
Arum terus dibawa paksa masuk ke dalam apartemen mewah. Ia, Arum. Gadis hamil yang tengah diseret kasar oleh Rayden. Begitu kasar sehingga Arum sesekali meringis kesakitan.
"Masuk ke dalam!" Suara lantang itu memenuhi satu apartemennya. Menjatuhkan Arum ke lantai dengan kejam.
Arum meringsut ke belakang. Perlakuannya terlalu sakit.
"Mas, kenapa denganmu? Apa salahku sampai kau kasar seperti ini?" lirih Arum. Suara kecil itu bergetar ketakutan. Matanya berkaca-kaca dengan air mata sudah menumpuk di sana.
"Berdiri!" ujar Rayden membentak.
"Mas, ta-tapi kakiku sakit, tolong bantuin aku," mohon Arum mengulurkan tangan.
Plaak! Arum tersentak hebat tangannya ditepis.
"Tidak usah berpura-pura, cepat berdirilah dan masaklah buat aku sekarang!" perintah Rayden sinis.
Arum bersusah payah bangkit, ia pun tanpa melihat Rayden bergegas ke arah dapur. Arum ingin sekali menangis, kedua tumit kakinya benar-benar sakit dan lumayan bengkak.
'Apa yang terjadi padamu, Mas?' Arum melirik suaminya yang sudah duduk di kursi sambil menatap dingin ke arahnya.
"Ma-mas, mau makan apa?" tanya Arum terbata-bata.
"Mi pangsit," jawab Rayden datar.
"It-itu saja, Mas?"
"Iya! Cepat masak!" jawab Rayden membentak lagi.
Arum kaget mendengarnya, ia segera melihat isi kulkas. Mengambil beberapa sayur segar lalu meraih mie instan di pojok atas. Rayden berdecak melihat punggung Arum, ia nampak kecewa.
Tidak memakan waktu lama, mi pangsit Arum telah selesai. Gadis itu perlahan meletakkan semangkuk di depan Rayden.
"Ngapain berdiri terus di situ? Cepat duduk sana!" Tunjuk Rayden pada kursi yang ada di hadapannya.
"Ba-baik, Mas." Arum duduk dengan patuh.
Rayden pun mengambil dua sumpit lalu meniup-niup mi pangsitnya sebentar. Arum sedikit lega melihat Rayden memakan lahap mi buatannya.
"Bagaimana rasanya, Mas?" Arum iseng-iseng bertanya.
Tak! Rayden meletakkan sumpit di atas meja dan berhenti makan.
"Kenapa berhenti, Mas?" tanya Arum lagi. Kini ketakutannya bertambah setelah Rayden menatap begitu tajam.
"Mau minum, Mas?" Arum memberinya segelas air, berharap Rayden berhenti menatapnya begitu. Namun, kembali lagi Arum terkejut setelah tangan kanan kekar suaminya menghempaskan gelas beling itu hingga pecah berhamburan di lantai.
"Mas, kau kenapa?" Arum menggigil ketakutan. Aura disekitarnya terasa gelap dan pekat.
BRAAK!
Meja digebrak keras membuat Arum bangkit dari kursi.
"Mas, jangan marah tidak jelas begini. Katakan apa yang membuatmu kesal?" lirih Arum melihat pecahan gelas masih berhemburan di lantai.
Rayden masih saja diam, meneguk segelas air lalu meletakkan gelas itu dengan keras. Tingkah dinginnya itu sangat menakutkan.
__ADS_1
"Mas, mau kemana?" Arum segera menahan lengan Rayden. Namun lagi-lagi ditepis cukup kasar.
"Mas! Jawab aku!" bentak Arum sudah tidak tahan didiamkan.
"Acchh...!" Arum menjerit setelah tangan yang sering membelainya kini menyakitinya.
"Kau berani membentakku?!" ujar Rayden marah.
