
Tiga hari ini Arum gunakan dengan baik untuk memberi kesan pada mertuanya, ia membuktikan dirinya adalah menantu terbaiknya dan istri terbaik untuk Rayden. Namun, ada-ada saja gangguan dari Ibu mertuanya. Seakan-akan wanita itu mulai nampak tidak suka kehadirannya. Setiap waktu, Nyonya Mariam memberinya tugas berat seperti mengangkat jemuran yang menumpuk dan berat. Membersihkan dapur besar dan luas hanya sendirian. Seolah dijadikan babu.
'Cih, aku lebih betah tinggal di Istana Tante Barsha daripada di sini. Setiap hari selalu saja wanita licik itu mengawasiku. Memangnya aku ini penjahat kelamiin yang harus dipelototin tiap hari gitu?' Arum berdecih dalam hati.
"Hei, cepatan dong ngelapnya! Lelet banget sih kamu beresinnya!" cibirnya pada Arum, dan bersandar di pintu sambil memainkan benda persegi di tangannya.
Ia, Nyonya Mariam. Wanita yang tengah santai hari ini karena Tuan Edward sedang berada di Kastil sebelah bersama Rayden untuk menghadiri pertemuan Mafia. Entah kapan kedua pria itu kembali.
"Mama, semuanya sudah selesai," ucap Arum tersenyum manis.
Nyonya Mariam bergidik geli mendengarnya. "Hah, Mama?"
"Kenapa, Mama?" tanya Arum menghampirinya.
"Hei, aku ini bukan Mama kamu, enak saja kamu panggil aku ini Mama!" ujar Nyonya Mariam tidak suka.
"Tapi kan Mama itu Ibu mertua ku," balas Arum dengan tatapan datar.
"Ibu mertua? Haha... sejak kapan aku jadi Ibu mertua mu? Kamu jangan ngimpi deh!" celotehnya tertawa.
"Ta-tapi kan Mama itu Istrinya ayah suamiku, jadi Mama ya tetap Ibu mertuaku," ucap Arum ngotot.
"Arumi! Ibu mertua aslimu itu sudah meninggal, sudah jadi tulang belulang! Aku ini bukan Ibu mertuamu, aku adalah Nyonya besar di rumah ini, kamu harusnya panggil aku, Nyonya besar! Bukan Mama!" tuturnya membentak.
Arum dalam hatinya sangat jengkel. 'Memang siapa juga yang mau panggil kamu Mama, sukanya membentak-bentak, seenaknya mempermainkan orang, bagusan Tante Barsha daripada kamu!' celoteh Arum membatin.
"Hei, apa maksud tatapanmu itu?" ujarnya lagi-lagi marah.
"Tidak ada kok, Mama." Arum tersenyum manis membuat Ratu Mariam kesal.
"Kamu budeg ya? Sudah aku bilang jangan panggil Mama! Tapi Nyonya!"
"Ta-tapi kan-"
"Arghh... kamu mau dipukul, ha?!"
Melihat keduanya berdebat, pelayan hanya bisa terdiam. Mereka tidak berani melerai, takut akan dihukum dan dipecat.
Tak! Arum berhasil menangkap tangan Nyonya Mariam. Ia tentu sudah capek ditindas tiga hari ini.
"Kamu, beraninya menahanku!"
"Maaf, lebih baik Mama jangan terlalu marah-marah, nanti cantiknya pudar. Kalau sampai Mama terlihat tua di mata ayah, nanti bisa-bisa mencari istri baru," ucap Arum menakut-nakuti Nyonya Mariam.
DEG! Nyonya Mariam terkejut, ia menarik tangannya dan menelungkupkan kedua tangannya di pipi.
"Tidak, aku tidak boleh tua! Tidak boleh ada istri baru yang berdiri di sisi Edward! Itu tidak boleh!"
Benar dugaan Arum, Nyonya Mariam langsung saja meracau.
'Cih, memang awal tujuannya jadi pelakor, jadi dia bisa sesuka hati berbuat. Dasar siluman ular!' decit Arum dalam hati.
"Permisi yang mulia," sahut Pelayan menghampiri keduanya.
"Ada apa kamu datang-datang, ha!" lagi-lagi kerjaannya membentak. Arum hanya menggelengkan kepala melihat sifat pemarahnya yang muncul itu.
"Teman-teman Nyonya datang untuk bertamu, mereka sedang duduk menunggu anda," ucap pelayan bergetar.
"Apa? Mereka sudah datang?" Nyonya Mariam shock, ia belum selesai make up.
