
Rayden memasuki ruang belajar milik Selir. Ruangan itu berfungsi sebagai tempat Nyonya Barsha bekerja mengatur keseharian para pelayan dan tentunya berbagai hal yang berhubungan politik dengan Istana Utama. Kening Rayden pun mengerut tidak ada satu orang di dalam ruangan itu. 'Kemana Nyonya tua itu?' pikir Rayden mendekati meja kerja Barsha.
'Apa jangan-jangan wanita ini sedang menemui ayahku?'
Rayden menyentuh dagunya, ia penasaran kemana Selir ini.
Tok tok tok
'Excuse me, Tuan," seseorang memanggilnya dari pintu. Rayden pun menoleh pada Asisten itu.
"Braga," Rayden menghampirinya.
"Selamat datang kembali, Tuan." Braga membungkuk setengah badan menghormatinya.
"Ehem... kau lebih cepat menyambut ku daripada Nyonya Barsha, kemana wanita itu?" Seperti biasa, tatapan Rayden datar dan dingin. Ia memang memiliki dua karakter. Saat berada di luar ia bebas mengeluarkan ekspresi, tetapi sebaliknya bila ia sudah berada di dalam Istana, hanya dua ekspresi itu dikeluarkan.
"Nyonya dari tadi pergi ke Istana, Tuan,"
"Mansion ayah? Untuk apa lagi dia ke sana?" Suara Rayden langsung meninggi, ia tampak marah dan terkejut Nyonya Barsha ke sana. Firasatnya mulai tidak enak.
"Tentu hanya untuk memberi kabar pada King jika Tuan sudah kembali," jawab Braga jujur.
Rayden duduk di kursi Nyonya Braga, ia menghela nafas panjang lalu menyentuh kepalanya yang berdenyut.
'Sudah aku bilang, jangan langsung ke sana!' celetuk Rayden dalam hati. Ia agak menyesal memberitahu kepulangannya pada Nyonya Barsha saat masih di kapal pesiar.
"Untuk apa anda mencari Nyonya, Tuan?" Braga menghampirinya dan berdiri di depan meja kerja itu.
Rayden bangkit dari kursi, ingin melihat Arum dari pada menunggu Nyonya Barsha kembali.
"Saya punya urusan dengannya, jika dia telah pulang, kau beritahu padanya untuk menemuiku ke perpustakaan,"
"Baik, Tuan."
Rayden meninggalkan Asisten Braga begitu saja, menyusuri bagian Istana dan melihat-lihat situasi dalam mansion yang tidak ada perubahan sama sekali. Padahal sudah lima bulan ia tinggal di luar mansion. Bukankah bagus jika dia datang dan mendapat perubahaan?
Namun pandangannya pun beralih pada suara tidak familiar. Daisy, ya suaranya yang tengah menertawai Arum sampai juga ke telinga Rayden. Pria itu berjalan cepat sebelum Daisy bermain kasar.
Arum berdecak sakit, hatinya bergemuruh mendapat cacian dari Daisy yang menganggapnya sebagai rakyat jelata yang beruntung bekerja menjadi anak pelayan di Istana.
Bahkan dengan angkuhnya, Daisy melangkahkan kaki mendekati Arum. "Ada apa denganmu? Kau takut sampai diam begitu? Hahaha… jangan-jangan kau sedang pipis di celana tidak kuat melihat Putri cantik sepertiku di mansion ini," tawanya lagi-lagi menyebalkan.
"Cih, saya tidak ada urusan denganmu." Arum membuang muka ingin pergi. Daisy menggigit bibir kesal. 'Sialan, beraninya dia mengabaikan aku' Langsung saja tangan Arum ditarik paksa hingga gadis itu berbalik bertatap dengannya lagi.
"Lepaskan!" Arum balas menarik paksa tangannya. Dua matanya sudah malas memandangi Daisy.
"Hei, pelayan kampung! Inikah sikapmu padaku? Aku ini Putri dari Panglima besar di Negara ini, dan kau hanya rakyat jelata yang numpang kerja di Istana calon suamiku. Harusnya kau membungkuk hormat padaku!" ujarnya marah-marah.
Pelayan di sebelah Arum sudah dari tadi menggigil ketakutan. Ini pertama kalinya ia melihat amarah Daisy membara. Memang semua orang patuh dan menghormatinya, dan hari ini ia juga tak sangka Arum mengundang kemarahan Daisy.
__ADS_1
"Apa itu perlu?" tanya Arum menatapnya datar. Ekspresi itu semakin membuat Daisy geram, ia merasa gadis di depannya masih belum sadar dengan posisi yang ia miliki.
"Ya Iyalah! Berapa kali lagi aku harus katakan padamu, ha?" Tangan wanita itu telah mengepal kuat-kuat. Ia kapan saja bisa menampar Arum.
"Jika aku tidak mau, apa yang akan kau lakukan padaku?"
Pelayan mendesis, bingung mengapa Arum malah bicara begitu? 'Ya Tuhan, apa ini akan jadi masalah di Istana nanti?' batin pelayan ingin melerai mereka, tapi Daisy dengan cepat mengangkat tangan sebelah untuk manampar Arum.
"Kau!" Arum tetap kokoh berdiri.
Tap! Arum pun terkejut setelah tangan Daisy ditangkap seseorang. Ia pun menoleh ke pemilik tangan itu.