Arum menghirup udara untuk tetap tenang, namun rasa sakit menyayat hatinya hingga ia pun tidak kuasa menahannya. "Hiks, kenapa kau bisa sekasar ini? Apa yang sudah terjadi sampai kau lampiaskan amarahmu padaku?" Tak terasa air matanya berlinang.
"Hapus air matamu itu," decak Rayden memperkuat cengkeramannya.
"Mas! Aku minta maaf kalau aku ada salah, kau jangan marah-marah padaku, aku-aku ini lagi hamil, jangan buat aku stress, Mas!" Arum terisak.
"Stresss? Aku yang lagi stress di sini!" decit Rayden menghempaskan tangan Arum.
"Kenapa kau bilang begitu?" Arum menggenggam tangannya yang sakit.
"Ya, aku stress memikirkanmu! Kau bisa-bisanya menggoda Joan saat aku tidak ada di Istana."
DEG.
'Menggoda Joan? Sejak kapan aku menggodanya?' pikir Arum terkejut.
"Aku tidak pernah menggoda Joan, Mas jangan nuduh aku sembarangan gini," ucap Arum menepuk dadanya.
Rayden menggertakkan rahang lalu memperlihatkan sebuah kertas.
"Mau bukti? Lihat! Lihat ini!" Suara itu mengeras, Rayden kesal melihat tampang Arum.
Kedua mata Arum terbelalak melihat tulisan itu milik Joan.
"Mas, aku sama sekali tidak tahu surat ini," ucap Arum mencoba tetap tenang.
"Cih, tidak tahu? Kau pikir surat itu palsu?" decak Rayden merebutnya.
"Lihat, tanggal dan nama surat ini milik Joan, dia bahkan membuatkan mu lukisan. Lihat ini, Arum!" bentak Rayden memperlihatkan ponselnya, di mana lukisan Arum tertera di layar persegi itu.
"Sejak kapan kau dan Joan berhubungan? Sejak kapan, Arum?!" Rayden meremas bahu Arum, melotot dengan amarah.
"Aku dan Joan tidak punya hubungan apapun, Mas." Arum meringis kesakitan.
"Lantas kenapa Joan bisa mengirim surat cinta padamu kalau bukan kamu yang menggodanya duluan, Ha!"
"Hiks, kau salah, Mas! Aku tidak pernah menggodanya, kita cuma pernah bertemu sekali, dan itu tidak lebih hanya saling sapa, bukan-tidak aku tidak pernah menggodanya," isak Arum ingin melawan tetapi takut Rayden akan lebih kasar lagi. Apalagi pria gagah dan tinggi itu tidak segan-segan akan melukainya.
"Arggg, kau membuatku kecewa!" kesal Rayden menghempaskan Arum ke sofa.
"Mas, percayalah padaku," Arum bangkit walau rasanya sakit diperlakukan kasar.
"Percaya? Kau menyuruhku percaya? Dengar, Arum! Aku lebih percaya pada asisten Braga daripada kamu!"
DEG. Arum terlonjat kaget, ia tidak habis pikir amarah Rayden gara-gara hasutan dari asisten Braga.
"Mas, aku ini Istrimu, aku cuma mencintaimu saja. Sama sekali tidak ada rasa pada Joan, kamu percayalah padaku, Mas." Arum meraih tangan Rayden. Namun jawaban yang diterima malah hempasan lagi.
__ADS_1
"Achhh..." Arum jatuh ke lantai. Jika seandainya hantaman itu cukup keras, mungkin Arum sudah keguguran.
"Tinggallah di sini dan renungkan kesalahanmu," ucap Rayden menekan perkataannya. Arum bergegas bangkit dan lagi-lagi menahan lengan suaminya.
"Tidak Mas, aku tidak salah. Mas jangan terbakar cemburu," tangis Arum takut ditinggal sendirian di tempat asing itu. Serta tidak ada kebutuhan sehari-harinya untuk kesehatan kandungannya.
"Cemburu? Aku tidak sama sekali cemburu, aku kecewa padamu yang tidak pernah katakan pertemuanmu dengan Joan! Bisa saja tubuhmu ini sudah dicicipi olehnya, kan?"
