Hasrat Tuan Muda

Hasrat Tuan Muda
Bab 25 Dia Istriku, Arum!


__ADS_3

Rayden masih menariknya menyusuri lorong-lorong. Tatapan mata pria itu serius melihat ke depan. Arum was-was melihat Rayden ingin membawanya ke sebuah ruangan di ujung sana.


"Berhenti, Tuan!" Arum menghentikan langkah kakinya. Ia sedikit ngos-ngosan ditarik secepat itu. Rayden pun ikut berhenti kemudian menatap Arum.


"Tu-tuan, sebenarnya kau ingin membawa ku ke mana?" tanya Arum ingin tahu.


Rayden pun menghembus nafasnya, lalu dengan tangan kanannya, ia menggenggam erat tangan Arum.


"Malam ini, aku harus memperjelaskan semua masalah ini kepada mu," ucap Rayden sambil mengepal tangan kirinya.


"Oh soal pernikahan itu, Tuan?"


"Benar, ini soal pernikahan dan juga identitasku," jawab Rayden menarik Arum lagi. Akan tetapi, Arum berhenti kembali.


"Tuan tidak usah terlalu memikirkannya, wanita yang bersama Tuan tadi sore itu pantas menjadi Istri anda. Dia wanita tegas dan pastinya mencintai anda," ucap Arum berhasil membuat Rayden terkejut.


"Kau mendukung ku menikah dengan wanita lain?" Kedua bahu Arum spontan ditepuk oleh Rayden.


"Tuan. Aku setuju saja kau menikah dengannya, apalagi dia putri panglima besar," jelas Arum tersenyum.


Rayden semakin terkejut, Arum sudah tahu identitasnya. 'Apa seorang pelayan telah memberitahunya?'


Melihat raut wajah Rayden yang kebingungan, Arum pun meraih kedua tangan pria itu lalu menggenggamnya dengan lembut.


"Aku sudah tahu siapa anda, Tuan. Aku tidak sangka dapat bertemu calon pewaris yang hebat sepertimu, terutama mengandung anak darimu,"


"Saya juga sudah tahu tujuan anda menginginkan anak, Tuan."


Arum menghembuskan nafas lalu melepaskan tangan Rayden. Gadis itu berjalan melewatinya lalu menuju ke sebuah ayunan di samping mansion. Ia duduk kemudian mulai menggoyangkan tali ayunannya sehingga angin terasa sejuk malam ini. Selanjutnya gadis cantik itu memandangi ke atas langit, di mana taburan gagasan bintang-bintang terlihat indah di sana.


"Saat pertama kali bertemu dengan mu, aku pikir kau ini pria kesepian yang sudah memiliki Istri, aku pikir kau menginginkan anak karena istrimu tidak dapat melahirkan anak. Rupanya dugaan ini salah, kau bukan pria seperti itu, kau adalah pria yang butuh kebebasan dan kedamaian. Dengan anak ini, kau berpikir bisa lepas dari paksaan pernikahan, tapi nyatanya itu pun sulit bagi mu. Saya jadi gelisah dengan nasib anak---"


'Acchhh...' Arum kaget kecepatan ayunan bertambah, hingga ia memutuskan ucapannya. Arum menengadah ke atas dan dengan kedua manik hitamnya itu, ia menatap manik biru langit Rayden. Pria itu berdiri di belakangnya dan dengan pelan-palan menggoyangkan tali ayunan.


"Tuan, aku hampir terjatuh!" celetuk Arum ingin berdiri tapi Rayden menekan kedua bahu Arum untuk tetap duduk.


"Duduk lah, biarkan aku menghiburmu malam ini." Rayden mengecup lembut puncak kepala Arum.


Pufftt...


Rayden mengerutkan keningnya mendengar tawa Arum itu.


"Apa yang lucu?" tanya Rayden heran. Arum kembali menengadah, tersenyum manis.


"Rasanya yang butuh hiburan itu, Tuan deh bukan saya," jawab Arum masih menengadah dan menatap wajah Rayden.


Sebentar saja, kedua bibir mereka bertemu. Terlihat Rayden membungkuk sedikit, ia lagi-lagi dengan cepat menciumnya. Arum cukup terbelalak dicium di alam bebas.


