Hasrat Tuan Muda

Hasrat Tuan Muda
Bab 38 Ochhh Mas...


__ADS_3

21+


Asisten Braga masuk dengan raut wajah kecewa. Ia tidak menemukan mobil Rayden hingga kembali ke mansion Barsha.


'Gadis itu sangat berbahaya, ia bisa menghasut kapan saja Tuan Rayden. Pasti, ada tujuan lain ia masuk ke dalam hidup Tuan Rayden. Untung saja aku bisa mencegah gadis itu bertemu dengan Tuan Joan lagi. Kali ini gadis itu jangan sampai menghasut Tuan Joan juga! Aku harus melakukan sesuatu.'


Tanpa sadar, ia yang lagi berjalan masuk langsung saja dihentikan dari sahutan Selir Barsha.


"Braga, kau dari mana baru pulang sekarang?"


Wanita itu tengah mengobrol dengan Arleya di sore ini. Asisten Braga menyipitkan kedua matanya, merasa ada yang mencurigakan dari obrolan kedua wanita itu.


"Braga, mengapa diam saja?" Selir Barsha bertanya lagi.


"Nyonya, aku baru saja dari luar," jawab asisten Braga mendekat.


"Pasti habis ngajak kencan anak orang kan?" tebak Selir Barsha melirik netral asistennya itu yang memang masih betah menduda sampai sekarang.


Asisten Braga tersentak kaget. "Bukan Nyonya," timpal Braga .


"Terus, siapa yang kau temui hari ini?" tanya Arleya datar.


"Tuan Rayden, Lady." Braga menjawab singkat.


"Rayden? Ada apa dengannya?" tanya selir Barsha.


Asisten Braga pun menjelaskan dari awal sampai ujung masalah yang dia resahkan. Mengatakan Arum dapat saja memberi masalah di Istana ini.


"Kau curiga pada gadis itu sampai-sampai kau berkata begitu?" Arleya yang menyimak dari tadi langsung bertanya.


"Saya hanya mencemaskan masa depan negara ini, Lady." Braga menunduk sedikit.


Selir Barsha membuang nafas kasar lalu menatap serius Braga.


"Braga, sejak kemarin aku sudah katakan padamu, kau tidak usah memikirkan gadis itu, biarkan kami yang mengurusnya. Kamu kerjakanlah apa yang telah menjadi tugasmu," jelas selir Barsha menekan penuh perkataannya.


Asisten Braga menggerutu dalam hati. 'Cih, lagi-lagi aku disuruh diam'. Ia pun mengangguk saja kemudian pergi meninggalkan keduanya. Nampak jelas, pria paruh baya itu tidak menyukai kehadiran Arum. Sudah dari awal di matanya, Arum adalah gadis tidak benar.


Arleya dengan tatapan dinginnya tahu ekspresi tidak suka Braga. Walau ia tidak seyakinan dengan Arum, wanita itu tahu Arum hanyalah gadis biasa yang tidak punya maksud tertentu.


"Selir Barsha, aku rasa lebih baik kau mulai awasi asistenmu itu dari sekarang," saran Arleya berdiri di ambang pintu.


"Mengapa kau bicara seperti itu?" tanya Selir Barsha yang juga tahu kegelisahan Arleya.


"Kau tahu kan aku sebenarnya tidak pernah hamil, dan asisten itu tahu semua rencana kita. Aku cemas dia akan membocorkannya pada Edward."


Selir Barsha seketika diam mendengarnya.


"Seandainya saja saat itu kita tidak meninggalkan negara ini, pasti Mariam tidak akan masuk ke dalam hidup Edward dan membuangmu ke mansion ini. Harusnya kau yang dibelai dan dicintai oleh Edward, bukan wanita licik itu!" Sekali lagi Arleya bicara sambil memegang kedua tangan selir Barsha.


"Ini semua salahku, tapi sudahlah. Kau tidak usah cemas, asistenku sangat setia pada perintahku. Aku yakin, dia tidak akan menjadi pengkhianat di sini," ucap selir Barsha tersenyum.


