
Setibanya di mansion Barsha, Kamelia dan Barsha pun membereskan barang-barang baby Ai dan Key. Malam ini Arum dan Rayden sudah siap pulang bersama Kamelia.
“Jadi Mama mau menetap di sini dulu? “ tanya Arum menggendong baby Ai.
“Gak mau pulang bareng kita? ” tanya Rayden menggendong baby Key.
“Mama, pulang sama kita saja!” tambah Kamelia tidak mau jauh dari Barsha. Bocah itu sudah sayang pada Ibu tirinya, dia senang sekali dapat Ibu tiri yang baik. Selain itu, Kamelia tidak mau lagi ditinggal oleh Barsha.
“Mama harus ngurus sesuatu ke Arleya, dua hari ke depan nanti Mama nyusul kalian,“ tutur Barsha membelai kepala Kamelia.
“Kalau begitu, Amel pulangnya sama Mama saja,” mohon Kamelia.
“Eh tidak bisa, kamu harus cepat sekolah kembali dan mengejar pelajaran yang tertinggal sayang,” ucap Barsha.
“Nanti kalau sudah penerimaan rapor, Mama pasti datang.”
Kamelia cemberut, dia pun menurut.
Arum dan Rayden menahan tawa melihat bocah itu lesu. Saat mereka ingin keluar, tiba-tiba Kinan datang.
“Tunggu,” tahan Kinan berhenti di sebelah Barsha.
“Ya, kamu kenapa Kinan berlari ke sini?” tanya Arum.
“Anu, itu… apa kalian melihat cincinku?“ Kinan sangat malu menanyakan masalahnya.
“Cincin? Cincin kamu jatuh?” tanya Barsha.
__ADS_1
“Itu Tante, cincinku hilang. Padahal tadi aku masih pakai, tapi tadi tiba-tiba hilang. Apa kalian melihatnya?” ucap Kinan bertanya. Dia takut Joan akan marah sudah kehilangan cincin lamarannya.
“Tidak, kami tidak melihatnya,” jawab Rayden dan melihat ada cincin lain di tangan Kinan.
“Oh ya, cincin di tanganmu itu cincin siapa?” tanya Rayden.
Kinan terperanjat. “I-ini cincin pernikahanku bersama Wira.”
Rayden berdecak mendengarnya. “Cih, kau saat ini dilamar oleh Joan, tapi kau masih memasang cincin pernikahamu dengan pria lain. Apa kau tidak tahu menghargai perasaan Joan?”
Kinan terkejut mendapat teguran langsung dari Rayden. Arum juga sama dan baru kepikiran.
“Apa kamu belum bisa melupakan suamimu, Kinan?” tanya Barsha. Kinan pun hanya bisa menunduk, dia gugup di antara mereka. Apalagi sekarang rasa terkejutnya bertambah ketika Joan turun dan menghampiri mereka.
“Apa yang kalian bicarakan sampai berkumpul di sini?” tanya Joan merasa heran keluarga adiknya belum berangkat juga.
“Maaf, aku tidak sengaja menghilangkan cincinmu,” sambungnya takut menatap mata Joan.
Joan tersenyum dan ingin menyentuh puncak kepala Kinan, tapi seketika tangannya ditarik kembali membuat Rayden dan Arum agak terkejut.
“Tidak apa-apa, tidak usah panik gitu,” ucap Joan tersenyum lagi. Kinan mengangkat dagu, bertatap muka ke Joan.
Seketika pelayan datang dan membawa barang-barang ke arahnya. Barsha dan pasutri di sampingnya sangat terkejut, bahkan Kinan lebih terkejut barang itu miliknya.
“Loh, ini kan barang Kinan. Kenapa kamu membawanya kemari?” tanya Barsha ke pelayan itu.
“Ini perintah dari Tuan Joan, Nyonya besar.”
__ADS_1
Kinan sontak saja melihat ke Joan. Arum dan Rayden tercengang melihat Joan yang tidak jelas lagi hari ini. Dalam benak Rayden, apakah pembicaraannya kemarin sudah dipikir matang-matang oleh kakaknya itu?
“Tuan Joan, ini maksudnya apa?” tanya Kinan merasa diusir oleh pria yang baru-baru ini melamarnya.
“Maaf Kinan, aku rasa maksud cincin itu hilang adalah kita tidak dijodohkan untuk menikah. Terima kasih kau sempat masuk ke dalam hatiku, terima kasih dan pulanglah ke suamimu.” Joan berbalik, mengepal tangan dan menaiki anak tangga, tapi Kinan menyusul, menahan tangan pria itu.
“Tunggu, bukan kah kau janji akan menikahiku dan pulang bersamaku menemui ayahku, di mana janji itu?” tanya Kinan lagi-lagi harus menelan kekecewaannya.
“Apa kau sungguh ingin menikah denganku? Apa kau sungguh mencintaiku? Jika kau belum melupakannya, lebih baik lupakan janji itu dan aku.” Joan menepis tangan Kinan.
“Ke-kenapa kau permainkan aku, Tuan Joan!” ujar Kinan ingin menangis.
Joan mengangkat tangannya, menghapus genangan air mata Kinan.
“Aku tidak mempermainkan mu, aku sedang berusaha melepas mu. Kembali lah ke suamimu, Kinan.” Joan berlalu naik meninggalkan Kinan yang jatuh ke anak tangga. Pelayan berlari mendekati Kinan yang menangis.
Arum ingin menghampirinya tapi Rayden menahan istrinya untuk tidak ikut campur. Kinan melihat Arum, dia sedih. Kemudian berdiri dan menarik kopernya untuk keluar dari mansion, tapi Rayden menahannya.
“Ikutlah kami pulang ke Indonesia.”
Kinan hanya mengangguk kecil, dia pun pamit ke Barsha dan keluar duluan menuju ke mobil Rayden. Kinan duduk dan mengelus perutnya.
“Maaf Nak, Bunda lagi-lagi gagal kasih ayah untukmu.”
Air mata Kinan menetes lagi di dalam mobil Rayden. Tidak tahu mengapa semua pria suka mempermainkan hatinya.
......
__ADS_1
Author juga tidak tahu kenapa pria di dunia ini sering main tarik ulur🥺😔ya kan Mak?