Hasrat Tuan Muda

Hasrat Tuan Muda
Bab 64 | S2 : Sakitnya mencintai Adik Ipar


__ADS_3

'Siapa lagi itu? Apa itu selingkuhan barunya?' batin Kinan sudah tidak tahan bersabar kepada hati yang membeku itu.


"Mas...."


Wira perlahan menoleh dan melihat Kinan tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


"Maaf sayang, aku sudah mau sibuk. Lain kali kita ketemu lagi, dah." Wira memutuskan panggilan itu, malah teganya memanggil mesra wanita lain di depan mata Kinan.


'Apa kau tidak punya hati? Kenapa tidak pernah memikirkan perasaanku?'


Jika seandainya dia bisa marah sekarang, sudah barusan Kinan menampar wajah Wira. Namun Dokter berpesan untuk jangan terlalu emosian, tapi apa Kinan sanggup menahan?


"Dari mana saja kau seharian ini?" tanya Wira berjalan melewatinya tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Kinan menunduk, hatinya bergejolak ingin tahu siapa wanita itu.


"Kenapa diam saja? Kau tuli sampai tidak mendengarkan ku?" tanya Wira duduk dan menatapnya datar.


Kinan meremas jemarinya, ia ingin katakan soal bayinya adalah laki-laki. Tapi rasanya, ini sudah cukup membuat luka hatinya melebar. Karena diamnya itu, tatapan Wira pun turun melihat belanjaan Kinan.


"Oh aku sudah tahu, kau pasti habis berbelanja. Tapi anehnya, pulang jam segini sudah kelewatan."


Kinan memejamkan mata mendengarnya.


'Kelewatan? Bukan kah dia yang selama ini kelewatan padaku?'


Terasa air matanya ingin jatuh, tapi sekuat tenaga Kinan mencoba tegar dan tidak ingin rapuh di depan suaminya itu.


"Mas, barusan aku selesai belanja. Sekarang aku ke dapur dulu buat masak, permisi."


Wira sangat terkejut istrinya tiba-tiba acuh. Dalam benaknya, Wira mengira Kinan akan lagi menangis dan marah. Namun istrinya sedikit berubah.


'Ini tidak biasanya dia acuh padaku, apa jangan-jangan--"


Wira berlari keluar. Ingin mengejar Kinan ke dapur? Tidak, pria berambut ikal itu masuk ke dalam kamarnya dan melihat surat perjanjian belum ditantangani. Lantas mengapa sikap istrinya berubah?


"Cih, dasar istri tidak berguna!" Wira berdecak kecewa membuat Kinan diam menunduk di dekat pintu setelah mendengar cacian dari suaminya.


'Tidak berguna? Lalu selama ini yang aku lakukan untukmu tidak ada artinya?' Kinan pergi ke dapur lagi, tidak jadi memanggil makan Wira. Siapa yang tahu, gadis yang sedang hamil besar itu menahan tangisnya.


Wira pun ke dapur, bertambah aneh karena Kinan makan sendirian tanpa mengajaknya. Wira pun duduk di kursi paling jauh. Kembali lagi, istrinya hanya diam dan tidak meliriknya. Membuat perasaannya berkecamuk tidak mendengar ocehan istrinya lagi. CEO es itu pun makan dengan muka masam tidak karuan.

__ADS_1


Setelah makan, pria itu masuk ke dalam kamar dan balas mengacuhkan Kinan. Tapi apa Kinan akan seperti kemarin mengemis-ngemis? Tidak, Kinan sudah lelah.


Gadis hamil itu pun selesai juga cuci piring, dia pun berjalan ke kamar. Tangan kanannya mencoba meraih knop pintu.


Kleek!


Kinan terkejut pintu itu dapat terbuka. 'Tidak terkunci? Apa Mas Wira lupa menguncinya?' Kinan bergumam, mengira suaminya kali ini tidak mengurungnya di luar. Dia pun masuk dan melirik Wira lagi-lagi main game tanpa balas meliriknya.


Kinan pun jalan ke ranjang, naik ke atas dan duduk sebentar di sebelah Wira. Tidak ada satu kata terucap kecuali suara game Wira. Kinan pun meletakkan ponselnya di atas meja, kemudian berbaring untuk istirahat, tidak lupa mengelus perut besarnya.


"Bunda tidur dulu ya, baby boy."


DEG! Wira berhenti nge-game setelah mendengarnya. 'Baby boy? Maksudnya?' Wira pun menoleh juga ke Kinan yang tidur membelakanginya.


Ekpresi pria itu bertambah kesal istrinya diam lagi. Dia pun membanting ponselnya ke atas meja lalu tidur balas membelakangi Kinan. Rasanya ia ingin bertanya, tapi gengsi.


