
"Ma-ma," lirih Arum membuka mata.
"Arum, kau sadar juga sayang?" Barsha memeluk Arum.
Hueeekk...
Arum mual-mual, seakan isi perutnya mengaduk di dalam sana.
"Leya, kita harus membawanya ke rumah sakit cepat!" ujar Barsha tidak tahan melihat Arum kembali pucat. Wanita itu mengelus-elus perut buncit Arum. Berharap cucunya di dalam sana baik-baik saja.
Arleya yang sebagai Queen Mafia menyetir sebisa mungkin. Kini tinggal sedikit lagi ia mencapai jembatan gantung yang lumayan panjang itu. Jembatan yang sebagai batas wilayahnya.
Seseorang tersenyum picik, dia! Dia asisten Braga yang sedang berada di gedung Mafia Veldemort. Ia menyuruh untuk memutuskan jembatan dan mengepung disetiap sisi batas negara, seperti pelabuhan, bandara, dan jembatan. 'Tidak akan aku biarkan kalian keluar dari wilayah ini.' Nyonya Mariam menyeringai melihat monitor di depannya, di mana Rayden terlihat satelit pengawasan.
Arleya membulat hebat melihat rantai jembatan bergetar. Barsha ikut terkejut jembatan ingin bergerak naik.
"Sialan, mereka mulai bertindak!" decak Arleya memicingkan mata sekuat tenaga harus menyeberangi pembatas sebelum jembatan itu putus total.
Rayden di ujung jembatan baru saja sampai, diikuti polisi dan preman di belakangnya. Nyonya Mariam greget melihat Rayden di layar monitor sudah mencapai jembatan. "Rayden?" Barsha menoleh ke belakang melihat Rayden masih ditembaki oleh preman.
Arleya juga gemas, ia memencet asal tombol otomatis di depannya.
Skuatt! Skuatt! Mobil transparan itu tiba-tiba bergetar, kemudian mengeluarkan senjata dan menghadap ke arah belakang.
"Leya, apa yang kau lakukan?" Barsha panik melihat mobil itu bersenjata.
"Huaahhha... aku jatuh cinta pada mobil ini, sekarang akan aku buktikan bagaimana Queen Mafia bermain-main di dunia ini!" tawa Arleya menekan satu tombol dan lanjut menyetir.
"Makan tuh sosis peledak, bede bah!"
Doaaar! Doaaar! Doaar!
Tembakan rudal kecil meluncur ke arah mobil preman, polisi dan tentunya ke arah Rayden. Meski kini mobil itu sudah kedap suara dari dalam, tetap saja Arum pingsan lagi karena melihat Barsha panik.
"Bang sat! Apa-apaan ini!" kaget Rayden ada rudal menuju ke arahnya. Rayden secepat kilat berbelok ke kiri dan lagi-lagi harus menghindar.
Benar-benar situasi menegangkan, dari belakang ia ditembak dan dari depan juga ia ditembak rudal mobilnya sendiri.
"Lady Arleya, aku pikir kau sudah menyeberang!" kesal Rayden lalu tersentak rudal itu menghantam aspal jembatan membuat mobil preman terhempas jatuh ke laut. Mobil polisi pun berhenti mengejar, mereka bingung melihat rudal itu datang entah darimana.
Ketua kepolisian menghubungi ke gedung Veldemort untuk secepat memutuskan jembatan.
Buuuum! Mobil sport transparan itu berhasil lewat ketika jembatan perlahan putus. Namun Rayden masih jauh untuk melewatinya. Butuh 10 menit untuk menyeberang jarak 300 meter itu.
"Argghh, cepat naikkan jembatan itu!" murka Nyonya Mariam tidak mau Rayden keluar dari negaranya. Tapi sia-sia, Rayden berteriak riang meluncur bebas dan tidak takut sama sekali, meskipun jembatan sudah putus dengan jarak 4 meter.
Polisi melongo melihat aksi nekat Rayden. Seolah-olah mereka melihat pertunjukan aksi antraksi maut hari ini.
