
Trenteng... teng ...teng ...trenteeeeng....
"Sahuur! Sahuur, Om!" panggil Amel sambil memegang kaleng blubend dan memukulnya pakai sendok berulang kali di depan pintu kamar Rayden dan Arum.
Trentengteng... teng... teng...
Saahuuur! Sahuur Woii, Om! Sahur dong Om!
Sekali lagi gadis kecil itu melanjutkan aksinya. Tak lupa berjoget-joget di depan pintu.
Yang di dalam kamar mulai terganggu. Rayden yang sedang terlentang, sontak membuka mata. Tatapannya sangat tajam, dan perlahan di wajahnya terlihat kerutan kekesalan.
"Aghhh, kenapa lagi tuh bocah?! Apa dia tidak sadar aku lagi tidur? Terus apa lagi itu sahur?" ucap Rayden ngoceh dan menutup kedua lubang telinganya pakai tissu.
"Sayang, bangun, bangun," lanjutnya mengguncang lengan Arum yang menikmati sensasi memeluk tubuh telan jang suaminya itu.
"Emhh, mas kenapa bangun?" tanya Arum mengusap mata. Berhasil dibangunkan.
"Coba kau dengar adikmu, ini masih jam setengah tiga subuh tapi sudah nakal. Apa tidak bisa kau keluar dan nasehati dia?" jawab Rayden menunjuk jam dinding lalu pintu kamar.
Arum beranjak duduk, menggaruk rambutnya yang berantakan lalu menguap kecil. "Hah, memangnya jam berapa sekarang?" tanya Arum belum sadar sepenuhnya, sehingga kepalanya jatuh lagi ke bantal. Rayden memutar bola mata melihat istrinya.
"Sayang, aku bilang ini sudah jam tiga subuh, kamu bangun dong sekarang terus suruh adikmu tidur lagi, jangan bikin aku darah tinggi," cerocos Rayden.
"Hah, jam tiga? Yakin ini jam tiga, mas?" Arum kembali duduk dan mengikat rambutnya, ia pun sadar sepenuhnya dengan mata terbuka lebar-lebar melihat jam dinding.
"Aaahhh, kenapa mas baru bangunin aku sekarang?!" Arum turun dari ranjang, memakai sandal dan buru-buru ingin keluar tapi Rayden dengan gesit menahan pinggul langsingnya.
"Sayang, kenapa kamu panik gini?" tanya Rayden heran.
"Hadeh, ini puasa pertama kita mas. Mas lupa hari ini masuk bulan suci ramadhan, bulan yang diwajibkan kita untuk berpuasa," jawab Arum menjelaskan.
"Oh ya, aku lupa. Tapi kok adikmu nyanyi-nyanyi sahur? Emang itu ada gunanya?" tanya Rayden seperti anak polos.
Arum menahan tawanya, lalu ia mencubit gemas pipi suaminya.
"Mas, coba pikirkan, kenapa bisa bangun sekarang?" tanya Arum.
Rayden mulai berpikir. "Gara-gara adikmu teriak SAHURRR!" jawab Rayden.
"Nah tuh tau gunanya apa...." Arum tertawa.
"Ah jadi gitu, pantas saja." Rayden cengengesan.
"Ya sudah, aku mau keluar masak, mungkin mama sudah nunggu di dapur, jadi suruh Amel ke sini. Mas kalau mau lanjut tidur, silahkan. Nanti aku bangunin, Mas." Arum melepaskan tangan suaminya yang dari tadi memeluknya.
Rayden memonyongkan mulutnya.
__ADS_1
"Kenapa mukanya dibikin jelek gitu?" tanya Arum memakai bedak baby agar tidak terlihat kusut.
"Emang sahur harus dengan makan dan minum? Gak ada yang lain?" Rayden duduk sila di atas ranjang melihat Arum sibuk memakai handbody di dekatnya.
"Maksudnya?" Arum berbalik tak paham.
"Sayang, bisa gak sahurnya gak usah makan?"
"Hah? Mas ngomong apa sih? Kok gak jelas gitu?" tanya Arum menghampiri suaminya. Rayden pun memainkan dua ujung jarinya dan memohon seperti anak kecil. Arum tambah heran melihat suaminya tiba-tiba menggemaskan.