Seketika, ponsel Kinan bergetar. Satu notif masuk ke dalam ponsel istrinya itu. Wira diam-diam melirik, dan terkejut Kinan belum tidur dan malah melihat notif apa itu.


'Eh, siapa ini?' batin Kinan ada pesan baru dari nomor asing.


+44123*** :


"Hai, Nona Kinan. Kau tahu siapa aku?"


Kinan :


+44123*** :


"Aku Joan, yang tadi siang. Maaf mengganggumu,"


'Eh, Tuan kumis itu? Astaga, sejak kapan dia tahu nomorku?' batin Kinan pun berpikir sebentar dan menoleh ke Wira. Secepatnya, Wira pura-pura tidur. Tidak mau dianggap penasaran oleh Kinan.


'Cih, siapa sih yang mengirimnya chat malam-malam begini?' batin Wira sangat panas ingin tahu.


Kinan pun acuh, kembali membalas Joan dan tidak peduli pada Wira saat ini.


Kinan :


"Tidak ganggu kok, tapi kenapa bisa kau tahu nomorku, Tuan?"


Joan :

__ADS_1


"Nona Kinan sudah lupa ya tadi di supermarket kau meminjam ponselku saat kehilangan ponselmu. Apa sungguh tidak ingat?"


Kinan :


"Ya ampun, aku ingat!"


Wira mengernyitkan dahi mendengar Kinan tertawa, ia pun kembali diam-diam melirik istrinya yang begitu senang. Perasaannya semakin membara ingin merebut ponsel itu, tapi rasa gengsinya cukup besar.


Joan :


"Hahaha... kalau begitu tolong disave agar tidak lupa."


Kinan :


"Baiklah ..."


Kinan mesem-mesem merasa cukup terhibur. Dia pun menyentuh dagu dan memikirkan nama yang cocok untuk Joan. Sedangkan Wira meremas selimutnya, kesal sekali diacuhkan.


"Ahhh, kenapa kamar ini panas banget!" dengus Wira mengambil remote AC, lalu menaikkan suhu dingin kamarnya membuat Kinan agak kedinginan. Tapi apa Kinan akan marah seperti dulu? Tidak, Wira malah diabaikan lagi dan Kinan lebih asik ngobrol dengan Joan.


"Arghhh!" Wira tidur dan marah.


Kinan mencebikkan bibir melihat suaminya marah tidak jelas. Ia pun mencodongkan tubuhnya dan mengambil remote AC. Seketika dua matanya bertemu manik coklat Wira. Tapi Kinan acuh dan menurunkan suhu AC lalu melanjutkan chatnya.


Wira pun beranjak duduk, tidak suka mendengar Kinan tertawa kecil. Ia keluar dari kamar dan menutup pintu dengan keras, namun tidak ada satu menit, ia masuk lagi ke dalam kamar terus tidur di sebelah Kinan yang sudah selesai chatingan dengan Joan. Gadis itu menghela nafas lega, merasa tenang. Ia pun tidur tidak mengucap kata manis untuk Wira.


Wira pun duduk lagi dan melihat Kinan sudah terlelap. Ia pun secepatnya meraih ponsel Kinan, ingin tahu siapa yang membuat istrinya senang malam ini.


'Ahh, terkunci? Apa password-nya?' batin Wira kesal. Kinan tersenyum tipis mendengar ocehan Wira di belakangnya, dia pun kembali tidur nyenyak.


'Sialan!' cetus Wira meletakkan ponsel itu lalu memejamkan mata, tidur dengan emosi. Tidak seperti Joan di rumah Rayden, pria bermata biru itu sedang berada di balkon kamar, melihat ke rumah Wira. "Rupanya dia tetangga adikku, kenapa bisa kebetulan begini?" gumam Joan tidak usah capek-capek lagi menengok Kinan.


"Jadi penasaran siapa suaminya?"


Joan pun masuk dan rebahan di atas ranjang. Dia cukup sedih karena malam ini Rayden dan Arum sedang berada di rumah sakit membawa Baby Ai dan Key memeriksa kesehatan. Dia jadi deg-degan bagaimana bersikap pada adiknya dan adik iparnya, gadis yang pernah dia sukai. Hingga sekarang agak tidak rela melupakannya, tapi Joan tahu diri, perasaan cinta tidak harus dipaksakan untuk memiliki.


"Aiss, sakitnya mencintai adik ipar! Arghhh! Lupakan dia, Joan!" kesal Joan pada dirinya sendiri lalu memejamkan mata, berusaha tidur tenang dalam kedamaian malam ini.


....


Bersambung.

__ADS_1


Tidak usah rebut adik ipar, mending rebut istrinya Wira kan, Om Mafia?🤣Tinggalkan like dan komennya ya Buncaaan🄰


__ADS_2