
Hari demi hari berlalu, tetap saja hubungan Arum dan Barsha masih tidak ada kemajuan. Arum masih belum berani menegur sapa pada Ibunya, begitupun juga Barsha. Rayden dan Kamelia sedih melihat mereka. Tiba-tiba berita di dalam televisi mengagetkan mereka. Diberitakan secara heboh jika Joan telah menguasai kekuasaan Edward bersama Arleya di sampingnya.
"Wah, pantas saja wanita ini tidak ke sini lagi, rupa-rupanya asik ngegoda kakak berondong ku di sana!"
"Awas saja! Aku tidak terima kalau Joan sampai suka dengan wanita itu! Aku tidak mau punya kakak ipar dari Ibu angkat istriku!"
Arum tertawa geli mendengarnya. "Haha, Mas kok benci amat sama Mama Arleya."
"Ya bencilah, masa nanti kakak iparku adalah Ibu mertuaku, kan nggak cocok banget dengarnya! Apalagi umur mereka beda jauh, " protes Rayden berkacak pinggang. Kemelia kebingungan mendengarnya, anak perempuan itu tidak paham maksudnya.
Melihat Arum ceria begitu membuat Barsha diam-diam tersenyum. Ia pun pergi ke belakang rumah. Rayden yang sempat melihatnya sedih begitu, ia pun punya ide.
"Mau kemana, Mas?" tanya Arum terlihat susah berdiri akibat usia kandungannya bulan ini sudah masuk sembilan bulan. Ia hanya menunggu waktu lahirannya.
"Mau keluar urus persalinanmu nanti sayang, sekaligus beli kebutuhan sebanyak-banyaknya." Rayden melirik Kamelia dan memberi kode agar anak itu ikut dengannya.
"Om, Amel boleh ikut?"
"Boleh," ucap Rayden cepat.
"Mas, aku takut kalau Amel ikut. Nanti siapa yang temani aku ke kamar mandi?" Arum menarik Kamelia.
"Sayang, kan ada Mama di sini. Kamu minta tolong ya sama Mama, Mas butuh Kamelia buat bawa barang-barang nanti."
Akhirnya Arum pun mengizinkan Rayden.
"Kakak, nanti Amel singgah beli jagung bakar kesukaan Kak Arum. Kakak tidak usah takut ya," hibur Kamelia.
"Ya sudah, kalian hati-hati di jalan."
Chup! Rayden mengecup kening Arum lalu keluar diikuti Kamelia dari belakang. Kini Arum celingukan melihat isi rumah itu kosong. Ia pun bersusah payah mencari Ibunya.
Terlihat ia ke belakang rumah dan melihat Barsha sendirian sibuk menjemur pakaian. Sebenarnya Rayden ingin mencari pembantu, tapi Barsha menolak karena ia ingin melakukan sendiri.
Arum meremas ujung dasternya tidak tega melihat wanita itu kesusahan. Ia pun diam-diam mendekati Ibunya yang belum sadar dengan kehadirannya. Sontak, Barsha terkejut setelah menoleh.
"Sini biar Arum bantu Mama," ucap Arum tersenyum. Barsha tentu diam melihat putrinya tiba-tiba ingin membantu. Ia pun cepat-cepat menolak.
"Tidak usah, biar Mama yang selesaikan. Kamu masuklah istirahat yang banyak."
Tapi Arum tetap ngotot.
"Biarkan Arum bantu Mama, dari kemarin cuma Mama yang kerjain pekerjaan rumah."
__ADS_1
Namun Barsha merebut cucian basah di tangan Arum dan meletakkan di dalan baskom.
"Sudah Mama bilang, tidak usah. Kamu lagi hamil besar, tidak bagus kamu sampai kelelahan. Tinggalkan Mama si sini, biar Mama sendirian yang selesaikan!" ucap Barsha ngotot menyuruh Arum masuk.
"Mah!" Arum bicara keras membuat Barsha tersentak.
"Bukannya aku ini putrimu? Jadi biarkan aku berbakti hari ini sama Mama! Biarkan aku bantu Mama!" mohon Arum menepuk dadanya. Barsha terperangah. Ia pun tergagap bicara. "Maksudnya--"
Arum memeluk Ibunya hingga Barsha makin terkejut. "Maafin Arum sudah marah sama Mama, sudah benci sama Mama, sudah durhaka sama Mama, sudah jadi anak yang tidak bersyukur. Harusnya Arum senang masih punya orang tua, tapi Arum malah buat hati Mama sakit. Maafkan Arum, Mah." Arum menangis. Ia berpikir, perjuangannya yang sedang mengandung anak Rayden tidak ada apa-apanya dibandingkan Barsha yang dulu berusaha mengandung dan melahirkannya.