"Sayang, aku gak lapar."
"Terus?"
"Mas maunya sahur makan kamu,"
"Iiih, apaan sih! Mas jangan minta ngaco gitu deh!" Arum bergidik mendengar Rayden ingin menyantapnya.
"Tapi--"
"Sudah, Mas lebih baik baca ini terus bobo cantik lagi. Gak usah minta-minta yang aneh," ucap Arum mengecup kening Rayden dan memberikan buku panduan berpuasa bagi pemula.
"Aku ke dapur dulu ya mas bantu Mama, Mas jangan lupa jagain Ai dan Key."
Bam! Pintu kamar tertutup dari luar. Rayden cemberut istrinya tidak peka dengan permohonannya barusan. Pria itu ambruk ke ranjang dan membuka buku itu. Mulai membaca.
Menahan emosi?
"Jadi selama puasa, kita tidak boleh marah-marah?" Rayden merasa ini sulit untuknya menahan emosi. Apalagi akhir-akhir ini pikirannya sedikit kacau setelah hadir dipertemuan rapat besar dengan perusahaan keluarga Kinan dan dari rapat itu, ia dipertemukan dengan ayah mertuanya.
"Aku tidak sangka, pria tua sialan itu yang minta untuk menikah dengan Kinan rupanya suami Mama tiriku dan ayah kandung istriku, Kakek dari anak-anakku!"
Rayden mengoceh, emosi pada Tuan Marsel. Memang beberapa hari setelah sampai ke Indonesia, Rayden secara langsung datang menghadiri rapat itu dan sampai sekarang Rayden belum memberitahu soal Marsel pada Arum dan Barsha.
"Ahhhh... bagusnya pria siinting itu diapakan ya?" desah Rayden kembali terlentang dan perlahan memejamkan mata.
"Bagusnya sih pengen ngebom perusahaannya, tapi ini bulan ramadhan, aku tidak boleh gegabah dan bodoh melakukan ini," batin Rayden agak kusut tidak karuan. Hatinya bergemuruh ingin memulai perang pada ayah mertuanya itu.
Tidak lama kemudian, seseorang membisikkan ke telinganya.
"Mas, sampai kapan ngorok gini? Ayo bangun, aku udah nyiapin rendang ayam kesukaan, Mas," bisik Arum yang masuk ke kamar dan langsung membangunkan suami tercinta.
"Ahhh, masih ngantuk, sayang." Rayden tidur miring, membelakangi Arum.
"Iiih, kalau mas gak mau bangun, aku gak mau lagi tidur bareng mas," ucap Arum ngancam.
"Yah janganlah, masa hal sepele gini kamu mau pisah ranjang?" Rayden berbalik melihatnya.
__ADS_1
"Kalau begitu ayo bangun! Ini sudah mau jam setengah empat." Arum berkacak pinggang.
"Sini gendong dulu," rengek Rayden mengulurkan dua tangannya.
"Jangan mulai deh, mas. Kita sudah gak ada waktu banyak nih," cetus Arum tidak sangka Rayden masih saja merengek.
"Kalau gak mau, sini cium dulu," mohon Rayden menutup mata dan memonyongkan mulutnya. Arum mendelik melihat tingkah suaminya. Dia pun maju, mencondongkan tubuhnya ke depan lalu meluncurkan satu kecupan.
Rayden membuka mata, terkejut istrinya nurut.
"Sudah aku cium, sekarang bisa berdiri, kan?" tanya Arum.
Rayden menggelengkan kepala.
"Aduh, apa lagi?" tanya Arum mulai kesal.
"Badanku pegal-pegal nih sayang, kamu bisa gak peluk aku dulu?" pinta Rayden dengan mata berkaca-kaca.
Arum memutar bola mata malas. "Ya Allah, kenapa lama-lama dia semakin manja? Bukannya aku yang harusnya manja di sini?" batin Arum lalu mengambil sapu di dekat meja.
"Oh mau dipeluk aku atau sapu ini, mas?" tanya Arum tersenyum sangat manis.