Arleya pun hanya mengangguk, memeluk selir Barsha kemudian pamit pulang. Keduanya memang habis mengobrol soal konflik di kota Billns yang mulai perlahan mereda.

__ADS_1


Setelah selir Barsha menaiki anak tangga, asisten Braga yang diam-diam menguping dari tadi pun hanya mengepal tangan. Tiba-tiba seorang pelayan memanggilnya yang tidak lain adalah Melissa.


"Ada apa?" tanya Braga dingin.


"Pak, ini ada kiriman dari Paris." Melissa memberikan itu.


'Paris? Jangan-jangan dari Tuan Joan?'


Braga segera melihat cap di bawah sudut bingkisan itu. Benar saja, ada nama Joan Edrian tertera di sana.


"Ya sudah, pergilah!" usir Braga sinis. Melissa tersentak dengan perubahan Braga, wanita itu pun meninggalkan Braga dan agak kesal diusir mentah-mentah bak anak kecil. Braga pun bergegas membawa bingkisan itu ke dalam kamar Tuan Joan.


DEG.


Braga terhenyak lima detik setelah membuka bingkisan itu. Tangannya semakin kuat mengepal melihat lukisan Arum.


"Gadis itu sudah melewati batas, tidak seharusnya ia memikat Tuan Joan! Ini tidak bisa dibiarkan, Tuan Joan tidak boleh sampai dalam menyukai gadis itu!" decak asisten Braga menendang lukisan itu ke bawah ranjang. Pria itu keluar dan mengunci kamar Joan. Rasa benci semakin dalam mengaduk di hati Braga.


.


.


.


Lain lagi di mansion King, terlihat Nyonya Mariam tengah sibuk menonton televisi dan ditemani oleh Tuan Edward. Sesekali Nyonya Mariam mendengus kesal karena harus berduaan dengan suami tua itu. Ia yang masih muda dan bening-bening bohay sangat tidak cocok berdampingan dengan Edward, serasa anak dan bapak!


Akan tetapi apa boleh buat, ia tidak bisa menolak nasib yang sudah ia pilih sendiri. Walau memang sudah tua, Nyonya Mariam masih mengakui batang rudal Raja Edward masih aktif untuk memuaskan bir rahinya.


Namun, kecemburuannya datang lagi setelah Rayden dan Arum melewati mereka. Pengantin baru itu membuat hatinya bergemuruh. Beruntung, Arum kembali memasang penyamaran dan Rayden sudah tidak berjenggot lagi.


"Dari keluar, habis jalan-jalan temani istriku belanja, Pa." Rayden menjawab dingin dan merangkul Arum di sebelahnya.


"Apa yang kalian beli sampai sebanyak itu?" sahut Nyonya Mariam ingin tahu.


"Apa urusannya denganmu?" balas Rayden sinis.


"Sayang, lihat anakmu itu, dia kasar sekali menjawab ku," adu Ratu Mariam bermanja-manja.


"Rayden, jaga sikapmu. Dia adalah istri Papa, Ibumu juga dan mertua istrimu!" ujar Tuan Edward membelai rambut istri ketiganya.


Arum dan Rayden semakin datar melihat keduanya. Seolah ingin muntah. Keduanya bergegas naik ke lantai atas meninggalkan Nyonya Mariam yang merutuk jengkel.


"Sialan, Rayden sepertinya menikahinya karena cinta! Apa bagusnya sih dia!" gerutunya dalam hati lalu bersandar menjauh dari Edward. Namun Tuan Edward menariknya dan malah memeluknya. Hati Nyonya Mariam semakin tidak karuan lagi dicium bebas sana sini.


Sekarang Arum sedang membuat susu sambil mengelus perutnya. 'Rasanya tidak sabar pengen lahiran, jadi penasaran nanti mukanya mirip siapa,' batin Arum penuh kasih sayang.


