
Berkat adanya Dokter Maya, Joan yang mabuk dapat juga ditangani. Pria itu terpaksa tidur di kamar Kamelia daripada di kabar baby Ai. Pagi ini Joan masih belum bangun hingga Rayden sudah gereget ingin menyiramnya pakai air sekolam.
"Kapan dia bangun?" tanya Rayden ke Dokter Maya.
"Sabarlah Tuan, dia nanti juga akan sadar sendiri." Dokter Maya keluar dari kamar, meninggalkan Rayden di sebelah ranjang Kamelia.
"Apakah Rayden ada di kamar Kamelia, Dok?" tanya Arum keluar dari kamar anaknya dan menghampiri Dokter Maya.
"Benar, Tuan Rayden sedang mmenungunya sadar," jawab Dokter Maya.
"Tapi Joan tidak apa-apa kan?" tanya Arum, dia cemas kemarin malam Kinan melukai Joan, atau pria itu yang melukai Kinan.
"Dia baik-baik saja, cuma sikunya kembali berdarah tapi sudah aku obati tadi," jelas Dokter Maya tersenyum.
"Sepertinya Kinan memang sengaja mendorongnya, aku jadi cemas pada dia," ucap Arum duduk di kursi bersama Dokter Maya.
"Non Arum, kenal wanita hamil itu?" tanya Dokter Maya ingin tahu.
Arum sejenak menghirup nafas. "Dia istrinya Wira, rekan kerjaku, Dok."
"Oh begitu, tapi kenapa ya Wira ini tidak pernah terlihat?" gumam Dokter Maya.
Sekali kali Arum menarik nafas. "Aku juga tidak tahu kemana Wira." Arum berhenti.
"Coba Non Arum telepon dia, kasihan sekali istrinya di sana," ucap Dokter Maya menunjuk ponsel Arum.
"Aku tidak punya kontaknya," jawab Arum menggelengkan kepala.
'Katanya rekan kerja? Itu artinya bisa saja hubungan mereka baik-baik saja, tapi kenapa aku merasa Arum dan wanita itu bermusuhan?' batin Dokter Maya bingung mengartikan raut wajah Arum yang lesu.
"Non Arum, apakah baby twin sudah tidur?" tanya Dokter Maya melihat ke kamar baby Ai.
"Sudah Dok, anak-anakku tidak terlalu sulit untuk tidur." Arum tersenyum manis.
"Non Arum semakin hari semakin meningkat," puji Dokter Maya.
"Hehehe… awalnya agak sulit, tapi berkat dibimbing oleh Dokter, aku jadi tahu cara memudahkan anak-anak dapat tidur lelap." Arum merasa malu diberi jempol.
"Kalau begitu, bagaimana jika kita ke rumah tetangga?" ajak Dokter Maya ingin menjenguk Kinan.
"Eh, buat apa ke sana?" tanya Arum terkejut.
__ADS_1
"Arum, aku cemas padanya. Sebagai Dokter, aku kepikiran terus soal kehamilannya, bisakah kau menemaniku ke sana?" mohon Dokter Maya.
"Tapi–” Arum bimbang, takut sama Rayden dan Wira.
“Lihatlah, tidak ada mobil di depan rumahnya, dan dia tidak pernah keluar rumah. Aku takut terjadi sesuatu padanya di sana, Arum.”
Terpaksa Arum setuju ikut, dia juga dari kemarin memikirkan Kinan. Sebagai wanita, dia tidak tegaan melihat Kinan yang hamil besar kesepian di sana.
Keduanya pun tanpa pamit ke Rayden pergi ke rumah Kinan sebentar. Mengunjungi wanita hamil itu. Seandainya Barsha ada, Arum pasti pamit ke Ibunya, tapi wanita paruh baya itu sedang ke sekolah Kamelia untuk mengurus surat perpindahan Kamelia, karena anak perempuan itu akan sekolah di Indonesia. Mungkin hari ini atau besok, Rayden akan meninggalkan London.
“Sepertinya sepi,” ucap Arum mengintip ke dalam lewat jendela. Dokter Maya masih mengetuk pintu.
“Aku ke sana dulu ya, Dok!” Arum menunjuk ke samping.
“Baiklah, tetap berhati-hati.”
