Hasrat Tuan Muda

Hasrat Tuan Muda
Bab 91 | S2 : Mabuk Cinta


__ADS_3

"Ibu sebenarnya tidak ingin melepaskanmu, apalagi kamu sedang hamil anak Wira. Tapi semua keputusan ada pada Ayahmu, Nak. Maafkan Wira jika telah menyakitimu," ucap Ibu mertua Kinan. Kinan menggelengkan kepala, menangis sekencang-kencangnya melihat Ayah dan Ibu mertuanya ikhlas.


Wanita itu pun menatap tajam ke Papa Kinan, dia tidak tega pada Kinan.


"Tuan Lam, semua sudah pasrah, keputusan ini ada pada anda. Jika anda masih ingin melihat putri anda bahagia, mungkin anda bisa--"


"Sudah cukup, lupakan semua masalah yang terjadi. Aku tarik semua gugatan pada keluargamu, dan aku juga tidak akan tinggal diam melihat menantuku mati secepat ini. Jadi lupakan!" tegas Papa Kinan. Tangis Kinan perlahan terhenti, bumil itu menoleh dan lari memeluk ayahnya.


"Hiks, terima kasih, Pah."


Semua yang hadir di sana pun dapat bernafas lega. Dokter Maya tersenyum hangat melihat semua orang telah melupakan masalah dan kesalahan ini. Wanita itu pun maju, berdiri di sebelah Joan.


"syukurlah, jika semua kumpul di sini, maka aku akan memulai pengobatan untuknya. Tapi--" Dokter Maya menggantungkan ucapannya.


"Tapi apa, Dok?" tanya Arum, Rayden, dan Joan bersamaan.


"Dok, pasti suamiku dapat selamat, kan?" tanya Kinan.


"Kami belum memastikan dengan jelas berapa persen, tapi untuk lebih jauh mengetahuinya, dia harus diterbangkan ke luar negeri. Saya harap, kalian setuju."


Semua orang mengangguk. Kecuali Kinan yang tertunduk.


"Kinan, apa kamu setuju?" tanya Dokter Maya.


Kinan melirik Papanya lalu Dokter Maya dan semua orang.


"Aku setuju, tapi aku akan berpisah lagi dengannya, Dok," lirih Kinan melihat perutnya yang besar. Papa Kinan menepuk ujung kepala putrinya, dan tersenyum.


"Kamu bisa ikut bersamanya, Nak," ucap Papa Kinan.


Kinan tersenyum. "Baik, Pah. Terima kasih." Kinan pun ikut bersama suster-suster yang membawa Wira untuk menyiapkan keberangkatannya. Tak tertinggal keluarga angkat Wira juga ikut bersama Kinan, hanya Papa Kinan dan Sekretaris yang pulang untuk mengurus biaya rumah sakit dan penerbangan. Joan yang di antara Arum dan Rayden terlihat murung melihat Dokter Maya pergi menyusul.


"Mas, ayo kita pulang. Mama, Amel dan anak kita pasti menunggu di rumah," ucap Arum menggenggam tangan suaminya sambil tersenyum bahagia.


"Baiklah,  sayang," ucap Rayden mengeratkan genggamannya lalu berbalik. Namun, seketika berhenti. "Joan, kenapa bengong di sana? Kamu tidak mau ikut dengan kami pulang?" tanya Rayden ke kakak kandungnya itu yang masih berdiri sendirian.


"Kalian pulanglah duluan, aku masih ingin di sini sebentar," jawab Joan tersenyum singkat lalu pergi ke jalan lain koridor rumah sakit. Rayden dan Arum pun pulang duluan. Sedangkan Joan terus berjalan, lalu berhenti. Duduk sendirian di tempat sepi.


"Huuuh, semuanya sudah punya jalur masing-masing, apa aku hanya bisa duduk sendirian tanpa arah untuk melangkah?" keluhnya bersandar ke tembok, mendongak ke atas dan membayangkan adiknya sudah berumah tangga, dan Kinan sudah mendapat arah untuk kebahagiaannya. Hanya Joan, yang belum bisa mengisi hatinya yang kosong sekarang.


