
Dua minggu berlalu. Di pukul 12.23 siang, terik matahari terasa menyengat, membuat Arum yang sedang latihan sudah kepanasan dan gerah di dalam ruang kaca milik Barsha. Keringatnya sudah menetes dari tadi membasahi keningnya.
"Tante, sampai kapan aku berdiri terus di sini?" tanya Arum sudah capek menahan tumpukan buku di kedua telapak tangannya yang direntangkan dan di atas kepalanya.
"Sampai kamu berhasil menjaga keseimbangan mu itu," jawab Selir Barsha duduk di sofa sambil menyeduh tehnya.
Arum bete sudah tidak tahan berdiri selama dua jam. 'Ini namanya penindasan, aku sudah capek berdiri menahan tumpukan buku sebanyak ini. Apalagi aku belum makan, apa jangan-jangan Tante sengaja?' Arum mendengus kesal lalu memejamkan mata. Selir Barsha tersenyum kecut melihat ketegaran Arum.
Tok tok tok
"Permisi, Nyonya." Asisten Braga masuk tanpa melirik Arum.
"Braga, mengapa kamu datang kemari? Apa ada surat dari King atau kota Billns?" Selir Barsha bangkit meletakkan tehnya ke atas meja. Arum masih memejamkan mata sambil diam-diam menguping.
"Yang mulai Queen Mariam datang kemari, dan sekarang dia berada di ruang baca anda, Nyonya."
Deeg! 'Queen Mariam? Dia ada di Istana ini?' batin Arum membuka sempurna matanya dan melihat Asisten Braga berhadapan dengan Selir Barsha. 'Ngapain tuh orang datang kemari?' tambahnya berpikir.
Sibuk berpikir, Arum pun tersentak di ruang kaca hanya dirinya sendiri.
"Lah, aku malah ditinggal di sini, apa aku harus begini terus?" cetus Arum sesal.
"Auh ah, mendingan aku keluar lihat bagaimana rupa sang Queen."
Arum menjatuhkan semua bukunya. "Aiss, bodoh! Kenapa malah berantakan!" Ia pun memungut buku-buku itu, meletakkannya di atas meja. Arum bergegas keluar menyusul Selir Barsha dan Asisten Braga.
Suiiit!
Arum mengintip dari celah pintu dan memandangi dua wanita sedang duduk saling berhadapan. Keduanya mengobrol sangat serius.
"Tumben sekali kamu datang ke Istana tanpa mengabari kami duluan. Kamu pasti datang hanya untuk mencari masalah, kan?" tebak Selir Barsha curiga.
Queen Mariam tersenyum kesal. "Cih, kalau saja bukan perintah King Ed, aku tidak sudi dan capek-capek datang kemari melihat wanita tua dan tidak berguna sepertimu," cibir Queen Mariam berkata sombong.
"Tajam sekali lidahnya, sampai-sampai ia menghina Tante Barsha. Padahal Tante ingin membantu tapi King yang melarangnya. Dasar siluman berhati busuk, aku jadi greget pengen lihat bagaimana wajah liciknya itu." Arum bergumam menatap punggung Queen Mariam.
Ekspresi Selir Barsha seperti biasa, datar dan dingin menanggapi hinaan Ratu Mariam itu. Ia pun menoleh ke Asisten Braga kemudian menatap madunya itu dengan senyuman miring.
"Braga, sepertinya barusan aku mendengar anjing menggonggong, apa aku salah dengar itu atau memang di sini ada anjing yang tidak tahu diri?"
Glug! Arum tersentak mendengar balasan Selir Barsha. 'Aws parah banget, langsung di smackdown tuh.' Arum tertawa melihat tangan Queen Mariam sudah mengepal. Tandanya ia terpancing amarah.
"Barsha! Beraninya kau menganggap ku anjing! Apa kamu lupa, aku ini Queen Mafia! Kamu ingin aku melaporkan ini ke King Ed, ha?!"
"Braga, dia sangat aneh, aku tidak pernah menyebut namanya, kenapa aku malah dituduh sudah menghina?" lirih Selir Barsha mengusap pinggir matanya.
