Hasrat Tuan Muda

Hasrat Tuan Muda
Bab 30 Surat Cinta


__ADS_3

Kedua mata Nyonya Barsha terpana, tatapannya lurus pada satu objek di depannya. Arum, gadis itu luar biasa di matanya. Terlihat Arum dengan gaun Diamond Pearl itu berhasil mengubahnya menjadi bak putri Bangsawan. Perfect! Arum seakan-akan tidak dapat ia kenali. Gaun itu pas sekali untuk dipakai ke dalam pertemuan nanti.


Arum dengan jantung deg-degan menghampiri Nyonya Barsha. Gadis itu hampir seratus persen berbeda. Wanita itu bangkit dan memperhatikan posture tubuh Arum dari bawah ke atas. Nampak Arum yang memiliki TB 175 CM itu cocok sekali bersanding dengan Rayden yang tingginya 190 CM.


"You beautiful, Arum."


Mendengar pujian singkat dari wanita itu, Arum cuma memberi senyuman manisnya. Walau pun ia sedang memakai lensa mata berwarna biru, dan wig rambut palsu, ia masih memiliki ciri khasnya, lesung pipi dan senyumnya itu sangat mempesona.


"Tante, aku rasa ini--"


"Kau tidak suka gaunnya?"


Arum secepatnya menggelengkan kepala. "Aku sangat suka, tapi ini terlalu berlebihan untuk dipakai," jawab Arum tidak enak dengan harga gaun itu nanti. Dalam hatinya, ia lebih menyukai memakai Kebaya yang simple dan nyaman.


Nyonya Barsha memegang sebelah tangan Arum, lalu satunya menyikap rambut Arum ke belakang kemudian tersenyum padanya. "Arum, kau akan menjadi menantu Tuan Edward, memang seharusnya kau memakai gaun berlian ini, agar Tuan Edward tidak memandangmu sebelah mata, aku yakin dia akan menerima mu langsung. Putri Mafia harus tampil elegan dan menawan, tapi kau masih kurang satu hal," tutur Nyonya Barsha.


"Apa itu, Tante?"


"Sikap."


Arum meneguk ludah, cemas apabila salah bersikap baik di depan King nanti. Bagaikan ia ingin berhadapan dengan Presiden Negara.


"Tapi, tidak usah risau. Kau akan kuajari nanti," ucap Nyonya Barsha menepuk punggung tangan Arum lalu ia berjalan sendirian ke arah functionary store. Arum pun dituntun kembali untuk melepaskan gaun itu yang telah dipesan oleh Nyonya Barsha. 'It's okay, aku harus tunjukan pada ayah mertua, kalau aku sangatlah good attitude! Aku harus terlihat maximal di pertemuan itu.' Arum menghirup nafas panjang lalu membuangnya. Ia bertekad mempelajari tatakrama Putri Mafia.


Setelah memesan gaun itu, Arum duduk di sebelah wanita itu di dalam mobil. Suasana cukup menegangkan, tetapi seketika ia terkejut dengan angka yang tertera di price gaun itu. 'What? Tujuh ribu dollar?' batinnya menoleh ke Nyonya Barsha yang nampak duduk dengan tenang.


'Gila, ini harganya setara dengan jumlah biaya pengobatan Kamelia! Waah parah, sultan benar-benar bebas bisa mengeluarkan duit sebanyak ini. Kalau ini dijual,


aku bisa pakai untuk modal usaha! Ah dan aku bisa balikin uang--'


"Ehem, jangan sesekali kau berpikir untuk menjualnya, Arum. Uang yang kita pakai hari ini milik Rayden, kalau sampai kau jual, kau akan tahu akibatnya."


Deg! Arum mengangguk, pikirannya dibaca oleh Nyonya Barsha. Memang sangat jelas mata Arum tergiur dengan jumlah sebanyak itu. Arum pun cengengesan. Akan tetapi, Nyonya Barsha langsung menelungkup tangannya ke dua pipi Arum membuat gadis itu diam.


"Lain kali, jangan mukanya digituin, harus tersenyum dengan baik dan manis!"

__ADS_1


"Ba-baik, Tante." Arum mengangguk paham. Ia kini gelisah, latihan apa yang akan dia terima dari Wanita itu. Mobil pun melaju pulang ke Istana Barsha.


Sedangkan di sisi lain, Rayden telah sampai ke Kastil King DAM, di mana setiap titik Kastil dijaga oleh anggota bersenjata. Pria itu pun disambut suka cita oleh Tuan Charleus. Keduanya pun saling mengobrol soal tujuan Rayden bertamu. Terlihat Kastil itu sepi, kecuali di bagian barat, di mana para waitress saling bergosip dengan kedatangan Rayden.


"Sungguh, kau yakin ingin menikah?"


"Yes, Tuan Charleus. Tapi--" Rayden memutuskan jawabannya.


"Ada apa?"


"Calon pengantinku bukanlah dari sini," jawab Rayden menunjukkan foto Arum pada pria paruh baya itu. Tuan Charleus diam seketika melihatnya, ia pun menyentuh dagunya.