"Hahaha... gak jadi deh, sini kita keluar makan." Rayden menaruh sapu ijuk itu lalu menarik Arum keluar. Dia tidak mau lagi cari gara-gara subuh ini.
Sekarang, di meja makan. Terlihat satu keluarga itu makan dengan tenang. Suasana yang sangat indah dapat merasakan kebersamaan menyambut sahur dan puasa pertama. Tidak seperti di rumah Kinan. Terlihat Papa Kinan sangat marah terhadap Wira. Dalam hatinya, dia merasa tertipu dengan sifat menantunya selama ini.
"Papa tidak habis pikir selama ini Wira menyakitimu di belakang Papa. Bahkan dia pernah menawarkan dirimu pada Tuan Marsel! Kenapa kau tidak mengadukan ini pada Papa, Kinan?" tanya Papa Kinan menatap merah padam ke putrinya.
Kinan di kursinya hanya tertunduk ketakutan. Bagaimana pun cara dia sembunyikan masalah rumah tangganya, Papanya kini sudah tahu semuanya.
"Maaf, Kinan hanya tidak ingin Papa menyakiti Mas Wira." Kinan menatap ayahnya kemudian memohon pada ayahnya.
"Papa, ini semua salah Kinan. Kinan tidak tahu cara melayani Wira dengan baik, kuharap Papa tidak dendam-"
Braak! Papa Kinan menggebrak meja, menyoroti putrinya dengan tatapan tajam. "Dendam? Kamu mau Papa biarkan dia sudah menyakitimu begini? Dia jelas-jelas seenaknya melukaimu dan kamu masih mengemis untuk tidak balas dendam? Papa mana mungkin membiarkan satu-satunya anak Papa dipermainkan! Kamu jangan terlalu bodoh, Nak! Jangan kau dalami cinta buta mu, itu!" marah Papa Kinan berdiri.
"Mulai sekarang, jika Papa melihatnya di luar sana, Papa akan langsung menghabisinya. Tapi sebelum itu, Papa ingin kalian bercerai di pengadilan!"
Kinan terhenyak, sangat terkejut. "Menghabisi? Papa ingin membunuh Wira?" Kinan berdiri, menahan lengan Papanya yang ingin naik ke lantai atas. Pembantu di sana langsung saja pergi, takut melihat perdebatan ini.
"Ya, lelaki itu tidak sepatutnya hidup! Dia hanya bisa menyakiti wanita di luar sana!" jelas Papa Kinan mengeluarkan goloknya.
"Tidak! Papa jangan lakukan itu padanya!" tahan Kinan, tapi Papa Kinan menepis tangan putrinya lalu naik ke atas. Kinan memegang dadanya, perasaannya tidak karuan lagi memikirkan Wira. Wanita bumil itu pun mengejar Papanya, tapi percuma, kamar Papanya terkunci. Kinan memohon di depan pintu namun sekali lagi percuma. Kinan pun masuk ke dalam kamar, tidak tahu lagi bagaimana meredakan amarah Papanya.
"A-aku harus kasih tahu sekretaris mas Wira, dia harus mencari mas Wira, jangan sampai Papa menemukan mas Wira."
Kinan menelpon sekretaris Wira. Namun panggilan tidak tersambung. Kinan menangis tersedu-sedu, cemas memikirkan ayah dari anaknya itu. Tentu saja sekretaris Wira baru-baru ini terbang ke London setelah mendapat panggilan.
__ADS_1
Terlihat sekarang, sekretaris itu sedang bicara empat mata dengan Dokter di dalam satu ruangan rumah sakit. Membicarakan pria yang tengah terbaring lemah di atas brankar dengan alat medis di seluruh tubuhnya. Pria yang memiliki rambut ikal itu sudah tidak berdaya, hingga tak ada lagi rambut ikal di kepalanya.
Sekretaris itu mendekati mantan Bosnya. Terlihat dia tidak tega melihat Wira semakin hari semakin sekarat. Apalagi Dokter baru saja mengatakan Wira mengalami kebutaan dan lumpuh akibat kanker yang semakin menjalar di sebagian syaraf-syarafnya.