
Setelah Dokter Maya mengurus surat untuk mengajukan diri dalam perawatan Wira. Kini pria yang sedang di dalam ruangan itu sedang ditangani oleh beberapa dokter ahli kanker, terutama Dokter Maya ikut di dalam sana memeriksa Wira. Sedangkan di luar, Rayden, Arum, Joan, dan Kinan hanya bisa menunggu keputusan untuk pengobatan Wira.
"Kinan, kamu tenang saja, aku yakin dokter di dalam pasti bisa menyelesaikan tugas mereka," ucap Arum menghibur Kinan yang terus ketakutan. Bukan cuma memikirkan Wira, tapi memikirkan biaya dan bagaimana ia jelaskan ini pada ayahnya.
"Arum, aku cemas, aku khawatir Papaku tidak akan membantu pengobatan mas Wira," lirih Kinan berdiri dari kursi tunggu.
"Kenapa kamu bicara begitu? Wira kan menantu ayahmu, aku yakin Papamu pasti mau membayar biaya pengobatan Wira. Selain itu, perusahaan ayahmu dapat sukses begini berkat Wira, kamu harus yakinkan ayahmu, Kinan," ucap Arum. Memberi dorongan agar Kinan jujur pada ayahnya.
"Aku tahu, tapi papaku sudah terlanjur benci pada mas Wira." Kinan bergetar ketakutan, masih tidak luput bayangan amarah papanya dan benar saja dia semakin ketakutan setelah suara kelakar mengagetkan mereka.
"KINAN!!! "
"Papa?"
"Kenapa, kenapa Papa bisa ada di sini?" batin Kinan mundur sedikit. Pria paruh baya itu menghampiri mereka. Joan dan Rayden segera berdiri di sisi Arum dan Kinan. Terlihat Joan memandangi ayah Kinan.
"Kinan, apa itu ayahmu?" tanya Joan ke Kinan.
"Benar, se-sepertinya papa berhasil melacakku," jawab Kinan agak panik.
"Jika begitu, jangan-jangan papa kamu sudah tahu kalau Wira ada di sini?" tebak Arum melihat tangan Kinan yang bergetar, tidak seperti Papa Kinan yang mengepal tangan dengan kuat.
"Kinan!" panggil Papa Kinan setengah teriak. Kinan tersentak, ia secepatnya meraih tangan kanan Papanya dan memohon dengan menangis tersedu.
"Papa, tolong jangan lakukan apa-pun pada mas Wira, tolong Papa maafkan Mas Wira," pinta Kinan.
__ADS_1
"Apa maksudmu ini, hah?" tanya Papa Kinan agak marah.
"Hiks, Kinan tahu Papa ke sini pasti berhasil melacak kita, tapi Papa harus tahu Mas Wira tidak bermaksud menyakitiku," jawab Kinan terisak.
"Cih, berhenti menumpahkan air matamu, Papa tetap tak bisa lagi menerima ini," decak Papa Kinan melihat tajam putrinya.
"Pah, Mas Wira selama ini sedang mengidap penyakit kanker, sebelum kenal dengan Kinan. Papa ingat kan, kenapa Mas Wira menolak menikah denganku? Karena dia tidak mau seperti yang terjadi sekarang, dia tidak mau menyusahkan Papa, dan merusak bisnis Papa. Mas Wira sudah memikirkan semuanya, tapi Mama saat itu lebih memaksa Mas Wira. Aku yang salah juga, sudah memaksa dia mencintaiku, Pah. Sekarang penyakit Mas Wira tambah parah, dia buta dan lumpuh," tutur Kinan menjelaskan semuanya.
"Selama ini dia sibuk mengurus bisnis Papa, selalu lembur demi memenangkan saham perusahaan Papa, dan menyembunyikan keluhan dia dari kita. Mas Wira juga tidak pernah bermaksud selingkuh, dia di luar sana hanya keluar mengecek penyakitkan di belakang kita. Papa, percayalah ucapanku, hiks… " tangis Kinan berharap semua penjelasan ini dapat dicerna oleh Papanya. Namun sayang, benci tetaplah benci. Papa Kinan langsung menghempaskan tangan putrinya dan membentak dengan tegas.
"Hentikan, Nak! Percuma, selama ini kamu melindunginya, Papa sudah tahu semuanya. Ucapanmu barusan hanya alasan agar Papa melepaskan pria itu, sekarang ikut, Papa!" ujar Papa Kinan meraih tangan putri semata wayangnya itu.
"Tidak Papa, aku tidak ingin lagi menjauh darinya, biarkan aku tetap di sampingnya, Papa," ronta Kinan.