"Kamu, cepat sajikan jamuan untuk mereka!" tambahnya pada Arum.
"Kenapa harus aku? Bukannya ini tugas pelayan?" desis Arum makin jengkel.
"Tidak usah membantah, sekarang turuti apa kataku! Cepat, bikin kan mereka jamuan!"
"Baik, Mama."
"Hei, panggil Nyonya, bukan Mama!"
"Baik, Nyonya." Arum tersenyum kesal menyiapkan jamuannya. Sedangkan Ratu Mariam naik ke kamarnya untuk memperbaiki make upnya. Pelayan tadi ingin membantu tapi takut dengan Nyonya Mariam. Alhasil, gadis hamil itu sendirian memenuhi keinginan Ibu mertua galaknya itu.
Setelah membuat jamuan, Arum membawanya ke ruang tamu, di mana ada tiga istri pejabat yang hadir bertamu. Ketiganya serempak melihat Arum.
"Aduuh, manis sekali menantu Tuan Edward. Sampai-sampai membuatkan teh untuk kami," ucap mereka tertawa bersama-sama. Arum hanya tersenyum, bahkan menampakkan lesung pipinya.
"Ehh, sepertinya istri Tuan Rayden gendutan deh, sister," bisik-bisik mereka melirik perut Arum yang buncit.
__ADS_1
"Kamu benar, padahal pernikahan mereka baru tiga hari," lanjut mereka asik ngegibah.
"Tante, berkat suami saya yang pengertian, BB saya jadi naik secepat ini," sahut Arum menanggapi tatapan mereka. Bahkan Arum menyidir mereka yang mempunyai pernikahan suram. Kalian pasti tahu sendiri, mereka bertiga adalah Istri-istri korban poligami demi kedudukan. Sebelas dua belas mirip Nyonya Mariam.
"Doain ya Tante, saya cepat hamil biar Bos Veldemort dapat momongan." Arum pergi, berjalan gontai meninggalkan mereka.
"Cih, mentang-mentang menantu Mafia, dia bisa sombong begitu," decit mereka tidak suka. Nyonya Mariam turun, ia tertawa ria bersama mereka. Bahkan saling melempar pujian satu sama lain dan sesekali melirik kesal pada Arum yang sibuk duduk sendirian membaca buku.
"Sis, kita kerjain tuh anak!" bisik Ratu Mariam pada mereka. Ketiganya setuju dengan bisikan itu.
"Ehem, Arumi sayang," sahut Nyonya Mariam berkata lembut menghampiri Arum.
"Kenapa ya, Nyonya?" tanya Arum malas menatap mereka.
'Cih, kurang ajar banget sih, jadi pengen ku ulek-ulek jadi sambal nih cewek!' gerutu mereka berempat dalam hati.
"Arumi, kamu mau gak ikut bareng kami?" ajak Nyonya Mariam.
"Tapi suamiku belum pulang, nanti aku dicariin, Nyonya," ucap Arum agak curiga.
"Aduh kamu ini lugu banget sih, memangnya keluar rumah harus nunggu suami pulang? Haahaha ..." mereka kembali menertawai Arum yang lugu.
"Tante-tante, sebagai istri, apabila ingin keluar, kita harus pamit dan izin ke suami dulu supaya tidak ada masalah di kemudian hari," jelas Arum berdiri dan menceramahi mereka.
"Cih, lugu dan kampungan banget sih kamu!" cibir Nyonya Mariam pada Arum.
"Ho'oh, jadi aneh nih, apa bagusnya dia sampai-sampai Tuan Rayden meminangnya? Gak gaul banget!" lanjut mereka mendorong bahu Arum.
"Yuk sis, kita pergi berempat saja!" Ketiganya pergi diikuti Nyonya Mariam. Arum menggertakkan rahang, lalu menjatuhkan diri ke sofa. Ia kembali membaca buku selama dua jam.
"Kapan Mas Ray pulang?" Arum menutup wajahnya pakai buku itu. Ia bosan tidak ada hiburan sama sekali.
"Kalau jam begini aku sibuk kerja manggang roti, sekarang aku sibuk bengong sendirian."
Tiba-tiba pelayan datang menghampiri, ia berkata Rayden telah pulang. Senyum Arum mengembang, ia bergegas menyambut suaminya itu.
"Kemana dia?" gumam Arum hanya melihat ayah mertuanya saja yang menaiki anak tangga menuju ke kamar. Terlihat ayah mertuanya itu sudah tua hingga berjalan lemas begitu.
'Acchh!' Arum memekik shock didekap tiba-tiba dari belakang.