"Tuan Charleus, anda tahu sekali aku tidak berambisi untuk menjadi King berikutnya, dan aku tahu anda juga tidak menyukai kekuasaan ayahku saat ini. Sekarang aku ingin kerjasama pada anda," ucap Rayden menyimpan ponselnya lagi.


"Kau benar, tapi apa tidak masalah kau menikahinya?" tanya Tuan Charleus ragu.


"Don't worry, aku menikahinya karena cinta, dan dia bukan sembarangan gadis biasa. Aku yakin, setelah menikah dengannya, akan ada perubahan nanti."


Tuan Charleus pun mangut-mangut. Ia sedang berpikir.


"Itu sangat mudah, hanya saja anak-anak ku mungkin tidak ada yang mau menerimanya dan juga pasti akan menentang ini," jawab Tuan Charleus menatap cemas Rayden.


"Bukan kah anda masih punya putri? Mungkin anda bisa bujuk dia jadikan Arum sebagai anaknya."


Tuan Charleus kembali berpikir. 'Arum? Jadi ini nama gadis itu? Hem, rasanya nama ini sedikit tidak asing bagiku.' Pria tua itu pun kembali menimbang-nimbang rencana Rayden.


Melihat pria tua itu berpikir dulu, Rayden iseng-iseng mengamati Kastil Charleus. Sontak, kedua matanya menangkap sekilas seorang wanita melewati dua pilar. Wanita itu menuju ke arah samping Kastil.


"Bagaimana, Tuan Charleus?" tanya Rayden ingin segera tahu.


"Aku akan mencoba membujuknya, tapi bila ia setuju, apa yang akan kau berikan pada kami?"


"Anda tenang saja, aku akan memenuhi keinginan anda yang pernah tertolak."


Tuan Charleus tersenyum tipis, ia memang perlu tenaga Rayden untuk membasmi rebellion di kawasannya. Setelah menandatangani kesepakatan, Rayden pun pamit keluar.

__ADS_1


Sekilas lagi, saat ingin masuk ke dalam mobil, ia kembali melihat wanita itu berdiri tidak jauh dari pohon camara. Wanita itu berhasil menarik perhatian Rayden, karena pakaian wanita itu memakai kebaya.


Rayden tersentak kaget ditatap oleh wanita itu, ia pun sadar dia adalah Putri bungsu Tuan Charleus, Lady Arleya. Rayden segera masuk ke dalam mobil. Ia tidak suka menyapanya, karena wanita itu adalah Queen Darkness Arlomond Mafia. Wanita dingin, datar, dan jahat pada Lelaki. Walau begitu, wanita itu satu-satunya harapan Rayden dapat menerima Arum nanti.


Rayden pergi meninggalkan Kastil, ia tidak pulang ke Istana dulu, ia harus ke markasnya untuk menyapa para sahabat militernya. 'Setelah pulang nanti, sepertinya aku harus membeli sesuatu untuknya.' Rayden tersenyum kecil memikirkan kegembiraan Arum.


.


.


Pukul 17. 12 sore. Arum berjalan sendirian ke arah pohon mangga. Gadis itu membuka semua penyamarannya yang dipakai tadi. Ia berdiri di bawah rindangan pohon mangga itu. Raut wajahnya murung dan lusuh, ia sedang menunggu seseorang. Angin sore seperti biasa menghembus kulit mulusnya. Sesekali ia mendongak ke atas melihat buah mangga, lalu memejamkan mata dan menghirup udara segara. Aroma mangga matang kembali menggodanya.


"Hufttt..." Arum menghembus nafas berat, sedikit capek latihan di ruang baca Nyonya Barsha. Padahal ia ingin melempar batu lagi, tapi tenaganya hampir habis dikuras tadi. Seketika, Arum berlari di balik tembok.


"Sepertinya Tuan Joan tidak ada hari ini, di dalam Istana juga tidak ada. Kemana ya pria baik itu?" gumam Arum memperhatikan danau yang tak jauh di depannya.


"Huftt... tinggal di sini rasanya bosan juga. Aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Benar kata orang, tinggal di negara sendiri lebih nyaman dan damai. Saya jadi kangen sama Kamelia dan Bu RT."


Arum mendekati batang pohon mangga, ia menyandarkan punggungnya, dan berteduh di bawah pohon. Tiba-tiba, ia terkejut setelah ada kertas di bawahnya. Arum pun memungut lalu membukanya. Kedua manik hitamnya membulat.


"Hah? Jadi tadi siang, Tuan Joan sudah berangkat ke LN untuk berobat?" Arum melanjutkan tulisan Joan.


____


"Arum, mungkin saya terlalu buru-buru, tapi jujur kau membuat saya jatuh hati hanya dalam one day.


Seandainya kau mau menunggu saya kembali, mau kah kau menikah dengan saya nanti? Hem... memang kita baru kenal sehari, tapi bagi saya, pertemuan kita kemarin itu seperti satu tahun lamanya. I like you so much, Arum. Biarkan saya menjadikan mu, my wife. Arum."


Joan Edrian Lordcan.


(。’▽’。)♡


____


Arum menyentuh dadanya, ia meremas surat cinta Joan itu. Ia mengingatkannya pada Wira yang mengungkap perasaannya juga.

__ADS_1


__ADS_2