Hasrat Tuan Muda

Hasrat Tuan Muda
Bab 55 Isak Tangis


__ADS_3

Kinan Mahira Putri, mahasiswi yang memiliki cinta kuat untuk suaminya. Empat bulan lalu, ia berhasil jatuh cinta pada pandangan pertama kepada satu pria mapan yang tidak sengaja berpapasan di bandara. Yang tidak lain adalah Wiransyah. Pria yang akhirnya putus asa tidak mendapatkan hasil dari pencariannya selama ini menemukan keberadaan Kamelia. Sehingga ia berpikir mungkin anak itu sudah hilang seperti Arum.


Walau begitu, bagi Wira tidak ada yang bisa menggantikan Arum di dalam hatinya meski sekarang ia sudah menikah dan tidak lama lagi akan menjadi calon ayah. Pernikahan yang tidak pernah ia inginkan sama sekali rupanya dapat bertahan selama empat bulan ini.


"Jika saja bukan karena dorongan dari orang tuaku, aku pasti tidak akan menikahimu." Kata-kata itu jelas masih tersimpan di dalam kepala Kinan yang sekarang duduk termenung sendirian di dalam rumahnya. Ia sadar pernikahan ini tidak ada cinta sama sekali. Tidak seperti Rayden dan Arum saat ini membuatnya tambah iri. Apalagi tadi Rayden datang hampir membunuhnya. Untung saja Arum dapat menahan emosi Rayden. Seperti biasa, Rayden memang tidak suka ada yang berani mengusik keluarganya. Bisa-bisa emosinya hilang kendali.


Arum pun juga sekarang sedang diam di sebelah Rayden sambil memandangi baby Ai dan Key terbaring bebas di atas kasur. Ia juga masih kepikiran Kinan yang ternyata Istri Wiransyah, pria yang dulu pernah ngajak nikah.


"Mas, lebih baik kita pindah saja ya." Arum merangkul lengan Rayden, menyandarkan kepalanya di pundak sang suami.


"Kau pasti takut kan aku akan membunuh Wira, cinta pertamamu itu kan? Jadi kau ingin pindah?" kesal Rayden masih mengira seperti awal Arum yang serasa ingin melindungi pria itu.


Arum pun melepaskan rangkulannya. Ia menatap lekat-lekat ke dalam mata langit biru itu.


"Mas! Aku tidak pernah mencintai siapa-pun, tolong jangan membuat emosiku ikut terpancing! Aku itu cuma cinta sama kamu, Mas! Kamu cinta pertamaku, pria yang merebut ciuman pertamaku, suami satu-satunya dalam hidupku, dan sampai kapan pun kaulah yang terakhir bagiku!" tutur Arum cukup sesak nafas mengutarakannya.


"Jadi, lebih baik kita pindah ya, Mas." Arum lagi-lagi merengek.


Rayden menghembus nafas panjang lalu dengan lirih berkata, "Jika memang ucapanmu itu benar, maka temui pria itu besok!" kata Rayden membuat Arum terkejut. Sebuah perintah yang tidak mungkin Arum turuti.


"Tidak Mas, aku tidak mau!" tolak Arum tidak ingin bertemu Wira.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Rayden agak kesal.


"Karena dia sudah menikah, aku tidak mau ada salah paham di antara aku dan Kinan! Terutama dia tidak suka aku dekat-dekat dengan Wira, apalagi Mas juga benci Wira. Jadi Mas jangan kasih saran bodoh gini!" ujar Arum berdiri. Ia bete melihat wajah Rayden.


Namun tangan panjang Rayden menahannya. Rayden ikut bangkit dari sofa lalu menarik Arum dalam pelukannya.


"Sayang, jika kau ingin buat aku yakin. Maka temui dia dan katakan yang sebenarnya tentang dirimu, dan jujurlah pada perasaanmu ini!" kata Rayden serius.


Arum menunduk. Ia bisa saja setuju, tapi ia juga tidak mau melukai hati Wira jika pria itu tahu yang sebenarnya.


"Baiklah!" ucap Arum setuju tanpa ada keraguan di matanya. Rayden tersenyum kecil mendengarnya, ia pun keluar dari kamar baby Ai dan Key meninggalkan Arum yang terduduk menangis di tepi ranjang.


Pukul 22.23 malam, pintu rumah Kinan terbuka. Seorang pria berambut ikal masuk dengan raut wajah kelelahan, ia menjatuhkan diri dan rebahan sendirian di sofa ruang tamu. Ia, Wiransyah yang selesai mengurus berkas rumahnya pada sang pemilik rumah yang lumayan jauh sehingga ia pulang hampir larut malam.


Setelah merasa membaik, ia pun meninggalkan sofa menuju ke arah kamarnya yang berada di lantai dua. Setelah menaiki anak tangga, Wira pun membuka perlahan pintu kamarnya, menginti ke dalam yang hanya ada satu perempuan yang telah menjadi Istrinya sedang tertidur dengan posisi membelakanginya.


Wira perlahan masuk dan menghampiri cermin. Melihat pantulan dirinya yang tampan, dan membayangkan sosok gadis cantik di sebelahnya yang tidak lain adalah Arum.


"Mas, sudah pulang ya?" sahut Kinan terbangun dan menatap punggung Wira yang kini memakai piyama.


"Ya, hari ini baru selesai. Kenapa kau bangun? Kau habis mimpi buruk?" tanya Wira tanpa melihatnya dan kini sibuk main ponsel di sebelah Kinan. Pria itu bersandar nikmat dan acuh tak acuh.

__ADS_1


"Mas, besok ada waktu gak?" tanya Kinan berbaring sambil menatap wajah suaminya itu yang sibuk memandangi layar benda persegi di tangannya daripada memandanginya. Padahal Kinan yang cantik lebih menggoda dari pada benda persegi itu.


"Gak, memangnya kenapa?" tanya Wira cuek lagi tanpa meliriknya sama sekali.


"Besok, kita ke rumah tetangga sebelah yuk. Tadi aku dikunjungi oleh mereka, dan besok giliran kita ya kunjungi mereka. Bisa kan, Mas?" mohon Kinan ingin mempertemukan Wira dan Arum.


Wira berhenti memainkan ponselnya, ia menoleh ke Kinan dan menjawab singkat dan padat.


"Okay."


Kinan tersenyum kecil, ia bisa saja katakan sekarang kalau Arum adalah tetangganya. Tapi Kinan ingin tahu, sangat ingin tahu bagaimana ekspresi Wira melihat Arum dengan dua bola matanya sendiri.


"Terima kasih, Mas. Selamat tidur." Kinan kembali tidur membelakanginya. Ia memejamkan mata, namun tidak terasa air matanya diam-diam jatuh.


"Jika memang kau tidak bahagia bersamaku, setidaknya kau bisa bahagia besok bertemu dengannya. Walau itu hanya sebentar, tapi rasanya sudah sakit sekarang. Apa begitu susah kau lupakan dia sampai kau sulit mencintaiku dan bayi kita, Mas?" batin Kinan sedih cintanya bertepuk sebelah tangan.


Wira sedikit tersentak mendengar ada Isak tangis dari sampingnya. Pria itu pun mendecak kesal lalu meletakkan ponselnya di atas meja kemudian tidur tanpa membalas ucapan selamat malam dari istrinya barusan. Sikap dingin itu, sangat melukai Kinan yang sangat mencintainya. Serasa ada dinding es yang menghalangi cintanya meluluhkan hati Wira.


....


🤭terima kasih sudah setia nemenin emak sampai hari ini. Sehat selalu🥰

__ADS_1


__ADS_2