
Pria itu memang pergi dari sana, ia berjalan ke rumah Wira. Tepatnya Joan sudah ada di depan pintu rumah CEO es itu.
"Apakah suaminya sudah ada?" gumam Joan mengira suami Kinan sudah pulang. Memang dua hari yang lalu setelah menemani Kinan malam itu, ia tidak terlalu memikirkan Kinan, karena bumil cantik itu perlahan menjaga jarak, tapi Joan tidak tahan untuk mengkhawatirkannya. Joan pun memberanikan diri mengetuk pintu.
Kinan di dalam sana sedang menangis, ia kehilangan surat perjanjiannya dan Wira dua hari ini tidak pernah pulang. Namun, suara ketukan pintu menghentikan tangisnya. Ia buru-buru mengusap air matanya sampai kering, tapi matanya sudah sembab dari kemarin.
"Mungkin kah itu Mas Wira?" Kinan berdiri, bergegas membuka pintu dan tersenyum bahagia.
"Mas Wi-"
"Selamat siang, Kinan." Joan tersenyum manis kemudian terkejut Kinan tampak sedih di depannya. Tentu Kinan kecewa yang datang bukanlah suaminya.
"Tuan Joan," lirih Kinan berusaha tersenyum. Tapi Joan mengusap air mata yang berhasil jatuh dari pelupuk bumil cantik itu.
"Kau lusuh sekali, apa kau baik-baik saja?" tanya Joan tidak tahan melihat kondisi Kinan.
"Aku baik-baik saja kok, Tuan." Kinan terus tersenyum.
'Ya Tuhan, kemana suaminya? Kenapa dari kemarin tidak terlihat? Apakah dia sudah pergi meninggalkan istrinya di sini?' batin Joan ingin sekali memeluk Kinan, tapi ia tidak sebodoh itu memeluk terang-terangan Kinan di depan rumah, yang ada nanti tetangga lain curiga dan menganggapnya calon pebinor.
"Untuk apa Tuan ke sini?" tanya Kinan membuyarkan lamunannya.
"Begini, hari ini Rayden mengadakan acara, jadi aku datang untuk mengundangmu," jawab Joan melihat perut Kinan makin hari makin besar. Tak terasa tangannya mendarat di perut itu dan mengelusnya.
"Anakmu sepertinya sehat di dalam sini," ucap Joan tersenyum, rasanya bahagia menyentuh perut buncit itu.
"Tuan Joan," lirih Kinan merasa geli.
"Astaga, maaf aku sudah lancang menyentuhmu. Aku tidak sadar bisa tenggelam membayangkan istriku hamil begini. Ku harap kau tidak marah," kaget Joan menarik tangannya.
Kinan menunduk malu dan sedih. 'Nak, dia itu Tuan Joan, pria berhati baik, senang gak bisa dielus sama dia?' batin Kinan hatinya menangis mendapat perhatian Joan.
"Anu... apa kau mau datang ke acara Rayden? Itung-itung bisa membuatmu terhibur," ucap Joan sekali lagi.
Kinan menoleh ke jam dinding. 'Sebenarnya aku ingin mau, tapi Mas Wira pasti marah kalau aku ke sana.' Kinan ingat Wira pernah melarangnya.
'Tapi kalau aku terus di rumah, aku bisa stress lagi,' batin Kinan pun menatap Joan lama.
__ADS_1
"Baiklah, terima kasih Tuan Joan sudah capek-capek ke sini." Kinan tersenyum manis.
"Suamimu ada?" tanya Joan melihat Kinan menutup pintu.
"Tidak ada, dia belum pulang," jawab Kinan menunduk sedih.
Spontan, Joan memegang tangan Kinan. "Kalau begitu, kemarilah ikut aku. Tidak usah sedih, kau akan terhibur tanpa dirinya." Joan membawa Kinan ke rumah Rayden.
Terpaksa Kinan ikut masuk ke halaman belakang. Galak tawa pecah di sana namun seketika hening setelah Kinan datang bergandeng tangan bersama Joan.
"Joan, ngapain kamu bawa istri orang?" tanya Rayden mendekatinya sambil menggendong baby Ai.
Arum dan Barsha, Dokter Maya, Amel heran pria itu datang-datang membawa istri Wira.
"Dia adalah tamuku." Kinan terkejut dianggap tamu Joan.