"Yuhuuuuu!" Rayden berhasil menginjak jembatan batas wilayah lain. Ia pun mengerem mendadak, dan menghempaskan motor yang sudah babak belur itu ke jalan.
"Di mana kalian?" tanya Rayden pada airphonenya.
__ADS_1
"Bergerak ke kiri, kami ada di sini!" jawab Arleya serentak.
DEG. Nyonya Mariam terkejut melihat Rayden hilang di layar monitornya.
"Kemana dia?" Ia melotot ke asisten Braga. Pria itu bergegas menyuruh bergegas melacak Rayden, namun mereka kehilangannya.
"Bodoh! Kalian semua tidak becus!" Nyonya Mariam pergi begitu marah. Jalanan sudah diporak-porandakan tapi mereka gagal menangkap tuan muda kedua.
Ya tentu siapa lagi yang bisa melacak mobil Cargosh milik Rayden? Semua belum tahu keahlian lain calon Daddy itu. Rayden pun membawa ketiga wanita pergi bersamanya.
"Aku tidak ingin jadi Mafia, aku lebih menginginkan jadi ayah!" decak Rayden melesat pergi. Sedangkan Edward mulai sadar, ia meminta Dokter menghubungi putra tertuanya untuk kembali agar ia menyerahkan tahtanya segera mungkin pada putra pertamanya itu. Lantas, apa Joan akan setuju? Sedangkan Veldemort sedang diambil alih oleh Nyonya Mariam.
"Dokter!" panggil seseorang yang terlihat gembira. Dokter bergegas ke sumber panggilan. Matanya menatap pria yang sedang berlatih jalan menggunakan dua tongkat.
"Syukurlah, anda sudah bisa berjalan, Tuan Joan!"
Joan gembira, ia menangis terharu.
"Akhirnya aku bisa jalan, akhirnya aku bisa kembali memperlihatkan pada ayah, mama, Rayden, dan Arum." Joan mencium kedua lututnya, tidak sabaran untuk bertemu gadis pujaan hatinya. Tidak sia-sia ia bersabar melakukan kemoterapi selama ini.
Mobil Cargosh Rayden pun berhenti di sebuah parkiran rumah. Ia menekan tombol dan kembali membuat mobilnya transparan. Ia membawa Arum masuk ke dalam rumah kosong itu diikuti Arleya dan Barsha.
Pria itu dengan hati-hati meletakkan Arum ke atas ranjang. Menyelimuti istrinya dan menggantung kantong infus Arum.
"Rayden, kenapa kita bawa Arum ke sini daripada ke rumah sakit?" Arleya bertanya, duduk di kursi untuk beristirahat.
"Betul, Nak. Harusnya kita ke rumah sakit, bukan malah singgah di sini," sahut Barsha mengelap kedua kaki Arum yang berkeringat. Terlihat jelas, gadis itu menahan sesuatu yang sakit.
"Kalau begitu keluarlah dan carilah Dokter!"
"Tidak usah cemas, aku akan pergi sekarang. Kalian tetap diam di sini, kalau ada apa-apa pergilah menggunakan mobilku!" Rayden melempar kunci mobilnya ke Arleya. Ia pun pergi dengan samaran masker dan topi hitam menuju ke suatu tempat. Barsha dan Arleya pun berdua menjaga Arum.
"Halo, Dok!"
"Tuan Rayden, akhirnya anda menghubungi saya," jawab seseorang di sebrang sana.
"Tentu aku tidak akan lupa padamu. Sekarang datanglah ke alamat yang aku kirimkan padamu, tapi jangan sampai ada orang yang mencurigaimu," ucap Rayden sedang berdiri menelfon di depan sebuah ATM. Tampak Rayden memasuki sebuah bank. Apa mungkin merampok? Oh tentu bukan, ia ingin menarik uangnya sekarang.
"Memangnya ada perlu apa, Tuan?" tanya Dokter pribadi Rayden yang sedang berdiri di samping anak kecil berusia 10 tahun.
"Arum sedang butuh perawatan medis, pergilah sekarang juga!"