"Kepparat, kamu malah berakting lagi!" Queen Mariam tambah emosi melihatnya lemah tidak berdaya. Arum menahan tawa dengan sikap Selir Barsha. 'Aku diajari untuk berattitude, tapi Tante Barsha sendiri yang malah cari masalah, haha... aku jadi geli sendiri melihat aktingnya.' Arum kembali menguping.
Sebelum keduanya berdebat saling cekcok, Asisten Braga pun segera angkat suara. "Yang mulia, apa gerangan anda datang kemari?" Langsung saja, Queen Mariam melotot.
"Katakan pada majikan tuamu ini, King Ed sudah tidak sabar ingin segera tahu siapa gadis yang akan Rayden pinang,"
"Terus?" sahut Selir Barsha.
"Kalau hari ini masih belum ada calonnya, King dan aku akan pergi ke wilayah sebelah untuk membicarakan pernikahan," ucap Queen Mariam tersenyum licik.
"Bukan kah masih ada seminggu? Mengapa King mendesak hari ini juga?" tanya Tante Barsha sinis.
"Haha... kamu tanyakan saja pada King," tawanya mencemoh.
"Oh jangan-jangan selama dua minggu ini Rayden belum mendapatkan pasangan, dan ia malah enak-enak menyiapkan diri untuk kabur kan, Selir Barsha?" tambahnya lancang menunjuk.
"Tidak usah kamu asal menebak, Rayden sudah mendapatkan calon Istri," ucap Selir Barsha tenang. Queen Mariam cukup terkejut, ia pun tertawa kesal.
"Haha... itu mana mungkin, siapa lagi gadis yang mau dengannya. Semua gadis tahu sekarang kalau Rayden hanya pria pembawa sial. Tidak ada satupun gadis yang ingin menjadi sial menikah dengan pria datar dan dingin seperti Rayden."
Selir Barsha memicingkan mata mendengar tawa pecah Queen Mariam di ruang bacanya. Wanita yang pernah suka dengan Putra Mahkota itu sangat-sangat keterlaluan menghina Rayden. Arum pun juga greget ingin menjambak rambutnya.
'Sial? Sejak kapan Tuan Ray pembawa sial? Aku malah beruntung bisa dekat dengan pria baik sepertinya, walau dia sedikit pemarah juga. Tapi jiwanya ada tanggung jawab.'
Seketika, Arum melompat kaget seseorang menyahut di sebelahnya.
"Putriku yang akan Rayden pinang!"
'Di-dia siapa? Auranya sangat kuat, menakutkan, dan tegas sekali.' Arum menggigil ketakutan dilewati olehnya. Wanita itu berhenti lalu menengok sedikit ke arah Arum.
__ADS_1
...[Ilustrasi Lady Arleya]...
Tatapannya melirik Arum. Gadis itu terdiam melihat sekilas wajah Arleya yang suram. Gaunnya yang gelamor, rambut hitam pekat dan bola mata hitam itu hampir membuatnya kena serangan jantung.
'Dia seperti Ratu kegelapan!'
Arum pun membungkuk setengah badan. 'Ma-maaf, Nyonya.' Ia pun bergegas pergi meninggalkan Arleya.
"Cih, kamu rupanya datang juga, Lady Arleya." Queen Mariam berdecih, ia membenci Queen Mafia yang satu itu, ia sudah lama ingin menggulingkan kekuasaan organisasi gelap Lady Arleya. Hanya saja, hasutannya pada King Ed tidak cukup menjatuhkan tahta Arleya.
Dengan terhormat, Arleya duduk di sebelah Selir Barsha lalu menatap datar Queen Mariam. Asisten Braga gemetar berada di antara tiga wanita yang berpengaruh besar ini.
"Tentu saja aku datang untuk menyapa calon besanku," ucap Arleya memegang tangan Selir Mafia.
"Besan? Memangnya kamu punya putri?" tanya Queen Mariam menatap tajam.
Sraaak!
Queen Mariam membola dilemparkan kertas-kertas ke wajahnya. Salah satu kertas ia tangkap dan remas kuat-kuat.