"Bulan ini, bulan yang berkah. Apa tidak ada hadiah sosok bidadari untuk pria baik hati sepertiku? Atau jatuhnya malaikat cantik dari langit?" keluhnya memejamkan mata.


"Ahhhh!" jerit Joan tiba-tiba ada benda yang mendarat di wajahnya.


"Hah, air mineral? Siapa yang menjatuhkan botol ini ke wajahku?" gumam Joan menunduk, memastikan isi botol itu air mineral sungguhan.

__ADS_1


"Aku,"


"Aku yang jatuhkan, memangnya kenapa?" sahut seseorang yang berdiri di depannya. Joan mengangkat wajah, dan terdiam melihat wanita berpakaian kemeja putih itu berkacak pinggang.


"Dokter Maya? Kok ada di sini? Apa aku jangan-jangan sedang mimpi?" ucapnya menampar dua kali pipi kanan dan kiri.


"Ahhh, kamu ini sungguh Dokter Maya?" kaget Joan akhirnya sadar dan menunjuknya.


Dokter Maya tersentak, heran melihat Joan terkejut.


"Buset, Tuan kenapa sih? Kayak lihat setan ajah, padahal ini aku loh, Tuan," ucap Dokter Maya menurunkan tangan Joan. Risih ditunjuk barusan.


"Hiya, aku pikir kamu Mak Lampir, datang tiba-tiba," ujar Joan mengelus dada.


"What's? Mak Lampir? Kamu kira aku ini nenek-nenek?" ucap Dokter Maya sewot.


Keduanya bertatap cukup lama, membuat Dokter Maya jadi kaku dan gugup.


"Oh ya, ngapain kamu ada di sini? Bukannya harus ikut terbang ke LN?" tanya Joan berusaha tenang, mengira wanita itu pasti sudah mendengar keluhan hatinya. Dokter Maya mencondongkan tubuhnya, menatap cukup dekat pria itu.


"Tuan Joan, anda lupa ya kalau aku ini pengasuhmu?" ucap Dokter Maya menunjuk dada Joan.


"Ya terus?" tanya Joan menepis tangan Dokter Maya. Wanita itu pun kembali berdiri lalu menjawab terus terang. "Ya aku harus selalu di sini mu, sampai hukuman ini berakhir. Aku mana berani tinggalkan kamu di sini, aku takut kamu akan menembakku hari ini karena sudah melepas tanggung jawab begitu saja, tapi kalau Tuan mau ikut denganku terbang ke sana, Tuan boleh ikut, dan aku bisa menjaga--" ucap Dokter Maya berhenti setelah pria itu bangkit dan memeluknya.


"Eeehhhh, apa ini? Kenapa anda tiba-tiba memelukku? Aku tidak memintanmu loh, aku cuma minta kamu ikut dengan ku--" sekali kali Dokter Maya terkejut mendengar bisikan dari Joan.


"Aaahhhh, apa-apaan ini? Kenapa dia bicara sembarangan?" batin Dokter Maya mulai memberontak. Wajahnya dan kedua telinganya merah merona gara-gara ucapan Joan barusan.


"Tuan,  kamu mabok ya?" cerocos Dokter Maya berdebar-debar pria itu menatapnya sangat dekat, apalagi Joan menyentuh dagunya dan tersenyum smirk.


"Yah, aku mabuk cinta karena mu."


Bukannya senang dapat digoda, Dokter Maya malah merinding mendengarnya.


"Cinta? Sejak kapan aku membuatmu mabuk cinta?" kesal Dokter Maya tidak tahan ingin mengeluarkan suntikannya, ingin membius Joan.


"Sejak kamu menjatuhkan botol ini. Sekarang aku tahu, tipe wanitaku seperti dirimu, dan Tuhan telah menjatuhkan jodoh untukku," ucap Joan memeluknya lagi.