'Tuan Rayden? Dia sudah kembali?' Arum menatapnya dan tersenyum.
"Daisy! Apa ini sambutan untukku? Membuat keributan dan berteriak di Istanaku?!" Rayden menghempaskan tangan itu dan tidak lupa membentaknya.
'Hah, Istana milik Tuan Rayden?' pikir Arum terkejut. Namun rasa terkejutnya meningkat setelah Daisy dengan manja bergelayut di lengan Rayden.
"Oh Ray, aku ini sedang memarahi pelayan tidak tahu diri ini, masa dia tidak tahu kalau aku ini Istrimu. Kau jangan marah padaku dong!"
'Ha? Istri?' Arum terbelalak. Jantungnya hampir berhenti berdetak. Rayden pun melirik Arum, ia tahu gadis ini sedang shock. Dengan tatapan dingin, Rayden pun mendorong Daisy lepas darinya.
"Kau masih calon, belum jadi Istriku. Sekarang pergilah ke ruang belajarku, aku akan menemuimu di sana," ucap Rayden datar. Daisy cemberut tidak diberi senyuman satu pun, ia pun menunjuk Arum.
"Kalau begitu, aku ingin kau mencambuk dia!" ujar Daisy masih belum ingin melepaskan Arum.
Daisy menggertakkan rahang lalu dengan lantang memarahinya lagi. "Dasar gadis kampung! Kau tidak menghormati ku, tentunya kau perlu dihukum!"
"Hentikan!" Rayden balik membentak Daisy.
"Daisy, pergilah ke ruang belajarku sekarang juga!" kelakar Rayden menunjuk ke arah kanan mansion.
"Cih, baiklah! Kali ini kau lepas, tapi jika aku sampai melihatmu lagi, kau jangan harap dapat hidup tenang di mansion ini!" decak Daisy membuang muka lalu pergi dengan sombongnya. Ia mengoceh tidak karuan tiba-tiba saja Rayden melindungi gadis itu.
Rayden menghembus nafas berat, ia pun menatap Arum yang sedari tadi menunduk.
"Bawa dia ke kamarnya,"
"Baik, Tuan!" Pelayan membawa Arum pergi. Sedangkan ia pergi menemui Daisy dulu. Arum menengok ke belakang, melihat punggung Rayden yang membelakanginya dan menjauh. Arum tampak gusar, ia sedih melihat Rayden pergi menemui Daisy.
Hueeekkk….
Lagi dan lagi Arum mual di dalam kamar mandi. Pelayan di luar kamar yang sedang merapikan ranjang langsung saja berlari mendekati pintu.
"Anda baik-baik saja di dalam sana, Nona?" tanya Pelayan sedikit teriak. 'Duh, gadis ini siapa sih? Kenapa Tuan Rayden membawanya ke Istana? Jika sampai Nyonya Barsha tahu, gadis ini bisa dikirim ke pulau pengasingan. Dia mual-mual begini pasti sedang hamil! Apa mungkin gadis ini seorang pelaccur?' Pelayan mulai berpikir buruk soal Arum.
Arum di dalam sana sedang menyentuh perutnya, ia lupa meminum obat kandungannya hingga mualnya kembali lagi. Ia pun keluar dan melihat Pelayan sudah cemas padanya.
"Anda tidak apa-apa?"
__ADS_1
Arum tersenyum. "Tidak apa-apa, saya cuma sakit perut habis berlayar ke sini." Pelayan mengelus dadanya lega.
"Jika begitu, siapa nama anda?" tanya Pelayan ingin tahu.
"Arum, saya Arum Marchelya. Dari benua Asia."
"Woaah, saya senang sekali dapat bertemu anda, Nona!"
"Hah, saya ini cuma manusia biasa, kenapa anda senang sekali?" tanya Arum garuk-garuk kepala.
Pelayan itu menggenggam dua tangan Arum.
"Saya ingin tahu keindahan di Negara anda. Sudah lama saya ingin berwisata ke sana, tapi karena pekerjaan, saya selalu menundanya. Bisakah anda bercerita pada saya bagaimana keindahan pulau-pulau di sana?"
Arum tertawa kecil, ia pun lega karena pelayan ini tampak baik dan menghargainya.
"Baiklah, tapi dengan satu syarat!"
"Apa itu?"
"Bisakah kau jujur, siapa wanita dan soal mansion ini?"
Pelayan langsung mengangguk. "Baiklah, Nona!"
Keduanya pun duduk di sofa dan mulai mengobrol serius.
Di ruangan Rayden, pria itu berjalan masuk lalu mendekati Daisy yang sudah lama duduk di sofa. Daisy sontak saja berdiri lalu memeluk kegirangan Rayden.
"I miss you, Ray." Wanita berumur 24 tahun itu mendongak ke Rayden.
"Kau pasti merindukan ku kan, Ray?" Daisy menyentuh rahang Rayden lalu menjinjit ingin mencium bibir calon suaminya itu. Pria yang dapat mewujudkan ambisinya menjadi Queen Mafia selanjutnya di Inggris.
..."Kau boneka milikku, Rayden."...
.......
.......
.......
...Jauh Banget Ya Emak Halunya Wkwk...
.......
.......
...**TINGGALKAN LIKE DAN KOMEN WAHAI PEMBACA BUDIMAN...
...😘**...
__ADS_1