"Semua itu tidak akan-"
Rayden dan Arum terkejut melihat Joan menampar tangan Papa Kinan, pria gagah itu merebut tangan Kinan dan menarik Kinan ke belakang. Joan, dengan berani, berdiri dengan tegak dan tak lupa bicara tegas pada Papa Kinan.
"Kau? Beraninya ikut campur!" murka Papa Kinan. Semua mata pengunjung dan pasien pun teralih pada mereka.
"Tentu saja, aku harus ikut campur untuk membenarkan semua ini," ucap Joan tak gentar ditatap sinis oleh Papa Kinan.
"Oh, sungguh nyalimu besar juga padaku," ucap Papa Kinan emosi.
Joan kasihan melihat Kinan yang tertunduk di sebelah Arum, ia pun menghirup dua kali nafas lalu dengan berat membuangnya.
__ADS_1
"Tuan, apa yang dikatakan oleh putri anda barusan memang benar. Meski saya pernah kecewa pada menantu anda, tapi saya dapat memaklumi tindakan bodohnya ini. Saya tahu, ini cukup keterlaluan untuk putri anda, tapi sejujurnya, dia melakukan ini agar tidak melukai terlalu dalam hati Kinan. Dia tahu, Kinan sangat mencintainya, sehingga dia berpikir, jalan satu-satunya untuk membencinya adalah dengan cara ini, Tuan." Joan cukup sesak nafas menjelaskan panjang lebar apa yang dia cerna dari keinginan Wira.
"Ck, memangnya kau siapa bisa tahu tentang menantuku?" decak Papa Kinan.
"Walau aku bukan siapa-siapa, tapi sebagai pria, aku juga pasti akan melakukan ini padanya," ucap Joan serius.
"Dan jika anda masih ragu, kami bisa memperlihatkan kepada anda, di mana Wira berada," sambung Rayden ikut angkat suara.
Papa Kinan melihat ragu-ragu mereka, terutama putrinya yang terlihat menyedihkan di dekat Arum. Batinnya mengamuk di dalam sana, ingin rasanya menghabisi Wira, tapi setelah mendengar kebenaran dari semua orang, Papa Wira jadi kebingungan sendiri.
Cklek!
Satu suara itu, mengalihkan semua pandangan orang ke pintu di sampingnya. Kedua mata Papa Kinan pun terang melihat di atas brankar ada menantunya.
"Dia siapa?" tanya Papa Kinan terlihat tak percaya. Kinan maju, mengambil tangan Papanya. "Pah, dia Mas Wira, menantu Papa yang lagi sakit parah, ayah dari cucu Papa yang aku kandung ini," jawab Kinan terisak-isak. Papa Kinan terdiam cukup lama, memperhatikan dari ujung kepala hingga ke bawah. Sontak, kepalan tangan Papa Kinan melemah dan langsung memeluk putrinya. Suasana yang tadi memasan, kian mereda menjadi haru.
"Papa, tolong bantu selamatkan dia. Hanya Papa satu-satunya harapan Kinan, aku tidak mau berpisah dulu dengannya, Pah." Kinan tiada hentinya memohon. Tiba-tiba semua orang tersadar dari suasana haru itu saat seseorang menyahut.
"Hei, Kinan. Apa kamu sudah lupa dengan kami?" sahut seorang wanita yang datang bersama sebagian keluarganya, dan Sekretaris. Mereka adalah keluarga angkat Wira yang datang berkat dihubungi oleh sekretaris yang terpaksa membocorkan rahasia Wira.
"Tuan Lam, sepertinya semua sudah jelas. Kami juga baru tahu hal ini, tapi jika anda masih dendam pada adikku itu, anda tidak usah khawatir, kami akan mengganti rugi semua kekecewaanmu, asalkan mulai hari ini hubungan Wira dan Kinan berakhir," jelas wanita itu dengan tegas.
Arum, Rayden, dan Joan sangat terkejut. Bahkan Kinan tidak percaya kakak iparnya itu mengajukan hubungan dua keluarga ini putus. Bumil itu, segera menolak.
"Kakak, tidak. Aku tidak ingin hubungan ini berakhir, aku dan Papaku tidak akan meminta kerugian apa-pun. Papaku mulai sekarang akan membantu Mas Wira. Kakak, biarkan kita tetap bersama," ucap Kinan serius padanya, lalu pindah ke Ibu dan ayah angkat Wira.
__ADS_1
"Ibu, Ayah, aku salah. Aku yang salah telah mengecewakan kalian, mohon tarik ucapan kalian." Kinan menggenggam tangan Ibu mertuanya. Wanita tua itu menghapus butiran air mata Kinan yang berjatuhan, dan memeluknya dengan hangat.