Hasrat Tuan Muda

Hasrat Tuan Muda
Bab 78 | S2 : Melamar Kinan


__ADS_3

Ting!


Satu pesan masuk ke ponsel Kinan, wanita itu sama halnya Wira yang bingung untuk menjawab pesan papanya.


“Nak, papa hubungi Wira, tapi suamimu itu tidak mengangkatnya. Apa kalian sedang sibuk hari ini?”


Kinan di dalam mansion Barsha, tepatnya di kamarnya sekarang, ia menunduk sedih. “Ya Papa, kami sibuk melepaskan diri masing-masing," lirihnya menunduk.


@Kinan


[Maaf, Papa. Kami habis jalan-jalan jadi tidak sempat balas chat papa]


Kinan menitikkan air matanya, terpaksa bohong.


'Jalan-jalan? Maaf Papa, aku sudah berbohong, kami sebenarnya sedang berpisah.'


'Dan menantumu sedang selingkuh di sana, hiks.'


Kinan menjatuhkan diri ke kasur, menutup mata dan mengusap tangisnya. Wanita itu menangis kencang di dalam kamar sendirian. Memikirkan Wira pasti sedang asik bermesraan dengan wanita lain.


Joan di balik pintu ingin masuk menghibur, tapi dia juga tidak tega merusak waktu Kinan.


“Jangan ganggu dia, berikan dia waktu.”


Joan menoleh ke kiri. Matanya bertatap dengan Dokter Maya yang datang ingin mengecek Kinan juga.


“Aku melihat, ada cinta yang kuat di matanya. Dia terlalu baik sehingga melukai dirinya sendiri,” ucap Joan menarik tangannya lepas dari knop pintu.


“Seperti kau juga, Tuan.”


Joan tersentak lalu menatap tidak suka Dokter Maya.


“Apa maksudmu!?” kesal Joan.


Dokter Maya tidak menjawab, dia pergi meninggalkan kamar Kinan. Joan tambah kesal melihat tingkah Dokter Maya, baru pertama kalinya ada wanita lain yang membuatnya jengkel.


"Kinan," panggil Joan membuka pintu. Kinan bergegas beranjak duduk, tersenyum seadanya.


“Kenapa, Tuan Joan?” tanya Kinan.


Joan duduk di sebelah Kinan. “Kau habis menangis, pasti sedih ya aku ajak kau ke sini?" tanya Joan ingin tahu perasaan bumil itu yang dua hari ini tinggal di wilayahnya.


Kinan menggelengkan kepala, lalu mengelus perutnya.


“Aku sedih bukan karena mu,”


“Terus, apa yang membuatmu menangis?” tanya Joan. Entah sore ini dia merasa gugup di dekat Kinan.


“Aku tidak tahu bagaimana nasib anakku nanti yang lahir tanpa kehadiran ayahnya dan tidak tahu apa yang harus aku katakan pada ayahku di Indonesia,” jawab Kinan jujur.


Joan mengangkat tangannya, menghapus air mata Kinan yang tiba-tiba jatuh.

__ADS_1


“Aku takut, ayahku akan marah padaku.” Kinan kembali menangis.


Joan mengepal lalu meraih kedua tangan Kinan, menarik bumil itu berdiri.


“Kau mau bawa ku kemana?” tanya Kinan digandeng ke luar mansion, membawanya ke belakang, melewati taman bunga dan menuju ke danau yang sangat indah.


“Sini, naiklah!” pinta Joan naik ke sebuah perahu, mengulurkan tangan meminta bumil itu ikut naik juga.


“Tuan Joan mau ngapain ke sini?” tanya Kinan belum berani naik, dia tidak tahu berenang dan takut akan jatuh tenggelam.


“Naiklah dulu,” jawab Joan tersenyum.


“Ba-baiklah." Kinan terpaksa naik. Satu pijakan membuatnya histeris saat perahu kayu itu bergoyang. Joan segera menarik bumil itu hingga jatuh menindihnya. Keduanya tenggelam dalam tatapan mata yang sangat dekat itu.