Arum pun menutup matanya, dan menghayati tindakan Rayden. Jika seandainya waktu dapat berhenti sebentar, mungkin perasaan aneh di hati Arum dapat diartikan malam ini.


Rayden pun melepaskan Arum. Ia tertawa kecil melihat Arum menunduk sedang menyembunyikan rona pipinya yang merah.


"Tu-tuan, kau nakal sekali! Aku hampir saja serangan jantung tahu!" cetus Arum menunjuk Rayden.

__ADS_1


Rayden menarik Arum berdiri kemudian gilirannya duduk di ayunan itu.


"Loh, kenapa Tuan yang duduk? Bukannya tadi aku yang harus duduk?" celoteh Arum protes karena tempatnya direbut.


"Katanya yang perlu dihiburkan aku? Jadi tidak masalah dong aku duduk sini," ucap Rayden menahan tawa.


"Ish, terus aku duduk di mana?" desis Arum memonyongkan mulutnya, melipat kedua tangan di dada. Tak lupa meremas bingkisan berisi sisa rujak yang masih ada.


Rayden sontak saja menarik pinggul Arum sehingga gadis itu jatuh ke pangkuannya. Tentu saja Arum terkesiap tiba-tiba Rayden malam ini memperlakukannya dengan lembut. Terlihat pria itu merangkul Arum dari belakang. Arum mulai berdebar-debar, ia khawatir Rayden ingin melakukan sesuatu padanya. Apalagi setelah ia duduk di pangkuannya, Rayden tidak bicara lagi. Pria itu terdiam malam ini.


"Mau rujak, Tuan?" Arum menawarkan rujaknya. Rayden mengangguk kecil.


"Kenapa tidak diambil?" sambung Arum bertanya.


"Suapin," jawab Rayden membuka sedikit mulutnya.


"Gak ah, Tuan kan punya tangan," tolak Arum diam-diam tertawa kecil.


"Oh jadi kau tidak mau nurut lagi?" Rayden seketika menyeringai lalu mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.


"Eh, Tuan mau ngapain?" Arum yang duduk di pangkuan Rayden mulai ketakutan, ia cemas Rayden mau melepaskan semua bajunya di alam bebas ini.


'Acchhhhh!' Arum memekik, ia terkejut dua tangan Rayden mendarat di kedua pinggangnya. Terutama tangan nakal itu menggelitik liar.


"Hahaha....hahaha....geli, Tuan!"


"Geli! Geli-geli, hahahah.....!"


"Kau buat aku marah, Baby."


Rayden semakin liar, tangannya bahkan masuk ke dalam dress Arum lalu menggelitik paha gadis itu. Arum semakin terguncang dan tertawa lepas.


"Hahaha....sorry-sorry, Tuan!" pekik Arum, kedua matanya sudah berkaca-kaca, capek mendapat serangan Rayden. Seketika, dua bola mata mereka membola bersama-sama ketika keseimbangan keduanya goyah. Alhasil, Rayden jatuh ke belakang dan langsung ditindih oleh Arum. Keduanya pun tertawa ria bersama di bawah gugusan bintang malam ini.


"Tuan, kau jahat sekali! Pinggangku hampir saja encok tau." Arum memukul manja dada Rayden. Gadis itu kesal dikerjain malam ini. Namun tidak untuk Rayden yang terdiam.


"Kau baik-baik saja kan, Tuan?" tanya Arum beranjak duduk, takut punggung Rayden sakit akibat terhantam ke tanah. Akan tetapi, bukan itu yang bikin Rayden terdiam. Pria itu memikirkan anak di dalam perut Arum.


"My Baby!"


'Accchhh!' Arum terkesiap, kepala Rayden masuk ke dalam bawah dressnya, gadis itu langsung terbaring di tanah. Nampaknya Rayden panik hingga pria itu mengintip lembah sarang phytonnya.


"Aach, Tuan mau ngapain?" Arum mendesah terasa geli saat bukit kecilnya di bawah sana disentuh Rayden.


"Ohh" Sekali lagi Arum mengeluarkan dessahannya, ia menggellinjang merasa Rayden sedang menurunkan CDnya.


"Tu-tuan, kalau anda menginginkan itu, lebih baik kita kembali ke kamar. Kalau di sini, aku takut ada orang yang melihat kita," mohon Arum menggigit bibir bawahnya. Arum mencoba tidak mendesah, tetapi jari Rayden itu sesekali mencolek sarangnya.


