
"Hei, Tuan!" bentak Dokter Maya mulai.
"Anda ini kasar juga ya! Sudah penyakitan masih saja gengsi, apa tidak bisa dihilangkan sifat pengecutmu itu?! Tanganku sakit nih!" lanjutnya mengoceh.
"Cih, kalau begitu pergilah!" balas Wira.
"Arrrggg, untung saja aku tidak puasa. Kalau saja aku puasa, sudah batal dari tadi pagi." Dokter Maya tidak bisa diam lagi, dia mendorong kursi roda Wira ke rumah panti asuhan.
"Ahhh, kamu mau membawaku kemana?" tanya Wira panik didorong asal-asalan. Kinan segera ikut menyusul di belakang.
"Aku akan membawamu ke rumah sakit, dan aku yang akan merawatmu sampai sembuh!" jawab Dokter Maya tegas.
"Tidak usah, tidak usah!" tolak Wira.
"Tidak ada menolakan, saya tetap akan membawa anda," ucap Dokter Maya mendorong Wira ke mobil Joan.
Rayden, Arum dan Joan melongo melihat Dokter Maya menyeret Wira. Jelas-jelas pria itu sedang sakit, masih saja dibentak bagaikan anak kecil.
"Ya ampun, dia ini sungguhan Dokter? Atau cuma Dokter jadi-jadian?" tanya Joan pada dirinya sendiri.
"Ahhh, kenapa kamu memaksaku? Siapa yang telah menyuruhmu?" oceh Wira di dalam mobil. Terlihat dia diikat di sebelah Kinan.
"Tanyakan pada sekretaris anda," jawab Dokter Maya bohong lagi.
"Apa? Jadi sekretaris yang menyuruhmu?" kaget Wira dan langsung marah. "Huachhii!" Sekretaris yang sedang sibuk di kantor langsung saja bersin tidak jelas. "Siapa yang marah ke padaku?" batin sekretaris itu heran dan merinding.
"Yap, ini bilang tidak tega menikah dengan istrimu jadi menyuruh saya untuk menyembuhkan anda sebelum pernikahan itu digelar setelah lebaran nanti," ucap Dokter Maya mengagetkan Kinan dan Joan yang menyetir. Sungguh alasan yang sangat luar binasa.
"Huachiii!"
"Siapa lagi yang marah padaku?" pikir sekretaris tambah bingung. Tidak hujan, tidak dingin, tapi tiba-tiba bersin tidak jelas.
"Apa, mereka akan menikah setelah lebaran?" kaget Wira memegang dadanya. Sakit dan perih menusuk ke dalam jantungnya. Ia pun meringis kesakitan dan langsung pingsan, membuat Kinan segera menyandarkan kepala Wira ke bahunya.
"Hei gila, apa kamu sudah tidak waras? Mengapa cari alasan seperti itu, hah?" bentak Joan yang hampir kena serangan jantung.
"Sudah, ini sudah darurat! Aku sudah tahu, hidupnya tidak lagi panjang, karena itulah dia harus dipaksa mulai sekarang," balas Dokter Maya yang duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Tapi caramu ini bisa buat dia mati mendadak!" kesal Joan.
"Hem, itu tidak akan terjadi! Mending Tuan fokus saja menyetir, tidak usah mengoceh." Dokter Maya dengan gampang memerintah.
"Tunggu, apa-apaan ini? Kenapa kamu sok bos di sini? Memangnya aku ini supirmu?" cerocos Joan.
"Hentikan! Kalian jangan berdebat, mending segera ke rumah sakit. Tubuh suamiku mulai terasa dingin, aku takut yang dikatakan Tuan Joan bisa terjadi," ucap Kinan angkat suara. Tidak tega melihat Wira tampak pucat.
"Baik, kamu tenang saja. Aku akan membawanya ke rumah sakit," ucap Joan mengerti dan menaikkan kecepatan laju mobilnya.
"Cih, disuruh sama istri orang saja langsung nurut, disuruh sama majikan marahnya kayak gorillah," decak Dokter Maya.
"Hah? Kamu majikan? Enak saja, aku ini bukan pembantumu, kamu jangan asal bicara--" putus Joan dipelototin Dokter Maya.
"Apa? Marah?" kesal Dokter Maya.
Kinan agak depresi melihat mereka berdebat.
"Aduh, kalau begini jadinya, lebih baik aku dan Mas Wira nebeng saja di mobil Arum." Kinan menunduk, lalu menengok wajah Wira. Perlahan tangannya meraih tangan Wira dan meletakkan di atas perutnya.