"Lady Arleya! Di mana rasa hormatmu padaku! Aku di sini adalah Queen Mafia, kelian berdua jangan semena-mena padaku. Kedudukanku jauh lebih tinggi dari kalian!" kelakar Queen Mariam menunjuk geram Arleya.
"Oh sorry, tanganku sedang sakit jadi tidak sengaja melemparnya padamu. Apa kamu terluka?" ucap Arleya datar. Ratu Mariam mendesis kesal karena Arleya tidak minta maaf. Suasana di dalam ruang baca mulai hitam pekat, aura gelap menyelimuti ketiganya. Asisten Braga mundur perlahan sudah tidak kuat menerima tekanan itu.
"Sudah cukup, kita kemari hanya untuk bicara bukan bertengkar! Sekarang lihatlah isi kertas itu."
Dengan kesal pun, Ratu Mariam membacanya. Kedua matanya terbuka lebar-lebar.
'Tidak mungkin,' batin Ratu Mariam menatap Arleya.
"Ini tidak mungkin! Kamu tidak pernah menikah, mana mungkin kamu punya anak!" ujarnya tidak percaya. Selir Barsha pun menjelaskan seperti rencananya dengan Arleya seminggu lalu.
"Kamu mana tahu fakta soal Arleya, ia 20 tahun lalu sudah menikah. Hanya saja, pernikahannya cuma bertahan 2 tahun, padahal Arleya tengah mengandung anak setelah suaminya meninggal. Apa kamu sungguh tidak pernah tahu pernikahannya, Queen Mariam?" jelas Selir Barsha tersenyum miring.
"Selir Barsha, dia mana mungkin tahu kepedihanku dan dia kan pada saat itu tengah berusaha menggoda King Edward. Aku turut prihatin Veldemort mendapatkan Queen Mafia egois sepertinya. Seharusnya kamulah yang berada di posisi Ratu saat ini, Selir Barsha," sambung Arleya mengelus-elus tangan Selir Barsha.
"Anda tidak usah sedih Arleya, setelah Rayden dan Putrimu menikah, Queen berikutnya adalah Putrimu."
Braaak! Queen Mariam marah hingga menggeprak meja. Ia melotot penuh kemarahan.
Queen Mariam keluar dengan kekesalan meremas kertas biodata palsu Arum di tangannya. Keduanya terlonjat kaget pintu ruang baca ditutup keras. Arleya mendecak tidak suka dengan tingkah lancang Ratu Mariam itu. Sedangkan Selir Barsha menghela nafas lega. Sementara Arum berjalan di lorong-lorong Istana, ia masih ketakutan.
'Menakutkan sekali, aku hampir mau pipis ditatap olehnya.'
Tiba-tiba saja, seseorang menarik pinggulnya dari samping.
'Acchh!'
"Tuan Ray?"
"Shht, jangan berisik, Baby," lirih Rayden bersembunyi di balik pilar ketika Queen Mariam hampir saja melihat Arum.
"Sialan, mereka berdua pasti bersekongkol! Dasar dua wanita siluman, kalian sudah keterlaluan padaku!" celotehnya tidak sadar melewati Arum dan Rayden. Ketika wanita itu pergi, Rayden pun menarik Arum masuk ke dalam ruangan.
Kini keduanya saling berhadapan. Arum menatap penuh wajah Rayden lalu turun melihat kalungnya masih terpasang di leher pria itu. Sontak, Rayden memeluknya dengan erat. Pelukan itu sangat ia rindukan. Arum pun balas memeluknya sambil tersenyum bahagia. Desir kerinduan keduanya pecah juga sore ini.
"Tu-tuan, aku tidak bisa bernafas-"
"Ah, i am sorry, Baby. Kamu baik-baik saja kan? Baby kita di dalam sini sehat kan?" tanya Rayden khawatir.
"Pufft, kami berdua sehat kok, tapi-"
"Tapi apa, Baby? Apa seseorang melukaimu di sini?"
"Tidak ada kok, semua di sini baik banget. Terutama Tante Barsha,"
"Terus, apa yang tapi?"
