wira tambah marah melihat orang tua baru itu terlihat bahagia. Dia sebenarnya tidak mau pergi dari rumah, karena ingin tahu istrinya sudah punya pria gelap atau tidak. Tapi lama-lama dia juga risih kalau selalu bersama istrinya itu.


.....

__ADS_1


Istrimu juga risih dengan sikapmu Pak CEO😒


__ADS_2