"Ah, maaf!” Kinan buru-buru duduk, bersemu tidak jelas. Ia gugup berduaan dengan Joan di danau itu.


“Pftt, apa ini pengalaman pertama mu?” tanya Joan mulai mendayung perahu. Kinan mengangguk kecil.


Tiba-tiba perahu goyang lagi, Kinan meraih lengan Joan, meremas lengan pria itu dengan sangat kuat. Joan menahan tawa melihatnya menutup mata, nampak Kinan takut sekali perahu itu terbalik.


“Tuan Joan, kita-” putus Kinan saat Joan meletakkan jarinya ke bibir itu.


“Tenang saja, kita tidak akan jatuh. Cobalah buka matamu dan lihat di sekelilingmu.”


Kinan menelan ludah, membuka perlahan matanya. Ia tanpa sadar tersenyum lebar, begitu kagum melihat sekelilingnya dipenuhi bunga teratai. Udaranya sejuk sekali berada di tengah danau, apalagi pemandangan danau di sekitar juga sangat luar biasa. "Waw, cantik sekali!”


Joan merasa lega melihatnya bahagia seperti itu. Dia meraih tangan Kinan. Bumil itu semakin gugup melihat Joan seakan ingin mengatakan sesuatu.


“Kau menyukaiku?” tanya Kinan to the poin. Joan menunduk malu.


“Aku bahkan ingin menikahimu, Kinan," jelas Joan satu tangannya mengeluarkan kotak merah berisi cincin emas membuat Kinan syok dilamar hari ini.


“Bersediakah kau menikah denganku, Kinan?”


Kinan terdiam, dan melihat cincin pernikahannya masih melekat di jarinya dan cincin Wira berada di lehernya. Joan


nampak sedih melihat cincin Wira itu dibuat kalung, sehingga berpikir Kinan akan menolak. Tapi apakah Kinan benar-benar menolak?


Rayden dan Arum yang sedang menyusuri mansion tidak sengaja melihat dari kejauhan Kinan menerima cincin itu. Keduanya sangat terkejut pada Joan yang main lamar tanpa memberitahunya. Tangannya kembali mengepal, tapi Arum membuka kepalan itu, dan menatap Rayden.


“Mas, kita hari ini habis siarah ke makam ayah dan Ibumu, jangan melukai Joan lagi. Kita beri dia kesempatan, siapa tahu jodohnya memang ada apa Kinan.”


Arum sebenarnya kasihan masa depan anak Kinan, tapi dia pikir Wira sudah keterlaluan sehingga berpihak pada Joan. Seandainya saja Arum tahu pria yang sempat menyukainya itu sedang sekarat, pasti Arum akan menyalahkan dirinya.


Rayden menatap istrinya kemudian melihat Joan merangkul Kinan di atas perahu itu. Sikap perhatian Joan, membuat Rayden pun menyerah.


“Cih, aku hanya takut dia akan kecewa lagi.”


Rayden pergi ingin menemui dua anaknya yang sedang diurus oleh Dokter Maya dan Kamelia. Arum berdiri di dekat pilar, melihat Kinan yang tertunduk sedih. Pasti hati bumil itu sedang gelisah telah memutuskan untuk menerima Joan.


Tiba-tiba Barsha mengejutkannya, wanita paruh baya itu heran melihat putrinya sendirian berdiri.

__ADS_1


“Arum, kenapa bengong di sini? Kemana Rayden?” tanya Barsha yang juga ikut mengunjungi makam suaminya.


“Mama, Joan baru saja melamar Kinan di sana,” jawab Arum menunjuk Joan yang nampak mendayung ke tepian danau.


“Sungguh?” ucap Barsha sangat terkejut.


“Tidak mungkin, Kinan sedang hamil dan dia masih punya suami. Joan tidak bisa menikahi Kinan yang masih berstatus istri orang, apalagi dia sedang hamil besar, Nak.” Barsha menjelaskan ketidakmungkinan itu.