"Sayang, ini tangan ayahmu. Doain ya, ayah bisa sembuh dan bisa kumpul sama kita nanti," lirih Kinan bicara pada kandungannya yang telah berusia lima bulan lebih. Kemudian dia pun diam-diam membelai pipi Wira, dan mencium lembut punggung tangan pria itu.
"Huh, siapa coba yang bisa mencintaiku seperti itu?"
Dokter Maya sontak melirik Joan, sedikit terkejut sempat mendengar keluahannya itu.
"Pufft, kasihan. Ganteng-ganteng tapi perjaka tua,"
"Heh, apa kamu bilang?" tanya Joan ketus.
"Gak papa, aku gak bilang apa-apa kok," elak Dokter Maya tersenyum sangat manis.
"Cih, dasar jelek." Joan mendecih dan tak lupa mengejek. Dokter Maya mendengus mendengarnya.
"Dasar bunglon tua."
"Heh, apa lagi yang kamu katakan?" tanya Joan emosi.
__ADS_1
"Apa? Apa?" ucap Dokter Maya memonyongkan mulutnya. Joan menjauh sedikit melihat tingkah Dokter Maya. Ia pun mengalihkan muka, tidak mau berurusan lagi dengan wanita itu. Kinan yang melihatnya dari belakang, menahan tawa.
"Kalian tampak cocok, kenapa tidak menikah saja?" sahut Kinan membuat keduanya terkejut.
"Hah, menikah? Idih amit-amit cabang bayi," ucap Joan sudah sampai ke rumah sakit.
"Ya, aku juga ogah!" ucap Dokter Maya keluar duluan dari mobil dan mulai mengambil kursi roda.
"Astaga, kenapa kalian lambat sekali, sih?" ketus Rayden melihat rombongan Joan datang terakhir.
"Yaelah, kamu buta ya? Ada bumil dan orang sekarat yang aku bawa, kamu mau mereka mati kalau aku ngebut?" ujar Joan mendengus sebal.
"Sudah, sudah, ini bukan waktunya debat. Sekarang kita masuk dan bawa Wira, sekalian Kinan bisa diajak untuk periksa kandungan," sahut Dokter Maya mendorong kursi roda Wira.
"Terima kasih, kalian sudah mau membantuku," ucap Kinan tersenyum. Mereka pun mengerti, dan senang dapat melihat bumil itu jalan di samping Dokter Maya.
"Kalau Wira masih bisa sembuh, aku yang akan pertama kali memukul wajahnya itu," ucap Joan mulai berjalan masuk ke dalam rumah sakit.
"Hah? Apa-apaan ini?" batin Arum tercengang mendengarnya. Tapi ia makin melongo saat Rayden ikut-ikutan juga.
"Ya, aku juga tidak tahan pengen mukul perutnya!"
"Hadeh, adik dan kakak ini kenapa sih? Kenapa tidak bisa menahan emosi?" batin Arum segera menyusul Rayden dan Joan.
Sedangkan Papa Kinan sudah menyiapkan goloknya. Terlihat pria paruh baya itu menunggu anak buahnya untuk melacak keberadaan putrinya yang pergi dari rumah tanpa izin.
"Bagaimana? Kau berhasil melacaknya?" tanya Papa Kinan.
"Sudah Tuan, Nona Kinan berada di rumah sakit, dan mungkin ke sana untuk memeriksa kandungan, " jawab staf keamanan perusahaan. Sekretaris yang masuk ke dalam ruangan itu cukup terkejut mendengarnya.
"Oh jadi ke sana, bagus. Sekalian saja aku paksa dia aborsi! Anak yang dia kandung tidak usah dilahirkan, aku tidak butuh cucu dari pria yang tidak bertanggung jawab itu!" Papa Kinan keluar, mulai berencana ke rumah sakit. Sekretaris yang bersembunyi di balik pintu segera diam-diam menyusul atasannya itu.
"Ini tidak boleh terjadi, Nona Kinan dalam bahaya!" Sekretaris itu menghubungi nomor Kinan, tapi percuma, Kinan telah mematikan ponselnya barusan.
"Ahhhh, apa yang harus aku lakukan?" Sekretaris itu panik luar biasa setelah berhasil sampai ke rumah sakit dan mengikuti Papa Kinan dari belakang. Terlihat pria baruh baya itu terus mencari keberadaan putrinya malam ini.
....
__ADS_1
Bagaimana endingnya tuh? 😯😯tinggal komen 😍dan like. Terima kasih...