Arum mengangguk paham, gadis itu menyusuri rumah Kinan.
“Kasihan sekali wanita ini, sejak kemarin dia tidak pernah keluar menampakkan diri. Suaminya jahat sekali tidak pernah pulang mengunjunginya!” kesal Dokter Maya ingin menyuntik Wira juga.
Tiba-tiba saja Arum datang, mama muda itu panik ke arahnya.
“Dokter Maya! Gawat!”
“Dobrak! Pintunya harus didobrak!” Arum mendobrak-dobrak pintu rumah Kinan.
“Kamu kenapa, Arum?” tanya Dokter Maya menghentikan kelakuannya.
“Barusan aku lihat Kinan pingsan di kamarnya!”
“A-apa?”
“Aku ingin lewat jendela, tapi terkunci. Sekarang bantu aku dobrak pintunya, Dok! Aku cemas dia melakukan hal bodoh di dalam sana lagi!” pinta Arum kembali mendobrak.
“Firasatku benar! Sudah terjadi sesuatu padanya!” Dokter membantu Arum mendobrak, tapi pintu rumah Kinan sangatlah kokoh. Dua tenaga perempuan tidak cukup merobohkannya.
“Sial, kita harus cepat masuk! Tapi pintu ini terlalu kuat, apa tidak ada cara lain?” Arum menendang pintu itu, sangat kesal tenaganya tidak berguna. Tapi Dokter Maya melongo pintu itu roboh juga hanya sekali tendang.
“What's, kok bisa?” Arum syok lalu melihat kakinya. “Kekuatan dari mana nih?” gumam Arum heran.
“Jangan bengong, Arum! Cepat kita masuk ke dalam!” Dokter Maya tak habis pikir mama muda itu bisa diandalkan. Dia menarik Arum masuk mencari kamar Kinan.
__ADS_1
“Ini pasti kamarnya, Dok!” Tunjuk Arum ke satu kamar.
“Ayo dobrak!” Dokter Maya mulai mendobrak. Tapi sia-sia, pintu kamar juga kokoh.
“Sial, tidak bisa dirusak!” Dokter Maya menggigit bibir bawah.
“Geser sedikit, Dok,” ucap Arum mundur.
“Mau ngapain?” tanya Dokter bergeser.
“Aku mau tendang, siapa tahu kebuka lagi!” Dengan ancang-ancang, Arum bersiap menendang.
“Hiyaaaaaa!”
Duaaak!
“Ahhh Mama! Sakit!” Arum merintih tidak berhasil merusak pintu, malah kakinya yang kena imbas.
“Sakit? Kakimu terkilir?” tanya Dokter tambah panik saja melihat mama muda itu duduk di lantai dan meringis kesakitan.
“Ya Dok, sakit sedikit.” Arum berdiri tegak, dia tidak mau lemah dan sekali lagi menendang. Tapi percuma, pintunya nakal.
“Lebih baik kita pulang dulu, Arum,” tahan Dokter Maya agar Arum berhenti menendang. Takut nanti ASI Arum yang kena imbas lagi.
“Ngapain pulang?” tanya Arum.
“Suamimu! Kita minta tolong sama dia!”
Arum menampol jidat. “Busyet, Rayden! Kenapa aku bisa lupa sama suamiku ini? ” Arum bergegas keluar diikuti Dokter Maya yang ketakutan.
Namun, setelah pintu rumah dibuka, suara Rayden menggelegar di dalam kamar Kamelia.
“Joan breng sek! Sudah aku bilang, lepaskan!” Suara Rayden yang ambigu itu membuat Arum dan Dokter Maya terkejut heran.
“Apa yang mau dilepaskan? ” ucap dua-duanya dongkol dan segera mendekati kamar. Lagi-lagi keduanya dibikin heboh.
“Joan sadarlah, jangan membelot!”
Arum dan Dokter Maya merinding mendengar ranjang di dalam sana sedang digempar-gempor.
“Joan membelot? Maksudnya apa ini? ” Arum dan Dokter Maya segera membuka pintu sebelum pikiran konyol masuk ke dalam otaknya, mengira Joan lagi skidipap bersama Rayden.
__ADS_1
....
Apaan dah tuh🤣