
"Aruuuum!" panggil seseorang dari arah jauh meja restoran yang telah dipesan oleh Rayden sendiri kemarin untuk reuni bukber hari ini.
"Heiii!" balas Arum dengan senyum mengembang dan melambai ke arah mereka.
"Mas, ayok kita ke sana!" ucap Arum menarik lengan Rayden.
"Wah, kamu benar-benar Arum?!" tanya mereka seakan tidak percaya dapat melihat Arum kembali.
"Yah, ini aku," jawab Arum malu-malu di sebelah Rayden. Pelukan satu demi satu dari rekan ceweknya memeluk Arum bergantian. Hanya rekan cowok yang tidak berani memeluk Arum karena adanya Rayden.
"Kami kira kamu sudah meninggal, rupanya--"
"Aku masih hidup, suamiku yang dulu menyelamatkan aku dari rentenir saat itu," ucap Arum secepatnya dan duduk di kursi berdekatan Rayden.
"Hm, beruntung sekali ada yang menyelamatkanmu, tapi--" ucap mereka terhenti karena melihat Rayden tampak arrogant tak mau bicara dua kata pun dengan mereka.
"Tapi kenapa?" tanya Arum melihat mereka.
"Kamu tahu, rentenir dan anak buahnya meninggal, tapi kata polisi, yang menyebabkan mereka meninggal karena ulah mereka sendiri, tak ada sidik jari dari pistol rentenir, itu artinya--"
Lagi-lagi rekan cowok yang menjelaskan itu berhenti akibat ditatap oleh Rayden. Meski Rayden memakai kacamata hitam, tapi rekan cowok itu tahu Rayden sedang menatapnya benci. Seolah elang yang pengen mematuknya.
"Sudah, sudah! Ngapain sih kita bahas kematian mereka, mendingan kita bahas hal lain, contohnya, siapa pria di sampingmu itu, Arum?" tanya rekan cewek di sebelah kiri Arum dan melihat Rayden yang duduk di samping kanan Arum.
"Ah ini, dia suamiku," jawab Arum tersenyum manis.
Mereka pun langsung diam. "Suami? Ini sungguh suamimu?" tanya mereka masing-masing menunjuk Rayden.
"Emang kenapa kalian terkejut begitu?" tanya Arum heran.
"Wah, kami kira kamu lagi bercanda tadi ngomong suami-suami, ternyata benar,"
"Itu artinya, kamu sudah menikah?" tanya salah satu rekan kerja Arum.
"Yah, kita sudah menikah tahun lalu, dan sekarang aku juga sudah punya dua anak," jawab Arum malu-malu, dan mereka pun terbelalak mendengarnya.
"Yang benar ? Kamu sudah punya anak?"
"Dua anak?! Dua anak?!"
"Kamu masih 19 tahun sudah punya dua anak dalam setahun?"
"Jangan-jangan anaknya kembar ya?"
__ADS_1
Mereka sebagian saling berbisik-bisik dan sebagian bertanya lagi untuk memastikan ucapan Arum bukan sebuah candaan.
Rayden mulai jenuh ikut kumpul bersama mereka, ia pun membuka kacamata dan melihat sembilan rekan kerja istrinya. Tatapan mereka pun terpaku melihat Rayden.
"Ehem, mungkin hari ini cukup sampai di sini obrolan kalian, kami tidak bisa lama-lama di sini," ucap Rayden bangkit dari kursi.
"Loh, mau ke mana? Kenapa berdiri?" tanya Arum ikut bangkit.
"Sayang," ucap Rayden menggenggam erat tangan Arum membuat mereka pun heboh dalam hati mendengar Rayden memanggil mesra Arum di depan mereka.
"Lihat, Mama kirim pesan, kita disuruh pulang sekarang," lanjut Rayden memperlihatkan ponselnya berisi pesan teks dari Barsha.
"Ta-tapi kan, ini sudah dekat mau berbuka," ucap Arum tidak enak meninggalkan teman-teman kerjanya.
"Sayang, Mama mungkin nyuruh kita pulang karena anak-anak. Kamu lebih milih anak-anak atau kumpul di sini?" tanya Rayden.
Arum pun melihat temannya, bingung memutuskan.
"Arum, kamu pulang saja, kami tidak masalah kok di sini. Reuni ini bisa lagi diatur kembali, sekarang kamu pulang lah, siapa tahu anak-anak kamu lagi butuh Ibunya," ucap rekan kerja cewek kepada Arum.
"Duh, aku jadi tidak enak nih," desis Arum.
"Tidak masalah kok, kamu ikut saja keputusan suamimu." Mereka mengangguk bersamaan akibat tampang Rayden yang dingin itu.