"Tidak Mas, aku tidak pernah bersentuhan dengan Joan." Arum tidak tahu apalagi yang harus dia katakan. Rayden sudah terlalu dalam memakan hasutan Braga.
"Mas, aku-aku minta maaf, tolong jangan tinggalkan aku sendirian di sini," mohon Arum sesugukan.
"Ahh, tidak usah menyentuhku, aku jijik mendengarmu!" Rayden melangkah ingin keluar.
"Mas, aku-aku takut di sini, Mas bawa aku pulang,"
"Tidak, kau perlu dihukum!" bentak Rayden merebut ponsel Arum.
"Mas, jangan disita ponselku, nanti aku tidak tahu kabar Kamelia," ujar Arum ingin merebutnya, namun sontak ia membisu setelah Rayden lagi-lagi membentak.
"Adikmu sudah meninggal! Sekarang diamlah di sini!"
BRAAK! Pintu apartemen dikunci dari luar. Arum bergegas ingin membuka namun sia-sia ia sudah dikurung.
"Mas!" Arum meraung ketakutan. Ia jatuh terduduk di lantai.
"Mas Ray, kamu pasti bohong, Kamelia belum meninggal!" Tangis Arum pecah memenuhi isi apartemen yang kedap suara. Ia tidak berdaya berada sendirian di tempat asing itu. Apartemen yang sering Rayden pakai setelah habis dari Markasnya dan kini menjadi kurungan untuk gadis hamil itu.
"Mas, percayalah padaku. Aku tidak punya hubungan sama Joan, kenapa-kenapa begitu susah kau percaya, Mas."
Arum sesugukan sendirian. Ia tidak tahu bagaimana membangun kepercayaan di pernikahannya yang baru berusia tiga hari. Arum menunduk sedih Rayden yang terlalu emosian dan mudah sekali dihasut.
"Katanya kau mencintaiku, tapi kau tidak bisa percaya padaku,"
"Katanya kau akan menjagaku, tapi kau menelantarkan aku sendirian di sini,"
"Katanya kau tidak akan menyakitiku, tapi kau berhasil melukaiku,"
"Apa cinta itu hanya terucap dari mulutmu saja, Mas?"
Arum meluapkan tangisnya. Ia pun bergegas ke balkon, berharap ada jalan keluar. Seketika ia mual-mual melihat di bawah sana begitu curam. Gadis hamil cantik itu jatuh bersimpuh, memeluk tubuhnya yang menggigil ketakutan.
"Baby, maafkan Daddy ya, kamu baik-baik di dalam sana ya sayang," lirih Arum mengelus perutnya dan sedikit sesugukan. Arum pun bangkit dan menatap apartemen besar Rayden. Saking besarnya, terlihat mencekam.
Glug! Arum meneguk ludah, ia berjalan ke dapur, mencari sesuatu yang bisa menganjal perutnya. Karena tidak ada snack apapun, Arum mencari kamar Rayden.
Krieeet! Arum membuka kamar dengan was-was. Ia pun duduk di depan televisi, mencoba menonton untuk menghilangkan ketakutannya.
"Hikss, dasar laki-laki bia dab! laki-laki kejam!" tangis Arum mengusap air matanya menonton sinetron bak indosiar. Entah berapa tissu yang dia habiskan sekarang. Yang jelas, Arum terhibur walau sendirian. Namun percuma, gadis itu kepikiran adiknya.
"Kamelia pasti belum meninggal! Mas Rayden cuma menakutiku saja!"
Arum berdiri, berjalan ke arah spekear di sebelah televisi. Gadis itu memutar musik K-POP kesukaannya dengan keras-keras. Memecahkan keheningan apartemen itu. Arum mana mungkin selemah itu meratap sendirian, ia mencoba sebisa mungkin untuk tenang dan tidak stress. Namun sekuat apapun, dia tetap pingsan di dalam apartemen itu sendirian.
.......
__ADS_1
.......
...Tinggalkan Like coment and voteđź’•...