"Uhhh Tuan, hen-hentikan!" pekik Arum sudah tidak tahan.


"Puftt... hahahaha....." Arum terkejut melihat Rayden duduk dan tertawa terbahak-bahak di bawahnya.


"Tu-tuan, kenapa tertawa?" tanya Arum merah merona, malu ditertawai. Rayden pun menindih Arum, lalu pria yang berada di atas gadis itu memainkan rambut hitamnya.

__ADS_1


"Baby, kau sangat lucu malam ini,"


"Kenapa aku lucu?" tanya Arum pura-pura polos. Rayden mencubit pipi Arum lalu berbisik. Entah apa yang Rayden bisikkan, yang jelas sekarang Arum merona habis-habisan.


"Kyaaa... kau mesum, Tuan!" Arum menutup wajahnya. Dia pikir Rayden mau dipuaskan, tapi rupanya cuma mau ngecek lubang milik phytonnya.


"Hahaha...." tawa Rayden beranjak duduk dan melihat rujak Arum sudah kotor. Bumil belia itu ditarik ke dalam mansion. Terlihat Rayden membawa Arum ke ruang makan. Setelah tiba di depan pintu ruangan itu, Rayden sedikit mengintip ke dalam sana. Terlihat hanya pelayan yang masih sibuk menyiapkan makan malam.


"Tuan, lagi lihat apa?" tanya Arum disebelahnya.


"Lihat Nyonya Barsha. Baby." Jawab Rayden mengamati ruangan itu. Arum pun ikut mengintip. Keduanya seperti maling. Rayden masuk terlebih dahulu untuk mengecek, ia ingin memberi Arum makanan. Namun setelah ia masuk, tiba-tiba saja seseorang menepuk bahu Arum dari belakang.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya orang itu. Arum tanpa melihat, langsung saja menjawabnya.


"Lihat Nyonya Barsha, Bu."


"Ada apa dengan orang itu?" Ia bertanya lagi. Arum pun berbalik, rupanya itu seorang wanita paruh baya yang lumayan cantik.


"Aku juga tidak tahu, tapi Tuan Rayden sepertinya takut sama Nyonya Barsha," jawab Arum kembali mengintip dan memperhatikan Rayden tengah berdiri di dekat meja makan.


"Kau kenal Rayden?" tanya orang itu lagi. Arum pun kembali menatapnya lalu dengan ceplas-ceplosnya menjawab jujur.


"Ya Bu, Tuan Rayden itu ayah dari anak yang sedang aku kandung ini," jawab Arum mengelus perutnya membuat orang itu sangat terkejut. Arum pikir itu kepala pelayan.


"Bibi, ke sini mau ngapain ya?" tanya Arum belum sadar juga kalau sebenarnya itu adalah Nyonya Barsha. Terlihat raut wajah Nyonya Barsha sudah merah padam. Wanita itu mengepal tangannya.


"Kau sedang hamil anak dia?" Tunjuk Nyonya Barsha ke Rayden yang kini pria itu bertatapan juga dengannya.


"Ya, Bu!" jawab Arum tersenyum manis.


Nyonya Barsha melotot ke Rayden dan langsung saja berteriak.


"Raydeeeen!"


Praaang! Rayden menjatuhkan piringnya membuat semua mata beralih padanya. "Ma-mama?" Rayden membisu seketika. Sedangkan Arum tersentak lalu menatap dan mengerjap-erjapkan matanya ke Nyonya Barsha.


"Ibu, Nyonya Barsha?" ucap Arum menunjuknya. Nyonya Barsha menggertak, maju menjewer telinga Rayden, hingga pria itu menjerit kesakitan juga. "Achh...ampun Mama!"


"Oh my god! Dia galak sekali." Arum menutup mulutnya melihat Rayden dimarahi habis-habisan oleh selir Mafia.


"Rayden, jujur sama Mama! Siapa gadis ini?" tanya Nyonya Barsha dengan mata menyala-nyala. Rayden segera memeluk terang-terangan Arum di depan semua orang di sana, ia pun menjawab dengan lantang dan tegas.


..."Dia Istriku, Arum!"...


.......


.......


.......


...TINGGALKAN LIKE DAN KOMEN...


...TERIMA KASIH...

__ADS_1


__ADS_2