
Duaak!
Pintu kamar Kinan didobrak oleh Joan. Namun tetap saja pintu itu sangat kuat.
“Agh, terbuat dari mana pintu ini?” Joan kembali mendobrak. Dokter Maya pergi ke dapur mencari linggis. Tapi tetap saja dia tidak mendapatkan apa-apa.
“Duh, bagaimana nih?” desis Dokter Maya kembali ke Joan.
“Tuan Joan, apa perlu aku panggilkan polisi?” tambah Dokter Maya ke Joan.
“Jangan!” Joan merebut ponsel Dokter Maya.
“Tuan Joan, ini situasi darurat, polisi harus datang membantu kita, dan harus menangkap suaminya yang tidak bertanggung jawab itu!” ucap Dokter Maya marah.
Joan terlonjat. 'Busyet, dia bisa juga membentakku.' Joan mendengus.
“Kamu lupa aku ini siapa? Jangan sekali-kali naif menelpon polisi!” ucap Joan ketus tidak mau identitasnya terungkap.
“Tapi--” Dokter Maya terhenti setelah pintu di belakang Joan perlahan terbuka.
“Ahhhhh!” pekik Dokter Maya terkejut melihat ada yang keluar. Joan berbalik, dua matanya melebar. Sontak dia memeluk Kinan yang berdiri menyedihkan.
“Syukurlah, kamu baik-baik saja Kinan,” lirih Joan melepaskan pelukannya dan mengusap wajah Kinan yang lusuh.
Kinan dengan mata sembab, dia menatap Joan lalu memandangi Dokter Maya datang ke rumahnya. Tidak tertinggal, matanya melihat pintu rumahnya rusak.
“Baguslah, anda masih hidup Nona. Maaf sudah lancang masuk ke rumahmu, kami sangat cemas padamu, bagaimana jika anda ikut saya ke rumah sakit?” ajak Dokter Maya berharap Kinan mau.
Kinan tersenyum kecut, lalu menunduk.
__ADS_1
“Pergi,” lirih Kinan mengepal jemari.
“Kinan, ikutlah denganku pergi dari sini,”
Dokter Maya terkesiap mendengar Joan ingin membawa kabur istri Wira itu. 'Ampun deh, nih satu orang memang gak jelas!' batin Dokter Maya. Bukannya dibawa ke RS, Joan malah ingin membawanya pergi. 'Padahal kemarin dia larang aku jadi pelakor, sekarang dia sendiri pengen jadi pebinor, apa aku boleh menyuntik Tuan Joan sekarang?' batin Dokter Maya gemas.
“Pergilah!” bentak Kinan ke Joan.
Joan terperangah, cukup keras bentakan itu.
“Hiks, aku tidak butuh kamu! Aku tidak butuh kasihan darimu! Tidak butuh kamu mencintaiku! Pergilah! Aku masih kuat tidak lemah!" Kinan mendorong Joan lagi. Untung ada Dokter Maya mencegah pria itu jatuh.
“Nona, tenanglah. Anda perlu dibawa ke rumah sakit,” ucap Dokter Maya meraih tangan Kinan tapi Kinan menepisnya. Joan terdiam melihat Kinan kasar.
“Aku tidak gila! Aku tidak mau ke rumah sakit! Pergilah dari hadapanku! Hikss…” Kinan mengusir Dokter Maya dan Joan. Dia menutup kamarnya lagi dan teriak di dalam sana. Puncak amarah dan sakit hatinya meluap pagi ini.
Joan ingin mengetuk pintu, tapi dia pun pergi ke rumah Rayden. Dokter Maya sedih melihat Kinan depresi di dalam sana, dia takut terjadi sesuatu pada kehamilan Kinan, tapi Joan menariknya pergi dari rumah Kinan itu.
"Kalian kenapa?” tanya Barsha ikut duduk, sedangkan Kamelia ke kamar baby Ai dan Key.