"Itu, bagaimana kabarmu saat di sana? Kamu tidak terluka, kan? Kamu tidak membunuh orang, kan? Kamu tidak selingkuh, kan? Kamu--"
"Hahaha...." Rayden tertawa terbahak-bahak diintrogasi.
"Kok ketawa sih?"
__ADS_1
"Duh, kita belum sah menikah tapi gadisku sudah seperti emak-emak kompleks, hahaha...." tawa Rayden mencubit gemas hidung Arum.
"Ihh aku serius tau!" cetus Arum memonyongkan mulutnya. Melihatnya kesal, Rayden pun menyambar bibir Arum, benda lembut itu sudah lama tidak ia cium.
"Percayalah, aku hanya mencintaimu, Baby."
"Iiih, aku tidak minta cium! Dasar Papa Goblin!" ledek Arum. Ia kesal karena Rayden bagaikan hantu, tiba-tiba nongol begitu saja.
"Dari pada kamu, Mama kelinci, wleeek!" balas Rayden meledek sambil menggelitik. "Hahahaha...."
Keduanya kembali asik berduaan di dalam ruangan itu selama dua jam. Sontak, pintu diketuk oleh seseorang. Keduanya pun panik karena Arum tidak pakai penyamaran.
"Tuan, jangan-jangan itu--"
"Cepat sembunyi!"
"Sembunyi di mana?"
"Nih masuk di kantongku, Baby!"
"Iih, itu bukan kantong Doraemon!"
"Ya sudah, masuk ke dalam kolom meja, cepat!"
Arum pun ngumpet di bawah meja, seketika dua matanya melotot karena Rayden duduk di kursi depannya. Otomatis matanya berpapasan dengan titik phyton Rayden.
Braak!
"Rayden!"
"Mama?" ucap Rayden rupanya itu Selir Barsha bersama Arleya yang masuk.
"Rayden, King Ed--"
"Ayahku kenapa, Ma?" Rayden bangkit dari kursinya.
"Dia setuju menikahkanmu dengan Arum, kalian tiga hari lagi akan melangsungkan pernikahan resmi," jawab Selir Barsha gembira, tidak seperti Arleya yang datar.
"Sungguh?" Rayden terkejut, begitupun Arum.
"Ya, sekarang Mama sedang cari Arum. Tapi dia tiba-tiba hilang, apa kamu melihatnya?" tanya Selir Barsha ingin memperlihatkan Arum pada Arleya.
Seketika saja, Arum di bawah meja berdiri. Namun bodohnya, kepalanya tidak sengaja berbenturan dengan meja.
Tuk! Adduuh sakit! Arum meringis kesakitan. Ledakan benturan itu mengagetkan Selir Barsha dan Arleya.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Rayden menarik Arum keluar.
"Hikss... kepalaku sakit," rintih Arum kepalanya benjol. Tatapan Selir Barsha pun menyala-nyala, ia agak kesal melihat keduanya lagi dan lagi berduaan di belakangnya. Tidak seperti Arleya terdiam melihat keduanya memiliki cinta yang kuat.
"Apa kamu, Arum?"
Arum pun menoleh, kali ini ia yang terdiam.
"Baby, dia Arleya, Ibu angkatmu nanti," ucap Rayden merangkul Arum.
"Ayolah kamu jawab dia, Baby." Rayden kembali bicara.
"Ya, a-a-aku Arum Marchelya. Senang bertemu anda, Nyonya," ucap Arum gugup.
"Siapa nama Ibumu, Nak?" tanya Lady Arleya mendekat.
"Aku tidak pernah lihat wajah Ibuku dan tahu nama Ibu kandungku, ta-tapi aku ingat nama Ibu tiriku. Beliau, Sekar Niwangsi," jawab Arum tambah gugup.
"Nama ayahmu, apa kamu ingat?" tanya Lady Arleya berhenti tepat di hadapan Arum.
"A-ayahku Marselino Putra."
Deg! Selir Barsha terkejut mendengar nama itu.
.......
.......
.......
__ADS_1
...TINGGALKAN LIKE DAN KOMEN WAHAI PEMBACA BUDIMAN DAN PEMBACA GELAP GULITA SUPAYA CERITA INI TETAP LANJUT....
.....TERIMA KASIH.....