"Ahhhh… Tuan, lepaskan! Jika kamu tidak lepaskan aku, akan aku bawa kamu ke pengadilan! Ini namanya pecelele--" putus Dokter Maya ditutup mulutnya dengan selembar roti.


"Ya Dokter, mari kita ke pengadilan. Kita ajukan surat pernikahan."


"Haaaaahhh?" Dokter Maya melongo mendengarnya.


"Tuan, aku ini cuma pengasuh, bukan calon pengantinmu!"

__ADS_1


"Itu bagimu, tapi tidak bagi untukku."


"Oh Mama! Apakah ini? Kenapa pria ini memaksaku menikah?"


Dari perdebatan itu, tetap saja keduanya terbang ke luar negeri. Kembali menyebrangi lautan samudra, dan melewati langit yang membentang indah, kemudian menuju ke tempat awal cinta Joan bersemi kembali.


"Mas, gak papa nih kita tinggalkan Joan di sana? Aku takut dia nyasar," ucap Arum duduk di sebelah Rayden yang menyetir mobil sambil memegang kresek berisi takjil yang sempat dia beli di pinggir jalan sore ini.


"Gak papa, dia bisa pulang sendiri. Sekarang semua masalah Wira dan Kinan sudah selesai, kini tidak ada lagi yang perlu kita pikirkan. Kamu juga pasti bisa tenang kan, sayang?" tanya Rayden memarkirkan mobil, sudah sampai di rumah. Dia mengecup kepala istrinya dengan penuh sayang.


"Hm, aku sudah lega, Mas. Terima kasih, selama ini kamu mau menuruti keinginanku," ucap Arum menggenggam erat tangan Rayden.


"Ih, kok nangis sih?" tanya Rayden mengusap linangan air mata Arum.


"Aku terharu melihat Kinan, semoga saja rumah tangganya bisa kembali utuh dan bayinya lahir dengan sehat dan selamat," jawab Arum tersenyum manis.


"Aamiin. Semoga rumah tangga kita juga selalu adem seperti ini, sayang," ucap Rayden memegang pipi kanan Arum dan ingin menciumnya, tapi sayang sekali, Arum sontak menghentikan aksi suaminya.


"Mas, ini bulan puasa. Gak boleh mesra-mesraan dulu, awas ntar ada setan yang rusak puasa kita," tahan Arum mencubit mulut seksi Rayden.


"Tapi kan cuma sebentar, sayang," rengek Rayden.


"Gak tetap gak boleh, sekarang kita turun dan masuk!" tegas Arum lalu keluar dari mobil. Rayden cemberut jelek ditolak. Ia pun turun dari mobil, namun sekilas pria itu melihat seseorang misterius mengawasinya.


"Hei! Siapa kau!" teriak Rayden ingin mengejar, tapi ditahan oleh Arum.


"Mas, ngapain teriak barusan? Aku kaget tau jadinya! Tadi lihat apa di sana?" tanya Arum mengelus dada. Rayden melihat lagi ke arah tadi, namun sayang sosok misterius hilang.


"Ah maaf, mungkin tadi aku salah lihat. Yuk, kita masuk ke dalam, sayang."


"Baik, tapi, lain kali jangan gitu lagi, ngerti kan?"


"Yayaya, gak akan lagi kok." Rayden mengacak gemas rambut istrinya, kemudian menarik Arum masuk ke dalam rumah. "Sial, orang itu cari mati sudah memantau keluargaku. Awas saja, akan aku temukan kamu secepatnya."


Sebelum buka puasa, Rayden pergi mengecek cctv, tapi jangkauan kameranya tidak merekam lokasi berdirinya sosok misterius itu. "Cih, siapa orang ini?"


.....


2 atau 4 Bab lagi tamat nih 😊kira-kira akhir cerita gimana ya?


Baby Kinan dan Wira apa ya? Cinta Joan akan berlabuh kepada siapa?


Semuanya akan terjawab, di akhir cerita nanti. Tetap selalu menantinya ya.


Terima kasih.

__ADS_1


Lope-lope lima kebon cabe bucan 💕


__ADS_2