[Emak juga tidak sabar kapan kau lahiran Arum, wkwk]


Tiba-tiba, ia yang tengah asik mengaduk susu dikagetkan Rayden yang sedang berdiri di dekat kamar mandi. Terlihat pria tampan dan cool itu habis membasuh muka dan kini siap menggagahi kelincinya.



Six pack dan body hotnya itu tidak bisa dipungkiri lagi kalau Arum tidak akan menolak diajak skidipakpak malam ini. Terutama phyton sudah siap melilit cinta Arum.

__ADS_1


"Mas, kita turun makan dulu ya," tahan Arum segera meneguk habis segelas susunya.


Rayden mengambil gelas itu, meletakkan di atas meja dan dengan cepat merangkul tubuh istrinya.


"Aku tidak mau makan," bisiknya nakal dan menghebuskan nafas ke telinga Arum.


"Iiih geli Mas," Arum menggeliat.


"Malam ini kamu mau, kan?" lagi-lagi suara hotnya menggelitik gairah cinta Arum.


"Mau apa, Mas?" tanya Arum pura-pura polos sambil mendorong-dorong dada bidang Rayden. Seakan-akan ia bermain tarik ulur malam ini.


"Mau nyusu, Baby,"


"Iiih konyol! Minta yang lain saja!" cetus Arum merinding. Rayden gemas ditolak, ia langsung saja mencu mbu benda lunak merah muda istrinya.


Pemanasan dimulai. Kedua tangannya perlahan menaikkan baju Arum hingga kedua bongkahan Arum terpampang indah di matanya. Sungguh kecanduannya semakin membara melihat pemandangan cantik itu. Gejolak cinta sudah mendidih dan tak sabar mencicipi body bahenol Arum.


'Achhh...Mas,' desah Arum geli.


"Baby, i love you,"


"I love you to," balas Arum mulai melepaskan baju Rayden lalu melempar asal pakaian suaminya itu. Arum merah merona melihat Rayden sudah telan jang dada.


"Ayo dibuka, Mas." Arum merangkul leher Rayden dan perlahan satu tangannya turun melonggarkan ikat pinggang pria gagah itu. Rayden pun tersenyum smirk melihat Arum sudah siap. Ia mendorong Arum ke belakang, dan menghimpit tubuh seksi Arum. Dengan nakal, phytonnya pun ditusuk-tusuk ke bagian intim Arum.


"Ochh... Mas," desah Arum mulai terang sang. Gadis hamil itu menggigit bibir bawahnya dan menutup mata. Merasakan sensasi kode-kodean suaminya itu. Rayden pun melepaskan pakaian Arum sehingga hanya tertinggal BH yang membalut dua gunung Arum dan CD yang menutupi bukit kecil di bawah sana.



Rayden merangkul pinggang Arum dan menatap dalam-dalam kedua mata hitam istrinya. Begitu dalam sehingga Arum tersipu ditatap begitu.


"Puaskan aku malam ini, sayang." Rayden mengangkat tubuh Arum kemudian meletakkannya di atas sofa.


"Mas, kenapa di sini?" tanya Arum terkejut karena biasanya Rayden aktif di atas ranjang. Belum juga dimulai, kening Arum sudah membanjir keringat dingin.


"Pengen beda dari yang kemarin." Rayden berbisik dan mengubah posisi Arum. Gadis itu gemetar melihat posisinya menung ging dan sudah siap dihantam phyton Rayden.


"Achh... Mas, pelan-pelan masuknya." Rayden berhasil membuatnya mengerang saat phyton itu memuat masuk ke lambah sarang istrinya.


"Mas, Baby kita--"


"Shht, nikmati saja. Aku tidak akan terlalu liar malam ini, Baby."


"Ochhh...Mas."


"Achh Baby, ssstt-"


.......


.......


.......

__ADS_1


...Tinggalkan Like dan Komennya ya...


...Terima kasih~...


__ADS_2