Hasrat Tuan Muda

Hasrat Tuan Muda
Bab 68 | S2 : Gara-Gara Joan


__ADS_3

Maaf, sudah lancang tadi," ucap Joan mengalah.


Rayden pun menyalaminya. "Ya, aku juga minta maaf sudah menamparmu."


"Nah, gini dong Om! Kalau gini kan adem lihatnya," sahut Kamelia tersenyum. Joan tersenyum paksa dan mengelus pipinya yang masih sakit.


"Sekarang mari kita semua masuk, dan untuk Kamelia tolong obati pipi Om Joan ya, Nak," ucap Barsha ke Kamelia.


"Baik, Mama! Sini Om ikut Amel masuk," paham Kamelia menarik tangan besar pria hebat itu.


"Tunggu," tahan Joan setelah masuk. Barsha menutup pintu rumah lalu melihat putra pertama suaminya itu berhenti.


"Kenapa?" tanya semua serempak.


Joan melirik Arum yang sudah tidak menyusui Baby Key. Rayden berdiri menghalangi pandangan kakaknya itu. "Mau ngapain lihat istriku terus?"


Joan agak malu untuk meminta.


"Joan, kamu kenapa?" tanya Barsha.


"Em, itu bolehkah aku menggendong-"


"Tidak boleh, tidak ada yang boleh menyentuh anakku," tolak Rayden sudah tahu keinginan Joan.


"Rayden, aku ini Omnya, aku juga mau gendong anakmu," kesal Joan.


"Kenapa harus anakku? Kamu kan bisa bikin anak juga, buruan gih cari wanita!" tolak Rayden.


"Kau pikir bikin anak dan nikah itu gampang, ha?!" tambah Joan ingin menonjok muka adiknya.


Barsha segera menyuruh Kamelia masuk ke dapur mengambil kotak p3k daripada melihat dua anak ini bertengkar lagi.


"Ya gampanglah! Tinggal tusuk dan lamar!"


Barsha dan Arum mulai ikut kesal pada Rayden yang bicara semudah itu. Serasa mulutnya ingin dibungkam pakai cabai sekilo.

__ADS_1


"Rayden! Kau pikir aku ini tukang sate main tusuk-tusuk sepertimu?" Tunjuk Joan tidak tahan pengen gulat dengan adiknya itu.


Arum menunduk, agak konyol rasanya ucapan kakak beradik ini.


"Astaga, mereka berdua sama-sama tukang mesum!" gumam Arum kecil.


"Joan, enak saja kau anggap aku tukang sate! Aku ini tidak pernah main tusuk! Aku lebih jago main tembak langsung!" timpal Rayden tidak terima.


"Apa bedanya tusuk dan tembak?" ucap Joan tersenyum tipis.


"Cukup hentikan! Kalian mau Mama kurung berdua di dalam satu kamar, ha?!" sahut Barsha ikutan emosi.


"Mama, kita bukan anak kecil lagi!" balas Joan dan Rayden kompak.


Arum menepuk jidat melihat suami dan kakak iparnya seperti anak-anak. Dia pun memberikan Baby Key ke Joan agar keduanya kembali akur.


"Silahkan digendong, sepertinya Baby Key juga ingin merasakan Pamannya," ucap Arum tersenyum ke Joan.


Joan menelan ludah. 'Relakan dia, Joan!' batin Joan masih belum rela akan menggendong anak dari pujaan hatinya.


"Hai, cantik, ini Papa keduamu, senang gak bisa Papa gendong?"


Rayden melompat kaget mendengar ucapan Joan.


"Hah, Papa kedua anakku? Maksudnya? Dia lagi mendoakan aku cepat mati terus bisa gantikan posisiku?" Rayden mulai mengepal tangan. Dia yang kini berperasangka bukan lagi Arum.


Arum segera memegang tangan Rayden dan tersenyum hangat. "Mas, emosinya ditahan ya. Kak Joan cuma bercanda kok."


"Cih, aku bete!" Rayden berbalik ingin ke kamar mengambil Baby Ai. Tidak mau kalah dengan kakaknya itu. Joan menahan tawa melihat adiknya kesal, ia pun duduk di sofa bersama Barsha.


"Tunggu, Mas!" tahan Arum saat Rayden ingin keluar membawa Baby Ai.


"Kenapa, sayang? Mau mesra-mesraan di depan Joan?" tebak Rayden sangat ingin membuat kakaknya iri.


"Bukan ih,"

__ADS_1


"Yah, terus apa dong?" tanya Rayden kecewa.


"Itu, Kakakmu kan lagi nginap di sini, terus Dokter Maya juga mau nginap di sini, gimana tuh nanti, Mas?"


Rayden terdiam, baru ingat.


"Mas, jawablah!" desak Arum karena hari sudah petang tapi Dokter Maya belum datang.


"Suruh Joan nginap di luar!" jawab Rayden padat dan singkat.


"Ahh, kok Kak Joan yang diusir? Dia itu Kakakmu, Mas! Apalagi Presiden! Harusnya Dokter Maya yang nginap di luar!" ucap Arum kecewa Rayden pilih Maya daripada Joan.


"Dokter Maya itu perempuan, sedangkan Joan itu laki-laki. Tidak masalah dia tidur di luar!"


"Tidak, aku tidak mau!" tolak Arum keras membuat Baby Ai bangun.


"Oh, jadi kamu dukung Joan daripada Dokter anak kita? Kamu pasti ada apa-apanya kan ke Joan sampai ngotot pengen Joan tidur di dalam?" kesal Rayden menuduh.


"Kok malah salahin aku? Harusnya aku yang salahin Mas! Pasti Mas juga ngotot ingin Dokter Maya tinggal sini karena mau selingkuh dengannya, kan?" balas Arum tuduh.


Oeeekkkkk


Baby Ai langsung menangis melihat orang tuanya saling tuduh menuduh.


"Ini kenapa?" tanya Joan masuk membawa Baby Key. Sontak Arum dan Rayden menoleh lalu menunjuk Joan.


"Ini gara-gara kamu!"


"Loh, kok aku?" Joan menunjuk dirinya tidak paham tiba-tiba kena masalah.


Bersambung…


Yang sabar ya Pak Joan😂 adikmu dan adik iparmu lagi puber jadi orang tua🤭waktunya kau nasehati orang tua baru itu😘


Tinggalkan Like dan Komen😍lope-lope sekebon cabe, terima kasih💕

__ADS_1


__ADS_2