"Huh, tadi itu suaminya menakutkan. Ganteng-ganteng tapi galak."
"Yaelah, gantengan aku," ucap teman cowok dengan percaya diri.
Huuuuuuu! seru mereka meneriakinya lalu tertawa bersama.
Mereka pun bercanda ria menjelang berbuka. Sedangkan Rayden dan Arum sedang berada di dalam perjalanan pulang.
Dua jam yang lalu sebelum pesan Barsha itu sampai ke Rayden, terlihat Kamelia sendirian menjaga Baby Ai dan Key di rumah.
"Uuh, Mama kemana ya? Kenapa lama beli takjil di luar?!" keluh Kamelia di atas makan sembari melihat baby Ai dan baby Key di kereta baby.
"Kak Arum dan Om Rayden juga salah, kenapa tidak angkat babysitter lagi? Amel kan gak tahu jaga Ai dan Key kalau sendiri begini," cetus Amel memonyongkan mulutnya melihat dua baby itu sedang bermain sendiri di dalam kereta.
Tiba-tiba, suara bel berbunyi di luar rumah. Amel pun terkejut dan turun dari kursi, mendekati baby Ai dan Key, tampak anak perempuan itu agak takut keluar melihatnya.
"Kalau itu Mama, pasti tidak pencet bell! Tapi siapa yang datang?" gumam Amel gelisah.
"Permisi," ujar seseorang setengah teriak di luar sana. Amel pun tersentak mendengar seorang wanita yang datang.
__ADS_1
"Tuh kan, pasti orang lain! Bukan Mama!"
"Duuh, Amel buka atau gimana ya?" pikir Amel mondar mandir di depan baby Ai dan Key. "Ah iya! Telpon Kakak dan Om!" Amel bergegas ke kulkas, menjinjit untuk mengambil ponsel Barsha di atas sana. Dia pun mengirim chat kepada Rayden untuk segera pulang.
"Permisi, ada orang?" panggil orang itu yang tidak lain adalah Sekar dan Marsel.
"Baiklah, Amel coba-coba keluar deh," gumam Amel mendorong kereta keponakannya menuju ke pintu rumah. Setelah sampai di pintu, perlahan tangan anak perempuan itu meraih knop, ingin membukanya tapi seketika terhenti saat ada suara pria yang berdebat dengan Sekar.
"Kenapa sih kita harus ke sini?" decih Tuan Marsel tidak percaya Istri keduanya datang ke rumah musuhnya. Karena penasaran, Amel pun diam-diam mengintip lewat jendela dan terkejut melihat seorang pria berdiri di depan wanita yang duduk di kursi roda.
"Mars, di rumah ini banyak anak-anak. Dari pada kamu cari musuh, mendingan kita cari kawan, siapa tahu dari hubungan ini kita punya pewaris," ucap Sekar.
"Ya tapi, kita kan bisa cari yang lain, Sekar!"
"Kenapa harus repot-repot cari lain kalau di sini ada yang dekat?" debat Sekar.
"Sekar, sekarang kita pulang!" Tuan Marsel mulai mendorong kursi roda istrinya.
"Sebentar, Mars! Kita jangan langsung pulang gini!" desak Sekar tidak mau pulang sebelum melihat anak-anak di dalam foto.
"Sekar, dari tadi kita sudah memanggil, tidak ada orang di--" ucap Marsel berhenti saat mendengar suara pintu di belakangnya terbuka.
"Om, Tante, cari siapa?" tanya Amel berdiri di sebelah kereta baby Rayden.
Nyonya Sekar dan Tuan Marsel pun berbalik dan melihat Amel tampak ketakutan didatangi oleh mereka.
Wanita di kursi roda itu pun tersenyum ramah melihat Kamelia dan dua anak bayi itu.
"Hei cantik, siapa nama mu?" tanya Sekar mendekati Amel.
"Namaku, Amel, Tante," jawab bocah itu gugup.
"Tante ke sini mau ngapain?" lanjut Amel bertanya.
"Tante dan Om cuma mau datang berkunjung, pas banget hari ini kami ada waktu, jadi ingin ke sini kenal sama keluarga Amel," jawab Sekar sembari melihat Marsel yang tampak tertegun melihat dua bayi di dalam kereta.
"Oh ya, ini adeknya Amel?" tanya Sekar.
"Bukan," jawab Amel lebih dekat berdiri ke kereta.
"Terus, siapa mereka?" tanya Marsel menatapnya.
Amel menelan ludah ditatap Marsel, ia tampak menakutkan.
__ADS_1