
"Bagaimana dengan mu, Rayden? Kau setuju menikah dengannya?" tanya Tuan Edward ke Rayden yang sedang bimbang.
"Memangnya aku harus menikahinya?" balas Rayden bertanya dengan tatapan dingin menatap Tuan, Nyonya ketiga, dan Selir Tuan. Terlihat Nyonya Barsha tertunduk lesu karena pilihannya -Daisy- gagal menikah dengan Rayden.
"Tentu saja, kau harapan kami untuk mengurus Voldemort. Jika seandainya Joan mau menikah, kami juga tidak akan memaksamu," jawab Tuan Edward menunjuk Rayden.
"Kalau begitu, kalian paksa saja Joan untuk menikahi putri Mafia itu," ucap Rayden menolak.
"Rayden! Jika saja ada wanita kaya yang mau dengan Kakakmu itu, kami pasti akan menikahkahnya. Tapi sampai sekarang tidak ada yang mau hidup dengannya," ujar Tuan Edward agak emosi.
"Jika begitu, nikah kan saja Joan dengan wanita lain! Aku yakin ada wanita yang mau dengannya! Setelah itu aku tidak perlu lagi mencalonkan diri jadi Bos Mafia berikutnya. Kalian tunggu saja lahirnya anak dari pernikahan Joan!" tutur Rayden berdiri.
"Rayden!" sergah Tuan Edward ikut berdiri.
"Walaupun kakakmu cacat, Ayah tidak akan pernah menikah kan wanita lain dengannya. Calon menantu ayah harus berasal dari wilayah ini!"
Rayden terkejut, ternyata Tuan Edward tidak menyukai wanita dari luar sana. Itu artinya peluang untuk memberi pernikahan bagi Arum bisa saja akan dibantah keras oleh ayahnya. Rayden mengepal tangan lalu melirik tajam, berteriak dengan lantang.
"Aku... Rayden Zardkizel Lorcan, putra kedua Elizabeth tidak akan mau menikah dengan wanita mana pun! Camkan itu, Ayah! Permisi!" Rayden sudah muak, ia ingin bebas seperti Joan yang tidak pernah diatur-atur.
"Rayden!" Tuan besar meraih lengannya dan ingin menggampar putra bungsunya itu. Tetapi Nyonya Mariam menahan tangan suaminya itu.
"Edward, tidak perlu memukulnya. Rayden selama ini sudah berbuat banyak pada kita, ia juga telah memenuhi keinginanmu untuk balas dendam. Sekarang biarkan dia memilih," ucap Mariam tersenyum manis.
Melihatnya dapat menenangkan Tuan Edward, tatapan Nyonya Barsha terlihat benci pada Istri ketiga suaminya itu yang berhasil merebut posisi Elizabeth. Apalagi kecantikan Nyonya Mariam cukup mengalahkan pesona Nyonya Barsha.
"Apa maksudmu?" tanya Tuan Edward agak terkejut istri ketiganya tiba-tiba melindungi Rayden.
"Lebih baik tidak usah menjodohkan Rayden dengan putri mana pun, kita beri dia pilihan, sayang."
Rayden bergidik tiba-tiba dilirik oleh Nyonya Mariam. Seolah-olah kata -sayang- beralih untuknya.
"Pilihan?" Tuan Edward melepaskan genggamannya pada lengan Rayden. Ia pun menatap istrinya itu.
"Sayang, satu-satunya harapan kita hanya ada pada Rayden. Biarkan dia memilih wanita di luar sana, asalkan wanita itu berasal dari keluarga Bangsawan. Kalau dia menolak untuk menikah, siapa lagi yang akan mewariskan calon King berikutnya?"
Rayden mendesis, ia ingin tahu kelicikan apa lagi yang dimainkan Nyonya Mariam. Begitu pula Nyonya Barsha kesal dengan rayuan Mariam. Wanita itu pun berdiri lalu mendekati suaminya.
"Edward, menurut ku mungkin putri dari--"
__ADS_1
"Cukup! Aku sudah tidak mau mendengar saran darimu, Barsha. Kau terlalu banyak mengecewakan ku," potong Tuan Edward marah pada istri ketiganya itu.
"Benar sekali, setiap saranmu selalu saja tidak becus. Kau sudah berkali-kali mengajukan calon Istri untuk Rayden, tapi hasilnya nihil. Ada-ada saja yang terjadi pada mereka," sambung Nyonya Mariam mencibirnya.
Nyonya Barsha meremas ujung gaunnya, ia memang ingat semua calon darinya selalu kena sial. Seperti beberapa tahun lalu sebelum Daisy mengajukan diri. Para wanita yang mencalonkan jadi Istri Rayden, mereka ada yang kecelakaan, ternodai, mandul, dan bahkan ada yang meninggal. Seolah ada sihir dalam perjodohan ini yang tidak mau Rayden memiliki Istri.
Rayden menatap ketiganya yang sedang berdebat, ia pun berpikir tidak ada salahnya mengambil saran dari Mariam. 'Tampaknya aku perlu mencari keluarga bangsawan yang bisa mengangkat Arum menjadi anak angkat. Setelah itu, aku bisa menikahinya tanpa dicurigai lagi.' Rayden membatin punya ide.
"Apa yang dikatakan Nyonya, aku setuju!" ucap Rayden langsung mengalihkan perdebatan mereka. Terutama Mariam spontan tersenyum tipis mendengarnya.