"Astaga, baiklah!"
Tuuut!
Rayden menghela nafas lega. Ia pun mencoba menggesek kredit-kredit goldnya. Namun tetap saja tertolak.
"Apa jangan-jangan seseorang sudah membekukannya?" decak Rayden kesal ingin sekali menghancurkan mesim ATM di depannya.
"Sialan, aku perlu membeli makanan dan obat vitamin. Kalau begini, apa yang akan aku makan? Semua barang berhargaku ada di Istana, dan yang aku punya hanya mobil spot andalanku, masa sih aku harus jual mobil keren itu?" gumam Rayden mendesis tidak karuan.
__ADS_1
"Arghhh, asisten bang sat! Awas saja, akan aku ledakkan kepalamu nanti!" rutuk Rayden meremas semua kredit-kredit goldnya. Tiba-tiba saja ia tersentak ketika bahunya ditepuk dari samping.
"Excuse me,"
Rayden menoleh padanya.
DEG. Rayden diam bertemu dengannya.
"Apa anda butuh bantuan?" Orang itu sedikit kebingungan melihat Rayden diam. Rayden mengepal tangan tidak sangka bertemu rival pertamanya. Wiransyah. Ia pun membuka maskernya lalu menatap datar dan dingin ke pria berambut ikal itu.
Wira tersentak merasa pria di depannya sangat familiar.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Rayden tetap diam, lalu diam-diam melirik ke tangan Wira yang terdapat kartu ATM. Wira menggaruk tengkuknya merasa pria di depannya cukup aneh.
"Anda baik-baik saja?" tanya Wira tidak enak ditatap setajam silet dan sedingin es balok.
"Hem, i am sorry. Saya jadi menghalangimu." Rayden ingin pergi tapi Wira menahannya. Dengan cepat Rayden menepisnya.
"Tunggu dulu, apa kau sedang butuh uang?" Wira agak curiga dengan Rayden yang tiba-tiba mau main pergi gitu aja.
Rayden terdiam lalu berpikir.
'Kenapa dia bisa ada di sini? Apa dia selama ini mencari Arum?' pikir Rayden.
"Ya, aku butuh uang, istriku sedang sakit dan sekarang aku harus membeli makanan dan obat untuknya, tapi isi ATM-ku habis." Rayden berbohong.
"Kalau begitu, biarkan aku mengirimmu uang," ucap Wira seperti biasa berhati enjelmen.
"Tidak usah, aku tidak butuh dikasihani," tolak Rayden gengsi.
"Eh, aku ikhlas kirim kok bro, dan lagian juga sesama manusia harus saling tolong menolong, iya kan?" Wira pun siap menggesek kartunya untuk menarik uang sebesar lima ribu dollar yang setara dengan 71 juta ribu rupiah.
Rayden pun diam lagi. 'Harus aku tanyakan nih kenapa dia bisa ada di sini!' batin Rayden mangut-mangut.
"Hem, kira-kira kau asli dari mana?" tanya Rayden seperti pertanyaan yang biasa orang lontarkan.
Wira memasukkan semua uangnya ke dalam tas lalu menoleh ke Rayden.
"Dari Indonesia dan aku hanya berlibur di negara ini. Serta lima hari ini aku akan pulang ke sana." Wira memberikan sebagian uangnya yang setara lima juta ribu rupiah.
"Ya sudah, aku pergi dulu dan jaga baik-baik istrimu, Bro!" Wira pergi dari Bank. Pria manik hitam itu berencana menghabiskan uangnya itu selama lima hari.
Rayden menatap uang di tangannya. Ia sedikit merasa rendah dari Wira. Dia yang mempunyai banyak harta kekayaan di penjuru dunia, kini diberi sedekah oleh rivalnya. Apa sekarang dia jatuh miskin?
"Cih, menyebalkan sekali!" Rayden bergegas pergi dan mengantongi uang sebanyak itu. Membeli kebutuhan pokok untuk malam ini.
….
Tinggalkan like dan komennya ciiw♡
__ADS_1