“Mama memang benar, tapi sepertinya Joan benar-benar menyukai Kinan, dia pasti punya cara bagaimana menikah dengannya,” ucap Arum menunduk.


“Menurut Mama, apakah Kinan sudah tepat untuk Joan?” tambah Arum ingin tahu pendapat Ibunya. Barsha terlihat susah menjawab, dia juga bingung keputusan Joan ini benar atau salah.


“Saya rasa itu kurang tepat,” sahut Arleya datang mengunjunginya. Barsha dan Arum menoleh. Mama muda itu tersenyum melihat Ibu angkatnya datang, ia segera memeluk Arleya.


“Mama Arleya, kami merindukanmu,” ucap Arum tersenyum.


“Mama juga merindukanmu, apalagi merindukan baby twinsmu. Mama ingin sekali melihat cucunya Barsha, tapi sepertinya aku tertarik dengan pembicaraanmu tadi. Kalian sedang bicara apa tentang Joan barusan?” tanya Arleya menghampiri Barsha.


Barsha pun menunjuk Joan membuat Arleya kaget ada wanita lain di dekat Joan, apalagi sedang hamil.


“Busyet, belum juga ada dua bulan dia pergi meninggalkan Veldemort tapi dia sudah punya wanita lain, bahkan sedang hamil besar begitu, apakah wanita ini istri siri Joan?” gumam Arleya menyentuh dagunya. Barsha dan Arum menahan tawa melihat satu wanita ini terkejut.


“Mama, wanita hamil itu namanya Kinan. Dia bukan istri siri tapi istri orang, tepatnya istri dari teman kerja ku dulu di Indonesia." Arum menjelaskan, agar Arleya paham sepenuhnya.


“Lah, kalau begitu ngapain wanita ini ke sini? Dia kan punya suami, kenapa dekat sama Joan?” tanya Arleya heran.


“Leya, suaminya tidak mencintainya," jawab Barsha.


“Terus?”


“Suaminya sudah berkali-kali selingkuh, jadi Kinan pergi meninggalkan suaminya. Kebetulan Joan juga menyukai Kinan, jadi dia membawa Kinan ke sini, Mama," tutur Arum menjawabnya.


“Hadeh, rupanya masih ada suami yang kurang bersyukur di dunia ini. Jelas-jelas ada kebahagian yang menimpanya tapi suami kurang ajar itu tidak menghargai istrinya yang sedang hamil besar. Dia itu lebih jahat dari Marsel, Barsha!" kesal Arleya ingin sekali menangkap Wira dan Marsel lalu mengurung kedua baji ngan itu bersama-sama di dalam penjaranya.


“Entah setan apa yang sudah marasukinya, Leya,” ucap Barsha ikutan kesal pada Wira.


“Mama, sekarang kita perlu pikirkan ini,” ucap Arum ke Arleya.


“Memikirkan apa?” tanya Arleya mulai jalan di samping Arum dan Barsha, sesekali menengok Joan dan Kinan yang masih berduaan di taman bunga.


“Memikirkan lamaran Joan,” jawab Barsha.


“What's? Lamaran Joan?” kaget Arleya sehingga berhenti jalan.


“Mama, Joan baru saja melamar Kinan, dia ingin menikahi Kinan tapi Kinan masih berstatus Istrinya Wira, apalagi sedang hamil. Jadi untuk menikahi Kinan, wanita itu harus cerai dulu dan melahirkan anak itu." Arum pun mengeluarkan kegelisahannya.


“Kau benar, wanita ini perlu bercerai dan melahirkan anaknya. Terutama Joan harus ke Indonesia untuk membicarakan ini pada orang tuanya Kinan, tapi sepertinya Joan tidak mungkin bisa terbang ke sana,” ucap Arleya kembali berpikir. Namun ketiganya terkejut saat Joan datang menyahut mereka.


“Aku akan berangkat ke Indonesia. Menemui ayah Kinan dan menikahi putrinya di sana.”


Kinan di sebelah Joan hanya diam mendengar pria itu sungguh-sungguh ingin menikah dengannya.

__ADS_1


__ADS_2