"Bagus, Ayah akan menunggu kau membawa calon istri ke sini, tapi jika sebulan ini kau masih belum membawanya, Ayah akan kembali menjodohkanmu," jelas Tuan Edward duduk ke kursi Istimewanya.
"Cih, itu hal yang sangat mudah. Kalian tidak perlu lagi memaksaku!" Rayden meninggalkan ruangan, diikuti Nyonya Barsha pun pamit ingin menyusul Rayden. Tiba-tiba saja, Tuan Edward menyentuh dadanya, rasa sesak itu seolah menusuk ke jantungnya, ini sudah biasa baginya setelah membentak Rayden. Nyonya Mariam segera memberi obat.
"Ini obat apa? Mengapa kemasannya beda?" tanya Tuan Edward pada Istrinya. Seperti biasa, Mariam menjawab dengan rayuannya.
"Sayang, ini obat baru yang diberikan Dokter padaku. Hasiatnya sama kok, cuma kemasannya yang beda."
Tuan Edward menyipitkan mata, ia sedikit takut dan curiga. Tapi karena selalu didesak oleh rayuan Istri ketiganya, Ia pun terpaksa memakan obat itu. Awalnya efek dari obat itu hanya terasa di kepalanya, tapi selang beberapa menit rasa nyeri itu dan sesak di jantungnya pun hilang. Ini membuatnya makin percaya jika Mariam mencintainya, merasa istrinya itu tidak mau kehilangannya. Akan tetapi, sebenarnya Nyonya Mariam hanya mencintai kedudukannya sebagai Queen Mafia.
.......
.......
.......
'Huftt... untung Tuan Joan tidak ada,'
Arum celingak-celinguk memperhatikan isi kamar Tuan Joan. Gadis itu melangkah, ia mendekati sebuah meja. Tangan kanannya terulur pada sebuah bingkai foto. Arum mengambilnya lalu mengelap kaca foto itu.
Terlihat di dalam foto ada dua anak laki-laki dan satu wanita muda yang memiliki mata biru langit seperti Rayden.
"Eh, apa jangan-jangan ini Tuan Rayden waktu kecil bersama Tuan Joan dan Ibunya?"
Arum memperhatikan raut wajah ketiganya. Terlihat Elizabeth bahagia bersama dua putranya yang menggemaskan. Arum tersenyum melihat foto kecil Rayden yang datar dan dingin.
"Sepertinya Tuan Rayden waktu kecil pendiam, tapi kenapa sekarang pria ini menyebalkan?"
Arum cemberut, ia agak kesal pada Rayden yang menyembunyikan identitasnya dari awal. Arum pun meletakkan bingkai foto itu lalu keluar dari kamar Tuan Joan. Bumil belia itu menyusuri lorong-lorong mansion sambil memakan rujak bungkusan. Senyum Arum pun mengembang saat mengelus perutnya yang masih datar itu.
__ADS_1
"Kira-kira anak Tuan Rayden cewek atau cowok ya?"
"Kalau cowok, pasti Tuan Rayden senang, tapi--"
"Tapi kalau cewek, apa mungkin akan dibuang?"
Arum berhenti berjalan, ia duduk di teras Istana sambil memandang rembulan di atas sana. "Mudah-mudahan saja setelah ini saya bisa bertemu dengan Kamelia." Arum tertunduk memikirkan adik tirinya lagi.
"Tuan Rayden ingin menikah dengan ku, tapi dia sudah dijodohkan oleh ayahnya. Jika begitu, aku bisa dihukum mati sudah mengandung anak milik Tuan Rayden. Huft... aku jadi takut kalau ayahnya sampai tahu, aku mungkin saja tidak akan kembali dan melihat Kamelia,"
"Apa lebih baik aku pergi? Ta-tapi, Tuan Rayden akan melukai Kamelia," lirih Arum mengelus-elus perutnya.
"Kemana ya Tuan Rayden? Aku tadi sempat jalan-jalan di sini, tapi aku tidak menemukan dia dengan Daisy. Apa jangan-jangan mereka sedang kencan dari tadi?" gumam Arum semakin menunduk. Seketika ia terkejut, setelah seseorang memanggilnya dari belakang.
"Beby,"
Gadis itu spontan menoleh, tersenyum sumringah melihat Rayden sudah kembali. Ia turun cepat dari teras lalu berdiri di hadapan pria itu.
"Tuan, kau dari mana saja?" tanya Arum.
Rayden terdiam sejenak lalu dengan cepat kedua tangannya memeluk tubuh gadis itu. Arum pun tersipu dan berdebar-debar dengan tindakan Rayden. Ia pun juga takut pelayan Braga akan melihatnya dan itu sangat bahaya. Ia bisa dikirim ke pulau pengasingan atau dihukum mati.
"Tu-tuan, kau baik-baik saja?" sekali lagi Arum bertanya dalam pelukan candu itu.
"Biarkan aku tenggelam dalam pelukanmu."
Arum pun balas memeluk Rayden, seperti tahu Rayden sedang gelisah malam ini.
"Apa sesuatu telah terjadi, Tuan?" tanya Arum kembali bicara. Sekali lagi Rayden tidak menjawab, ia malah melepaskan pelukan itu lalu meraih tangan Arum kemudian ia menarik gadis hamil itu pergi dari sana.
.......
.......
.......
...Tinggalkan Like dan Komen!...
...Maaf belum ada visualnya karena saya tidak tahu foto siapa yang cocok. Yang Jelas Arum itu gadis cantik dari Indonesia, dan Rayden pria berdarah bangsawan tampan dari Eropa. Terima kasih......
__ADS_1