Hasrat Tuan Muda

Hasrat Tuan Muda
Bab 70 | S2 : Satu Atap


__ADS_3

"Mas, bisa gak sih berhenti hujat dia!" kesal Arum.


"Sayang, aku tidak hujat dia, aku hujat suaminya itu yang tega suruh istrinya hujan-hujanan datang ke sini." Rayden nunjuk ke rumah Wira.


"Su-suamiku belum pulang," lirih Kinan masih coba tahan tangisnya berhenti.


"Heh, kemana dia?" tanya Rayden.


"Aku juga tidak tahu, kontaknya mati dan listrik di rumah padam, aku takut gelap dan petir,"


Arum mengepal tangan, semakin kasihan pada Kinan yang tidak diperhatikan Wira.


"Bagaimana kalau masuk dulu? Kamu pasti belum makan, kan?" tanya Arum sekalian menawarkan tempat tinggal.


'Astaga, apa-apaan ini? Dokter sendiri dilarang, tapi istri tetangga malah diizinkan tinggal? Ibu anakku ini tidak kemasukan air otaknya, kan?' batin Rayden tidak paham.


"Tidak usah, aku cuma ingin kalian membantuku perbaiki listrik di rumah, siapa tahu saklarnya rusak." Kinan menolak meski sebenarnya dia belum makan malam, karena Kinan malu dan takut akan dianggap istri yang tidak berguna oleh Wira apabila sudah numpang makan.


"Mas, bisakan?" tanya Arum ke Rayden, tidak tega bumil itu kesusahan.


"Sayang, aku mau bantu dia, tapi kamu tahu kan suaminya itu menyebalkan! Dia pernah menghinamu, dan aku tidak sudi menolongnya," jawab Rayden.


"Maaf, kalau suamiku sudah menghina kalian. Tolong jangan dendam pada kami, tolong maafkan suamiku."


Arum ingin menangis melihat Kinan bersusah payah membungkuk, begitu baiknya bumil itu sampai rela menahan sakit demi ayah dari anak dikandungnya itu dapat dimaafkan.


"Baiklah, aku--"


Jeddar!


"Ahhh…" jerit Kinan ketakutan saat kilat bergemuruh di atas sana. Arum segera memeluknya dan menenangkannya. Dia yang pernah mengandung tahu perasaan ketakutan Kinan saat ini.


"Kita masuk dulu ya, tunggu hujan reda." Arum menawarkan untuk masuk. Kinan menolak, tapi Rayden memaksanya karena bukan waktunya memperbaiki saklar, bisa-bisa nanti dia kesetrum listrik.


Terpaksa Kinan masuk, namun setelah duduk di sofa ruang tamu, seketika dia terdiam kaget berhadapan dengan Joan.


"Loh, Nona Kinan?" Joan merasa tegang yang duduk itu Kinan.

__ADS_1


"Ini Tuan Joan, kan?" tanya Kinan tidak sangka pria kumis itu ada di rumah tetangganya.


"Jangan-jangan kamu ini--" Kinan pun sadar Joan adalah saudara Rayden, seorang Presiden.


"Kok kalian bisa saling kenal?" Arum dan Rayden heran melihat kedua orang ini.


Joan pun menjelaskan awal bertemu Kinan yang ingin bunuh diri di tengah jalan. Arum dan Rayden shock wanita hamil itu mencoba hal bodoh itu.


"Hikss… maaf, aku jadi merepotkan kalian."


Rayden jadi merasa bersalah, rupanya Kinan lebih lemah dari Arum. Dia jadi marah besar pada Wira yang sudah melampiaskan patah hatinya itu ke Kinan yang tidak bersalah sedikit pun.


"Rupanya masih ada yang lebih iblis dariku di dunia ini!" kesal Rayden ingin keluar mencari Wira, tapi Arum menahan emosi Rayden.


"Mas, banyak-banyak sabar! Jangan utamakan emosimu, ingat di luar masih hujan, ingat istri dan anak-anakmu!" jelas Arum takut Rayden kecelakaan di luar.


"Tolong, jangan ceritakan pada suamiku." Joan terkejut Kinan merahasiakan itu pada Wira. Dia pun yang kini emosi pada Wira.


Rayden dan Arum kembali terkejut saat Joan pindah duduk di sebelah Kinan dan memegang tangan bumil cantik itu.


"Berhentilah menangis, biarkan aku yang memperbaiki listrik di rumahmu. Sekarang ikutlah denganku ke sana."