"Mama, hari ini kita akan kembali ke Veldemort,” ucap Rayden.
“Hari ini? Secepat itu? ” tanya Barsha tak habis pikir.
“Ya Mama, aku dan Arum mau bersiarah ke makam ayah dan Ibu. Serta Joan harus kembali ke sana juga.” Rayden menatap Joan yang menunduk, dia tahu kakaknya itu belum tega meninggalkan Kinan.
“Tapi hari ini cuaca sedang mendung di luar, akan turun hujan.” Barsha menunjuk ke luar rumah.
“Tidak usah khawatir, kita pasti sempat capai bandara. Sekarang kita harus bergegas membereskan barang,” ucap Rayden.
__ADS_1
“Apa Dokter Maya akan ikut?” tanya Barsha melihat Dokter cantik itu.
“Aku akan menyusul di belakang, karena masih ada yang harus aku urus dulu, Tante.” Dokter Maya tersenyum manis, tentu dia belum mau melepaskan Kinan, dia harus memeriksa wanita hamil itu.
“Baiklah, mama ke kamar untuk siap-siap.”
Semuanya pun ke kamar masing-masing, kecuali Dokter Maya dan Joan masih duduk di ruang tamu. Keduanya sama-sama memikirkan Kinan, apalagi Joan selalu melihat surat di tangannya. Surat perjanjian Kinan dan Wira.
“Apa yang kau pegang itu, Tuan Joan?” tanya Dokter Maya iseng. Joan menatapnya datar dan memberikan surat itu. “Bacalah sendiri.”
“Ini….” Dokter Maya membisu membaca surat itu perjanjian cerai Wira dan Kinan, tapi lebih terkejutnya dia mengenal foto yang tertera di sana. “Loh, ini kan pasien yang sering datang ke rumah sakit.” Dokter Maya menyentuh dagunya. “Jadi pria ini suami, Nona itu?” gumam Dokter Maya.
“Sudah, jangan kau tatap terus!” Joan merebut surat itu lalu bangkit.
“Anda mau ke mana, Tuan?” tanya Dokter Maya ikut berdiri.
“Mengembalikan surat ini,” jawab Joan ingin membuka pintu. Seandainya saja Kinan mau bercerai dengan Wira, Joan pasti akan menikahi Kinan setelah anak itu lahir. Tapi, Joan terhenti membuka pintu setelah dua telinganya mendengar klakson mobil Wira.
Joan dan Dokter Maya melihat lewat jendela ke rumah Wira. Benar saja, pria berambut ikal itu baru pulang. Joan mengepal tangan, hatinya kecewa dan marah pada Wira yang suka mempermainkan hati Kinan. Joan tidak jadi pulang, dia duduk dan mengacak rambutnya, tidak seperti Dokter Maya terkejut ada wanita lain keluar dari mobil itu.
“Ya Tuhan, apa maksud pria ini sebenarnya?” Dokter Kinan menutup mulut melihat wanita itu bergelayut manja di lengan Wira. Pasti, Kinan akan bertembah gila melihat suaminya itu bawa selingkuhan. Dokter Maya meneteskan air mata, dia terasa ikut apa yang dirasakan Kinan saat ini.
Memang benar, Kinan yang baru memperbaiki pintu rumah sendirian sangat hancur wanita itu bergandeng tangan di dekat Wira dan masuk ke dalam rumah. Bumil cantik itu terdiam, melihat pintu yang baru saja dia perbaiki dilewati dengan mudah, sedangkan ia tidak tahu caranya memperbaiki hatinya yang terluka.
“Mas, kau tega sekali.”
Wanita bule itu tersenyum smirk. “Aku ke dapur ya sayang, mau ambil jus dulu.” Wira mengangguk, lalu duduk di sofa dan mengabaikan Kinan yang berdiri di dekat pintu kamar.
.....
__ADS_1
Putuskanlah dia sayang jika memang itu yang terbaik💕