"Dia sedang hamil, dan suaminya belum pulang, jadi aku bawa saja dia ke sini agar bisa terhibur. Tidak apa-apa kan aku membawa tamuku?" tambah Joan ke Rayden.
Rayden melotot ke Kinan, bukan karena marah ke Kinan tapi ke Wira yang tidak peduli pada Kinan sehingga kakaknya membawa dia ke rumah.
"Tidak apa-apa kok," sahut Arum mendekati suaminya membuat Rayden tambah heran.
"Terima kasih," balas Kinan.
"Semua sudah selesai, yok kita mulai acaranya!" Barsha memecahkan keheningan tegang itu. Semuanya pun merayakan bersama-sama ultah Rayden sore ini. Pria itu menggila hari ini, dari tiup lilin, ada-ada saja kekonyolan yang dibuat Rayden. Setelah itu dia bernyanyi untuk Arum, lalu berdansa ria dengan istrinya itu sampai malam.
Tidak ketinggalan, Amel juga ikut karaoke bersama Barsha, sedangkan baby Ai dan Key dibawa masuk ke dalam kamar oleh Dokter Maya lalu melihat dari balik jendela Joan sedang minum segelas wine di dekat meja sana kemudian melihat Kinan duduk tidak jauh darinya. Namun seketika pandangannya melihat Joan mendekati Kinan.
"Berdansalah denganku, Nona Kinan."
Dokter Maya terkejut melihat Joan mengulurkan tangan. Begitupula Kinan agak gugup diajak berdansa.
"Tidak Tuan Joan, aku tidak tau berdansa," tolak Kinan karena Joan tampak mabuk.
Joan tersenyum tipis lalu meraih tangan Kinan, menarik bumil itu hingga jatuh ke pelukannya. Dokter Maya syok melihat tingkah dua orang itu semakin dekat.
"Tuan Joan, aku--”
__ADS_1
"Shht, ikutilah iramaku." Joan meletakkan jarinya ke bibir Kinan membuatnya sedikit tersipu. Rayden dan Arum yang asik berdua tidak sadar Joan sedang menggoda di sana.
"Tuan Joan, aku lebih baik duduk saja." Kinan tidak kuat berdansa dengan Joan yang setengah mabuk itu.
"Tetaplah bersamaku, biarkan aku menghiburmu." Joan menyentuh pipi Kinan sangat lembut dan tersenyum indah. Kinan hampir terkesima ketampanan Joan, dia segera menepis tangan Joan di pinggangnya. Dia takut akan jatuh cinta pada pria itu.
"Maaf Tuan, aku lebih baik pulang saja."
Tetapi, Joan meraih tangannya dan mendekati wajah Kinan. Sangat dekat sampai-sampai Kinan takut Joan akan melampaui batasnya.
Namun benar saja, Joan mengatakan hal konyol itu.
"Cintai aku."
Brrruk!
Kinan mendorong Joan. Entah kenapa tangannya tidak dapat terkontrol sehingga memberi dorongan itu.
Rayden dan Arum berhenti berduaan, mereka menoleh ke sumber suara. "Joaaan!" Rayden berlari ke arah Joan yang pingsan akibat terlalu mabuk dan membiarkan Kinan pergi dari sana. Arum ingin menyusul Kinan, tapi Rayden menahan tangannya.
"Jangan berurusan dengannya, Arum!"
"Ba-baiklah." Arum terpaksa melepaskan Kinan yang pulang. Terlihat bumil itu masuk dan menangis di dalam sana. Sedangkan Joan dibawa masuk ke dalam rumah. Acara ultah Rayden selesai begitu cepat.
"Hiks... hikss, apa maksudnya Tuan Joan itu?" tangis Kinan di dalam kamar, menangis sendirian di balik selimutnya.
"Tidak, aku pasti salah dengar!" Kinan beranjak duduk, mengacak berantakan rambutnya.
Dia bangkit dari ranjang, mencari surat perjanjian tapi surat itu tidak ada. Kinan jatuh bersimpuh di lantai, dia tidak paham perasaannya resah dan gelisah terus menerus.
"Hikss.. Papa! Kinan capek!" Raung Kinan lelah mempertahankan pernikahannya. Dia mengambil bingkai foto pernikahannya di atas meja, meremas kuat-kuat dan melemparnya.
Praaang!
...........
...Tinggalkan like coment and vote💕...
__ADS_1
...terima kasih...