"Eh bentar dulu," tahan Rayden sebelum Joan menarik Kinan keluar rumah.


"Tidak usah pikirkan aku, mungkin malam ini aku akan tinggal di rumahnya, jadi kalian tidak usah lagi debat soal kamar."


Arum dan Rayden tercengang melihat Joan begitu cool membuka jas menjadi payung untuk Kinan.


Kinan mendongak melihat Joan yang memayungkan jas mahalnya itu demi dirinya. Terlihat Joan sangat romantis membawa Kinan ke rumahnya, membuat Rayden jadi bete.


Rakyatnya saja bahagia dipimpin oleh Joan, apalagi Kinan pasti dapat dia pimpin menuju kebahagiaan. Tapi Rayden agak kesal kalau sampai ada bumbu-bumbu cinta tumbuh diantaranya.


"Cih, soal romantis aku akui dia ahlinya,"


"Padahal di sini ada payung loh, mas," ucap Arum menunjuk payung di dekat meja.


"Ya juga, tapi kok dia sampai segitunya ke Kinan?" gumam Rayden menyentuh dagu.

__ADS_1


"Mungkin kah Kak Joan ada rasa ke Kinan?" tebak Arum agak kaget Joan secepat itu move on.


"Gak! Aku tidak mau Joan jadi pebinor!" bantah Rayden menengok ke rumah Wira yang terlihat listrik sedang diperbaiki dari balik jendela.


"Kasihan sih anaknya kalau nanti Joan rebut Kinan, apalagi kasihan ke Wira," ucap Arum kepikiran Wira.


"Cih, Wira? Untuk apa kasihan padanya? Bagusan dia itu dilemparkan ke luar angkasa biar mati membeku di sana sendirian!" decih Rayden.


"Ih, mas kejam banget!"


"Lebih kejam dia telantarkan istrinya yang hamil, cantik pula," ucap Rayden melihatnya.


"Ih, tumben muji istri orang, aku cemburu nih!" cetus Arum mencubit pinggang Rayden.


"Dari pada aku muji wanita single? Kamu terima gak?"


"Ah bete! Harusnya aku yang dipuji juga, kesal!" Arum ingin pergi, tapi Rayden merangkul pinggulnya dan memeluknya hangat.


"Tidak ada yang mengalahkan cantiknya istriku di dunia ini," bisik Rayden menggombal nakal.


"Gombal tidak diterima, silahkan dilepaskan pelukannya!"


"Gak, gak mau ah!" tolak Rayden mengecup telinga kanan Arum hingga merah merona.


"Iih, geli mas!" tawa Arum berbalik melihatnya. Bertatap muka sangat dekat. Rayden tersenyum, menyentuh bibir Arum kemudian mencium bibir istrinya. Waktu untuk berduaan akhirnya bisa juga dirasakan malam ini.


Dokter Maya jadi grogi saat tidak sengaja melewati kamar keduanya yang sibuk berduaan di dalam sana, ia buru-buru masuk ke dalam kamar Baby twin, tidak ingin merusak Rayden yang memanjakan sang Istri. Sekalian dia bisa tidur nyaman di kamar Baby twin.


Sedangkan Kinan tidur sendirian di dalam kamarnya, karena Wira masih saja belum pulang. Sementara Joan tidur di sofa panjang, namun jam 12.32 tengah malam, ia terbangun. Joan menoleh ke kamar Kinan lalu ke pintu rumah. Joan khawatir pada suami Kinan yang akan salah paham sudah tinggal satu atap dengan Kinan, dia ingin pulang ke rumah Rayden, tapi tidak tega meninggalkan Kinan. Hingga tidak sengaja dia menyenggol meja dan menemukan surat perjanjian Kinan dan Wira.


"Jadi, suaminya ingin bercerai? Mungkinkah otak pria ini sudah rusak mau bercerai dengan istrinya yang begitu baik hamil anak dan rela melahirkan anak, tapi dia segila ini menjatuhkan talak?"


"Apa perlu aku bawa pria ini ke tengah laut?" Joan yang sangat marah pada Wira, ingin sekali menenggelamkan pria berambut ikal itu ke dalam samudra.


Benar-benar kakak beradik yang sama-sama ingin memberi pelajaran pada Direktur Es itu.


__ADS_1



Emak Setuju, Pak 😂sekalian kirim ke kutub Utara biar kumpul sama saudaranya pinguin 😂Tinggalkan Like dan Komen. Bersambung…


__ADS_2