Barsha balas memeluk, membelai rambut putrinya. Mencium lembut kepala Arum. Ia meluapkan kesedihan dan kebahagiannya mendengar Arum mengakuinya juga.
"Mama sayang banget sama kamu, Nak." Barsha berucap lirih. Arum mengangguk paham. "Arum juga sayang, Mama."
Tiba-tiba Barsha terkejut mendengar Arum meringis dan merintih kesakitan. Barsha melihat Arum memegang perut besarnya.
"Kamu kenapa, Nak?" tanya Barsha panik. Arum meremas kuat lengan Barsha. Ia begitu dahsyat menahannya.
"Maaah.... "
"Kenapa, Nak? Kamu mau lahiran?"
Arum menggelengkan kepala.
"Duuh, Mah. Ini nendang lagi." Dahi Arum mengerut, ia menahan tendangan itu. Ia merasa senang dan sakit bayinya akhir-akhir ini sangat aktif. Barsha tertawa kecil membuat Arum heran.
"Hiks, Mama kok tawa, senang ya aku sakit?"
Tuuk! Aduuh! ringis Arum keningnya dijentik seperti dulu.
"Astaga, bisakah kau berhenti menyimpulkannya sendiri? Mama itu senang bukan karena lihat kamu sakit, tapi senang cucu Mama sehat di dalam sini." Barsha mengelus-elus perut putrinya.
"Mungkin sudah tidak sabar pengen keluar terus lihat Neneknya dan Daddy tampannya," sahut Rayden tiba-tiba muncul di dekat pintu bersama Kamelia.
Barsha dan Arum menoleh. Gadis itu tersenyum lebar mendengarnya. Sungguh suasana yang mengharukan.
"Mas, sudah selesai belanja?" tanya Arum jalan menghampirinya dan dibantu oleh Barsha. Ia terlihat susah berjalan cepat.
"Sudah Baby, yok sekarang sini kita pergi ke rumah sakit." Rayden meraih tangan Arum.
"Ke rumah sakit mau ngapain?" tanya Arum deg-degan.
"Buat jaga-jaga, Baby," jawab Rayden.
__ADS_1
"Kan masih ada dua minggu aku lahiran, Mas."
"Siapa tahu nanti malam kamu lahiran,"
"Hem, terus jagung bakarku mana?" minta Arum.
Kamelia melompat kaget dan langsung menepuk jidat. "Ya ampun, tadi Amel lupa beli, Kak." Arum cemberut. Rayden dan Barsha menahan tawa melihatnya kesal. Ia pun memberinya satu kotak misterius.
"Ini apa, Mas?" tanya Arum mengambilnya.
"Jagung dong, sayang." Rayden yang tengah menyetir rupanya memberi kejutan.
"Jagung bakar?" tebak Arum segera merusak bingkisan itu. Kamelia tertawa kekeh melihat mimik Arum lagi-lagi kecewa.
"Yah, kok yang rebus? Aku pikir yang bakarnya." Arum manyun melihat jagung itu.
"Baby, jagung rebus lebih banyak manfaatnya. Kamu terima saja ya sayang demi keselamatan mu nanti dan baby kita."
"Ya udah deh, terima kasih cintaku." Arum melemparkan ciumannya membuat Kamelia geli.
"Hem Baby, di sini masih ada bocil." Rayden menolak ciuman itu. Barsha pun sontak melirik Kamelia yang merengek padanya.
"Mama, aku bukan bocil." Rupa-rupanya Kamelia tidak terima dikira bocil. Satu mobil pun tertawa melihatnya mengadu ke Barsha. Wanita itu pun memeluk Kamelia, anak tirinya itu. Ia senang, sangat senang punya dua anak perempuan sekaligus.
Tiba-tiba lagi, Arum meringis kesakitan.
"Kamu kenapa, Baby?" tanya Rayden sudah sampai di rumah sakit.
"Duh, Mas. Sepertinya bukan nendang lagi deh," jawab Arum sudah membanjir keringat di keningnya. Rayden yang peka, ia bergegas membawa Arum masuk diikuti Barsha dan Kamelia.
"Dokter! Dokter!"
Dokter pun bergegas membawa Arum yang kini terbaring di atas berankar.
"Duuh, Mas. Sakit banget," rintih Arum memegang perutnya dan mencoba tetap mengontrol nafasnya. Tapi percuma, ia sedang berada di puncak sakitnya melahirkan.
"Mas, Mama mana?" lirih Arum tidak melihat Barsha ikut ke dalam ruangan persalinan. Hanya Dokter dan suster yang sibuk menangani dan mempersiapkan persalinannya.
"Mama, di luar sayang."
Arum meremas kerah lengan Rayden, memohon agar Barsha masuk melihatnya sebentar.
"To-tolong panggilkan Mama." Arum takut, sangat takut kalau ia tidak akan melihat Ibunya lagi.
__ADS_1