"Hei Baby, apa yang membuatmu bengong?" bisik Rayden dengan suara nakalnya.
Rayden menatap netral Arum dalam-dalam, ia ingin mencium bibir gadis itu tapi seketika ditahan oleh Arum.
"Loh, kenapa?" tanya Rayden kesal dan kecewa.
"Mas Ray, bukan kah malam itu kamu mau ngajak aku keluar? Apa kamu sudah lupa?"
Rayden terdiam, ia memang pernah berjanji setelah balik dari tugasnya, ia akan membawa Arum jalan-jalan.
"Bosan di rumah ya?"
"Bukan bosan, aku pengan itu-"
"Itu apa?" tanya Rayden.
"Pengen jalan-jalan bareng sama kamu," jawab Arum mencolek dada Rayden. Pria itu menarik Arum keluar.
"Eh, mau kemana?"
"Keluar dong, Baby,"
"Gak istirahat dulu?"
"Tidak,"
"Gak capek?"
"No, Baby,"
"Kok bisa?"
"Karena kamu sumber energiku, melihatmu saja sudah membuat capekku hilang."
"Ihh, geli dengarnya!"
"Hahaha...."
__ADS_1
Melihat keduanya mesra di dalam mobil, Ratu Mariam yang usai dari berbelanja menggertak kesal. Ia seolah cemburu melihat pengantin baru itu berbahagia. 'Cih, dasar kalian benalu!' decitnya masuk ke dalam Istana sambil menghentak-hentakkan kaki.
"Mas Ray," lirih Arum menatap suaminya itu yang sedang menyetir.
"Kenapa?"
"Nih, kamu pakai ya," ucap Arum memberinya kumis dan jenggot palsu.
"Ini buat apa?" tanya Rayden mengambilnya.
"Baby kita pengen lihat Papanya kumisan dan jenggotan," jawab Arum mengelus perutnya.
"What's?" Rayden terbelalak mendengar keinginan Arum.
"Apa tidak ada ngidam yang lain bisa kamu minta?" Rayden geli memakai kedua benda itu.
Arum menunduk. "Ta-tapi ini Baby kita yang minta," rengek Arum dengan mata berbinar-binar. Karena melihatnya menggemaskan, Rayden pun terpaksa nurut, ia menepikan mobil.
"Sini biar aku pasang," pinta Arum.
"Gak usah, biar aku saja," tolak Rayden.
"Tapi Baby kita pengen Mamanya yang pasang sendiri," mohon Arum mengerjap-erjapkan matanya. Rayden tersenyum paksa mendengar Arum yang selalu bawa-bawa alasan Baby di dalam perutnya.
"Ya sudah, aku ngalah, nih pakaikan."
Arum menahan tawa melihat Rayden nurut. Ia pun menempelkan kumis dan jenggot palsu itu.
"Duh, kumisnya miring nih, perbaiki dong, sayang!" cetus Rayden.
"Ya iya, nih udah cakep!"
Arum bertepuk tangan melihat Rayden. Ia tertawa geli melihat ekspresi datar dan kesal suaminya itu.
"Babynya sudah senang di dalam sana?" tanya Rayden nunjuk perut Arum.
"Senang dikit,"
"Kok dikit doang?"
"Ya habisnya belum jalan-jalan,"
"Oh ya sudah, mau kemana dulu?" tanya Rayden kembali mengemudi.
"Ke rumah Pak Ustadz,"
"What's?" Lagi-lagi Rayden terbelalak.
"Kok ke situ?" tanya Rayden bingung.
"Katanya mau belajar agama, ya udah kita ke rumah Pak Ustadz di negara ini. Mau, kan?" rengek Arum berharap suaminya mau.
"Hem, ya sudah deh,"
"Ikhlas dan yakin gak nih?"
"Ikhlas dan yakin dong, sayang!" ucap Rayden membelai rambut Arum kemudian melaju ke rumah salah satu ustadz masjid di negara itu.
"Alhamdulillah, Mas Rayden tidak menolak."
Setibanya di rumah ustadz, begitu terkejutnya pemilik rumah didatangi oleh pangeran kedua negara itu.
"Astagfirullah!" kaget Pak Ustadz membola sempurna setelah
tahu identitas asli keduanya.
"Astaga, Pak! Ngapain malah istigfar, harusnya ngucap Masya Allah! Cakep-cakep gini malah ngucap gitu, kayak habis lihat dedemit waee!" cerocos istri Ustadz menepuk bahu suaminya itu.
.......
.......
.......
.......
.......
__ADS_1
...Tinggalkan Like coment and voteđź’•...